LOGIN“Apakah tidak ada solusi lain?” tanya Anggun pada Bayu. Suara gadis itu sedikit bergetar. Namun, masih tetap berusaha untuk tegar.
“Tidak ada,” sahut Bayu tegas. Anggun kian melemah. Jika benar tidak ada solusi lain. Artinya dia harus menikah. Namun, siapa yang mau menikahi orang asing. Anggun maju satu lengkah mendekat Azura. Tatapannya penuh iba. Akan tetapi, pria itu justru memalingkan wajah seolah mengacuhkan. Melihat sikap Azura, Anggun tak dapat berkata. Ia tertunduk pasrah. “Baik, sesuai proses hukum kalian harus ikut kami ke kantor polisi lebih dulu. Nanti pihak sana yang akan menghubungi keluarga,” ucap Danang tegas. Dada Anggun kian tertekan. Sementara matanya makin memanas. Wanita itu nyaris menangis. Jiwanya mengalami guncangan yang sulit dijabarkan. "Jadi apa yang harus aku lakukan? Apa kau lebih memilih aku diarak ke kantor polisi?" bisik Anggun kepada Azura. Nadanya cukup bermakna, seolah meninggalkan kesan menyakitkan. Namun, lagi-lagi Azura tetap bungkam. "Aku mohon menikahlah denganku," pinta Anggun akhirnya bersungguh-sungguh. Semenjak satpol pp itu mendesaknya, solusi ini telah melekat kuat dalam benak wanita itu. Ia sungguh tidak bersedia dipenjara. Atau keluarganya akan menanggung malu berkepanjangan. Lalu Anggun sedikit mendekat lagi. "Aku mohon," pintanya sekali lagi dengan wajah memelas. Sedangkan Azura tidak menyahut. Ia menatap tajam wanita itu alih-alih setuju. "Aku mohon selamatkan aku. Aku tahu ini sedikit konyol, tapi aku tidak punya pilihan lain. Hanya kau yang bisa menyelamatkanku dari jeratan hukum. Aku tidak mau diarak petugas itu. Aku juga tidak mau merusak reputasiku dan keluarga," papar Anggun penuh iba. Kini Azura menatap dalam-dalam mata Anggun, seolah mencari sesuatu di sana. Ucapan Anggun selain terdengar impulsif, juga persis percakapan simbiosis mutualis. Sama sekali tidak terdengar seperti sebuah keputusan peristiwa sekali seumur hidup. Tepatnya, Anggun ingin menyelamatkan diri dengan menjadikan ia batu loncatan. "Aku mohon," pinta Anggun untuk kesekian kalinya dengan wajah memelas dalam-dalam. Matanya mulai berkaca-kaca. Cairan itu telah bertumpuk di pelupuk netra yang kapan saja bisa tumpah ruah. Pria itu masih bungkam, seakan sedang mempertimbangkan sesuatu dalam benaknya. Sesekali ia melirik dua petugas satpol pp, lalu kembali menatap Anggun. "Siapa namamu?" tanya Azura akhirnya. "Anggun Widyastuti," jawab Anggun penuh percaya diri. Matanya mulai terasa dingin. Seolah isyarat angin segar akan datang. Akan tetapi, ketika mendengar nama itu, Azura kembali mengernyitkan dahi lagi, seakan ada sesuatu dengan nama itu. "Bagaimana?" tanya Anggun sekali lagi untuk memastikan. Wanita itu tidak punya waktu banyak. Anggota satpol pp tengah menanti keputusannya. Belum sempat Azura menjawab pertanyaan Anggun, ponselnya justru berdering. Ada panggilan masuk. "Tuan Azura, orang kemarin sudah menunggu Anda di tempat biasa. Katanya dia tidak punya banyak waktu. Nanti sore dia kembali ke negaranya," kata seseorang dari balik panggilan itu. "Em," sahut Azura singkat, lalu mengakhiri panggilan itu. Azura Permana, pemuda yang belum mengenakan baju itu kembali diam. Namun, sedetik kemudian ia mengambil kemeja yang tergeletak di atas lantai, lantas mengenakan dengan rapi. Ia tidak sedang buru-buru menikah. Usianya masih sangat muda. Bahkan statusnya juga masih aktif sebagai pelajar di sebuah kampus ternama. Di sisi lain, ayah Azura telah menentukan jodoh untuknya. Tentu atas rekomendasi Aira, sang kakak tiri. Lebih tepatnya, perjodohan itu bagian dari bisnis untuk meningkatkan value keluarga. Tentu Azura tidak ingin masa depannya disettel oleh siapapun itu. Namun, jika harus menikah sekarang juga, rasanya tidak mungkin. Terlebih dengan kondisi terdesak. Azura punya cita-cita dan jalan pikiran sendiri. Usianya memang masih belia dan masih berstatus pelajar, tetapi akalnya tidak bisa disepelekan. Azura Permana adalah putra biologis dari Permana Sutiyoso, pemilik perusahaan farmasi besar di kota itu. Keluarganya sangat terpandang, salah satu konglomerat di Jakarta. Jadi, mustahil bila menikahi sembarang wanita. Bibit, bebet, dan bobot harus jelas. Bukan kenal dalam sekejab, lalu memutuskan menikah. Bahkan hanya untuk sekedar bersenang-senang, keluarga Azura jelas tidak mengizinkan. Reputasi mereka otomatis rusak tanpa sisa. Namun, sekali lagi Azura menatap Anggun. Khususnya pada bagian lengan kiri atas yang ada bercak coklat tidak terlalu besar. Warnanya sedikit samar, tetapi masih bisa ditangkap dengan jarak dua meter. Tanpa berpikir lebih lama lagi, Azura akhirnya memberi tanggapan, "Baiklah, aku bersedia menikah denganmu." "Benarkah?" tanya Anggun meyakinkan untuk kesekian kalinya lagi dan lagi. Jawaban Azura ibarat azimat bermakna. Dalam hati Anggun gembira ria, meski masih belum sepenuhnya lega. Setidaknya satu langkah kecil itu bisa membebaskan ia dari jeratan hukum. "Iya," sahut Azura dingin. "Maaf, tadi aku tidak mendengar jelas namamu," tanya Anggun dengan nada sungkan. "Wanita ini... nama saja tidak bisa diingat, tapi tidak sungkan mengajak menikah. Apa dia selalu seperti ini?" Azura berdecak pelan. "Azura Permana. Harap kau ingat baik-baik kali ini." Suara itu memang samar, tetapi Anggun masih bisa mendengarnya. Seketika ia mencibir diri sendiri di dalam hati. Bagaimana bisa ia mengajak menikah seorang pria tanpa mempertanyakan namanya lebih dulu. Meski begitu, mata Anggun turut berbinar, bagai bola lampu yang benderang. Ia tidak bisa menutupi perasaannya itu. Kini Azura dan Anggun berada di kantor KUA, menunggu kehadiran penghulu yang masih belum datang. "Ha? Mana Diki? Mengapa bukan dia yang kau nikahi?" Pras tertegun saat melihat calon suami Anggun bukanlah pria yang selama ini diketahui memiliki hubungan dengan putrinya itu. "Iya, mana Diki? Mengapa justru laki-laki ini yang datang?" Pun Fatma tak kalah terkejutnya. Saat mendapat telpon dari Anggun, Fatma dan Pras sedikit gembira, karena putri mereka akhirnya bersedia menikah. Maka Fatma dan Pras pun membawa semua kelengkapan dokumen yang dibutuhkan untuk memenuhi syarat pendaftaran penikahan. Pras cukup antusias, ia mengenakan pakian rapi, seolah siap menyambut pernikahan anak semata wayangnya itu. "Ma, ini--" Wajah Anggun pias seketika. Ia sudah duga, orang tuanya pasti akan mempertanyakan Diki. Meski begitu, Anggun tidak bisa berbuat banyak. Kesepakatan antara dirinya dan Azura sudah terlanjur berjalan. Kini mereka tinggal menunggu antrian pernikahan. "Maaf, Mbak. Penghulu sudah datang. Sebaiknya Anda bersiap-siap, karena antrian sangat panjang." Seorang staf KUA datang, memberi informasi itu, seakan mendesak Anggun dan Azura untuk segera menikah. "Tapi--" Lidah Pras mendadak keluh. Ia menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dada. Pras menghela napas berat. "Baiklah," sahut Pras akhirnya pasrah. Ia menatap kecewa pada Anggun, pun Fatma. "Setelah ini Papa ingin mendengar penjelasanmu di rumah. Papa tidak mau tahu." Sebelum benar-benar masuk ruangan, tempat akan digelar akad nikah, Pras mengultimatum Anggun. Nadanya cukup menekan, hingga membuat denyut nada Anggun seakan melemah. "Iya," sahut Anggun pelan. Anggun dan Azura akhirnya masuk ruang akad. Dengan jantung berdebar, Anggun dan Azura duduk di kursi peserta, menghadap ayahnya selaku wali nikah. Di sisi kanan ayahnya, ada penghulu yang sudah benar-benar siap bersaksi. Lalu Azura dan Pras saling menyatukan telapak tangan, hendak memulai ritual sah pernikahan. Bukan seperti ini pernikahan yang diinginkan Anggun. Duduk berdampingan bersama orang asing di depan penghulu, sungguh jauh dari ekspektasi. Namun, diagnosa dokter beberapa waktu lalu seolah menghantarnya pada takdir tak terduga. Ia tidak pernah menyinggung soal siklus menstruasinya bersama keluarga. Anggun tidak ingin membuat kedua orangtuanya itu khawatir. Terlebih, Fatma yang sangat ingin menimang cucu darinya. Andai mereka sampai tahu hasil diagnosa dokter hari itu, betapa hancurnya perasaan Fatma dan Pras. Keinginan yang selama ini digaungkan, otomatis patah tanpa sisa. Apa bila seorang wanita divonis monopause, artinya ia sudah memasuki masa tidak produktif lagi. Hal itu cukup mengerikan bagi sebagian besar wanita di dunia. Pun hasil USG itu, Anggun menyembunyikannya rapat-rapat. Satu-satunya orang yang tahu hanyalah Rena, sahabatnya. "Saya terima nikah dan kawinnya. Anggun Widyastuti Binti Prasetyo dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Dengan satu kali tarikan napas, Azura mengikrarkan ijab qobul tersebut di depan penghulu dan keluarga Anggun. "Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu. "Sah," sahut para saksi itu. Usai melepas tangan Azura, Pras mengepalkan kedua telapak tangan sembari mengeraskan rahang, seolah hendak menghantam sesuatu untuk menyalurkan emosi yang membuncah di dalam sana.Malam itu terasa berbeda setelah semua yang terjadi. Dimana akhirnya Anggun mengakui hubungannya bersama Azura kepada Rena.Kini wanita itu tak lagi segan menunjukkan perasaan serta emosinya. Azura... pria itu tak jauh berbeda. Lebih dari Anggun, ia memiliki keluasan cinta yang begitu besar.Malam itu, ia sengaja memberi ruang kepada Anggun untuk bertemu Rena di apartment lamanya demi membahas suatu masalah, katanya.Azura tidak bertanya lebih, hanya memberi izin selayaknya suami kepada istri."Jadi Rena adalah temanmu?" tanya Azura begitu Anggun kembali ke rumah mereka. Mereka duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh di tangan masing-masing."Iya, dia sahabat baikku," jawab Anggun tanpa ragu."Mengapa kau tidak beritahu aku kalau kau punya terman bernama Rena?" tanya Azura sekali lagi. Lalu pria itu menyeruput tehnya yang masih hangat."Karena kamu tidaka pernah bertanya... lagi pula kita tidak pernah membahas urusan pribadi masing-masing. Aku juga tidak tahu kau bekerja di mana,
Malam itu terasa ganjil. Anggun duduk di ruang tamu apartemen yang sempat dikontraknya dulu sebelum menikah, dengan tangan masih dingin meski udara tidak terlalu sejuk. Pikirannya terus kembali pada satu momen di cafe, yang mana tatapan Rena terkesan menyelidik ketika menyadari siapa Azura.Malam ini, Anggun memutuskan untuk singgah di apartmennya itu atas izin Azura. Alasannya cukup klasik, ia masih belum siap membawa orang lain ke rumah Azura, karena merasa tak enak hati terhadap pria itu.Raut wajah Rena saat di kafe, bukan hanya keterkejutan, melainkan ada rasa tertipu.Tak lama terdengar suara bel berbunyi. Dan Anggun pun berdiri, menarik napas panjang, lalu membuka pintu.Begitu pintu itu terbuka, Rena berdiri di sana. Wajahnya tidak marah, tapi jelas penuh pertanyaan."Masuk," kata Anggun pelan. Begitu pintu tertutup, Rena langsung berbalik menghadapnya."Jadi," ucapnya perlahan, "suamimu adalah Azura?"Anggun menelan ludah, antara canggung dan merasa bersalah."Iya," sahutnya.
Siang itu cafe tidak terlalu ramai, tapi cukup hidup untuk menjadi tempat bersembunyi dari dunia.Anggun duduk berhadapan dengan Rena di sudut dekat jendela. Cahaya siang menyentuh wajah wanita itu, membuat ekspresinya terlihat lebih lembut dari biasanya.Rena menyipitkan mata, memperhatikan wajah Anggun yang menurutnya berbeda."Kamu kelihatan beda, ya," kata Rena sembari menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Ia melipat kedua tangannya."Beda bagaimana?" tanya Anggun sambil mengaduk es teh yang mulai mencair."Seperti orang yang sedang jatuh cinta, tapi pura-pura tidak mau mengaku," sahut Rena datar, tapi cukup mengena di hati Anggun.Anggun pun tersenyum kecil. "Kamu terlalu banyak menonton drama," jawabnya."Bukan terlalu banyak menonton drama, Sayang, tapi aku terlalu lama mengenalmu. Apa... suamimu akhirnya benar-benar jatuh cinta ya?" jawab Rena cepat. Namun, di ujung kalimat, ia menyelipkan pertanyaan.Anggun tidak segera menjawab. Wanita itu menatap meja terlebih dahulu, seola
Pagi datang tanpa peringatan. Cahaya matahari menyelinap pelan melalui celah tirai, jatuh di lantai kamar dengan warna keemasan yang terlalu jujur untuk diabaikan.Anggun terbangun lebih dulu. Namun, Ia tidak langsung bergerak. Ada keheningan yang terasa berbeda saat itu, tetapi bukan sepi, melainkan penuh sisa-sisa kehangatan.Sementara Azura masih tertidur di sisinya. Wajahnya tampak lebih dewa saat tidur. Garis-garis tegas yang biasanya menjadi tameng, kini melunak.Lalu Anggun menatapnya lama, seperti sedang membaca ulang sebuah keputusan yang telah ia ambil semalam, keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.Anggun merasakan kehangatan di dadanya… lalu perlahan mengencang. Bersamaan dengan itu, kedua sudut bibir Anggun tertarik tipis, membentuk senyuman bahagia di sana.Dalam benak Anggun, semalam terasa nyata. Pagi ini pun nyata, tetapi justru di sanalah ketakutan mulai tumbuh.Ya, sejenak ketakutan tumbuh di hatinya. Bukan karena kontrak yang telah diingkar, melainkan pada kehi
Malam itu tidak datang dengan tergesa. Lampu-lampu kota di balik jendela hanya menjadi latar buram ketika Anggun berdiri diam di tengah kamar, seolah sedang menimbang ulang seluruh hidupnya. Ada begitu banyak ketakutan yang pernah menahannya. Dimulai dari usia, status, masa lalu, kontrak yang mengikat tanpa rasa. Namun kini, semuanya berdiri berhadapan dengan satu perasaan yang tak lagi bisa ia abaikan.Sementara Azura berdiri beberapa langkah darinya. Ia tidak mendekat, tidak pula menjauh. Tatapan matanya lembut, berbeda dari tatapan dingin yang biasa ia layangkan di dunia luar. Saat ini tidak ada tuntutan di sana. Tidak ada pula paksaan.Tak lama Anggun menoleh, menatap pria itu lama, seolah ingin menghafal wajahnya, wajah seseorang yang sepuluh tahun lebih muda darinya, tapi malam ini terasa jauh lebih dewasa dengan caranya mencintai.“Apa kamu masih ragu?” tanya Azura pelan.“Iya... aku takut kalau perasaan ini hanya singgah sebentar, lalu pergi diam-diam. Aku juga takut kalau set
Kertas itu tidak seharusnya ada di sana. Azura tahu benda tipis itu begitu matanya menangkap lembaran putih yang tergeletak di meja makan, terselip di antara tablet vitamin dan map berisi dokumen perusahaan yang semestinya ia bawa ke ruang kerja. Tulisan dokter tercetak rapi, dingin, dan terlalu klinis untuk berada di ruang yang seharusnya hangat.Reflek Azura berhenti melangkah. Lalu tangannya terulur tanpa sadar, lantas berhenti di udara, seolah memberi dirinya sendiri waktu untuk berpikir ulang. Namun, rasa ingin tahu dan sesuatu yang lebih dalam mendadak muncul, lebih personal mengalahkan kehati-hatian.Azura pun membacanya. Awalnya satu baris, lalu baris berikutnya. Kemudian masuk pada baris kalimat yang membuat dadanya mengeras.Diagnosis: tanda penuaan dini pada sistem reproduksi dan hormonal.Reflek Azura menghela napas pelan. Bukan marah, bukan kecewa. Yang datang justru pemahaman yang terlambat. Lalu menyusul potongan-potongan memori sikap Anggun yang selama ini ia anggap se







