Masuk“Kenapa Cemberut begitu pulang ngantor?” Pertanyaan itu tak mengusik Mona yang masih kesal tanpa sebab sejak pulang tadi.“Aku sudah berusaha membuat jarak, Kek. bahkan kami sudah bicara banyak dari hati ke hati. Awalnya Mona bisa mengerti, tapi perasaan ini tak mau kompromi. Aku semakin menyukainya. Bagaimana ini?” Mona bicara dengan gusar.Sang kakek hanya menarik napas panjang dan mengetukkan tongkatnya di lantai secara berirama menandakan sedang berpikir keras.“Mona. Kalau kau ngebet nikah, bagaimana kalau kakek carikan diantara banyak cucu orang kaya temana kakek saja?” Mona langsung mendelik.“Kek! Mona lagi serius.”“Kakek juga serius.” Lelaki tua itu mengangkat bahu. “Anak-anak teman kakek banyak yang ganteng. Pengusaha, dokter, dosen, ada semua.”“Mona tidak sedang cari katalog calon suami.”“Nah itu dia masalahnya.” Kakek menunjuk cucunya dengan ujung tongkat. “Kalau memang mau cari suami, pilihannya banyak. Tapi kalau yang kau mau cuma satu orang tertentu, itu namanya sud
“Kenapa Cemberut begitu pulang ngantor?” Pertanyaan itu tak mengusik Mona yang masih kesal tanpa sebab sejak pulang tadi.“Aku sudah berusaha membuat jarak, Kek. bahkan kami sudah bicara banyak dari hati ke hati. Awalnya Mona bisa mengerti, tapi perasaan ini tak mau kompromi. Aku semakin menyukainya. Bagaimana ini?” Mona bicara dengan gusar.Sang kakek hanya menarik napas panjang dan mengetukkan tongkatnya di lantai secara berirama menandakan sedang berpikir keras.“Mona. Kalau kau ngebet nikah, bagaimana kalau kakek carikan diantara banyak cucu orang kaya temana kakek saja?” Mona langsung mendelik.“Kek! Mona lagi serius.”“Kakek juga serius.” Lelaki tua itu mengangkat bahu. “Anak-anak teman kakek banyak yang ganteng. Pengusaha, dokter, dosen, ada semua.”“Mona tidak sedang cari katalog calon suami.”“Nah itu dia masalahnya.” Kakek menunjuk cucunya dengan ujung tongkat. “Kalau memang mau cari suami, pilihannya banyak. Tapi kalau yang kau mau cuma satu orang tertentu, itu namanya sud
Pagi itu Bu Mona datang lebih awal dari biasanya.Ia membuka pintu kantor ketika ruangan masih sepi dan hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Tasnya diletakkan di atas meja, lalu seperti kebiasaan setiap pagi, ia menyalakan komputer dan menyiapkan secangkir kopi.Namun pikirannya tidak berada di kantor.Pikirannya justru melayang pada sebuah kotak bergambar yang masih tersimpan rapi di dalam loker.Boneka lucu yang belum sempat diberikan.Bu Mona menghela nafas pelan.Entah kenapa semalam ia terus memikirkan anak kecil yang sudah memikat hatinya begitu dalam. Biasa mendengar langsung celotehnya dan pekikan khasnya, ia tak puas hanya melihat beberapa foto dan mendengar cerita singkat dari Fadhil.Arjuna.Anak itu pasti sedang tumbuh dengan cepat. Mungkin sekarang sudah bisa mengucapkan beberapa kata baru. Atau mungkin sedang membuat kedua orang tuanya kewalahan setiap hari.Bu Mona tersenyum sendiri. Sampai akhirnya senyum itu memudar ketika menyadari satu hal. Keinginan
Jam analog di dinding berdentang tiga kali. Baik Bu Mona dan Fadhil dengan kompak menarik tangannya untuk meregangkan persendian setelah duduk lama di depan layar di meja masing-masing. Mendekati waktu pulang kerja, Bu Mona mulai membereskan meja sementara Fadhil masih meneruskan berkutat dengan berkas dan sesekali menatap layar dan mengetikkan sesuatu atau mengarahkan tetikus dengan wajah serius. Mode tak bisa diganggu.“Pak Fadhil mau menginap di kantor?” kelakar Bu Mona menarik perhatian lelaki yang masih fokus dengan pekerjaannya. “Mungkin nanti kalau kafe kita sangat ramai dan terlalu banyak yang kita urus, aku pasti tak keberatan menginap di kantor.”“Kalau sekarang pasti sangat ingin segera pulang menemui keluarga kecil yang hangat, tapi kenapa malah pura-pura sibuk?”Fadhil menarik napas pelan. Mungkin Bu Mona masih kesal hingga kerap kali mengucapkan kata-kata sarkas dan mengaitkan segala percakapan dengan sesuatu yang tak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang seda
Fadhil membawa kotak bekalnya ke pantry kantor. Mengambil air putih dan menarik kursi di ujung ruang membawanya ke samping meja kecil dimana Bu Mona sedang membuka paket makan siang yang baru saja diantar Pak Kurir.Dalam diam mereka menikmati masakan masing-masing. Sesekali Bu Mona melitrik kotak yang dipegang erat seolah harta karun di depannya. Sementara dirinya telah siap bersantap. Dengan ragu-ragu diulurkan ujung sumpitnya ke kotak dalam genggaman Fadhil yang reflek menarik tangannya mundur. Bu Mona terkekeh pelan.“Aku tak akan memintanya.”“Aku tahu, lagi pula bukan yang sangat enak. Milikmu sendiri lebih menggoda.”“Tapi nyatanya kau tak tergoda juga.”“Ya. Karena kuharap bisa menjaganya saja tak ingin merusaknya.”“Huaaa!! Kenapa kau tak lanjut saja jadi brengsek biar aku mundur?” Pekik Bu Mona mengagetkan Fadhil.Lanjutkan hingga total 600 kata“Huaaa!! Kenapa kau tak lanjut saja jadi brengsek biar aku mundur?”Pekik Bu Mona membuat Fadhil hampir menjatuhkan botol air minum
Pagi berikutnya Fadhil kembali ke kantor dengan keadaan yang lebih hidup dari biasanya. Pakaian Rapi, rambut klimis dan mata yang berbinar. Bahkan selain tas ransel yang disandang, dia juga membawa sesuatu di tangannya yang menarik perhatian Bu Mona.“Selamat Pagi Bu Mona.”Butuh beberapa detik. wanita dengan setelan kantor elegan berwarna hijau muda yang tampak segar dan membuat seluruh penampilannya enak dilihat.“Hallo!” Fadhil mengeraskan suaranya sambil menggoyangkan telapak tangan di depan wajahnya.Bu Mona yang sejak tadi memerhatikan kotak makan di tangan Fadhil akhirnya berkedip beberapa kali.“Hah? Oh, pagi.” Ia berdeham pelan, berusaha menyembunyikan rasa penasaran yang sudah jelas terlihat di wajahnya.Fadhil tersenyum kecil lalu melangkah menuju mejanya. Namun baru dua langkah, suara Bu Mona kembali terdengar. “Itu apa?”Fadhil menoleh.“Apa?”“Yang di tanganmu.”Fadhil mengangkat kotak makan berwarna biru tua itu.“Oh, ini?”“Iya, itu.”Bekal sederhana itu mendadak teras
Fadhil berjibaku dengan urusan rumah dan dapur. Seperti hari biasa untuk menghindari keributan dengan istrinya, lelaki tiga puluh lima tahun itu rela melakukan semua hal pekerjaan rumah. Dari membersihkan dan merapikan juga mengisi meja makan dengan hidangan yang tak terlalu buruk rasanya di lidah
Sarah mondar mandir di depan ruang penanganan. Bapak sedang berjuang di dalam sana, Ibu terpekur di pojok kursi tunggu dengan wajah pucat pasi dan bibir bergetar tak henti melantunkan permohonan pada Sang Pemilik kehidupan. Berharap suaminya sanggup melewati badai kali ini. Setelah lelah wanita de
Ini adalah Hari ke dua Fadhil dan Zubaidah perang dingin. Tepatnya Fadhil lah yang mendiamkan istriny itu agar tidak terus terusan berbuat seenaknya. Namun meski begitu, tak mungin lelaki itu terus saja menghindari wanita yang dinikahinya atas saran istri pertamanya diwaktu dulu. Fadhil akhirnya
Setelah satu hari yang kacau, akhirnya Fadhil bisa merebahkan diri di tempat tidur single kamar Arjuna. Si bayi masih menggunakan box demi keamanan. Sang ibu sendiri telah lelah mengetuk pintu dan menyerah menjauh dari kamar. Selama Arjuna tak sampai terganggu, Fadhil hanya bisa mengabaikan istriny







