Compartilhar

Bab. 18

Autor: Wening
last update Data de publicação: 2026-01-12 00:41:21

Sejak saat itu Sarah menjadi sangat pendiam. Mengurus bayi Putri dalam keheningan. Sementara celoteh Si Kecil juga semakin jarang terdengar.

Suasana rumah Pak Rahmat dan Bu Syarifah mendadak menjadi suram. Seperti pagi ini.

“Kopi, Pak?”

“Teh saja, Bu. Lambungku agak agak perih belakangan ini kalau minum kopi.”

Mendengar hal itu Bu Syarifah segera meletakkan termos yang baru saja diisi dengan air mendidih.

“Apa kau sakit?” tanyanya panik.

“Tidak, Bu cuma kadang rasanya perih.”

“Kalau begitu jan
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 166. Masih Bisa Berteman

    Fadhil membawa kotak bekalnya ke pantry kantor. Mengambil air putih dan menarik kursi di ujung ruang membawanya ke samping meja kecil dimana Bu Mona sedang membuka paket makan siang yang baru saja diantar Pak Kurir.Dalam diam mereka menikmati masakan masing-masing. Sesekali Bu Mona melitrik kotak yang dipegang erat seolah harta karun di depannya. Sementara dirinya telah siap bersantap. Dengan ragu-ragu diulurkan ujung sumpitnya ke kotak dalam genggaman Fadhil yang reflek menarik tangannya mundur. Bu Mona terkekeh pelan.“Aku tak akan memintanya.”“Aku tahu, lagi pula bukan yang sangat enak. Milikmu sendiri lebih menggoda.”“Tapi nyatanya kau tak tergoda juga.”“Ya. Karena kuharap bisa menjaganya saja tak ingin merusaknya.”“Huaaa!! Kenapa kau tak lanjut saja jadi brengsek biar aku mundur?” Pekik Bu Mona mengagetkan Fadhil.Lanjutkan hingga total 600 kata“Huaaa!! Kenapa kau tak lanjut saja jadi brengsek biar aku mundur?”Pekik Bu Mona membuat Fadhil hampir menjatuhkan botol air minum

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 165. Bekal Makan SIang

    Pagi berikutnya Fadhil kembali ke kantor dengan keadaan yang lebih hidup dari biasanya. Pakaian Rapi, rambut klimis dan mata yang berbinar. Bahkan selain tas ransel yang disandang, dia juga membawa sesuatu di tangannya yang menarik perhatian Bu Mona.“Selamat Pagi Bu Mona.”Butuh beberapa detik. wanita dengan setelan kantor elegan berwarna hijau muda yang tampak segar dan membuat seluruh penampilannya enak dilihat.“Hallo!” Fadhil mengeraskan suaranya sambil menggoyangkan telapak tangan di depan wajahnya.Bu Mona yang sejak tadi memerhatikan kotak makan di tangan Fadhil akhirnya berkedip beberapa kali.“Hah? Oh, pagi.” Ia berdeham pelan, berusaha menyembunyikan rasa penasaran yang sudah jelas terlihat di wajahnya.Fadhil tersenyum kecil lalu melangkah menuju mejanya. Namun baru dua langkah, suara Bu Mona kembali terdengar. “Itu apa?”Fadhil menoleh.“Apa?”“Yang di tanganmu.”Fadhil mengangkat kotak makan berwarna biru tua itu.“Oh, ini?”“Iya, itu.”Bekal sederhana itu mendadak teras

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 164. Harus Bekerja Keras

    Pagi itu terasa berbeda.Tidak ada keajaiban yang turun dari langit. Tidak ada masalah yang mendadak hilang begitu saja. Hutang-hutang kehidupan masih menunggu diselesaikan. Luka yang ditinggalkan masa lalu juga belum sepenuhnya sembuh.Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Fadhil bangun tanpa perasaan ingin lari dari kenyataan.Ia duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi. Udara pagi terasa sejuk. Dari dalam rumah terdengar suara Zubaidah menyiapkan sarapan dan sesekali menegur Arjuna yang sedang berlarian.Suasana sederhana itu membuat Fadhil tersenyum.Mungkin inilah yang disebut kesempatan kedua. Bukan untuk mengulang hidup.Melainkan untuk memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki."Melamun lagi?" Suara Zubaidah membuat Fadhil menoleh.Wanita itu meletakkan sepiring pisang goreng di meja."Kali ini tidak.""Lalu?""Aku sedang membuat daftar pekerjaan." Zubaidah tertawa kecil."Pekerjaan rumah?""Kalau cuma rumah, mungkin tidak akan cukup sampai siang." Fadh

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 163. Kita Bukan Orang Baik

    Zubaidah masih duduk di samping Fadhil dan malam semakin larut. Tangannya belum melepaskan genggaman suaminya. Entah sejak kapan, tetapi tangisnya telah mereda. Yang tersisa hanyalah rasa sesak dan malu yang terus berputar di dalam dada.Selama ini ia selalu merasa sebagai pihak yang paling terluka, tersakiti dan paling menderita.Namun malam ini, untuk pertama kalinya, ia melihat luka yang dipikul Fadhil selama ini. Luka yang bahkan tidak pernah ia tanyakan."Kau membenciku?" tanya Zubaidah pelan.Fadhil tersenyum tipis.Kalimat itu mengingatkannya pada masa-masa awal pernikahan mereka. Saat Zubaidah masih sering bertanya hal yang sama setiap kali mereka bertengkar."Tidak.""Benarkah?""Kalau aku membencimu, aku tidak akan masih duduk di sini." Zubaidah kembali menunduk."Aku sudah menghancurkan terlalu banyak hal." Fadhil menghela nafas panjang."Kita.""Hah?""Kita yang menghancurkan terlalu banyak hal." Zubaidah mengangkat kepala."Tidak semuanya salahmu.""Tapi...""Aku juga pun

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 162. Karena Wanita Sepertimu

    Fadhil duduk di teras belakang sambil memandangi halaman yang mulai gelap. Secangkir kopi di tangan sudah mulai dingin, tetapi tak sedikit pun menarik perhatiannya.Malam itu rumah terasa begitu sunyi.Arjuna sudah tidur lebih awal setelah makan tadi. Hanya suara jangkrik yang terdengar dari kebun samping rumah.Zubaidah keluar membawa sepiring pisang goreng dan meletakkannya di meja kecil di antara mereka.“Aku bikin kesukaanmu.” Fadhil hanya mengangguk.Tidak ada senyum. Tidak ada ucapan terima kasih seperti biasanya. Sikap itu membuat Zubaidah semakin gelisah.“Apa kau masih marah?”Pertanyaan itu akhirnya keluar setelah beberapa menit mereka terdiam.Fadhil tertawa kecil. Bukan tawa bahagia. Lebih mirip seseorang yang mendengar sesuatu yang ironis.“Menurutmu aku marah?”“Kalau tidak marah kenapa seperti ini terus?” Fadhil mengusap wajahnya pelan.“Aku capek, Zubaidah.” Kalimat sederhana itu membuat wanita di sampingnya terdiam.“Aku benar-benar capek.”“Kau selalu bilang begitu

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 161. Bukan Level Yang Sama

    Sambil menyiapkan makan malam, Zubaidah terus berpikir bagaimana caranya memulai percakapan dengan suaminya kembali. Bagaimanapun masalah rumah tangga harus diselesaikan. Bagaimanapun caranya. Termasuk gantian merendahkan ego di hadapan suami.Pisau di tangannya bergerak pelan memotong wortel. Sesekali ia melirik pintu dapur, berharap Fadhil melongok atau bertanya, “Apa perlu dibantu?” seperti dulu. Zubaidah menghembuskan napas panjang.Jika dipikir-pikir lagi, apa yang selama ini diperjuangkannya?Sarah sudah pergi. Tidak lagi merebut perhatian suaminya setiap hari. Bahkan hubungan Fadhil dan Sarah sekarang bukan lagi tentang rasa tapi tanggung jawab pada anak-anak mereka. Bukankah itu yang selama ini ia inginkan?Namun anehnya, kemenangan itu tidak pernah terasa seperti kemenangan. Ia justru kehilangan ketenangan yang dulu mati-matian ingin dipertahankan.Pikirannya melayang pada beberapa wanita yang pernah membuatnya cemburu.Sarah, Bu Mona bahkan Bu Nur, karena mendapatkan perhat

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 35. Andai Waktu Terulang

    Fadhil melajukan motor bututnya perlahan menuju pulang. Mengingat apa yang baru saja terjadi, sudah dipastikan omelan panjang menanti begitu sampai rumah karena kembali kehilangan pekerjaan. Setidaknya beristirahat sebentar menenangkan diri sangat diperlukannya saat ini. Maka setelah hampir sampai

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 34. Kubayar Mahal

    Aku menatap Sarah yang berdiri angkuh di tengah ruang. Namun dalam pandanganku, wanita pertamaku itu tetap anggun dan penuh kelembutan. Tangan itu terlihat begitu putih dan sosoknya semakin bersinar. Kerinduanku semakin menggelegak ingin menggenggamnya seperti dulu. Namun aku bahkan tak punya keber

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 33. Luka Yang Kuberikan

    Dia berdiri tegak tanpa goyah. Dengan bahu yang luruh aku hanya bisa menatapnya dari jauh. Bahkan tidak berani mendekat meski aku masihlah suaminya yang sah secara hukum. Secara agama aku tidak terlalu yakin, karena sudah hampir enam bulan aku tak menafkahinya baik lahir maupun batin. “Kau kejam me

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 32. Pelan-Pelan Saja

    Wira menjalankan motor dengan sangat perlahan. Suara klakson kendaraan yang tak sabar beberapa kali berbunyi, hingga dokter tampan itu melajukan kendaraannya lebih ke pinggir.“”Woi, Bro! Jalan kaki aja!” Teriakan seorang pengendara muda membuat Wira tersenyum kecut. Untung beberapa meter kemudia

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status