로그인Hubungan Fadhil dan Zubaidah memang sudah lebih baik. Hanya saja setiap kejadian tak bisa dihapus begitu saja. Dosa masa lalu masih saja membayangi keduanya. Baik Fadhil maupun Zubaidah memiliki masalahnya masing-masing.Hari ini Zubaidah sangat malu dan karenanya menjadi lebih pendiam. Dalam perjalanan pulang hingga masing-masing telah bersiap istirahat di pembaringan malam itu, tak ada percakapan berarti kecuali hanya yang berhubungan dengan Arjuna. Fadhil sendiri tak memaksa dan mencoba memberi ruang bagi istrinya.Tak disangka pagi berikutnya, Fadhil yang gantian harus berurusan dengan orang yang hadir melibatkan hati.Bu Mona.Wanita itu sudah menunggunya di depan kantor ketika Fadhil tiba."Selamat pagi, Pak.""Pagi, Bu Mona."Biasanya Bu Mona langsung masuk ke dalam gedung bersama pegawai lain. Namun kali ini wanita itu tampak ragu-ragu."Pak Fadhil, nanti kalau ada waktu saya ingin bicara."Fadhil menoleh."Tentang pekerjaan?"Bu Mona menggeleng pelan."Bukan."Jawaban itu mem
Bab 167: Bukan UrusankuAkhir pekan hanya di rumah saja sebenarnya bukan masalah bagi keluarga kecil Fadhil apalagi ada Arjuna di antara dirinya dan istri. Di rumah banyak yang bisa dijadikan kegiatan dan hiburan.Mengajak putra mereka bermain, membuat camilan juga bersantai di tempat tidur. Kapan lagi ada kesempatan untuk rebahan kalau bukan hari libur bukan? Hanya saja menjelang sore, Arjuna mulai rewel.“Mungkin dia bosan. Bagaimana kalau kita keluar sebentar ke taman kota?” tanya Fadhil mengajukan saran.“Boleh juga. Aku akan bersiap,” jawab Zubaidah sambil bangkit dari duduknya menuju kamar.Tak sampai tiga puluh menit kemudian mereka sudah berada di taman kota. Udara sore cukup sejuk. Banyak keluarga memanfaatkan hari libur untuk berjalan-jalan. Anak-anak berlarian di area bermain, sementara orang tua duduk santai di bangku yang tersebar di bawah pepohonan rindang.Arjuna yang sejak tadi rewel mendadak ceria begitu kedua kakinya menyentuh tanah. Bocah itu tertawa-tawa dan meliuk
Pagi berikutnya adalah akhir pekan. Fadhil dan Zubaidah sama-sama mengawali hari dengan beberes dan masak bersama. Celoteh Arjuna masih dengan kata pertamanya. “Pa…pa.”Pasangan suami istri itu sudah mulai terbiasa dan hanya menanggapinya dengan senyum. Arjuna bukan sedang memanggil-manggil ayahnya tetapi sedang mengolah vokal.“Ma … ma …” Kata Zubaidah berusaha mengajari Arjuna memanggil dirinya.“Pa …pa…pa…ma… ma…mam…”Zubaidah memekik gembira karena merasa putranya sudah bisa memanggil “mama” dengan lebih jelas. Tangannya langsung meraih Arjuna, mengangkat bayi itu sedikit ke udara lalu menimangnya dengan tawa kecil yang tertahan.“Coba sekali lagi, Nak… mama…” katanya pelan, penuh harap.Arjuna hanya menatap wajah ibunya dengan mata bulatnya yang masih polos, lalu kembali mengeluarkan suara acak yang bercampur tawa kecil, seolah ia sendiri menikmati bunyi yang baru ia temukan dari mulutnya.Fadhil yang berdiri di dekat meja dapur hanya tersenyum tipis. Ia baru saja menaruh piring-
Udara malam menusuk kulit Fadhil, membuatnya sedikit menggigil saat melangkah keluar dari area masjid. Ia mengangkat tangan sekilas membalas salam seorang tetangga yang baru saja pulang bersama.Langkahnya dipercepat. Langit di atas tampak berat, mendung tebal menutup sisa cahaya bulan yang tadi masih samar-samar terlihat. Malam terasa lebih dingin dari biasanya, seperti menyimpan sesuatu yang tak selesai ia tinggalkan di belakang.Di depan rumah, lampu teras sudah menyala redup. Suara jangkrik bersahut-sahutan dari kebun kecil di samping pagar, bercampur dengan angin yang sesekali menggesekkan dedaunan. Fadhil menarik napas singkat sebelum membuka pintu, mencoba melepaskan sisa dingin yang menempel di tubuhnya.Begitu masuk, matanya langsung tertuju pada ruang tengah yang masih temaram. Di sana, Zubaidah duduk bersandar di sofa kecil sambil menggendong Arjuna yang tampak belum sepenuhnya mengantuk. Ada selimut tipis melilit tubuh bayi itu, dan tangan kecilnya sesekali bergerak pelan
“Kenapa Cemberut begitu pulang ngantor?” Pertanyaan itu tak mengusik Mona yang masih kesal tanpa sebab sejak pulang tadi.“Aku sudah berusaha membuat jarak, Kek. bahkan kami sudah bicara banyak dari hati ke hati. Awalnya Mona bisa mengerti, tapi perasaan ini tak mau kompromi. Aku semakin menyukainya. Bagaimana ini?” Mona bicara dengan gusar.Sang kakek hanya menarik napas panjang dan mengetukkan tongkatnya di lantai secara berirama menandakan sedang berpikir keras.“Mona. Kalau kau ngebet nikah, bagaimana kalau kakek carikan diantara banyak cucu orang kaya temana kakek saja?” Mona langsung mendelik.“Kek! Mona lagi serius.”“Kakek juga serius.” Lelaki tua itu mengangkat bahu. “Anak-anak teman kakek banyak yang ganteng. Pengusaha, dokter, dosen, ada semua.”“Mona tidak sedang cari katalog calon suami.”“Nah itu dia masalahnya.” Kakek menunjuk cucunya dengan ujung tongkat. “Kalau memang mau cari suami, pilihannya banyak. Tapi kalau yang kau mau cuma satu orang tertentu, itu namanya sud
“Kenapa Cemberut begitu pulang ngantor?” Pertanyaan itu tak mengusik Mona yang masih kesal tanpa sebab sejak pulang tadi.“Aku sudah berusaha membuat jarak, Kek. bahkan kami sudah bicara banyak dari hati ke hati. Awalnya Mona bisa mengerti, tapi perasaan ini tak mau kompromi. Aku semakin menyukainya. Bagaimana ini?” Mona bicara dengan gusar.Sang kakek hanya menarik napas panjang dan mengetukkan tongkatnya di lantai secara berirama menandakan sedang berpikir keras.“Mona. Kalau kau ngebet nikah, bagaimana kalau kakek carikan diantara banyak cucu orang kaya temana kakek saja?” Mona langsung mendelik.“Kek! Mona lagi serius.”“Kakek juga serius.” Lelaki tua itu mengangkat bahu. “Anak-anak teman kakek banyak yang ganteng. Pengusaha, dokter, dosen, ada semua.”“Mona tidak sedang cari katalog calon suami.”“Nah itu dia masalahnya.” Kakek menunjuk cucunya dengan ujung tongkat. “Kalau memang mau cari suami, pilihannya banyak. Tapi kalau yang kau mau cuma satu orang tertentu, itu namanya sud
Setelah berhasil mengetahui alamat Sarah di kota itu, Fadhil kembali menjalankan sepeda motornya perlahan lalu melesat cepat menuju rumah setelah jauh dari lingkungan padat penduduk itu. Tak heran selama ini Fadhil mencarinya ke berbagai perumahan dekat rumah sakit maupun dekat rumah mereka tapi ta
Fadhil berniat berjalan-jalan mengitari sekitaran komplek perumahan untuk mencari hawa segar dan mengurai rasa sesak di dadanya. Ketika sampai di ujung jalan, tampak suasana semarang lampu-lampu di pinggiran perkampungan. Memang perumahan Sarah dan Zubaidah bertetangga, dan terpisah sebuah jalan di
Hari telah larut ketika lelaki tiga puluh lima tahun itu masih terjaga di kamar bernuansa biru dengan corak bulan bintang bertebaran di tembok dan langit-langit. saat itu, dirinyalah yang mendekorasi kamar Arjuna meniru kamar anak di rumah sana, hanya berbeda warna dari pink kombinasi hijau favorit
Fadhil melajukan motor bututnya perlahan menuju pulang. Mengingat apa yang baru saja terjadi, sudah dipastikan omelan panjang menanti begitu sampai rumah karena kembali kehilangan pekerjaan. Setidaknya beristirahat sebentar menenangkan diri sangat diperlukannya saat ini. Maka setelah hampir sampai







