Share

Bab. 18

Author: Wening
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-12 00:41:21

Sejak saat itu Sarah menjadi sangat pendiam. Mengurus bayi Putri dalam keheningan. Sementara celoteh Si Kecil juga semakin jarang terdengar.

Suasana rumah Pak Rahmat dan Bu Syarifah mendadak menjadi suram. Seperti pagi ini.

“Kopi, Pak?”

“Teh saja, Bu. Lambungku agak agak perih belakangan ini kalau minum kopi.”

Mendengar hal itu Bu Syarifah segera meletakkan termos yang baru saja diisi dengan air mendidih.

“Apa kau sakit?” tanyanya panik.

“Tidak, Bu cuma kadang rasanya perih.”

“Kalau begitu jan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 209. Niat Ibadah di Hari Bahagia

    Fajar baru saja menyingsing ketika Sarah membuka jendela kamarnya. Cahaya keemasan perlahan menerobos sela-sela tirai, menyapu lantai kayu dan sajadah yang masih terbentang di sudut ruangan.Rumah itu belum benar-benar ramai. Hanya terdengar langkah kaki Bibi yang sesekali berlalu di dapur serta suara burung yang saling bersahutan dari pepohonan di halaman.Hari itu berbeda.Tidak ada rasa gugup yang membuat dadanya sesak. Tidak ada pula kegembiraan yang meledak-ledak sebagaimana sering ia lihat dalam kisah-kisah pernikahan.Yang ada hanyalah ketenangan.Sarah memandangi kedua telapak tangannya beberapa saat.Tangan yang dulu pernah gemetar menandatangani gugatan cerai.Tangan yang pernah menggenggam erat ranjang rumah sakit sambil mempertahankan hidupnya dan Putri.Tangan yang pernah bekerja siang malam demi memastikan ketiga anaknya tetap dapat makan dan bersekolah.Hari ini, tangan yang sama akan diulurkan kembali.Bukan untuk memulai mimpi tentang kehidupan yang sempurna.Melainka

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 208. Baik Saja Sudah Cukup

    Ruang tamu rumah Sarah terasa begitu lengang.Ruangan yang luas itu hanya diisi dua orang yang duduk saling berhadapan dalam diam. Dari kejauhan, mereka tampak seperti dua aksen kecil yang melengkapi ruang tanpa saling mengganggu.Bibi entah sedang berada di mana. Putri pun masih terlelap di kamarnya, seolah alam sengaja menghadiahkan sedikit waktu bagi dua orang yang diam-diam memiliki arti besar dalam hidupnya.Sarah memeluk bantal sofa lebih erat.“Dokter...” panggilnya pelan.Pria itu mengangkat kepala.“Kau memahami maksud ucapanmu tadi, kan?” Tatapan Dokter Wan tetap tenang.“Apa aku terlihat s

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 207. Akulah yang Bergantung

    Akulah yang BergantungSarah langsung masuk ke kamar begitu tiba di rumah. Peristiwa yang baru saja terjadi masih membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Ia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.Air hangat memenuhi bak mandi. Perlahan ia membasuh wajah, rambut, lalu seluruh tubuhnya. Kehangatan air dan aroma sabun melati sedikit demi sedikit meluruhkan kepanikan yang sejak tadi menguasai pikirannya.Hampir setengah jam berlalu.Ketika keluar dari kamar, tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Ia telah mengenakan pakaian rumah yang rapi dan kerudung instan berwarna krem. Napasnya pun kembali teratur.Namun langkahnya terhenti di ambang pintu ruang tamu.Dokter Wan ternyata

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 206. Misteri Sebuah Tatapan

    Mendekati gerbang rumah, Sarah buru-buru membereskan barang bawaannya. Tas kerja, ponsel, dan beberapa berkas sudah berpindah ke kedua tangannya. Begitu mobil berhenti, ia berniat segera turun sebelum Putri menyadari kedatangannya.“Terima kasih banyak ya, Dok.” Ia bergeser mendekati pintu.Namun alih-alih membuka kunci pintu, Dokter Wan justru menurunkan kaca jendela.“Pak Ujang!” Penjaga yang sedang duduk di pos segera menoleh.“Eh, Pak Dokter! Sebentar!” Pak Ujang berlari kecil membuka gerbang sambil tersenyum lebar.Bahu Sarah langsung merosot.Selesai sudah harapannya pulang diam-diam.

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 205. Keluarga yang Memulai Dari Nol

    Selesai makan siang, Sarah memutuskan tidak kembali ke kantor. Hari itu ia ingin segera pulang karena tidak tega meninggalkan Putri terlalu lama.Seperti biasa, Dokter Wan bersikeras mengantarnya.“Tidak usah pesan kendaraan online,” katanya sambil membuka kunci mobil. “Aku juga searah.”Sarah menghela napas pelan. Percuma menolak. Pada akhirnya ia kembali memilih duduk di kursi belakang, menjaga jarak yang menurutnya lebih pantas.Perjalanan dimulai dalam suasana santai. Berbeda dengan pertemuan-pertemuan mereka dahulu yang selalu canggung, kini percakapan mengalir begitu saja. Mereka sudah terlalu sering bertemu sehingga selalu ada hal baru untuk dibahas.Sarah akhirnya mengutarakan rasa penasarannya

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 204. Semua Tahu

    Siang itu Sarah turun ke lobi kantor dengan ponsel di tangan. Jemarinya lincah menari di atas layar, hendak memesan taksi daring sebelum berangkat memenuhi undangan makan siang.Tin!Tin!Suara klakson membuatnya mengalihkan perhatian. Ia menengadah dan mendapati wajah tampan Dokter Wan menyembul dari balik jendela mobil.“Tidak usah pesan. Ayo pergi bersama.”Sarah mengernyit, melangkah mendekat hendak menolak dengan halus.“Tapi saya—”“Cepat naik,” potong Dokter Wan sambil melirik antrean kendaraan di belakangnya. “Lobi sudah mulai macet.”

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 4. Harapan Tetua

    “Sedang apa di situ, Nduk?”Sarah terlonjak kaget mendengar suara Bapak yang muncul tiba-tiba di belakangnya.“Kenapa kaget begitu?” tanya bapak lagi dengan heran.“Bapak tiba-tiba muncul di belakang Sarah.”“Bukan tiba-tiba, tapi kamu yang melamun. Apa yang kau pikirkan tentang Nak Dokter?”Sarah

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 3. Kata Pertama Putri

    Keluarga sederhana Sarah, makan bersama pagi itu dengan sangat tenang. Berbeda dengan hari-hari biasanya mereka selalu ramai di depan meja makan. Bukan soal ketidak sopanan tetapi lebih pada hangatnya hubungan mereka biasanya. Kini mereka tampak sangat menjaga sikap, terutama wanita berkerudung cok

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 2. Celoteh Putri Kecil

    Sarah termangu di antara dinding sekat yang memisahkan antara ruang tengah dan ruangan depan. Meski tak keras suara mereka cukup jelas terdengar. Ekspresi bapak sungguh sangat memelas dengan suara bergetar, beliau mengungkapkan kekhawatiran akan putri semata wayang yang dimilikinya.“Bapak gagal me

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 1. Perjuangan Sarah

    Setelah hampir dua bulan Sarah melupakan siapa dirinya, akhirnya wanita berwajah lembut itu sadar kembali. Ironisnya hari itu Zubaidah sang madu juga kebetulan sedang melahirkan sehingga demi menghindari pertemuan dengan sang suami, Sarah dibantu keluarga juga Dr. Wan akhirnya meninggalkan rumah sa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status