Mag-log inPagi berikutnya adalah akhir pekan. Fadhil dan Zubaidah sama-sama mengawali hari dengan beberes dan masak bersama. Celoteh Arjuna masih dengan kata pertamanya. “Pa…pa.”Pasangan suami istri itu sudah mulai terbiasa dan hanya menanggapinya dengan senyum. Arjuna bukan sedang memanggil-manggil ayahnya tetapi sedang mengolah vokal.“Ma … ma …” Kata Zubaidah berusaha mengajari Arjuna memanggil dirinya.“Pa …pa…pa…ma… ma…mam…”Zubaidah memekik gembira karena merasa putranya sudah bisa memanggil “mama” dengan lebih jelas. Tangannya langsung meraih Arjuna, mengangkat bayi itu sedikit ke udara lalu menimangnya dengan tawa kecil yang tertahan.“Coba sekali lagi, Nak… mama…” katanya pelan, penuh harap.Arjuna hanya menatap wajah ibunya dengan mata bulatnya yang masih polos, lalu kembali mengeluarkan suara acak yang bercampur tawa kecil, seolah ia sendiri menikmati bunyi yang baru ia temukan dari mulutnya.Fadhil yang berdiri di dekat meja dapur hanya tersenyum tipis. Ia baru saja menaruh piring-
Udara malam menusuk kulit Fadhil, membuatnya sedikit menggigil saat melangkah keluar dari area masjid. Ia mengangkat tangan sekilas membalas salam seorang tetangga yang baru saja pulang bersama.Langkahnya dipercepat. Langit di atas tampak berat, mendung tebal menutup sisa cahaya bulan yang tadi masih samar-samar terlihat. Malam terasa lebih dingin dari biasanya, seperti menyimpan sesuatu yang tak selesai ia tinggalkan di belakang.Di depan rumah, lampu teras sudah menyala redup. Suara jangkrik bersahut-sahutan dari kebun kecil di samping pagar, bercampur dengan angin yang sesekali menggesekkan dedaunan. Fadhil menarik napas singkat sebelum membuka pintu, mencoba melepaskan sisa dingin yang menempel di tubuhnya.Begitu masuk, matanya langsung tertuju pada ruang tengah yang masih temaram. Di sana, Zubaidah duduk bersandar di sofa kecil sambil menggendong Arjuna yang tampak belum sepenuhnya mengantuk. Ada selimut tipis melilit tubuh bayi itu, dan tangan kecilnya sesekali bergerak pelan
“Kenapa Cemberut begitu pulang ngantor?” Pertanyaan itu tak mengusik Mona yang masih kesal tanpa sebab sejak pulang tadi.“Aku sudah berusaha membuat jarak, Kek. bahkan kami sudah bicara banyak dari hati ke hati. Awalnya Mona bisa mengerti, tapi perasaan ini tak mau kompromi. Aku semakin menyukainya. Bagaimana ini?” Mona bicara dengan gusar.Sang kakek hanya menarik napas panjang dan mengetukkan tongkatnya di lantai secara berirama menandakan sedang berpikir keras.“Mona. Kalau kau ngebet nikah, bagaimana kalau kakek carikan diantara banyak cucu orang kaya temana kakek saja?” Mona langsung mendelik.“Kek! Mona lagi serius.”“Kakek juga serius.” Lelaki tua itu mengangkat bahu. “Anak-anak teman kakek banyak yang ganteng. Pengusaha, dokter, dosen, ada semua.”“Mona tidak sedang cari katalog calon suami.”“Nah itu dia masalahnya.” Kakek menunjuk cucunya dengan ujung tongkat. “Kalau memang mau cari suami, pilihannya banyak. Tapi kalau yang kau mau cuma satu orang tertentu, itu namanya sud
“Kenapa Cemberut begitu pulang ngantor?” Pertanyaan itu tak mengusik Mona yang masih kesal tanpa sebab sejak pulang tadi.“Aku sudah berusaha membuat jarak, Kek. bahkan kami sudah bicara banyak dari hati ke hati. Awalnya Mona bisa mengerti, tapi perasaan ini tak mau kompromi. Aku semakin menyukainya. Bagaimana ini?” Mona bicara dengan gusar.Sang kakek hanya menarik napas panjang dan mengetukkan tongkatnya di lantai secara berirama menandakan sedang berpikir keras.“Mona. Kalau kau ngebet nikah, bagaimana kalau kakek carikan diantara banyak cucu orang kaya temana kakek saja?” Mona langsung mendelik.“Kek! Mona lagi serius.”“Kakek juga serius.” Lelaki tua itu mengangkat bahu. “Anak-anak teman kakek banyak yang ganteng. Pengusaha, dokter, dosen, ada semua.”“Mona tidak sedang cari katalog calon suami.”“Nah itu dia masalahnya.” Kakek menunjuk cucunya dengan ujung tongkat. “Kalau memang mau cari suami, pilihannya banyak. Tapi kalau yang kau mau cuma satu orang tertentu, itu namanya sud
Pagi itu Bu Mona datang lebih awal dari biasanya.Ia membuka pintu kantor ketika ruangan masih sepi dan hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Tasnya diletakkan di atas meja, lalu seperti kebiasaan setiap pagi, ia menyalakan komputer dan menyiapkan secangkir kopi.Namun pikirannya tidak berada di kantor.Pikirannya justru melayang pada sebuah kotak bergambar yang masih tersimpan rapi di dalam loker.Boneka lucu yang belum sempat diberikan.Bu Mona menghela nafas pelan.Entah kenapa semalam ia terus memikirkan anak kecil yang sudah memikat hatinya begitu dalam. Biasa mendengar langsung celotehnya dan pekikan khasnya, ia tak puas hanya melihat beberapa foto dan mendengar cerita singkat dari Fadhil.Arjuna.Anak itu pasti sedang tumbuh dengan cepat. Mungkin sekarang sudah bisa mengucapkan beberapa kata baru. Atau mungkin sedang membuat kedua orang tuanya kewalahan setiap hari.Bu Mona tersenyum sendiri. Sampai akhirnya senyum itu memudar ketika menyadari satu hal. Keinginan
Jam analog di dinding berdentang tiga kali. Baik Bu Mona dan Fadhil dengan kompak menarik tangannya untuk meregangkan persendian setelah duduk lama di depan layar di meja masing-masing. Mendekati waktu pulang kerja, Bu Mona mulai membereskan meja sementara Fadhil masih meneruskan berkutat dengan berkas dan sesekali menatap layar dan mengetikkan sesuatu atau mengarahkan tetikus dengan wajah serius. Mode tak bisa diganggu.“Pak Fadhil mau menginap di kantor?” kelakar Bu Mona menarik perhatian lelaki yang masih fokus dengan pekerjaannya. “Mungkin nanti kalau kafe kita sangat ramai dan terlalu banyak yang kita urus, aku pasti tak keberatan menginap di kantor.”“Kalau sekarang pasti sangat ingin segera pulang menemui keluarga kecil yang hangat, tapi kenapa malah pura-pura sibuk?”Fadhil menarik napas pelan. Mungkin Bu Mona masih kesal hingga kerap kali mengucapkan kata-kata sarkas dan mengaitkan segala percakapan dengan sesuatu yang tak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang seda
Fadhil berjibaku dengan urusan rumah dan dapur. Seperti hari biasa untuk menghindari keributan dengan istrinya, lelaki tiga puluh lima tahun itu rela melakukan semua hal pekerjaan rumah. Dari membersihkan dan merapikan juga mengisi meja makan dengan hidangan yang tak terlalu buruk rasanya di lidah
Sarah mondar mandir di depan ruang penanganan. Bapak sedang berjuang di dalam sana, Ibu terpekur di pojok kursi tunggu dengan wajah pucat pasi dan bibir bergetar tak henti melantunkan permohonan pada Sang Pemilik kehidupan. Berharap suaminya sanggup melewati badai kali ini. Setelah lelah wanita de
Ketika Sarah akhirnya bisa tertidur setelah gelisah menunggu cepat pagi untuk bertemu ke dua jagoannya.Sementara nun jauh di sana seorang pria tampan berdiri mematung di balkon kamarnya yang sepi dan dingin pada jam empat sore. Karena sulit fokus dokter tampan itu memilih mengakhiri praktek di kli
Sarah keluar kamar setelah shalat isya. Tubuhnya sudah mulai rilaks setelah rebahan beberapa saat. Tidur di mobil meski sudah dikondisikan senyaman mungikin tetap saja membuat tubuh Sarah yang memang belum terlalu fit menjadi pegal-pegal. Ibu sengaja melarangnya keluar kamar agar bisa beristirahat







