共有

Surat Kontrak Kerja

作者: Suharni
last update 公開日: 2026-01-19 17:19:55
Di ruang itu, Anggun dan Azura makan tanpa bicara. Hanya suara denting sendok yang saling bersahutan. Anggun masih tetap gugup, tapi berusaha mengendalikan diri sebisa mungkin. Ia tidak ingin membuat kekacauan lagi dan lagi.

Anggun memilih ayam goreng tepung dan salad sayur sebagai menu makan malam itu. Sedangkan Azura mengambil stek.

Begitu makanan masuk ke dalam mulut, ada sensasi nikmat yang belum pernah dirasa sebelumnya yang tidak bisa ia beri nama.

Jelas ia sering makan ayam goreng, tap
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Istri yang Gagal dan Bau Alkohol

    Suara langkah kaki Dewi yang tergesa-gesa memecah keheningan rumah besar yang kini terasa seperti kuburan itu.Begitu melangkah masuk ke dalam kamar utama, bau alkohol dan kesedihan yang pekat langsung menyengat indra penciumannya. Ia mendapati Permana masih terduduk di lantai, bersandarkan ranjang dengan mata merah mendelik kosong dan bingkai foto Dewa yang masih erat dalam dekapannya.Dewi tidak memberikan waktu bagi suaminya untuk meratapi kesedihan lebih lama. Wanita itu melempar tas branded miliknya ke atas kasur, lalu melangkah mendekat dengan napas memburu."Mas, bangun! Jangan seperti orang mati begini!" seru Dewi, suaranya melengking egois, merusak kesunyian kamar."Aku baru saja pulang dari lapas. Kondisi Aira sangat memprihatinkan, Mas! Dia kurus, pucat, dan tempat itu sama sekali bukan tempat untuk putri kita!" lanjut Dewi.Permana perlahan mengangkat wajah. Tatapannya layu, ia menatap istrinya dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipi."Aira membunuh Dewa, Dewi...

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Dewi yang Tamak

    Besi jeruji penjara terasa dingin dan berkarat saat Dewi menempelkan jemarinya yang gemetar di sana. Bau apak, keringat, dan desinfektan murahan menyeruak, mengikis sisa-sisa kemewahan yang biasanya melekat pada tubuh wanita paruh baya itu.Di seberang meja kayu yang retak-retak, Aira duduk dengan pakaian tahanan berwarna jingga yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang kian kurus. Wajah gadis itu pucat, dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya, menjadi saksi bisu malam-malam tanpa tidur di atas lantai semen yang dingin.Dewi memandang putrinya dengan dada yang sesak oleh rasa bersalah, tetapi sekaligus oleh ketakutan egois yang masih mencengkeramnya."Aira..." Suara Dewi bergetar, nyaris teredam oleh hiruk-pikuk suara tangisan dan bisikan dari bilik kunjungan lain. "Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu."Aira mengangkat wajah. Matanya yang dulu berbinar kini tampak kosong, seperti sumur tua yang kering. Gadis itu menatap ibunya tanpa ekspresi, sebuah kekosongan yang justru lebih me

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Kamu Masih Saja Cemburu?

    Malam itu terasa berbeda setelah semua yang terjadi. Dimana akhirnya Anggun mengakui hubungannya bersama Azura kepada Rena.Kini wanita itu tak lagi segan menunjukkan perasaan serta emosinya. Azura... pria itu tak jauh berbeda. Lebih dari Anggun, ia memiliki keluasan cinta yang begitu besar.Malam itu, ia sengaja memberi ruang kepada Anggun untuk bertemu Rena di apartment lamanya demi membahas suatu masalah, katanya.Azura tidak bertanya lebih, hanya memberi izin selayaknya suami kepada istri."Jadi Rena adalah temanmu?" tanya Azura begitu Anggun kembali ke rumah mereka. Mereka duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh di tangan masing-masing."Iya, dia sahabat baikku," jawab Anggun tanpa ragu."Mengapa kau tidak beritahu aku kalau kau punya terman bernama Rena?" tanya Azura sekali lagi. Lalu pria itu menyeruput tehnya yang masih hangat."Karena kamu tidaka pernah bertanya... lagi pula kita tidak pernah membahas urusan pribadi masing-masing. Aku juga tidak tahu kau bekerja di mana,

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Suamiku Bos Sahabatku

    Malam itu terasa ganjil. Anggun duduk di ruang tamu apartemen yang sempat dikontraknya dulu sebelum menikah, dengan tangan masih dingin meski udara tidak terlalu sejuk. Pikirannya terus kembali pada satu momen di cafe, yang mana tatapan Rena terkesan menyelidik ketika menyadari siapa Azura.Malam ini, Anggun memutuskan untuk singgah di apartmennya itu atas izin Azura. Alasannya cukup klasik, ia masih belum siap membawa orang lain ke rumah Azura, karena merasa tak enak hati terhadap pria itu.Raut wajah Rena saat di kafe, bukan hanya keterkejutan, melainkan ada rasa tertipu.Tak lama terdengar suara bel berbunyi. Dan Anggun pun berdiri, menarik napas panjang, lalu membuka pintu.Begitu pintu itu terbuka, Rena berdiri di sana. Wajahnya tidak marah, tapi jelas penuh pertanyaan."Masuk," kata Anggun pelan. Begitu pintu tertutup, Rena langsung berbalik menghadapnya."Jadi," ucapnya perlahan, "suamimu adalah Azura?"Anggun menelan ludah, antara canggung dan merasa bersalah."Iya," sahutnya.

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Ketika Azura Cemburu.

    Siang itu cafe tidak terlalu ramai, tapi cukup hidup untuk menjadi tempat bersembunyi dari dunia.Anggun duduk berhadapan dengan Rena di sudut dekat jendela. Cahaya siang menyentuh wajah wanita itu, membuat ekspresinya terlihat lebih lembut dari biasanya.Rena menyipitkan mata, memperhatikan wajah Anggun yang menurutnya berbeda."Kamu kelihatan beda, ya," kata Rena sembari menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Ia melipat kedua tangannya."Beda bagaimana?" tanya Anggun sambil mengaduk es teh yang mulai mencair."Seperti orang yang sedang jatuh cinta, tapi pura-pura tidak mau mengaku," sahut Rena datar, tapi cukup mengena di hati Anggun.Anggun pun tersenyum kecil. "Kamu terlalu banyak menonton drama," jawabnya."Bukan terlalu banyak menonton drama, Sayang, tapi aku terlalu lama mengenalmu. Apa... suamimu akhirnya benar-benar jatuh cinta ya?" jawab Rena cepat. Namun, di ujung kalimat, ia menyelipkan pertanyaan.Anggun tidak segera menjawab. Wanita itu menatap meja terlebih dahulu, seola

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Melangkah Bersama

    Pagi datang tanpa peringatan. Cahaya matahari menyelinap pelan melalui celah tirai, jatuh di lantai kamar dengan warna keemasan yang terlalu jujur untuk diabaikan.Anggun terbangun lebih dulu. Namun, Ia tidak langsung bergerak. Ada keheningan yang terasa berbeda saat itu, tetapi bukan sepi, melainkan penuh sisa-sisa kehangatan.Sementara Azura masih tertidur di sisinya. Wajahnya tampak lebih dewa saat tidur. Garis-garis tegas yang biasanya menjadi tameng, kini melunak.Lalu Anggun menatapnya lama, seperti sedang membaca ulang sebuah keputusan yang telah ia ambil semalam, keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.Anggun merasakan kehangatan di dadanya… lalu perlahan mengencang. Bersamaan dengan itu, kedua sudut bibir Anggun tertarik tipis, membentuk senyuman bahagia di sana.Dalam benak Anggun, semalam terasa nyata. Pagi ini pun nyata, tetapi justru di sanalah ketakutan mulai tumbuh.Ya, sejenak ketakutan tumbuh di hatinya. Bukan karena kontrak yang telah diingkar, melainkan pada kehi

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Api yang Tidak Bernama

    Empat puluh dua hari setelah terpecahnya kasus kematian Dewa, semua kembali berjalan seperti biasa. Azura kembali ke aktifitasnya. Permana mulai aktif berkantor, menggantikan peran Dewa sementara. Sedangkan Dewi menggantikan posisi Aira. Sementara Anggun, tetap melanjutkan hidup seperti biasa. Beke

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Merebut Harta Warisan

    Sejak kecil, Dewa diajarkan satu hal, ia harus menjadi pewaris.Bukan karena cinta, melainkan karena kewajiban. Dewi membesarkannya dengan disiplin, kaku, dan ambisi yang dipaksakan. Prestasi adalah mata uang cinta. Gagal berarti tak layak diperhatikan. Maka Dewa tumbuh menjadi pria yang jarang ter

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Sakit Perut Melilit

    Anggun melihat kartu nama yang diberi Azura. Alisnya hampir menyatu. Ia tahu lokasi itu."Ini--" Anggun nyaris tak percaya, Azura justru tinggal di sebuah kawasan elit khusus orang kaya.Ia pun memesan taksi online melalui ponselnya. Sepuluh menit menunggu, akhirnya kendaraan umum itu datang.Koper

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Di Tengah Jalan

    Anggun terlihat canggung. Ia meremas jemarinya yang mulai berkeringat dingin. Lalu ia melirik Azura yang sedang memeriksa ponselnya dengan ekspresi aneh. Alis pria itu sedikit mengernyit. Masih mengusap jemari yang dingin, lalu Anggun mencoba mengucapkan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di dalam

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status