LOGINFadhil membawa kotak bekalnya ke pantry kantor. Mengambil air putih dan menarik kursi di ujung ruang membawanya ke samping meja kecil dimana Bu Mona sedang membuka paket makan siang yang baru saja diantar Pak Kurir.Dalam diam mereka menikmati masakan masing-masing. Sesekali Bu Mona melitrik kotak yang dipegang erat seolah harta karun di depannya. Sementara dirinya telah siap bersantap. Dengan ragu-ragu diulurkan ujung sumpitnya ke kotak dalam genggaman Fadhil yang reflek menarik tangannya mundur. Bu Mona terkekeh pelan.“Aku tak akan memintanya.”“Aku tahu, lagi pula bukan yang sangat enak. Milikmu sendiri lebih menggoda.”“Tapi nyatanya kau tak tergoda juga.”“Ya. Karena kuharap bisa menjaganya saja tak ingin merusaknya.”“Huaaa!! Kenapa kau tak lanjut saja jadi brengsek biar aku mundur?” Pekik Bu Mona mengagetkan Fadhil.Lanjutkan hingga total 600 kata“Huaaa!! Kenapa kau tak lanjut saja jadi brengsek biar aku mundur?”Pekik Bu Mona membuat Fadhil hampir menjatuhkan botol air minum
Pagi berikutnya Fadhil kembali ke kantor dengan keadaan yang lebih hidup dari biasanya. Pakaian Rapi, rambut klimis dan mata yang berbinar. Bahkan selain tas ransel yang disandang, dia juga membawa sesuatu di tangannya yang menarik perhatian Bu Mona.“Selamat Pagi Bu Mona.”Butuh beberapa detik. wanita dengan setelan kantor elegan berwarna hijau muda yang tampak segar dan membuat seluruh penampilannya enak dilihat.“Hallo!” Fadhil mengeraskan suaranya sambil menggoyangkan telapak tangan di depan wajahnya.Bu Mona yang sejak tadi memerhatikan kotak makan di tangan Fadhil akhirnya berkedip beberapa kali.“Hah? Oh, pagi.” Ia berdeham pelan, berusaha menyembunyikan rasa penasaran yang sudah jelas terlihat di wajahnya.Fadhil tersenyum kecil lalu melangkah menuju mejanya. Namun baru dua langkah, suara Bu Mona kembali terdengar. “Itu apa?”Fadhil menoleh.“Apa?”“Yang di tanganmu.”Fadhil mengangkat kotak makan berwarna biru tua itu.“Oh, ini?”“Iya, itu.”Bekal sederhana itu mendadak teras
Pagi itu terasa berbeda.Tidak ada keajaiban yang turun dari langit. Tidak ada masalah yang mendadak hilang begitu saja. Hutang-hutang kehidupan masih menunggu diselesaikan. Luka yang ditinggalkan masa lalu juga belum sepenuhnya sembuh.Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Fadhil bangun tanpa perasaan ingin lari dari kenyataan.Ia duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi. Udara pagi terasa sejuk. Dari dalam rumah terdengar suara Zubaidah menyiapkan sarapan dan sesekali menegur Arjuna yang sedang berlarian.Suasana sederhana itu membuat Fadhil tersenyum.Mungkin inilah yang disebut kesempatan kedua. Bukan untuk mengulang hidup.Melainkan untuk memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki."Melamun lagi?" Suara Zubaidah membuat Fadhil menoleh.Wanita itu meletakkan sepiring pisang goreng di meja."Kali ini tidak.""Lalu?""Aku sedang membuat daftar pekerjaan." Zubaidah tertawa kecil."Pekerjaan rumah?""Kalau cuma rumah, mungkin tidak akan cukup sampai siang." Fadh
Zubaidah masih duduk di samping Fadhil dan malam semakin larut. Tangannya belum melepaskan genggaman suaminya. Entah sejak kapan, tetapi tangisnya telah mereda. Yang tersisa hanyalah rasa sesak dan malu yang terus berputar di dalam dada.Selama ini ia selalu merasa sebagai pihak yang paling terluka, tersakiti dan paling menderita.Namun malam ini, untuk pertama kalinya, ia melihat luka yang dipikul Fadhil selama ini. Luka yang bahkan tidak pernah ia tanyakan."Kau membenciku?" tanya Zubaidah pelan.Fadhil tersenyum tipis.Kalimat itu mengingatkannya pada masa-masa awal pernikahan mereka. Saat Zubaidah masih sering bertanya hal yang sama setiap kali mereka bertengkar."Tidak.""Benarkah?""Kalau aku membencimu, aku tidak akan masih duduk di sini." Zubaidah kembali menunduk."Aku sudah menghancurkan terlalu banyak hal." Fadhil menghela nafas panjang."Kita.""Hah?""Kita yang menghancurkan terlalu banyak hal." Zubaidah mengangkat kepala."Tidak semuanya salahmu.""Tapi...""Aku juga pun
Fadhil duduk di teras belakang sambil memandangi halaman yang mulai gelap. Secangkir kopi di tangan sudah mulai dingin, tetapi tak sedikit pun menarik perhatiannya.Malam itu rumah terasa begitu sunyi.Arjuna sudah tidur lebih awal setelah makan tadi. Hanya suara jangkrik yang terdengar dari kebun samping rumah.Zubaidah keluar membawa sepiring pisang goreng dan meletakkannya di meja kecil di antara mereka.“Aku bikin kesukaanmu.” Fadhil hanya mengangguk.Tidak ada senyum. Tidak ada ucapan terima kasih seperti biasanya. Sikap itu membuat Zubaidah semakin gelisah.“Apa kau masih marah?”Pertanyaan itu akhirnya keluar setelah beberapa menit mereka terdiam.Fadhil tertawa kecil. Bukan tawa bahagia. Lebih mirip seseorang yang mendengar sesuatu yang ironis.“Menurutmu aku marah?”“Kalau tidak marah kenapa seperti ini terus?” Fadhil mengusap wajahnya pelan.“Aku capek, Zubaidah.” Kalimat sederhana itu membuat wanita di sampingnya terdiam.“Aku benar-benar capek.”“Kau selalu bilang begitu
Sambil menyiapkan makan malam, Zubaidah terus berpikir bagaimana caranya memulai percakapan dengan suaminya kembali. Bagaimanapun masalah rumah tangga harus diselesaikan. Bagaimanapun caranya. Termasuk gantian merendahkan ego di hadapan suami.Pisau di tangannya bergerak pelan memotong wortel. Sesekali ia melirik pintu dapur, berharap Fadhil melongok atau bertanya, “Apa perlu dibantu?” seperti dulu. Zubaidah menghembuskan napas panjang.Jika dipikir-pikir lagi, apa yang selama ini diperjuangkannya?Sarah sudah pergi. Tidak lagi merebut perhatian suaminya setiap hari. Bahkan hubungan Fadhil dan Sarah sekarang bukan lagi tentang rasa tapi tanggung jawab pada anak-anak mereka. Bukankah itu yang selama ini ia inginkan?Namun anehnya, kemenangan itu tidak pernah terasa seperti kemenangan. Ia justru kehilangan ketenangan yang dulu mati-matian ingin dipertahankan.Pikirannya melayang pada beberapa wanita yang pernah membuatnya cemburu.Sarah, Bu Mona bahkan Bu Nur, karena mendapatkan perhat
Ini adalah Hari ke dua Fadhil dan Zubaidah perang dingin. Tepatnya Fadhil lah yang mendiamkan istriny itu agar tidak terus terusan berbuat seenaknya. Namun meski begitu, tak mungin lelaki itu terus saja menghindari wanita yang dinikahinya atas saran istri pertamanya diwaktu dulu. Fadhil akhirnya
Setelah satu hari yang kacau, akhirnya Fadhil bisa merebahkan diri di tempat tidur single kamar Arjuna. Si bayi masih menggunakan box demi keamanan. Sang ibu sendiri telah lelah mengetuk pintu dan menyerah menjauh dari kamar. Selama Arjuna tak sampai terganggu, Fadhil hanya bisa mengabaikan istriny
Fadhil kembali membenamkan diri di rumah Zubaidah. Menjadi suami rumah tangga yang mengurus semua hal tentang rumah dan anak, sementara beras dan lainnya dibeli istri yang bekerja di luar. Zubaidah sendiri tak mau kembali berkonflik dengan suami. Dirinya fokus mengajar, mengabaikan pandangan orang
Setelah berhasil mengetahui alamat Sarah di kota itu, Fadhil kembali menjalankan sepeda motornya perlahan lalu melesat cepat menuju rumah setelah jauh dari lingkungan padat penduduk itu. Tak heran selama ini Fadhil mencarinya ke berbagai perumahan dekat rumah sakit maupun dekat rumah mereka tapi ta







