MasukJasmin merapikan pakaiannya yang tidak kusut. Lalu menatap marah Azura. Sejak tadi pria itu diam saja. Seolah menunjukkan sikap kooperatifnya sebagai tersangka perzinahan.
“Brengsek!” Sebelum benar-benar meninggalkan kamar, Jasmin mengumpat tepat di depan Azura. Dalam hati ia bersumpah tak akan memaafkan pria itu.
Beberapa hari lalu Jasmin bergelut dengan kasus hukum, yang mana kasus tersebut adalah tentang perzinahan.
Dalam kasus tersebut, Jasmin membela seorang gadis belia yang dijebak oleh kekasihnya. Dalam masa persidangan, Jasmin menentang keras kasus perzinahan. Ia bahkan menolak keras opini masyarakat yang kerap menormalisasikan zina.
Namun, siapa sangka pagi itu Jasmin justru menjadi tersangka kasus perzinahan. Hal kontra dengan sikap serta prinsipnya.
“Mengapa kau tidak mengatakan sesuatu? Apa kau bisu?” Di mobil polisi, Jasmin mempertanyakan sikap Azura yang terkesan acuh.
“Mengapa aku harus? Bukankah benar yang mereka tuduhkan? Semalam kita–”
“Cukup!”
Jasmin membekap mulut Azura begitu pria itu berencana membahas peristiwa semalam. Ingatan Jasmin belum sepenuhnya menangkap apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Jasmin hanya merasa area bawah tubuhnya terasa perih hingga menembus tulang belakang. Tak pelak membuatnya sulit bergerak.
Azura tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Menyadari jarak mereka terlalu dekat, Jasmin pun sedikit bergeser.
“Pria ini benar-benar keterlaluan. Dia sungguh pandai membahas sesuatu yang tidak ingin didengar,” gumam Jasmin seraya memalingkan wajah ke jalanan.
“Lagi pula, mengapa kau harus masuk ke dalam kamarku?” kata Azura dingin. Sikapnya tampak tenang, hingga Jasmin kian kesal.
“Kamar? Bagaimana bisa kau terus mengklaim itu kamarmu? Semalam aku–”
Kalimat Jasmin terhenti begitu memorinya mulai stabil. Ingatan gadis itu masuk pada kejadian dimana ia meneguk habis beberapa botol alkohol hingga tandas.
Kemudian beralih ke ruangan yang diklaim ‘kamarnya’. Jasmin mencoba membuka pintu kamar itu dengan kunci yang diberi resepsionis. Namun, benda berukuran dua meter kali sembilan puluh sentimeter itu terbuka dengan sendirinya. Lalu–
“Oh my God.” Kini Jasmin ingat semuanya. Ia benar-benar tidur bersama Azura. Bukankah hal itu telah masuk dalam rana zina?
“Kau sudah ingat?” Suara bas Azura seolah meledek Jasmin. Pria itu tidak salah, Jasminlah yang keliru.
“Mengapa semalam kau tidak menghentikanku?” sarkas Jasmin. Rasa sakit di dada bercampur nyeri selangkangan, membuatnya tak dapat menahan diri. Adrenalinnya mendesak berpacu.
Jasmin ingin memukul wajah tegas Azura hingga mengalami patah rahang. Sayang, mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi.
“Bukankah kau juga menikmatinya?” Lagi, Jasmin mengeraskan rahang sembari mencengkeram jemarinya.
Amarah itu hendak meledak. Namun, Azura berkata, “Kau jangan melakukan hal bodoh di sini. Atau dua orang itu menghukummu dengan dua kasus sekaligus.”
“Kau–” Benar kata Azura, Jasmin tidak boleh gegabah. Masalah ini akan semakin pelik jika ia tak pandai menjaga sikap.
“Aku akan membuat perhitungan dengamu begitu masalah ini selesai,” tukas Jasmin penuh penekanan.
“Aku sangat menantikannya, Nona,” sahut Azura tenang.
Entah apa yang dipikirkan pria itu. Sejak tadi sikapnya tidak berubah sama sekali.
Secara fisik, Azura memang masih muda. Namun, perawakannya yang tak bergeming dalam setiap keadaan. Membuat pemuda berusia dua puluh tahun tersebut terlihat dewasa. Tampaknya memang benar, usia hanyalah angka. Yang menentukan kedewasaan seseorang tetaplah karakter.
“Pak, sudah berapa kali ku katakan. Kami tidak saling mengenal. Aku bahka tidak tahu siapa nama pria ini.” Hampir satu jam Jasmin dan Azura menjalani penyelidikan di kantor polisi. Keduanya mendapat banyak pertanyaan seputar kejadian semalam.
“Hei! Katakan sesuatu. Apa kau mengenalku? Tidak, kan?” Jasmin beralih pada Azura yang selalu acuh.
“Tapi kalian tetap melakukan perzinahan, Nona. Buktinya sangat jelas.” Frans menunjukkan gambar yang sempat diambilnya tadi memalui telpon genggam miliknya.
Mata Jasmin membeliak saat memperhatikan dengan seksama gambar itu. Ia menelan salivanya dengan susah payah.
“Ini–”
“Tepat sekali, Nona. Bercak darah ini buktinya. Kalian telah melakukan zina.” Jasmin kehilangan kata. Ia terkulai lemah di atas kuris itu.
Sementara sikap Azura tetap tak bergeming. Bukan tidak perduli pada wanita itu, tapi faktanya adalah mereka memang melakukannya.
Kendati mereka melakukan dalam keadaan tidak sadar. Namun, hal itu tidak mengubah fakta mereka telah melanggar hukum.
Jika Azura menunjukkan sikap seperti Jasmin, maka hal itu tidak akan membantu. Dia justru terlihat bodoh. Sebab, polisi telah mengantongi bukti valid.
“Jasmin.” Jack, mantan kekasih sekaligus bos Jasmin datang. Pria itu menghampiri Jasmin.
“Apa yang terjadi? Mengapa kau berakhir ke tempat ini?” bisik Jack.
“Tuan, Anda–”
“Perkenalkan, nama saya Jack. Pengacara Nona ini.” Jack memperkenalkan diri kepada petugas polisi.
“Baiklah, silahkan duduk. Maaf, klien Anda terpaksa kami tahan, karena telah melanggar hukum. Dia telah melakukan perzinahan. Pria itu, dialah orangnya.” Frans menunjuk Azura yang duduk di kursi belakang Jasmin. Sontak Jack melihat pria itu.
“Jasmin, kau–” Jack nyaris kehilangan kata. Ia tidak mengira bila pengacara yang dikagumi selama ini justru melanggar hukum.
“Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku tidak melanggar hukum. Aku tidak sengaja masuk ke dalam kamar pria itu. Aku pikir kamar itu adalah kamarku,” ucap Jasmin datar.
“Jadi, kau mengakuinya? Kau benar-benar berzina? Kau–” Jack merasa tertampar. Sikap dan kata-kata Jasmin barusan cukup membuktikan, bahwa ia membenarkan tuduhan polisi tersebut.
“Pak, aku akan memberi jaminan atas namaku.” Jack bernegosiasi pada polisi. Tentu dengan harapan agar Jasmin lepas dari kasus hukum yang menjeratnya.
“Maaf, Tuan. Kasus ini tidak sesederhana Anda mengeluarkan uang. Kecuali si pria bersedia menikahi wanita ini,” ungkap polisi itu.
“Tidak, Jasmin tidak boleh menikahi pria lain. Hanya aku yang boleh menikahinya. Jasmin adalah wanitaku,” batin Jack menolak keras saran polisi tadi.
“Aku akan menggandakan jaminannya,” pinta Jack sekali lagi.
Jasmin memencet keningnya yang makin berkedut. Ia mengalami sakit kepala mendadak. Pusing dan nyaris muntah.
Itulah sebabnya karir Jack sebagai pengacara tidak mengalami peningkatan. Pria itu tak pandai menyelesaikan kasus hukum secara profesional. Selalu saja menggunakan uang sebagai solusi.
Seketika Jasmin menyesal menghubungi Jack. Disangkanya Jack mampu menghadapi kasus hukum yang mengikatnya. Sikap pria itu justru semakin membuatnya tersudut.
“Aku akan menikahi wanita ini.”
Baik Jasmin maupun Jack, keduanya sama-sama terkejut saat Azura mengeluarkan pernyataan tak terduga.
“Adik ini mau menikahi Jasmin? Apa dia sudah gila? Dilihat dari usianya… sepertinya dia masih sangat muda. Kurang ajar,” umpat Jack di dalam hati seraya memperhatikan Azura dengan seksama dari ujung rambut hingga kaki.
“Baiklah, sepertinya masalah ini kami anggap selesai. Sebab, yang bersangkutan siap bertanggung jawab,” ucap polisi itu.
“Tidak!”
Namun, Jasmin justru menunjukkan sikap sebaliknya. Ia tidak setuju pada ide gila Azura.
“Maaf, Tuan. Apakah saya boleh meminta waktu sebentar? Saya ingin bicara empat mata dengan gadis ini,” ucap Azura tenang.
“Baiklah, silahkan. Waktu Anda lima belas menit.” Polis itu siap memberi waktu kepada Jasmin dan Azura. Setidaknya mereka harus mendiskusikan masalah serius ini.
“Tidak! Aku tidak setuju.” Sementara Jack tidak sependapat. Ia menentang Azura.
Tentu saja tujuannya adalah menjadikan Jasmin satu-satunya miliknya. Bukan sekedar karyawan di firmanya.
“Ikut denganku atau statusmu akan berubah menjadi narapida dalam semalam,” bisik Azura kepada Jasmin.
“Bajumu basah, gantilah dulu,” ucap Jasmin setelah membawa Azura ke dalam rumah Muskan.Kini Jasmin berada di dalam kamar Azura. Wanita itu berniat menemaninya usai menyaksikan kejadian menyakitkan. Jasmin berniat menghibur lelaki tersebut.Pemuda dengan kemeja putih itu akhirnya tertidur setelah mengalami banyak hal berat.“Azura, maafkan Ibu, Nak.” Dalam mimpi, Azura kembali ke masa kecil. Menyaksikan dengan mata kepala dimana Ibunya jatuh pingsan.“Ayah, Ibuku pingsan.” Azura kecil menghubungi Muskan melalui telpon genggam.“Ayahmu tidak ada di sini! Jangan telepon dia lagi!” Naas, orang yang menjawab panggilan darurat tersebut adalah Sarah, alih-alih Muskan.“Ibu!” Azura kecil berteriak ketakutan kala menyaksikan sang ibu tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.“Aku membakar semua surat yang kau tulis. Aku memang merebut suamimu!” Kemudian mimpi itu beralih ke rumah sakit, tempat dimana Megan menjalani perawatan secara intensif. Di sana Sarah melabrak Megan yang dalam kondisi antar
“Kemarin aku pergi bersama Ayah. Ayah juga ada di sana,” terang Azura, berusaha meluruskan kesalah pahaman.“Kau pikir kau pantas memanggil suamiku Ayah? Kau lahir di luar nikah. Anak haram! Pergi dari keluarga Muskan!” Sarah kian murka, alih-alih percaya.Wanita dengan kunciran rambut perak itu mengusir sang anak tiri. Mendorongnya keras hingga jatuh ke dalam kolam.Sialnya, situasi memalukan itu justru disaksikan Jasmin. Gadis itu pun terkejut sekaligus simpatik.Ya, simpatik. Bagaimana tidak, hari itu masih suasana berkabung. Bahkan semua tamu masih berada di ruang duka memberi ucapan belasungkawa atas meninggalnya putra pertama keluarga kaya itu.Namun, di tempat lain. Istri Muskan justru membuat keributan. Menuding Azura tanpa tendensi.“Jangan kira setelah Marcel meninggal, kau bisa masuk ke dalam keluarga Muskan begitu saja! Pergi dari sini! Pergi!” usir Sarah sekali lagi.Bukan salah Azura menjadi anak di luar nikah. Dia tidak bisa memilih untuk terlahir dari keluarga mana. Az
“Mengapa dia di sini?” Benak Jasmin bertanya, bagaimana bisa Azura ada di antara keluarga Muskan. Anehnya, lelaki itu justru menerima tamu berdatangan selayaknya keluarga duka.Sementara Jack mengintip mantan sekaligus anak buahnya itu dari arah belakang. Jarak mereka tidak begitu jauh. Sekitar lima meter.Jasmin dan Azura saling menatap satu sama lain. Seperti ada makna tersirat dari keduanya. Benak Jasmin masih mempertanyakan posisi Azura dalam keluarga konglomerat itu. Sedangkan Azura sendiri masih dalam suasana berkabung. Mimik pria dengan setelan jas hitam itu menunjukkan kehilangan sekaligus rindu.Ya, Azura merindukan Jasmin. Aroma tubuhnya, lekukannya, suaranya, dan sentuhannya. Azura merasa tumbuh sesuatu yang istimewa di dalam sana terkait Jasmin.“Turut berduka cita, Tuan muda.” Jack menghampiri dua insan beda generasi itu. Menjulurkan tangan kepada Azura sebagai ucapan belasungkawa.“Astaga, ternyata aku tidur bersama Tuan muda.” Sontak Jasmin terkesiap begitu tahu latar b
Jasmin merapikan pakaiannya yang tidak kusut. Lalu menatap marah Azura. Sejak tadi pria itu diam saja. Seolah menunjukkan sikap kooperatifnya sebagai tersangka perzinahan.“Brengsek!” Sebelum benar-benar meninggalkan kamar, Jasmin mengumpat tepat di depan Azura. Dalam hati ia bersumpah tak akan memaafkan pria itu.Beberapa hari lalu Jasmin bergelut dengan kasus hukum, yang mana kasus tersebut adalah tentang perzinahan.Dalam kasus tersebut, Jasmin membela seorang gadis belia yang dijebak oleh kekasihnya. Dalam masa persidangan, Jasmin menentang keras kasus perzinahan. Ia bahkan menolak keras opini masyarakat yang kerap menormalisasikan zina.Namun, siapa sangka pagi itu Jasmin justru menjadi tersangka kasus perzinahan. Hal kontra dengan sikap serta prinsipnya.“Mengapa kau tidak mengatakan sesuatu? Apa kau bisu?” Di mobil polisi, Jasmin mempertanyakan sikap Azura yang terkesan acuh.“Mengapa aku harus? Bukankah benar yang mereka tuduhkan? Semalam kita–”“Cukup!”Jasmin membekap mulut
Jasmin buru-buru bangkit dan mencari pakaiannya selagi pemuda itu masih terpejam. Namun, ketika telah sepenuhnya berhasil memakai kembali semua pakaian, Jasmin justru dikagetkan dengan suara berat yang muncul.“Berisik sekali!”Sontak Jasmin menoleh dan mendapati pemuda itu telah membuka mata. Tatapannya tajam mengintimidasi, rambut berantakan, wajahnya masih kusut khas bangun tidur, tapi dahinya sedikit berkerut.“Masuk kamarku sembarangan, lalu sekarang mengganggu tidurku,” gumam pemuda itu sambil berdecak kesal.Jasmin membelalakkan matanya. Apa maksudnya?Selama ini ia menjaga diri. Bukan karena suci atau kolot, tapi karena pilihan. Sebab, ia tahu batasnya sendiri. Dan pagi ini, batas itu terasa seperti diinjak lalu ditinggalkan begitu saja.Dadanya naik turun cepat. Amarah yang semula tertahan kini mendesak keluar, karena tuduhan pemuda itu.“Apa?” suara Jasmin meninggi, pecah sebelum sempat disaring akal sehat. “Kamarmu?”Ia membelalakkan mata, lalu dengan tangan gemetar mengelu
“Hasil USG menunjukkan ada tanda-tanda penuaan dini ovarium. Kemungkinan Anda tidak akan mengalami menstruasi selama beberapa bulan ke depan.”Dokter berjenis kelamin wanita itu memberi selembar hasil pemeriksaan kepada Jasmin.“Penuaan ovarium itu maksudnya gimana, Dok?” tanya Jasmin, keningnya hampir menyatu. Masih terdengar ambigu penjelasan dokter itu.“Sederhananya, Anda mengalami menopause dini.”Ucapan itu menghantam dada Jasmin begitu keras.Hari itu, Jasmin memeriksa siklus menstruasi sekaligus organ reproduksi setelah beberapa bulan tidak mendapat menstruasi. Namun, siapa sangka bila hasil pemeriksaan dokter justru menyatakan bila ia mengalami tanda-tanda menopause dini.Ironisnya, usia Jasmin masih terbilang produktif, tiga puluh tahun. Usia yang masih sangat muda untuk mengalami hal mengerikan itu.Dunia Jasmin seakan berhenti sejenak. Lantas otaknya kembali berputar, berkelana mencari solusi yang sekiranya bisa mengubah hasil diagnosa itu. Seharusnya, wanita berdarah ca







