首頁 / Rumah Tangga / Damai Dalam Poligami Sesion 2 / Bab 108. Harta Seperti Racun

分享

Bab 108. Harta Seperti Racun

作者: Wening
last update publish date: 2026-05-04 13:15:41

Zubaidah hanya memperhatikan Pak Ali dan rekan-rekannya berbincang, melakukan beberapa hal lalu tertawa ringan. Setelah beberapa saat, satu demi satu orang-orang di meja itu meninggalkan kursinya. Pak Ali tampak merapikan berkas, memasukkannya pada stopmap dan beranjak.

“Pak Ali,” sapa Zubaidah saat kepala sekolah tempatnya mengajar itu melewati mejanya.

Lelaki itu tampak sedikit terkejut dan berhenti. Memandang wanita di depannya sejenak dan berujar santai,” Ibu juga istirahat di sini?”

“Iya.
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 133

    Suara outdoor AC menderu dari balik jendela kamar. Dua sosok dewasa dalam kamar itu saling diam dan suasana menjadi kaku. Seorang terbaring diam sambil memejamkan mata dengan bulunya yang terus saja bergetar menandakan pemiliknya sebenarnya tidak benar-benar tidur. Seorang lagi berbaring miring sambil menyelipkan satu tangan ke dalam box bayi dan menepuk punggung kecil Arjuna yang telah lama terlelap karena kecapean bermain.Fadhil dan Zubaidah sebenarnya ingin menyelesaikan permasalah mereka dan berharap bisa membangun komunikasi agar semua menjadi jelas dan masalah tak berlarut-larut. Sayangnya keduanya tak ada yang berinisiatif memulainya terlebih dulu. Ego menguasai mereka berdua yang masing-masing enggan mengalah.Dalam hati, Fadhil kembali mengingat saat bersama Sarah. Setiap ada masalah wanita pertamanya itu selalu tak segan memulai sesuatu lebih dulu. Saat itu Fadhil sangat terganggu kalau dipaksa mengaku salah, atau saat dia meminta maaf tapi kemudian marah saat kembali dii

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 132. Semua Jadi Salah

    Sarah merasa risih karena Lisa terus menatapnya dengan pandangan yang menggoda. Meski sekarang mereka tak berada di ruang yang sama, tapi ekor mata Sarah masih menangkap raut penasaran pegawainya yang masih terus menatapnya dari baik partisi yang memisahkan ruangan Sarah dan sang asisten. “LIsa, sebenarnya kamu mau sampai kapan mengintipku dari sana? Apa aku sangat menarik untuk ditonton?”“Maaf, Bu.”“Kau kesini dulu!” perintah Sah tegas pada Lisa yang masih diam sambil kembali mengintip ragu-ragu.Begitupun dengan rasa penasaran tinggi Lisa tetap bangkit dan berjalan perlahan ke kursi yang sempat ditinggalkan dan duduk kembali dengan tubuh sedikit kaku.“Kau dengarlah baik-baik.”Lisa mengangguk patuh. Wajahnya sudah kembali serius mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Ibu Bos. Wajah tengil yang sering diperlihatkan ketika menggoda Sarah sekarang tak lagi terlihat, Lisa sungguh sangat profesional. Dirinya sangat mampu memposisikan diri hingga saat bekerja maksimal tetapi saat s

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 130. Sedang Belajar

    Suasana kantor Sarah di lantai basement sangat sepi. Lampu yang temaram membuatnya merasa mengantuk. Apalagi yang dilakukannya adalah memantau dan menunggu. Mantan Suaminya membawa Bayi Putri untuk bermain di luar. Meski sang mantan menyetujui hanya bertemu di Cahaya Mall, buka berarti Sarah akan begitu saja percaya menyerahkan putri kecilnya hanya dengan sang pengasuh.Laptop di depannya menampilkan setiap adegan yang terjadi beserta suaranya. Seorang teknisi telah dimintanya untuk mengatur fokus suara di tempat-tempat dimana putrinya berada. Meski tak bisa menghindari sedikit suara disekitar yang ikut terdengar, percakapan atau pertengkaran yang terjadi terdengar dengan jelas. Sarah sedikit merasa bersalah telah mengintip privasi orang lain.“Kopi, Bu.” Lisa mengangsurkan secangkir kopi hitam ke meja di depannya. Sarah hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Lisa mengintipnya sebentar tapi buru-buru berlalu keluar ruangan. Dalam hati menggerutu karena bosnya itu t

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 129. Tatapan Sendu

    Fadhil sebenarnya segera menyadari keberadaan Zubaidah di playground. Meski menoleransi setiap tindakan istrinya yang terkadang tak masuk akal itu, bukan berarti dirinya sangat sabar. Itu hanya karena sudah malas dan sedikit perasaan pada pertengahan pernikahannya dengan Zubaidah hancur sudah saat harga dirinya terkoyak menerima sikap ibu dari Arjuna itu yang mempermasalahkan dana melahirkan dari ATM pribadinya.Sekarang, ketika hanya Arjuna yang menjadi pertimbangan utama hubungan mereka, bahkan Zubaidah tidak bisa menenangkannya, entah bagaimana lagi Fadhil harus bersikap.“Bi, kita ajak anak-anak makan selingan dulu,” kata Fadhil sambil melangkah ke sebuah restoran. Bibi mengikutinya dari belakang. Zubaidah yang semula bingung akhirnya mengikuti juga dari belakang. Dalam hati dirinya merasa terhina tetapi hal ini harus diluruskan. Dirinya istri dan ibu bagi mereka tetapi seperti orang asing. Ini sungguh tak masuk akal. Zubaidah merasa harus meluruskan hal ini.Ketika kedua anak

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 128. Tidak Sehebat Itu

    Zubaidah kembali ke area pengunjung dengan menghentakkan kakinya dengan wajah yang cemberut. Wanita itu kemudian berjalan cepat menuju area pakaian dewasa dan mencoba melihat-lihat apakah ada yang cocok untuk dibeli. Hanya saja meskipun tangannya aktif memilah setiap barang yang tergantung itu, pikirannya tidak di sana. Bayangan suami dan anaknya sedang bermain bersama Sarah juga bayi perempuannya terus menari di pelupuk mata.Pemandangan seperti dalam pikiran Zubaidah, akan tampak keluarga yang manis dengan dua bayi kembar tak identik. Betapa lucunya dan sudah pasti akan menjadi pusat perhatian . Zubaidah menggelengkan kepala sambil memejamkan mata.“Ibu, apa Anda baik-baik saja?” tanya pengunjung lain yang mengira Zubaidah sedang pusing atau sakit.“Iya. Saya baik-baik saja, terima kasih.” Karena malu Zubaidah segera berlalu dari sana. Menaiki eskalator menuju lantai atas berniat memilih memanjakan diri di stand kuliner. Melihat beragam menu favoritnya hati Zubaidah menjadi kem

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 127. Hanya Karena Dukungan

    Dimeja makan Fadhil seperti biasa sarapan sambil sibuk menyuapi Arjuna. Di kursi bayi biru miliknya, Arjuna memegang sendok dan berusaha memasukkan makanan ke dalam mulut. Pipi tirusnya sudah belepotan bubur. Beruntung mengenakan bip atau celemek bayi hingga baju yang baru saja dikenakan tidak ikut kotor.Zubaidah memperhatikan ayah dan anak itu dengan canggung. Meski Fadhil berpakaian santai, tapi tampaknya tidak akan tinggal di rumah hari ini. Arjuna juga didandani dengan pakaian rapi untuk bepergian.“Apa tidak libur?” tanya Zubaidah hati-hati.“Libur. Tapi ini hari kunjungan ke Putri. Arjuna akan kuajak biar bermain bersama.Wajah kalem Zubaidah kembali kaku. Senyum di wajahnya yang berusaha ditahan demi kenyamanan bersama pagi ini runtuh sudah. Menghiraukan mereka berdua Zubaidah segera menyelesaikan sarapan dan beranjak ke kamar.Dalam kamar, wanita itu kembali murung. Ditatapnya wajah tegas dengan kulit sawo matang dan hidung mancung kecilnya di cermin. Pandangannya menyapu ke

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 26. Kau Tak Sendiri

    Malam ini sangat sepi dan dingin meski AC belum dinyalakan. Penanda waktu di dinding baru menunjukkan angka 7 malam ini, tetapi mata Sarah rasanya enggan terbuka. Seharian sibuk ke sana ke mari membuat tubuhnya lelah dan ingin segera menyerah pada bantal. Tapi setelah berbaring isi kepalanya mala

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 24. Milikku Seutuhnya

    Hari ini rumah sakit sangat Ramai. Sarah menuju ke ruang rekam medis berniat melakukan prosedur permohonan pengambilan rekam medisnya beberapa waktu lalu saat dirawat di sana. Tampak seorang petugas tengah berkutat dengan tumpukan berkas duduk membelakangai meja. Sarah mengetuk pelan meja berniat m

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 23. Tinggi Tak Terjangkau

    “Masih berapa, Sus?” “Tiga, Dok.”Aku mendesah sebelum kembali pasang wajah penuh senyum saat pasien masuk. Praktek hari ini sungguh tak bisa fokus. Bayangan kebersmaan dengan Sarah tadi masih terbayang di pelupuk. Wanita yang telah menyita banyak sisi hatiku itu sungguh sangat sulit digapai hatiny

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 22. Bolehkah Menjadi Teman?

    Bab 22. Injinkan Aku menjadi TemanMendung menggelayut di cahrawala ketika Sarah memandangnya dengan pikiran yang masih berada di rumah bapak dan ibu. Terutama poada wajah mungil yang bersibang airmata saat ditinggalkan. Belakangan Bayi Putri agak rewel dan enggan lepas dari bundanya. Meski tak lag

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status