Beranda / Romansa / Dari Dingin Menjadi Obsesi / Bukan Marga Frederick

Share

Bukan Marga Frederick

Penulis: Suharni
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-21 21:37:04

“Mengapa dia di sini?” Benak Jasmin bertanya, bagaimana bisa Azura ada di antara keluarga Muskan. Anehnya, lelaki itu justru menerima tamu berdatangan selayaknya keluarga duka.

Sementara Jack mengintip mantan sekaligus anak buahnya itu dari arah belakang. Jarak mereka tidak begitu jauh. Sekitar lima meter.

Jasmin dan Azura saling menatap satu sama lain. Seperti ada makna tersirat dari keduanya. Benak Jasmin masih mempertanyakan posisi Azura dalam keluarga konglomerat itu. Sedangkan Azura sendiri masih dalam suasana berkabung. Mimik pria dengan setelan jas hitam itu menunjukkan kehilangan sekaligus rindu.

Ya, Azura merindukan Jasmin. Aroma tubuhnya, lekukannya, suaranya, dan sentuhannya. Azura merasa tumbuh sesuatu yang istimewa di dalam sana terkait Jasmin.

“Turut berduka cita, Tuan muda.” Jack menghampiri dua insan beda generasi itu. Menjulurkan tangan kepada Azura sebagai ucapan belasungkawa.

“Astaga, ternyata aku tidur bersama Tuan muda.” Sontak Jasmin terkesiap begitu tahu latar belakang pemuda yang telah menemaninya tidur.

Anehnya, indra keenam Jasmin perlahan menghilang setelah malam penuh gairah itu terjadi. Lihatlah, bahkan intuisinya tidak bisa menembus mata batin Azura. Wanita itu tidak bisa lagi melihat latar belakang pria tersebut melalui inderanya.

Jasmin kembali mengingat moment dimana ia memberi Azura beberapa lembar uang sebagai ganti rugi atau bayaran malam itu.

Sumpah demi apapun, ingin rasanya Jasmin menghilang dari krematorium. Menjauh dari dua pria yang telah menghimpitnya. Dimana yang satu gila uang, sedangkan yang satunya lagi baru saja melewati one nigh stand dengannya.

Namun, Jasmin tidak punya pilihan lain. Ia wajib bertahan, meski rasa malu sekaligus kaku datang melanda.

“Tuan Azura, kami dari Firma hukum Jackma. Ini pengacara terbaik di kantor kami. Jasmin Monik.” Melalui perkenalan Jack, akhirnya Azura tahu profesi wanita yang telah sukses mencuri hatinya itu.

Semalam Azura telah mendaftarkan pernikahan mereka, tetapi tidak memperhatikan pekerjaan Jasmin.

“Istriku.” Akan tetapi, sedetik kemudian rasa cinta yang tadinya tumbuh dan berkembang, perlahan tumbang begitu Jack menyebut Jasmin sebagai istrinya di akhir kalimat. 

Pun Jasmin, wanita itu tak kalah terkejutnya dari Azura. Betapa tidak, tanpa izin Jack menyebut dirinya sebagai istri.

Tidakkah ini sungguh menjijikkan? Jack yang tega selingkuh secara diam-diam, kini mengejar kembali Jasmin seperti kucing kehilangan pasangan.

“Suami istri?” batin Azura sembari menatap terkejut Jack. Bukankah statusnya di KTP masih lajang? Azura menyelidik penuh tanya.

Sementara Jasmin hanya diam. Tidak ingin mengklarikasi apapun. Dalam benaknya, mereka tidak memiliki hubungan istimewa. Azura hanyalah pria satu malam semata. Meski dalam hati ingin rasanya meninju wajah menyebalkan Jack.

“Tuan pengacara, kebetulan aku ingin konsultasi hukum,” ucap Azura akhirnya sembari menatap kecewa Jasmin.

“Kebetulan sekali, istriku akan membantu Anda.” Lagi-lagi Jack tak tahu malu menyebut Jasmin sebagai istrinya.

“Aku masuk dulu untuk memberi penghormatan. Turut berduka cita.” Kemudian Jack sengaja meninggalkan Jasmin dan Azura, agar keduanya leluasa saling bertukar pikiran. Tanpa disadari, bahwa suara Azuralah yang didengar pagi tadi.

Sebelum pergi, Jack mengambil bunga matahari putih dari tangan Azura. “Di sini agak berisik. Kita bicara di tempat lain,” ajak Azura akhirnya sambil berlalu pergi. Jasmin pun mengikut dari belakang.

Di sisi kolam renang, keduanya berdiri saling berhadapan. Akhirnya Azura mempunya waktu bersama wanitanya.

“Tuan Azura, maaf kalau boleh tahu Anda ada masalah apa?” tanya Jasmin profesional.

“Kamu sudah menikah?” Alih-alih menjawab, Azura justru mengajukan pertanyaan konyol itu. Seolah tak terima gadis yang namanya didaftar pernikahan semalam telah memiliki pasangan.

“Itu bukan masalah hukum.” Jasmin tetap efisien. Tidak mengungkap identitas kepada orang asing. Kendati mereka telah terlibat one night stad sekalipun.

Di sisi lain, Jasmin baru saja mendapat mandat dari Jack untuk menjadi konsultan hukum Azura.

“Kalau semalam aku benar-benar tidur bersama istri orang. Apa itu mungkin akan menjadi masalah hukum?” Pertanyaan kali ini sukses membuat wajah Jasmin sedikit merah. Ada rasa malu sekaligus kasihan terhadap Azura.

Bagaimana tidak, wajah pemuda tampan itu begitu menyedihkan. Azura terlihat putus asa. Seakan hanya Jasmin satu-satunya wanita di dunia. Azura patah hati sebelum menyatakan perasaan secara gamblang.

“Jadi, kamu sudah menikah?” Sekali lagi Azura bertanya untuk memenuhi rasa penasarannya.

Azura benar-benar jatuh cinta kepada Jasmin. Bisa disebut sebagai cinta pada pandangan pertama.

“Tenang saja, itu tidak akan menjadi masalah hukum,” jawab Jasmin akhirnya setelah beberapa saat diam. Lantas memutar badan hendak meninggalkan Azura.

“Kakak.” Akan tetapi, pemuda itu mencegatnya dengan menarik pelan ujung lengan jas Jasmin.

Kali ini tatapan Azura kepada Jasmin mulai berbeda. Ada rasa rindu, cinta, sekaligus haru. Ketiga rasa itu muncul secara bersamaan.

“Cincinmu mana?” Semula hanya ujung jas yang ditarik Azura, tetapi kali ini ia mengangkat jemari wanita itu. Menjelajahi jari manis, untuk memastikan apakah ada seutas cincin melingkar di sana atau tidak.

Azura menatap heran jemari itu. Tak ada ring menghiasi. “Aku tidak terbiasa memakai cincin.” Jawaban Jasmin kali ini terkesan misterius. Azura merasa wanita itu sedang menutupi sesuatu yang besar. Entah itu statusnya, maupun latar belakang.

“Dek, ini hanya hubungan satu malam,” imbuh Jasmin seraya meninggalkan Azura.

Wajah pria itu pun kembali pias lagi dan lagi. Tak ada jawaban pasti terlontar dari mulut Jasmin. Jika memang statusnya menikah, lalu mengapa dalam kartu identitas wanita itu tertulis masih lajang? Pikir Azura kala itu.

Kendati usia mereka terpaut jauh. Bukankah usia tidak menjamin karakter dan kesiapan mental? Usia hanyalah angka, bukan bukti kedewasaan.

“Jasmin.” Jack antusias menghampiri Jasmin begitu wanita itu menjauh dari Azura.

“Tuan muda bertanya tentang apa?” tanya Jack penasaran.

“Namanya Azura Muskan Frederick. Dua puluh tahun. Sangat mirip dengan foto di ruang duka, tetapi marganya bukan Frederick,” papar Jasmin sesuai pengetahuan. Gadis itu tidak memaparkan pertanyaan konyol Azura.

“Namanya juga orang kaya. Tidak tahu anak sah atau bukan.” Jack tidak peduli pada latar belakang Azura. Asal ia bisa menjadi pengacara keluarga konglomerat tersebut jika diperlukan.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa keluarga  konglomerat pasti mempunyai pengacara khusus. Inilah yang diincar Jack, si pria rakus.

“Kamu mau kemana? Masih ada jamuan duka di kediaman Muskan,” imbuh pemuda itu seraya mencegat Jasmin yang tidak tertarik pada ide konyolnya.

“Kamu saja yang pergi, aku tidak ikut.” Jasmin tampak cuek pada obsesi sang bos. Baginya pekerjaan tetap pekerjaan. Namun, masih tetap dalam batasan profesional. Bukan memanfaatkan situasi riskan.

“Nona! Pikirkan uangnya. Uang!” teriak Jack mulai kesal. Akan tetapi, Jasmin tidak peduli. Gadis dengan setelan jas serta rok hitam itu berlalu begitu saja.

“Azura!” Sementara itu di lain tempat. Seorang wanita paruh baya tengah memarahi Azura. Menarik jasnya dengan penuh kemarahan.

“Kemarin Marcel masih sehat. Mengapa setelah kau pergi, pagi ini dia meninggal?” Menuding pria malang itu sebagai pembunuh putranya.

Adalah Sarah, ibu tiri Azura, istri pertama Tuan Muskan.

“Kamu apakan dia, ha?” tanya Sarah secara beruntun. Wanita dengan sebutan Nyonya besar itu menunjuk-nunjuk wajah Azura. Ia memaki, mencaci, serta menuding pemuda malang itu sebagai pembunuh.

Sedangkan Azura tidak bersuara. Wajah pria itu bahkan terlihat memprihatinkan. Hubungan mereka memang tidak akur, tetapi Azura masih punya hati. Ia tidak akan tega membunuh saudaranya hanya demi tahta keluarga. Kendati mereka hanyalah saudara tiri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Aku Adalah Obatmu

    “Bajumu basah, gantilah dulu,” ucap Jasmin setelah membawa Azura ke dalam rumah Muskan.Kini Jasmin berada di dalam kamar Azura. Wanita itu berniat menemaninya usai menyaksikan kejadian menyakitkan. Jasmin berniat menghibur lelaki tersebut.Pemuda dengan kemeja putih itu akhirnya tertidur setelah mengalami banyak hal berat.“Azura, maafkan Ibu, Nak.” Dalam mimpi, Azura kembali ke masa kecil. Menyaksikan dengan mata kepala dimana Ibunya jatuh pingsan.“Ayah, Ibuku pingsan.” Azura kecil menghubungi Muskan melalui telpon genggam.“Ayahmu tidak ada di sini! Jangan telepon dia lagi!” Naas, orang yang menjawab panggilan darurat tersebut adalah Sarah, alih-alih Muskan.“Ibu!” Azura kecil berteriak ketakutan kala menyaksikan sang ibu tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.“Aku membakar semua surat yang kau tulis. Aku memang merebut suamimu!” Kemudian mimpi itu beralih ke rumah sakit, tempat dimana Megan menjalani perawatan secara intensif. Di sana Sarah melabrak Megan yang dalam kondisi antar

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Jasmin Melihatnya

    “Kemarin aku pergi bersama Ayah. Ayah juga ada di sana,” terang Azura, berusaha meluruskan kesalah pahaman.“Kau pikir kau pantas memanggil suamiku Ayah? Kau lahir di luar nikah. Anak haram! Pergi dari keluarga Muskan!” Sarah kian murka, alih-alih percaya.Wanita dengan kunciran rambut perak itu mengusir sang anak tiri. Mendorongnya keras hingga jatuh ke dalam kolam.Sialnya, situasi memalukan itu justru disaksikan Jasmin. Gadis itu pun terkejut sekaligus simpatik.Ya, simpatik. Bagaimana tidak, hari itu masih suasana berkabung. Bahkan semua tamu masih berada di ruang duka memberi ucapan belasungkawa atas meninggalnya putra pertama keluarga kaya itu.Namun, di tempat lain. Istri Muskan justru membuat keributan. Menuding Azura tanpa tendensi.“Jangan kira setelah Marcel meninggal, kau bisa masuk ke dalam keluarga Muskan begitu saja! Pergi dari sini! Pergi!” usir Sarah sekali lagi.Bukan salah Azura menjadi anak di luar nikah. Dia tidak bisa memilih untuk terlahir dari keluarga mana. Az

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Bukan Marga Frederick

    “Mengapa dia di sini?” Benak Jasmin bertanya, bagaimana bisa Azura ada di antara keluarga Muskan. Anehnya, lelaki itu justru menerima tamu berdatangan selayaknya keluarga duka.Sementara Jack mengintip mantan sekaligus anak buahnya itu dari arah belakang. Jarak mereka tidak begitu jauh. Sekitar lima meter.Jasmin dan Azura saling menatap satu sama lain. Seperti ada makna tersirat dari keduanya. Benak Jasmin masih mempertanyakan posisi Azura dalam keluarga konglomerat itu. Sedangkan Azura sendiri masih dalam suasana berkabung. Mimik pria dengan setelan jas hitam itu menunjukkan kehilangan sekaligus rindu.Ya, Azura merindukan Jasmin. Aroma tubuhnya, lekukannya, suaranya, dan sentuhannya. Azura merasa tumbuh sesuatu yang istimewa di dalam sana terkait Jasmin.“Turut berduka cita, Tuan muda.” Jack menghampiri dua insan beda generasi itu. Menjulurkan tangan kepada Azura sebagai ucapan belasungkawa.“Astaga, ternyata aku tidur bersama Tuan muda.” Sontak Jasmin terkesiap begitu tahu latar b

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Kantor Polisi

    Jasmin merapikan pakaiannya yang tidak kusut. Lalu menatap marah Azura. Sejak tadi pria itu diam saja. Seolah menunjukkan sikap kooperatifnya sebagai tersangka perzinahan.“Brengsek!” Sebelum benar-benar meninggalkan kamar, Jasmin mengumpat tepat di depan Azura. Dalam hati ia bersumpah tak akan memaafkan pria itu.Beberapa hari lalu Jasmin bergelut dengan kasus hukum, yang mana kasus tersebut adalah tentang perzinahan.Dalam kasus tersebut, Jasmin membela seorang gadis belia yang dijebak oleh kekasihnya. Dalam masa persidangan, Jasmin menentang keras kasus perzinahan. Ia bahkan menolak keras opini masyarakat yang kerap menormalisasikan zina.Namun, siapa sangka pagi itu Jasmin justru menjadi tersangka kasus perzinahan. Hal kontra dengan sikap serta prinsipnya.“Mengapa kau tidak mengatakan sesuatu? Apa kau bisu?” Di mobil polisi, Jasmin mempertanyakan sikap Azura yang terkesan acuh.“Mengapa aku harus? Bukankah benar yang mereka tuduhkan? Semalam kita–”“Cukup!”Jasmin membekap mulut

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Lantai Dua

    Jasmin buru-buru bangkit dan mencari pakaiannya selagi pemuda itu masih terpejam. Namun, ketika telah sepenuhnya berhasil memakai kembali semua pakaian, Jasmin justru dikagetkan dengan suara berat yang muncul.“Berisik sekali!”Sontak Jasmin menoleh dan mendapati pemuda itu telah membuka mata. Tatapannya tajam mengintimidasi, rambut berantakan, wajahnya masih kusut khas bangun tidur, tapi dahinya sedikit berkerut.“Masuk kamarku sembarangan, lalu sekarang mengganggu tidurku,” gumam pemuda itu sambil berdecak kesal.Jasmin membelalakkan matanya. Apa maksudnya?Selama ini ia menjaga diri. Bukan karena suci atau kolot, tapi karena pilihan. Sebab, ia tahu batasnya sendiri. Dan pagi ini, batas itu terasa seperti diinjak lalu ditinggalkan begitu saja.Dadanya naik turun cepat. Amarah yang semula tertahan kini mendesak keluar, karena tuduhan pemuda itu.“Apa?” suara Jasmin meninggi, pecah sebelum sempat disaring akal sehat. “Kamarmu?”Ia membelalakkan mata, lalu dengan tangan gemetar mengelu

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Diagnosa Dokter

    “Hasil USG menunjukkan ada tanda-tanda penuaan dini ovarium. Kemungkinan Anda tidak akan mengalami menstruasi selama beberapa bulan ke depan.”Dokter berjenis kelamin wanita itu memberi selembar hasil pemeriksaan kepada Jasmin.“Penuaan ovarium itu maksudnya gimana, Dok?” tanya Jasmin, keningnya hampir menyatu. Masih terdengar ambigu penjelasan dokter itu.“Sederhananya, Anda mengalami menopause dini.”Ucapan itu menghantam dada Jasmin begitu keras.Hari itu, Jasmin memeriksa siklus menstruasi sekaligus organ reproduksi setelah beberapa bulan tidak mendapat menstruasi. Namun, siapa sangka bila hasil pemeriksaan dokter justru menyatakan bila ia mengalami tanda-tanda menopause dini.Ironisnya, usia Jasmin masih terbilang produktif, tiga puluh tahun. Usia yang masih sangat muda untuk mengalami hal mengerikan itu.Dunia Jasmin seakan berhenti sejenak. Lantas otaknya kembali berputar, berkelana mencari solusi yang sekiranya bisa mengubah hasil diagnosa itu. Seharusnya, wanita berdarah ca

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status