Início / Romansa / Dari Dingin Menjadi Obsesi / Kesepakatan Meyakinkan

Compartilhar

Kesepakatan Meyakinkan

Autor: Suharni
last update Data de publicação: 2025-12-21 21:37:04

Beberapa saat setelah pernikahan. Pras dan Fatma membawa Anggun dan Azura ke rumah mereka.

"Kemarilah, ikut Mama." Sesampainya di rumah, Fatma menyeret pelan Anggun untuk dibawa ke dalam kamar. Meninggalkan Azura yang selalu bungkam.

"Jelaskan sama Mama, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pria itu, Nak?" tanya Fatma akhirnya.

Sejak tadi Fatma menahan diri. Kini ia mempunyai kesempatan untuk mengulik habis putrinya, sebelum Pras yang memulai.

Anggun tertunduk cemas. Ia diam, takut mengatakan yang sebenarnya pada ibunya. Jika sampai Fatma tahu dia dan Azura digerebek petugas satpol pp di sebuah hotel, maka bisa dipastikan riwayatnya tamat dalam satu kali hentakan.

Pun USG yang sengaja disimpan rapi di dalam tas selempang miliknya.

"Mengapa diam saja? Apa kau--"

Brak!

Fatma belum sempat menyelesaikan pertanyaan itu, Pras datang dengan membuka kasar pintu kamar putrinya.

"Ikut, Papa!" Lalu Pras menyeret Anggun yang sejak tadi tidak melakukan perlawanan berarti.

"Duduk!" titah Pras penuh penekanan.

Perasaan bersalah dan juga sedih bersatu padu dalam benak Anggun, hingga memenuhi relung hatinya.

"Jelaskan, siapa pria ini?" tanya Pras akhirnya setelah pertanyaan itu dipendam kuat dalam dada.

Di KUA, waktunya sangat singkat, membuat ia tidak sempat mencerca calon menantunya itu.

"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Azura Permana, usia dua puluh tahun," seloroh Azura datar, tapi nadanya tertata.

"Dua puluh tahun?" Pras terpaku begitu tahu usia sebenarnya Azura, lalu ia menunduk sembari terkekeh kecil, seolah tidak percaya pada apa yang baru didengarnya.

"Bagaimana bisa putriku berakhir menikahi pria yang usianya sepuluh tahun lebih muda darinya?" gumam Pras seraya menghela napas tak tentu.

"Mungkin sebelumnya Anggun tidak pernah menyinggung soal saya kepada Om dan Tante. Namun, hubungan kami cukup dekat dan dalam. Saya sangat mencintainya," lanjut Azura dengan tatapan tak terbaca, tapi nada itu cukup mantap.

"Apa pria ini sedang membantuku?" batin Anggun merasa terkejut. Tidak menyangka dengan tindakan Azura.

Sementara Fatma menyipitkan mata, wajahnya pun turut merah, karena menahan amarah. Lalu wanita paruh baya itu menatap tajam putrinya.

Sejenak suasana membeku, tidak ada yang membuka suara. Sampai akhirnya Pras kembali berujar, "Dekat dan dalam? Apa kau yakin?"

Mata Pras menelusuri Azura dari atas hingga bawah, seakan menilai kekurangan serta usianya. "Tidak seperti Diki yang terlihat lebih dewasa dan masuk akal."

"Seperti yang saya katakan tadi, saya mencintai putri Om dan Tante. Mungkin ini terdengar aneh, tapi percayalah, ini faktanya," jelas Azura meyakinkan.

Pras menatap dalam-dalam mata Azura, berusaha mencari kebohongan di sana, tetapi ia tidak bisa menangkap makna netra itu. Rasanya terlalu jauh untuk ditelaah. Namun, entah mengapa hati kecil Pras justru berdelik kuat, bahwa Azura bukan orang jahat.

Lagi-lagi batin Anggun tidak percaya pada langkah Azura. Pria itu menyusun kata demi kata, hingga membentuk alasan sempurna.

"Tolong restui kami, Om, Tante. Mungkin usia saya masih muda, tapi saya bisa pastikan tidak akan menyia--nyiakan masa depan putri Anda," lanjut Azura, memohon restu pada kedua mertuanya dengan penuh keyakinan.

Kali ini Azura cukup banyak bicara. Tentu demi membuat Pras dan Fatma tidak meragukan karakternya.

Pras memegang dadanya yang terasa nyeri. Ia sedikit menunduk lemah. Sementara Fatma memegang lengan kanan suaminya itu.

"Pa, kau tidak apa-apa?" tanya Fatma pelan.

"Aku baik-baik saja... Pria itu... Sepertinya bersungguh-sungguh. Lagi pula, mereka sudah menikah. Kita tidak boleh sembarangan memisahkan anak-anak." Napas Pras sedikit tersengal. Seperti tekanan itu kian masuk ke dalam.

Namun, batinnya sedikit lebih tenang begitu keyakinan perlahan datang menyapa.

"Tapi--" Namun, tidak dengan Fatma. Wanita paruh baya itu tampak masih belum rela melepas putrinya bersama orang asing yang usianya juah dibawah.

Selama beberapa tahun ini, Fatma berharap agar Anggun segera melepas masa lajangnya bersama Diki, mantan kekasih wanita itu.

Diki merupakan CEO di sebuah perusahaan garmen. Usianya tiga puluh empat tahun. Tentu profesi dan usia pria itu jauh lebih mapan dibanding Azura menurut Fatma.

"Om, Tante, mungkin permintaan saya cukup eksplisit, tetapi saya harus membawa Anggun ke rumah saya untuk bertemu keluarga." Perkataan Azura kali ini cukup percaya diri, hingga menyentuh hati Fatma.

Pemuda itu, secara fisik memang masih belia. Namun, pemikirannya jauh diatas rata-rata. Lihat saja caranya berbicara, sangat tertata dan tidak terkesan memaksa, apa lagi menyudutkan Anggun.

Sejak tadi Azura tidak menyalahkan Anggun atas apa yang menimpa mereka. Sebaliknya, ia justru melindungi wanita itu dari tanggapan buruk kedua orang tuanya.

Pras mendongak, lalu menghela napas berat, sebelum akhirnya berkata, "Baiklah, aku titip putriku padamu."

Suara Pras terdengar berat, penuh tekanan emosional yang sejak tadi ditahan.

"Putriku mungkin tidak sempurna, terlebih usia kalian cukup jauh, tapi dia anak kami satu-satunya. Tolong jangan sakiti dia. Pastikan kau menepati janjimu barusan," lanjut Pras pasrah, tetapi bersungguh-sungguh.

Azura memang tidak mengikrar janji secara gamblang, tetapi perkataannya barusan membuat Pras menaruh harapan besar terhadapnya.

Setidaknya, putri mereka menikah sekali seumur hidup. Walau dengan lelaki yang jauh dari kata mapan sekalipun.

"Saya mengerti, Om. Seperti yang sudah saya katakan tadi, saya tidak akan menyia-nyiakan masa depan putri, Om dan Tante," balas Azura datar, tapi penuh kemantapan.

kepercayaan diri pria itu tanpa sadar sukses membuat hati Pras dan Fatma berharu biru. Sepertinya dia tidak salah menikahkan putrinya dengan Azura.

Meski begitu, Pras tidak ingin terlalu cepat menilai. Baru satu jam setengah Azura resmi menjadi menantunya. Perjalanan mereka masih panjang.

Fatma yang duduk di sisi suaminya, menatap Anggun dengan sorotan mata sendu. Dia tersenyum samar, meski ada banyak kekhawatiran yang tidak terucap.

"Jaga dirimu baik-baik. Mama tahu kau sudah dewasa, kau harus menghormati suamimu berapapun usianya." Pesan itu menyiratkan makna paling dalam. Meski tidak dijabarkan panjang kali lebar. Namun, sudah cukup membuat Anggun paham maksudnya.

Anggun hanya mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. Ia menahan gejolak di dalam dada.

Segalanya terasa begitu cepat, terlalu asing dan buru-buru. Namun, semuanya sudah terlanjur berjalan, meski skenarionya datang tak terduga.

Perlahan tapi pasti, perasaan bersalah itu merayap dalam hati Anggun. Ia merasa berdosa, karena tidak mengatakan yang sebenarnya. Meski begitu, Anggun hanya ingin melindungi mental kedua orang tuanya itu.

Saat itu, Anggun berpikir hanya langkah itulah yang paling tepat ditempuh. Meski harus menyerahkan masa depan pada pria yang entah dari mana asal usulnya.

Penggerebekan itu ditutupnya rapat hingga tanpa cela. Tak akan pernah ia menyinggung peristiwa memalukan itu. Janji Anggun begitu mantap di dalam hati.

"Maafkan aku, Ma, Pa," lirih Anggun di dalam hati.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Makan Malam yang Intim

    Suasana di dalam penthouse Azura dan Anggun terasa jauh lebih ringan dan lega setelah kepergian Permana. Beban besar yang selama ini menghimpit pundak Azura seolah terangkat seketika saat menyadari bahwa ayahnya kini telah melihat kebenaran yang sesungguhnya. Malam itu, setelah berdiskusi dengan penuh kedewasaan, mereka memutuskan untuk menindaklanjuti restu tersirat dari Permana dengan cara yang paling terhormat."Kita akan mengadakan jamuan makan malam resmi di sini, Anggun," ucap Azura seraya mengelus jemari istrinya lembut saat mereka bersantai di sofa. "Hanya kita berdua dan Papa. Aku ingin menyambut Papa di rumah kita yang sebenarnya, tanpa gangguan dari siapa pun."Anggun tersenyum manis, kepalanya bersandar nyaman di dada bidang suaminya. "Aku setuju, Mas. Om Permana baru saja kehilangan Dewa, dan hatinya pasti masih terluka parah. Makan malam yang hangat di rumah yang damai mungkin bisa sedikit mengobati batinnya."Mendengar betapa tingginya rasa empati dan kedewasaan istriny

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Ego yang Runtuh

    Permana menatap Anggun dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Kalimat wanita muda itu—“tempat itu terlalu beracun untuk ditumpangi sebuah ketulusan”—terdengar begitu lugas, tanpa kepalsuan, dan langsung menghujam ulu hatinya.Sebagai pria yang terbiasa mendikte jalannya bisnis dan rumah tangga dengan otoritas mutlak, Permana bersiap mendengar argumen yang penuh pembelaan diri yang cengeng atau serangan balik yang histeris. Namun, apa yang ia dapatkan dari Anggun justru sebuah ketenangan yang dewasa, sebuah kedewasaan yang bahkan tidak pernah ia temukan pada diri Dewi, istrinya sendiri.Ruang tamu rumah itu mendadak hening. Hanya ada deru napas Permana yang berat di antara aroma teh melati hangat yang baru saja disajikan Anggun di atas meja kaca.Permana melangkah perlahan menuju sofa, lalu duduk tanpa melepaskan pandangannya dari Anggun. Egonya yang semula membara perlahan mulai menyusut, berganti dengan rasa lelah yang teramat sangat yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Pertemuan Perdana Antara Anggun dan Permana

    Sementara Azura dan Anggun sedang menghabiskan waktu berdua di dalam kehangatan vila pegunungan mereka, badai baru justru sedang berkumpul di Jakarta. Di dalam ruang kerjanya yang luas namun terasa mati, Permana berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman rumah utama. Pria paruh baya itu memegang segelas wiski yang belum disentuhnya sama sekali. Pikirannya tidak tenang. Kalimat-kalimat tegas Azura dua hari lalu terus berputar di otaknya bagaikan kaset rusak yang merobek sisa-sisa harga dirinya.“Anggun adalah duniaku sekarang, Pa. Restu atau tidak dari keluarga ini, tidak akan pernah mengubah statusnya sebagai istri sahku selamanya.”Permana menarik napas dalam-dalam, dadanya terasa sesak. Kehilangan Dewa telah menghancurkan separuh jiwanya. Kenyataan bahwa Aira membusuk di penjara telah merenggut kewibawaannya. Dan kini, Azura—satu-satunya putra yang tersisa, yang ia harapkan bisa meneruskan takhta bisnis keluarga—justru memilih membangkang demi seorang wanita asing.Ras

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Liburan Romantis

    Keesokan paginya, suasana di dalam rumah terasa jauh lebih tenang. Ketegangan yang dipicu oleh kedatangan Dewi dua hari lalu perlahan menguap, digantikan oleh rutinitas pagi yang hangat.Azura berdiri di dekat jendela besar ruang tengah, menatap cangkir kopi di tangannya dengan pandangan yang dalam. Meskipun Anggun telah menunjukkan ketegaran yang luar biasa dan sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda trauma yang mendalam, hati kecil Azura tetap digerogoti oleh rasa bersalah.Sebagai seorang suami, Azura merasa bertanggung jawab atas ketidaknyamanan yang menimpa istrinya akibat konflik internal keluarganya. Ia tidak ingin Anggun terus-menerus dihadapkan pada atmosfer kota yang bising dan penuh intrik. Pria itu lantas meletakkan cangkirnya, lalu berjalan menghampiri Anggun yang sedang melipat beberapa helai pakaian di ruang bersantai."Anggun," panggil Azura lembut.Anggun mendongak, seraya menyugar rambutnya yang sedikit berantakan ke belakang telinga, lalu tersenyum manis."Iya,

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Racun dan Drama

    Dengan napas yang masih terengah-engah dan dada yang berguncang hebat akibat amarah yang membakar benaknya, Dewi melangkah keluar dari kediaman Azura. Sepanjang jalan menuju rumah utama keluarga Permana, jemarinya mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di kepalanya, kalimat-kalimat telak dari Anggun terus terngiang bagai tamparan yang tak kunjung usai.“Sampah yang sesungguhnya adalah wanita yang puluhan tahun lalu berselingkuh...”"Kurang ajar! Perempuan rendahan itu benar-benar harus disingkirkan!" makian Dewi pecah di dalam keheningan mobilnya.Dewi sebenarnya tidak tahu-menahu tentang masa lalu Anggun. Ia sama sekali tidak mengenal siapa itu Diki, tidak tahu latar belakang keluarga Anggun, ataupun kisah cinta lama wanita itu. Satu-satunya alasan Dewi mengetahui keberadaan Anggun adalah karena aduan dari Erika beberapa hari lalu. Erika bercerita dengan penuh amarah bahwa beberapa bulan lalu, ia sempat bertamu ke rumah pribadi Azura dan mendapati se

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Lawan yang Salah

    Pagi itu, langit di atas ibu kota tampak mendung, seolah melempar firasat buruk ke jendela rumah mewah milik Azura. Setelah suaminya berangkat ke kantor dengan kecupan hangat di kening yang sempat meredakan sisa ketegangan kemarin, Anggun memutuskan untuk menyibukkan diri di dapur. Namun, ketenangan itu hancur berantakan ketika bel pintu utama berbunyi dengan ketukan yang tidak sabar dan kasar.Saat Anggun membuka pintu, sosok wanita paruh baya dengan pakaian glamor namun wajah yang sarat akan kebencian berdiri di hadapannya. Wanita itu adalah Dewi, ibu tiri Azura.Dewi tidak menunggu dipersilakan. Dengan keangkuhan yang mendarah daging, ia menerobos masuk, sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan suara yang menggema angkuh. Pandangan matanya langsung tertuju pada bingkai foto pernikahan besar di ruang tamu. Wajah Dewi mengeras, matanya berkilat penuh amarah yang meluap-luap."Jadi benar... anak haram sialan itu benar-benar sudah gila," desis Dewi, suaranya bergetar menahan

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Api yang Tidak Bernama

    Empat puluh dua hari setelah terpecahnya kasus kematian Dewa, semua kembali berjalan seperti biasa. Azura kembali ke aktifitasnya. Permana mulai aktif berkantor, menggantikan peran Dewa sementara. Sedangkan Dewi menggantikan posisi Aira. Sementara Anggun, tetap melanjutkan hidup seperti biasa. Beke

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Sakit Perut Melilit

    Anggun melihat kartu nama yang diberi Azura. Alisnya hampir menyatu. Ia tahu lokasi itu."Ini--" Anggun nyaris tak percaya, Azura justru tinggal di sebuah kawasan elit khusus orang kaya.Ia pun memesan taksi online melalui ponselnya. Sepuluh menit menunggu, akhirnya kendaraan umum itu datang.Koper

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Lantai Dua

    Anggun buru-buru bangkit dan mencari pakaiannya selagi pemuda itu masih terpejam. Namun, ketika telah sepenuhnya berhasil memakai kembali semua pakaian, Anggun justru dikagetkan dengan suara berat yang muncul. “Berisik sekali!” Sontak Anggun menoleh dan mendapati pemuda itu telah membuka mata. Tat

  • Dari Dingin Menjadi Obsesi   Diagnosa Dokter

    “Hasil USG menunjukkan ada tanda-tanda penuaan dini ovarium. Kemungkinan Anda tidak akan mengalami menstruasi selama beberapa bulan ke depan.”Dokter berjenis kelamin wanita itu memberi selembar hasil pemeriksaan kepada Anggun.“Penuaan ovarium itu maksudnya gimana, Dok?” tanya Anggun, keningnya ha

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status