Home / Rumah Tangga / Damai Dalam Poligami Sesion 2 / Bab 3. Kata Pertama Putri

Share

Bab 3. Kata Pertama Putri

Author: Wening
last update Last Updated: 2025-12-03 17:42:23

Keluarga sederhana Sarah, makan bersama pagi itu dengan sangat tenang. Berbeda dengan hari-hari biasanya mereka selalu ramai di depan meja makan. Bukan soal ketidak sopanan tetapi lebih pada hangatnya hubungan mereka biasanya. Kini mereka tampak sangat menjaga sikap, terutama wanita berkerudung coklat di samping ibu,  karena anggota baru yang hadir di antara mereka yaitu, Dokter Wan.

Bapak yang pertama kali melepaskan sendok makan dan meletakkannya terbalik di piring, diikuti yang lainnya. Sarah sendiri hanya mengacak isi piringnya saja kemudian ikut ikutan menyudahi sarapan kali ini. Perutnya sedang tak ingin diisi. Seleranya menguap sejak kata pertama Putri yang menyebut Papa pada Dokter Wan. Bayi cantiknya tidak biasa mengucapkan kata itu, yang kini jadi keramat bagi keluarga Sarah, yaitu kata Papa.

“Seperti anak-anak saja, makan tersisa di piring,” gerutu Bapak sambil melirik piring Sarah.

“Apa napsu makanmu bermasalah? Perlu diresepkan napsu makan?” tanya Dokter Wan penuh perhatian.

Sarah yang merasa semakin tidak nyaman hanya menunduk sambil menggeleng. Entah mengapa hatinya resah karena perhatian dokter di hadapannya sudah menjadi lebih dekat melebihi interaksi antara dokter dan pasian. Tiba-tiba rasa jengah hadir tanpa bisa dicegah.

Sekelebat ingatan seseorang yang berbisik lembut di telinga saat dirinya gelisah di ranjang pasien rumah sakit membuat pipinya menghangat.

“Sudah nanti biar ibu ganti menu untuk makan siang. Memang Sarah belakangan ini makan itu-itu saja untuk menjaga ASI-nya lancar,”kata ibu membela. 

Bapak hanya menggelengkan kepala sementara Dokter Wan mengulum senyum sopan. Sarah yang tengah meliriknya tergeragap karena mata mereka bertemu. Menyadari keaadaan mereka ibu justru terkekeh pelan.

“Kalau begitu saya pamit dulu, Pak, Ibu, terima kasih sarapannya.”

“Baik-baik, jangan sungkan. Ayo Sarah, antar Nak Dokter ke depan!” Ibu tampak seperti sedang mendekatkan anak perempuannya dengan dokternya.

Sarah hanya mengangguk menanggapi perintah ibunya dan beranjak perlahan sambil menunggu Dokter Wan selesai bersalaman pada bapak dan ibu lalu mengikutinya keluar.

“Terima kasih, Dok.”

“Iya, tak perlu mengantar sampai depan saya tahu jalannya,” kata pria berjas putih itu berusaha mengurai canggung denga bercanda.

Dokter Wan yang hari ini mengenakan kemeja biru langit tampak bersinar dipadukan dengan jas putihnya membuat cahaya matahari pagi yang menimpanya berpendar menyilaukan. Tubuh jangkungnya tampak menjulang di samping Sarah yang bertubuh mungil.

“Em-a-anu.” Sarah tampak ragu untuk mengatakan sesuatu hingga Dokter Wan akhirnya menghentikan langkah dan menatapnya intens. Diperlakukan seperti itu justru membuat Sarah semakin gugup.

“Tidak apa-apa, sampaikan saja tidak usah gugup ataupun malu. Saya doktermu sekarang. Apa ada bagian tubuh yang terasa tidak nyaman? Sarah reflek menyilangkan kedua tangan di depan dadanya karena tatapan Dokter Wan yang mengarah pada tubuhnya dari atas ke bawah lalu ke atas lagi mengarah ke dada.

Dokter tampan di depannya tertawa canggung melihat reaksi Sarah, lalu menepuk dahinya sendiri,” Aduh maaf, Saya tidak bermaksud, hanya saja kau sedang meng-ASI-i, jadi kukira….”

Mereka berdua tertawa cangguing dan Sarah berinisiatif menetralkan suasana dengan berdehem pelan.

“Ehem. Soal celotehan Putri, maaf kalau Anda tidak berkenan,” kata Sarah lirih. Sebutannya yang menjadi formal menyadarkan diri sang dokter barangkali dirinya kelepasan memberikan perhatian lebih mengikuiti insting hatinya.

“Bu Sarah, saya tidak keberatan sama sekali kalau Dede Putri memanggil saya, Papa. Itu juga, kalau Bundanya berkenan,” kata Dokter Wan dengan suara rendah diikuti tarikan napas panjang. Jangan segala hal dipikir berat, saya tahu batasan.” Sarah tersenyum malu lalu menganggukkan kepala beberapa kali.

“Bukan, maksud saya….”

“Tak apa. Masuklah takut baby Putri mencari. Jangan pikirkan apapun, yang penting jaga kesehatan dulu.”

Pertemuan mereka berakhir dengan masing-masing berucap salam. Namun Sarah masih saja berdiri di tempat yang sama.

Sarah masih belum ingin beranjak dan  menatap punggung tegap itu menjauh dan memasuki mobil. Menurunkan kaca jendela depan dan mengeluarkan tangan untuk melambai lalu mobil berbelok ke arah halaman sebelum meluncur mulus keluar gerbang dan menghilang di belokan jalan.

Bersambung ...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 17. Amarah Itu Masih Ada

    Bab 17. Amarah Itu Masih AdaSuara tangis dari kamar Sarah membuat kedua orang tuanya bergegas menghampiri. Bayi Putri terbangun dan merengek dengan suara melengkling. Terdengar Sang Bunda sedang berusaha menenangkannya. Mamun nampaknya bayi mungil itu sedang tak mau menurut.Tok! Tok!Suara pintu yang diketuk mengalihkan perhatian bayi mungil itu. Namun setelah berhenti sebentar suaranya tangisnya kembali terdengar.“Sarah. ibu masuk, ya.”“Masuk saja, Bu.”“Kenapa cucu, eyang? Sini biar ibu gendong.” Ibu mengambil alih Bayi Putri dari gendongan Sarah. Alih-alih diam Putri malah meliukkan badan me

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 16. Hampa

    “Assalamualaikum!”Seruan Salam dari pintu depan mengalihkan perhatian Bapak dan Dokter Wan yang sedang duduk mengobrol. Sambil mengangkat tangan tanda menjeda obrolan lelaki dengan sarung dan koko itu beranjak menghampiri daun pintu yang memang tidak ditutup.“Waalaikumusalam ….Wah Pak RT, silakan-silakan,” kata Bapak ramah sambil mempersilakan tamunya masuk.“Silakan duduk, Pak.” Dokter Wan bangkit dan meyalami tamu yang baru saja datang lalu mempersilakan duduk.Sikap Dokter Wan yang serupa tuan rumah membuat suami Bu Siti itu tampak canggung dan sungkan. Tatapannya mengarah pada Bapak dengan wajah mengisyaratkan tanya.“Silakan duduk dulu,Pak,” kata Bapak mengabaikan rasa ingin tahu tamunya.Pak Zulkarnain yang merupakan ketua RT di lingkungan Bapak duduk dengan sedikit gelisah. Penampilan Dokter di hadapannya itu sangat menonjol dengan karisma kuat membuatnya bingung bagaimana memulai percakapan. Untungnya Bapak sangat paham dan segera mengakhiri suasana kurang nyaman itu.“Nak

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 15. Itu Janjiku

    Rumah bapak dan ibu Sarah tampak lebih tenang sore ini. Keberadaan Anton dan keluarga kecilnya kemarin membuat beberapa tetangga mampir untuk menyapa sekaligus menjenguk Sarah dan keluarga karena lama di kota sana dan diketahui pergi untuk menjaga Sarah pasca melahirkan. Sebagian dari mereka menjenguk untuk mengetahui apakah Sarah sudah sehat kembali dan ingin melihat anak yang baru dilahirkannya. Namun sebagian dari mereka adalah untuk mengorek berita untuk bekal obrolan kala duduk bersama bergosip dengan yang lain. Penyebabnya Sarah pulang kembali ke kampung halaman tanpa sang suami sedangkan saat hamil juga sendirian di rumah orang tuanya. Anton dikenal karena memang asli warga desa itu dan sebagian penduduk terutama mereka yang sepuh tahu. Namun tamu lain dan ternyata seorang dokter membuat wanga desa sangat penasaran. Apa lagi saat mobil Anton sudah tidak ada dan dipastikan kembali ke kota sana, kendaraan sang dokter masih anteng parkir di halaman samping keluarga Sarah. Sontak

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 14. Jangan Berikan Harapan Semu

    Hari kunjungan berakhir menjelang waktu asyar. Para Santri harus shalat berjamaah bersama para pengampu mereka. Dengan berat hati Sarah melepaskan kedua putranya kembali ke asrama. Lalu mereka kembali ke area parkir. Cuti Anton telah selesai dan esok hari harus kembali ke kantor, jadi mereka langsung berpisah karena keluarga kecil itu akan mengambil jalur jalan yang berbeda. Bapak dan Ibu pulang bersama Dokter Wan di mobilnya bersama Sarah dan bayi Putri.“Apa tidak merepotkan, Nak Dokter?” tanya bapak sungkan.“Saya bisa pesan kendaraan online, Dok,” kata Sarah menimpali.Dokter Wan tampak bimbang. Misinya datang jelas belum mendapatkan kesempatan untuk disampaikan pada wanita di hadapannya itu. Tanpa sadar tatapannya melembut ke bawah di mana sosok kecil masih meringkuk nyaman di lengan besarnya yang hangat. Melihatnya membuat Sarah jadi serba salah. Bayinya itu sulit dilepaskan dari pria yang dipanggilnya Papa. Tatapan sendi mata Sarah membuat ujung bibir Dokter tampan itu sedikit

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 13. Pandangan Kosong Itu menyakitiku

    “Assalamualaikum!” Beberapa Santri mendekati keluarga Sarah dan mengangsurkan tangan untuk menyalami semuanya. Syamil dengan antusias memperkenalkan keluarga pada teman-temannya. Suasana canggung antara Sarah dan Dokter Wan tersamar begitu saja. Mereka melanjutkan dengan makan bersama dan bercerita. Secara garis besar kedua anak lelaki Sarah betah di tempat belajar baru meski jauh dari orang tua. Si pendiam Rayyan lebih banyak mengangguk mengiyakan setiap celoteh adiknya tentang asyiknya sekolah berasramah. Punya banyak teman yang membersamai dalam suka dan duka baik siang maupun malam membuat mereka sangat bersyukur menemukan sekolah baru, pengalaman baru juga teman baru yang lebih bermakna. Menghadapi banyak hal bersama seperti mengatasi rasa kangen pada keluarga. Persamaan rasa sebagai yang jauh dari ayah dan bunda membuat mereka menjadi saling menjaga dan saling mengisi setiap kekososngan. Seperti ketika teman-temannya di jenguk wali mereka, Syamil dan Rayyan juga kerap diajak ber

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 12. Bolehkah?

    Pada akhirnya Sarah dan Dokter Wan duduk di jok depan mobil yang mereka kendarai. Bayi Putri kekeh tak melepaskan sosok yang selalu dipanggilnya, Papa. Bayi mungil itu bahkan tetap memegang ujung kemeja Dokter War sepanjang jalan. Sang ibu pun hanya bisa pasrah menghadapi tingkah putri kecilnya kali ini.“Maaf,” gumamnya jengah sambil melirik lelaki di sampingnya yang hanya dibalas dengan senyuman hangat.Kendaraan mereka terah berbelok dari jalan raya memasuki kawasan hijau dan daerah berbukit. Pohon rindang di sepanjang jalan membuat suasana sangat asri dan menyenangnkan. Makin ke dalam mulai terlihat jejak-jejak tangan terampil. Tempat duduk dinaungi pohon rindang dan juga beberapa bangunan joglo berbentuk saung yang berjejer mengarah ke bangunan induk. Dengan selingan taman kecil berpetak dengan bunga dan dan juga sayuran hijau sungguh memanjakan mata.Mobil Anton meluncur dinamis memasuki area parkir yang kemudian diikuti Dokter Wan dari belakang yang memarkirkan kendaraan tepat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status