แชร์

Jarak Yang Kentara

ผู้เขียน: Suharni
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-20 13:42:59
Hari itu, fajar masih belum tampak di luar. Anggun bangun dari tidur panjangnya. Bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Ia merasa perut bawahnya sungguh nyeri. Menstruasi kali ini terasa berbeda. Dimana seperti ada benda tajam yang menusuk bawah tubuh.

Sesekali Anggun meremas perutnya sembari berdesis sakit.

Dulu, saat berusia sembilan belas tahun, Anggun divonis dokter memiliki hormon berbeda dari wanita lain. Dimana ia akan merasakan tamu bulanan datang di waktu tak menentu dan ada beberapa gumpalan darah seukuran ibu jari keluar dari mulut rahim. Gumpalan itu keluar selama beberapa hari berturut-turut. Bahkan durasinya bisa mencapai tiga minggu. Padahal, idelanya lama waktu perempuan ketika menstruasi adalah sepuluh hari.

Saat itu Anggun tidak curiga, ia menganggapnya sebagai hal biasa. Hormon setiap orang beda-beda, tak terkecuali dirinya. Namun, ketika itu ia tidak merasakan sensasi perih seperti saat ini.

"Sstt... Kok sakit, ya?" desisnya di kamar mandi.

"Atau aku perik
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Penghinaan Telak

    Pagi itu meja makan dipenuhi aroma roti panggang dan kopi hitam yang masih mengepul. Cahaya matahari menembus tirai tipis, jatuh lembut di permukaan meja marmer. Azura duduk di kursi utama, membuka berkas di tabletnya, sesekali menyesap kopi tanpa benar-benar menikmati rasanya. Di seberangnya, Erika duduk dengan sikap santai, terlalu santai, seolah rumah itu adalah wilayah yang sudah ia kuasai sepenuhnya.Langkah kaki terdengar dari arah dapur. Anggun muncul dengan pakaian sederhana, rapi, membawa piring-piring sarapan. Wajahnya tenang, matanya menunduk sopan. Ia meletakkan hidangan satu per satu di atas meja, lalu hendak kembali ke dapur tanpa banyak suara.Erika melirik sekilas, alisnya terangkat. Tatapannya menyapu Anggun dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu bibirnya melengkung dalam senyum sinis.“Pembantunya baru, ya?” ucap Erika sambil mengaduk kopinya. Nada suaranya ringan, tapi penuh penilaian. “Kelihatannya terlalu pendiam. Rumah sebesar ini, seharusnya cari pembantu yan

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Pembantu Baru?

    Azura tidak suka ketika Erika datang secara tiba-tiba ke rumahnya. Masuk tanpa permisi dengan dalih sebagai calon istri. Hubungan mereka masih belum ada perkembangan, belum masuk ke tahap lamaran resmi, baru ungkapan kedua keluarga.Azura memalingkan wajah begitu Erika semakin mendekat padanya. Namun, tetap menunjukkan sikap tenang. Ia tidak ingin wanita itu tahu apa yang sedang direncanakannya."Semalam kami menunggumu di rumah, tapi mengapa kau tidak datang?" tanya Erika begitu duduk di sisi Azura. Ia sengaja menghimpit pria itu agar telihat lebih intim. Erika berencana menggodanya."Bajumu... kau tidak mandi sejak kemarin?" Mata Erika menyoroti penampilan Azura yang tidak berubah sejak satu hari lalu. Ia memperhatikan dari atas kepala hingga kaki. "Tapi aku tetap suka... sebentar lagi kita...""Masakan sudah ma..."Erika belum menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Anggun datang dengan spatula di tangan, serta apron yang menutupi setengah baju kaosnya.Reflek Erika dan Azura memandang

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Semua Karena Sup Jahe

    Semenjak sup jahe buatan Anggun menyelamatkan Azura dari sakit kepala, dan sandwich yang menyembuhkan asam lambungnya, pelan-pelan Azura mengizinkan wanita itu menyentuh dapurnya tanpa harus bertanya lebih dulu seperti yang kerap ia dilakukan.Tiap kali alkohol merusak kesadarannya, diam-diam Azura merindukan sup jahe itu. Azura berusaha membuat sendiri dengan takaran dan rempah yang dianggap sama, tapi rasanya tetap berbeda. Pun dengan sandwichnya, Azura seperti ketagihan. Hari itu ia tak pernah lupa. Tanpa sadar masakan Anggun telah mendapat tempat tersendiri dalam hati Azura, walau sikap pria itu masih dingin, tapi jarak yang selama ini diciptakan, seolah terkikis kepercayaan.Suara dering ponsel, membuat Azura terhentak dari lamunannya. Ia tenggelam dalam nikmatnya sup jahe Anggun.Saat layar ponsel menyala, nama Erika terpampang nyata. Azura tidak menerima panggilan itu, ia abaikan tanpa bicara. Namun, membuat alis Anggun bertaut penuh tanya. Apakah Erika yang tertulis dalam laya

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Ditilang Polisi

    Alih-alih bahagia atas hasil diagnosa, perasaan Anggun justru mengalami dilema kuat. Jiwanya melayang jauh, seolah mengundang fantasi liar. Sebuah intuisi larangan menghinggap dalam dada. Anggun ingin bercinta, dengan begitu ia bisa hamil dan memiliki anak. Bukankah hasil pemeriksaannya menyatakan demikian? Tapi, kepada siapa Anggun bercinta? pada suaminya yang seperti es di kutub utara kah? atau bersama Diki, si pria brengsek yang baru saja mendapat karma? Anggap saja usia Anggun masih muda, produktif, kuat, dan segar. Satu tahun setelah cerai dari Azura pun tak membuat usianya maju menjadi lima puluh tahun. Namun, bukan ini poinnya. Memulai hubungan baru bersama orang asing tidaklah mudah. Butu proses perkenalan yang cukup panjang. Jelas waktunya tidak singkat seperti judul lagu 'pacar lima langkah' karya almarhumah. Memikirkan semua itu membuat pikiran Anggun terjebak, pandangannya kosong, hingga kakinya mengayun pelan tak tentu arah. Anggun telah berada di tengah jalan, nyaris

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Di Rumah Sakit Itu

    Anggun baru saja menapakkan kaki dari ambang pintu masuk klinik, tapi ia telah disuguhkan dengan pemandangan mengejutkan. Wanita itu melihat Diki dan Erika keluar dari ruang dokter kandungan dengan cara tak wajar.Rona wajah keduanya tak bersahabat, seperti tengah beradu di atas ring tinju: merah, tegas, dan sangar. Anggun tidak bermaksud menguping, tapi nalurinya seolah menuntun ia untuk selangkah lebih dekat. Anggun bersembunyi sejenak, tak ingin dilihat oleh mantan pacarnya itu. Ia berdiri di balik tembok pinggir tangga, tak jauh dari pintu masuk.Kali ini Diki bersikap lebih agresif. Ia menarik paksa Erika yang sedang memeriksakan kehamilannya. Wanita itu berencana menggugurkan anak yanag dikandungnya."Lepas!" seru Erika pelan sambil menghempas tangan Diki, tapi nadanya penuh penekanan. Ia memalingkan wajah sembari mengeraskan rahang, seperti ada rasa jijik bercampur muak. Erika menyilangkan kedua tangan ke atas dada, membuat tertutup perutnya yang mulai kentara.Hari ini Erika b

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Sup Jahe Pelepas Pengar

    Azura bangun pukul sembilan pagi. Ia terbangun dengan kepala berdenyut seperti dihantam benda tajam. Aroma alkohol masih samar di napasnya, dan cahaya pagi terasa terlalu terang untuk matanya yang berat.Tubuh Azura terasa seperti karung pasir, mulut kering, dan ingatan tentang malam tadi hanya potongan-potongan kabur yang membuatnya semakin sakit kepala.Kini Azura bangkit, memegang pelipisnya yang berdenyut, mencoba mengingat bagaimana ia bisa pulang, sementara matahari pagi seolah menertawakan keadaannya.Tak lama mata Azura tertuju pada sebuah nampan berisi cangkir dan sepiring sandwich. Tanpa pikir panjang, Azura mengambil cangkir itu, lalu memperhatikan isinya.Dahi Azura mengerut, ia mencium aroma isi cangkir itu. Azura tahu, itu bukanlah teh, melainkan jahe bercampur gula merah. Tanpa ragu ia meminum sup jahe itu hingga membasahi kerongkongannya.Begitu ditelan, mata Azura sedikit membeliak, seperti baru saja tersentuh sesuatu yang membuat perasaannya menghangat. Ia suka denga

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status