MasukSarah termangu di antara dinding sekat yang memisahkan antara ruang tengah dan ruangan depan. Meski tak keras suara mereka cukup jelas terdengar. Ekspresi bapak sungguh sangat memelas dengan suara bergetar, beliau mengungkapkan kekhawatiran akan putri semata wayang yang dimilikinya.
“Bapak gagal melindunginya, Nak Dokter. Sarah berkali-kali tersakiti oleh orang yang sama.
Semula bapak berharap itu hanya sekedar sebuah cobaan karena sejatinya kehidupan rumah tangga sangat rentan dengan cobaan hidup. Mereka akan menjadi lebih saling mengenal dan mengisi kekurangan satu sama lain. Demi keutuhan keluarga untuk cucu-cucuku yang sangat kusayangi, nasihat untuk bersabar kami hembuskan tak henti sambil terus membantunya dengan banyak untaian doa.”
“Sudah, Pak, jangan diteruskan.”
Tampaknya dokter tampan itu tidak tega mendengar suara bapak yang pecah karena kesedihan.
“Saya akan sabar mengenalnya pelan-pelan.”
Deg!
Apa maksudnya mengenal pelan-pelan? Siapa yang ingin dikenali Dokter Wan? Aku?
Hati Sarah bermonolog.
Ingatannya melayang pada waktu-waktu lalu. Berkelebatan tentang, suaminya, kehamilan Zubaidah, dan kejamnya pasangan itu padanya sejak persiapan kelahiran bayi Putri juga perjuangannya untuk jejulihkan diri pasca melahirkan. Bisik-bisik keluarga yang tak sengaja didengar, mau tak mau terangkai dalam memori Sarang untuk membuntuk sebuah kisah getir kehidupannya. Lebih menyesakkan dirinya berulangkali membuat kedua orang tua yang teramat dicintainya ikut menanggung kesusahan. Kehadiran Dokter yang bahkan baru dikenal belum lama itu menimbulkan rasa aman dan tanpa sadar membuatnya dan keluarga bergantung. ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Sarah berpikir harus segera menghentikannya. Namun obrolan mereka ….
“Hummm ma ma ma ma ma!” Suara Bayi Putri membuat tiga orang dewasa di ruang tamu terpisah sekat itu terkaget. Terutama Sarah yang merasa dirinya kepergok seolah sedang menguping.
“Cantik … sudah bangun? Sini cucu Eyang Kung,” panggil bapak sambil buru-buru mengusap mata dengan punggung tangan.
Sarah melangkah keluar dari balik sekat dengan wajah canggung, sementara Dokter Wan menatap wajahnya sekilas dan buru-buru menundukkan pandangan. Dirinya sangat paham bagaimana wanita yang dikaguminya itu sangat berprinsip dalam menjalankan akidahnya.
Perhatiannya kini tertuju pada bayi mungil di gendongan Sarah. Kakeknya mengulurkan tangan ketika lengan kecil itu melambai ke arahnya. Namun ketika Ibunya membawa mendekat untuk mengangsurkan gendongan, Bayi Putri justru memutar badannya dan mengarahkan tangan pada Dokter Wan yang duduk di samping sang kakek. Semua kembali tertegun membuat Si kecil kemudian menangis.
“Pa pa pa,” celotehnya terdengar pilu.
Dokter Wan bangkit dan mengambil Bayi Putri dari gendongan ibunya. dan Sarah sendiri reflek memberikannya.
“Cup cup, sini, Sayang …” Suara lembut Dokter Wan secara ajaib membuat bayi cantik itu tenang. Dokter Wan menepuk punggungnya perlahan. Meski belum menjadi seorang ayah, sebagai dokter kandungan, berinteraksi dan mengangkat bayi adalah salah satu keahliannya. Tak heran Bayi Putri terlihat sangat nyaman dalam gendongan. Mulut mungilnya bergumam manja.
“Pa paaa.”
Menyaksikan hal itu mata Sarah segera merebak. Dengan suara serak dirinya bergumam pelan, “Maaf, Dok.”
Dokter Wan hanya tersenyum kecil menanggapi sambil terus mengusap punggung kecil dalam gendongannya.
Bayi Putri telah berusai hampir tiga bulan, jadi memang sudah waktunya mengoceh dan mulai mengenal orang-orang di sekitarnya. Kata mama dan papa adalah yang paling mudah terucap sebagai kata pertama, hanya karena kondisi terkadang seseorang mengaitkan dengan hal-hal. Seperti pikiran tua kakeknya yang merasa sang cucu sedang merindukan ayahnya. Pikiran itu tak urung membuat lelaki beramput putih itu berwajah muram.
“Oh semua di sini rupanya? Ayo, ayo! kita sarapan bersama.” Ibu datang menyelamatkan suasana,
“Em ibu … sepertinya Dokter sudah waktunya bertugas, jadi sebaiknya kita jangan,...”
“Tidak apa-apa, saya masih punya waktu.” Dokter Wan memotong ucapan Sarah, sementara Sang ibu memelototi putrinya dari samping memperingatkan.
Bapak pun segera beranjak memimpin diikuti semua orang. Bibi sudah menunggu di samping meja makan dan segera menyongsong Dokter Wan untuk mengambil Bayi Putri yang anteng dalam gendongan sambil mengemut jemari.
Bersambung ...
.
Sejak saat itu Sarah menjadi sangat pendiam. Mengurus bayi Putri dalam keheningan. Sementara celoteh Si Kecil juga semakin jarang terdengar.Suasana rumah Pak Rahmat dan Bu Syarifah mendadak menjadi suram. Seperti pagi ini.“Kopi, Pak?”“Teh saja, Bu. Lambungku agak agak perih belakangan ini kalau minum kopi.”Mendengar hal itu Bu Syarifah segera meletakkan termos yang baru saja diisi dengan air mendidih. “Apa kau sakit?” tanyanya panik.“Tidak, Bu cuma kadang rasanya perih.”“Kalau begitu jangan minum kopi lagi,” pungkas Bu Syarifah.Kemudian suami istri yang telah menjalani kehidupan berumah tangga selama empat puluh tahun itu duduk berdua dengan cangkir di tangan.Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran masing-masing tetapi tak tahu bagaimana mengungkapkannya. Ada hati yang perlu dijaga yaitu putri mereka. Seolah saling memahami isi hati pandangan mereka bertemu.“Pak, apa kita salah langkah?”Pak Rahmat menarik napas panjang membuat istrinya juga mendesah lelah.“Putri kita sud
Bab 17. Amarah Itu Masih AdaSuara tangis dari kamar Sarah membuat kedua orang tuanya bergegas menghampiri. Bayi Putri terbangun dan merengek dengan suara melengkling. Terdengar Sang Bunda sedang berusaha menenangkannya. Mamun nampaknya bayi mungil itu sedang tak mau menurut.Tok! Tok!Suara pintu yang diketuk mengalihkan perhatian bayi mungil itu. Namun setelah berhenti sebentar suaranya tangisnya kembali terdengar.“Sarah. ibu masuk, ya.”“Masuk saja, Bu.”“Kenapa cucu, eyang? Sini biar ibu gendong.” Ibu mengambil alih Bayi Putri dari gendongan Sarah. Alih-alih diam Putri malah meliukkan badan me
“Assalamualaikum!”Seruan Salam dari pintu depan mengalihkan perhatian Bapak dan Dokter Wan yang sedang duduk mengobrol. Sambil mengangkat tangan tanda menjeda obrolan lelaki dengan sarung dan koko itu beranjak menghampiri daun pintu yang memang tidak ditutup.“Waalaikumusalam ….Wah Pak RT, silakan-silakan,” kata Bapak ramah sambil mempersilakan tamunya masuk.“Silakan duduk, Pak.” Dokter Wan bangkit dan meyalami tamu yang baru saja datang lalu mempersilakan duduk.Sikap Dokter Wan yang serupa tuan rumah membuat suami Bu Siti itu tampak canggung dan sungkan. Tatapannya mengarah pada Bapak dengan wajah mengisyaratkan tanya.“Silakan duduk dulu,Pak,” kata Bapak mengabaikan rasa ingin tahu tamunya.Pak Zulkarnain yang merupakan ketua RT di lingkungan Bapak duduk dengan sedikit gelisah. Penampilan Dokter di hadapannya itu sangat menonjol dengan karisma kuat membuatnya bingung bagaimana memulai percakapan. Untungnya Bapak sangat paham dan segera mengakhiri suasana kurang nyaman itu.“Nak
Rumah bapak dan ibu Sarah tampak lebih tenang sore ini. Keberadaan Anton dan keluarga kecilnya kemarin membuat beberapa tetangga mampir untuk menyapa sekaligus menjenguk Sarah dan keluarga karena lama di kota sana dan diketahui pergi untuk menjaga Sarah pasca melahirkan. Sebagian dari mereka menjenguk untuk mengetahui apakah Sarah sudah sehat kembali dan ingin melihat anak yang baru dilahirkannya. Namun sebagian dari mereka adalah untuk mengorek berita untuk bekal obrolan kala duduk bersama bergosip dengan yang lain. Penyebabnya Sarah pulang kembali ke kampung halaman tanpa sang suami sedangkan saat hamil juga sendirian di rumah orang tuanya. Anton dikenal karena memang asli warga desa itu dan sebagian penduduk terutama mereka yang sepuh tahu. Namun tamu lain dan ternyata seorang dokter membuat wanga desa sangat penasaran. Apa lagi saat mobil Anton sudah tidak ada dan dipastikan kembali ke kota sana, kendaraan sang dokter masih anteng parkir di halaman samping keluarga Sarah. Sontak
Hari kunjungan berakhir menjelang waktu asyar. Para Santri harus shalat berjamaah bersama para pengampu mereka. Dengan berat hati Sarah melepaskan kedua putranya kembali ke asrama. Lalu mereka kembali ke area parkir. Cuti Anton telah selesai dan esok hari harus kembali ke kantor, jadi mereka langsung berpisah karena keluarga kecil itu akan mengambil jalur jalan yang berbeda. Bapak dan Ibu pulang bersama Dokter Wan di mobilnya bersama Sarah dan bayi Putri.“Apa tidak merepotkan, Nak Dokter?” tanya bapak sungkan.“Saya bisa pesan kendaraan online, Dok,” kata Sarah menimpali.Dokter Wan tampak bimbang. Misinya datang jelas belum mendapatkan kesempatan untuk disampaikan pada wanita di hadapannya itu. Tanpa sadar tatapannya melembut ke bawah di mana sosok kecil masih meringkuk nyaman di lengan besarnya yang hangat. Melihatnya membuat Sarah jadi serba salah. Bayinya itu sulit dilepaskan dari pria yang dipanggilnya Papa. Tatapan sendi mata Sarah membuat ujung bibir Dokter tampan itu sedikit
“Assalamualaikum!” Beberapa Santri mendekati keluarga Sarah dan mengangsurkan tangan untuk menyalami semuanya. Syamil dengan antusias memperkenalkan keluarga pada teman-temannya. Suasana canggung antara Sarah dan Dokter Wan tersamar begitu saja. Mereka melanjutkan dengan makan bersama dan bercerita. Secara garis besar kedua anak lelaki Sarah betah di tempat belajar baru meski jauh dari orang tua. Si pendiam Rayyan lebih banyak mengangguk mengiyakan setiap celoteh adiknya tentang asyiknya sekolah berasramah. Punya banyak teman yang membersamai dalam suka dan duka baik siang maupun malam membuat mereka sangat bersyukur menemukan sekolah baru, pengalaman baru juga teman baru yang lebih bermakna. Menghadapi banyak hal bersama seperti mengatasi rasa kangen pada keluarga. Persamaan rasa sebagai yang jauh dari ayah dan bunda membuat mereka menjadi saling menjaga dan saling mengisi setiap kekososngan. Seperti ketika teman-temannya di jenguk wali mereka, Syamil dan Rayyan juga kerap diajak ber







