LOGINBeberapa saat setelah pernikahan. Pras dan Fatma membawa Anggun dan Azura ke rumah mereka.
"Kemarilah, ikut Mama." Sesampainya di rumah, Fatma menyeret pelan Anggun untuk dibawa ke dalam kamar. Meninggalkan Azura yang selalu bungkam."Jelaskan sama Mama, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pria itu, Nak?" tanya Fatma akhirnya.
Sejak tadi Fatma menahan diri. Kini ia mempunyai kesempatan untuk mengulik habis putrinya, sebelum Pras yang memulai.
Anggun tertunduk cemas. Ia diam, takut mengatakan yang sebenarnya pada ibunya. Jika sampai Fatma tahu dia dan Azura digerebek petugas satpol pp di sebuah hotel, maka bisa dipastikan riwayatnya tamat dalam satu kali hentakan.
Pun USG yang sengaja disimpan rapi di dalam tas selempang miliknya.
"Mengapa diam saja? Apa kau--"
Brak!
Fatma belum sempat menyelesaikan pertanyaan itu, Pras datang dengan membuka kasar pintu kamar putrinya.
"Ikut, Papa!" Lalu Pras menyeret Anggun yang sejak tadi tidak melakukan perlawanan berarti.
"Duduk!" titah Pras penuh penekanan.
Perasaan bersalah dan juga sedih bersatu padu dalam benak Anggun, hingga memenuhi relung hatinya.
"Jelaskan, siapa pria ini?" tanya Pras akhirnya setelah pertanyaan itu dipendam kuat dalam dada.
Di KUA, waktunya sangat singkat, membuat ia tidak sempat mencerca calon menantunya itu.
"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Azura Permana, usia dua puluh tahun," seloroh Azura datar, tapi nadanya tertata.
"Dua puluh tahun?" Pras terpaku begitu tahu usia sebenarnya Azura, lalu ia menunduk sembari terkekeh kecil, seolah tidak percaya pada apa yang baru didengarnya.
"Bagaimana bisa putriku berakhir menikahi pria yang usianya sepuluh tahun lebih muda darinya?" gumam Pras seraya menghela napas tak tentu.
"Mungkin sebelumnya Anggun tidak pernah menyinggung soal saya kepada Om dan Tante. Namun, hubungan kami cukup dekat dan dalam. Saya sangat mencintainya," lanjut Azura dengan tatapan tak terbaca, tapi nada itu cukup mantap.
"Apa pria ini sedang membantuku?" batin Anggun merasa terkejut. Tidak menyangka dengan tindakan Azura.
Sementara Fatma menyipitkan mata, wajahnya pun turut merah, karena menahan amarah. Lalu wanita paruh baya itu menatap tajam putrinya.
Sejenak suasana membeku, tidak ada yang membuka suara. Sampai akhirnya Pras kembali berujar, "Dekat dan dalam? Apa kau yakin?"
Mata Pras menelusuri Azura dari atas hingga bawah, seakan menilai kekurangan serta usianya. "Tidak seperti Diki yang terlihat lebih dewasa dan masuk akal."
"Seperti yang saya katakan tadi, saya mencintai putri Om dan Tante. Mungkin ini terdengar aneh, tapi percayalah, ini faktanya," jelas Azura meyakinkan.
Pras menatap dalam-dalam mata Azura, berusaha mencari kebohongan di sana, tetapi ia tidak bisa menangkap makna netra itu. Rasanya terlalu jauh untuk ditelaah. Namun, entah mengapa hati kecil Pras justru berdelik kuat, bahwa Azura bukan orang jahat.
Lagi-lagi batin Anggun tidak percaya pada langkah Azura. Pria itu menyusun kata demi kata, hingga membentuk alasan sempurna.
"Tolong restui kami, Om, Tante. Mungkin usia saya masih muda, tapi saya bisa pastikan tidak akan menyia--nyiakan masa depan putri Anda," lanjut Azura, memohon restu pada kedua mertuanya dengan penuh keyakinan.
Kali ini Azura cukup banyak bicara. Tentu demi membuat Pras dan Fatma tidak meragukan karakternya.
Pras memegang dadanya yang terasa nyeri. Ia sedikit menunduk lemah. Sementara Fatma memegang lengan kanan suaminya itu.
"Pa, kau tidak apa-apa?" tanya Fatma pelan.
"Aku baik-baik saja... Pria itu... Sepertinya bersungguh-sungguh. Lagi pula, mereka sudah menikah. Kita tidak boleh sembarangan memisahkan anak-anak." Napas Pras sedikit tersengal. Seperti tekanan itu kian masuk ke dalam.
Namun, batinnya sedikit lebih tenang begitu keyakinan perlahan datang menyapa.
"Tapi--" Namun, tidak dengan Fatma. Wanita paruh baya itu tampak masih belum rela melepas putrinya bersama orang asing yang usianya juah dibawah.
Selama beberapa tahun ini, Fatma berharap agar Anggun segera melepas masa lajangnya bersama Diki, mantan kekasih wanita itu.
Diki merupakan CEO di sebuah perusahaan garmen. Usianya tiga puluh empat tahun. Tentu profesi dan usia pria itu jauh lebih mapan dibanding Azura menurut Fatma.
"Om, Tante, mungkin permintaan saya cukup eksplisit, tetapi saya harus membawa Anggun ke rumah saya untuk bertemu keluarga." Perkataan Azura kali ini cukup percaya diri, hingga menyentuh hati Fatma.
Pemuda itu, secara fisik memang masih belia. Namun, pemikirannya jauh diatas rata-rata. Lihat saja caranya berbicara, sangat tertata dan tidak terkesan memaksa, apa lagi menyudutkan Anggun.
Sejak tadi Azura tidak menyalahkan Anggun atas apa yang menimpa mereka. Sebaliknya, ia justru melindungi wanita itu dari tanggapan buruk kedua orang tuanya.
Pras mendongak, lalu menghela napas berat, sebelum akhirnya berkata, "Baiklah, aku titip putriku padamu."
Suara Pras terdengar berat, penuh tekanan emosional yang sejak tadi ditahan.
"Putriku mungkin tidak sempurna, terlebih usia kalian cukup jauh, tapi dia anak kami satu-satunya. Tolong jangan sakiti dia. Pastikan kau menepati janjimu barusan," lanjut Pras pasrah, tetapi bersungguh-sungguh.
Azura memang tidak mengikrar janji secara gamblang, tetapi perkataannya barusan membuat Pras menaruh harapan besar terhadapnya.
Setidaknya, putri mereka menikah sekali seumur hidup. Walau dengan lelaki yang jauh dari kata mapan sekalipun.
"Saya mengerti, Om. Seperti yang sudah saya katakan tadi, saya tidak akan menyia-nyiakan masa depan putri, Om dan Tante," balas Azura datar, tapi penuh kemantapan.
kepercayaan diri pria itu tanpa sadar sukses membuat hati Pras dan Fatma berharu biru. Sepertinya dia tidak salah menikahkan putrinya dengan Azura.
Meski begitu, Pras tidak ingin terlalu cepat menilai. Baru satu jam setengah Azura resmi menjadi menantunya. Perjalanan mereka masih panjang.
Fatma yang duduk di sisi suaminya, menatap Anggun dengan sorotan mata sendu. Dia tersenyum samar, meski ada banyak kekhawatiran yang tidak terucap.
"Jaga dirimu baik-baik. Mama tahu kau sudah dewasa, kau harus menghormati suamimu berapapun usianya." Pesan itu menyiratkan makna paling dalam. Meski tidak dijabarkan panjang kali lebar. Namun, sudah cukup membuat Anggun paham maksudnya.
Anggun hanya mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. Ia menahan gejolak di dalam dada. Segalanya terasa begitu cepat, terlalu asing dan buru-buru. Namun, semuanya sudah terlanjur berjalan, meski skenarionya datang tak terduga.Perlahan tapi pasti, perasaan bersalah itu merayap dalam hati Anggun. Ia merasa berdosa, karena tidak mengatakan yang sebenarnya. Meski begitu, Anggun hanya ingin melindungi mental kedua orang tuanya itu.
Saat itu, Anggun berpikir hanya langkah itulah yang paling tepat ditempuh. Meski harus menyerahkan masa depan pada pria yang entah dari mana asal usulnya.
Penggerebekan itu ditutupnya rapat hingga tanpa cela. Tak akan pernah ia menyinggung peristiwa memalukan itu. Janji Anggun begitu mantap di dalam hati.
"Maafkan aku, Ma, Pa," lirih Anggun di dalam hati.
Malam itu terasa berbeda setelah semua yang terjadi. Dimana akhirnya Anggun mengakui hubungannya bersama Azura kepada Rena.Kini wanita itu tak lagi segan menunjukkan perasaan serta emosinya. Azura... pria itu tak jauh berbeda. Lebih dari Anggun, ia memiliki keluasan cinta yang begitu besar.Malam itu, ia sengaja memberi ruang kepada Anggun untuk bertemu Rena di apartment lamanya demi membahas suatu masalah, katanya.Azura tidak bertanya lebih, hanya memberi izin selayaknya suami kepada istri."Jadi Rena adalah temanmu?" tanya Azura begitu Anggun kembali ke rumah mereka. Mereka duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh di tangan masing-masing."Iya, dia sahabat baikku," jawab Anggun tanpa ragu."Mengapa kau tidak beritahu aku kalau kau punya terman bernama Rena?" tanya Azura sekali lagi. Lalu pria itu menyeruput tehnya yang masih hangat."Karena kamu tidaka pernah bertanya... lagi pula kita tidak pernah membahas urusan pribadi masing-masing. Aku juga tidak tahu kau bekerja di mana,
Malam itu terasa ganjil. Anggun duduk di ruang tamu apartemen yang sempat dikontraknya dulu sebelum menikah, dengan tangan masih dingin meski udara tidak terlalu sejuk. Pikirannya terus kembali pada satu momen di cafe, yang mana tatapan Rena terkesan menyelidik ketika menyadari siapa Azura.Malam ini, Anggun memutuskan untuk singgah di apartmennya itu atas izin Azura. Alasannya cukup klasik, ia masih belum siap membawa orang lain ke rumah Azura, karena merasa tak enak hati terhadap pria itu.Raut wajah Rena saat di kafe, bukan hanya keterkejutan, melainkan ada rasa tertipu.Tak lama terdengar suara bel berbunyi. Dan Anggun pun berdiri, menarik napas panjang, lalu membuka pintu.Begitu pintu itu terbuka, Rena berdiri di sana. Wajahnya tidak marah, tapi jelas penuh pertanyaan."Masuk," kata Anggun pelan. Begitu pintu tertutup, Rena langsung berbalik menghadapnya."Jadi," ucapnya perlahan, "suamimu adalah Azura?"Anggun menelan ludah, antara canggung dan merasa bersalah."Iya," sahutnya.
Siang itu cafe tidak terlalu ramai, tapi cukup hidup untuk menjadi tempat bersembunyi dari dunia.Anggun duduk berhadapan dengan Rena di sudut dekat jendela. Cahaya siang menyentuh wajah wanita itu, membuat ekspresinya terlihat lebih lembut dari biasanya.Rena menyipitkan mata, memperhatikan wajah Anggun yang menurutnya berbeda."Kamu kelihatan beda, ya," kata Rena sembari menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Ia melipat kedua tangannya."Beda bagaimana?" tanya Anggun sambil mengaduk es teh yang mulai mencair."Seperti orang yang sedang jatuh cinta, tapi pura-pura tidak mau mengaku," sahut Rena datar, tapi cukup mengena di hati Anggun.Anggun pun tersenyum kecil. "Kamu terlalu banyak menonton drama," jawabnya."Bukan terlalu banyak menonton drama, Sayang, tapi aku terlalu lama mengenalmu. Apa... suamimu akhirnya benar-benar jatuh cinta ya?" jawab Rena cepat. Namun, di ujung kalimat, ia menyelipkan pertanyaan.Anggun tidak segera menjawab. Wanita itu menatap meja terlebih dahulu, seola
Pagi datang tanpa peringatan. Cahaya matahari menyelinap pelan melalui celah tirai, jatuh di lantai kamar dengan warna keemasan yang terlalu jujur untuk diabaikan.Anggun terbangun lebih dulu. Namun, Ia tidak langsung bergerak. Ada keheningan yang terasa berbeda saat itu, tetapi bukan sepi, melainkan penuh sisa-sisa kehangatan.Sementara Azura masih tertidur di sisinya. Wajahnya tampak lebih dewa saat tidur. Garis-garis tegas yang biasanya menjadi tameng, kini melunak.Lalu Anggun menatapnya lama, seperti sedang membaca ulang sebuah keputusan yang telah ia ambil semalam, keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.Anggun merasakan kehangatan di dadanya… lalu perlahan mengencang. Bersamaan dengan itu, kedua sudut bibir Anggun tertarik tipis, membentuk senyuman bahagia di sana.Dalam benak Anggun, semalam terasa nyata. Pagi ini pun nyata, tetapi justru di sanalah ketakutan mulai tumbuh.Ya, sejenak ketakutan tumbuh di hatinya. Bukan karena kontrak yang telah diingkar, melainkan pada kehi
Malam itu tidak datang dengan tergesa. Lampu-lampu kota di balik jendela hanya menjadi latar buram ketika Anggun berdiri diam di tengah kamar, seolah sedang menimbang ulang seluruh hidupnya. Ada begitu banyak ketakutan yang pernah menahannya. Dimulai dari usia, status, masa lalu, kontrak yang mengikat tanpa rasa. Namun kini, semuanya berdiri berhadapan dengan satu perasaan yang tak lagi bisa ia abaikan.Sementara Azura berdiri beberapa langkah darinya. Ia tidak mendekat, tidak pula menjauh. Tatapan matanya lembut, berbeda dari tatapan dingin yang biasa ia layangkan di dunia luar. Saat ini tidak ada tuntutan di sana. Tidak ada pula paksaan.Tak lama Anggun menoleh, menatap pria itu lama, seolah ingin menghafal wajahnya, wajah seseorang yang sepuluh tahun lebih muda darinya, tapi malam ini terasa jauh lebih dewasa dengan caranya mencintai.“Apa kamu masih ragu?” tanya Azura pelan.“Iya... aku takut kalau perasaan ini hanya singgah sebentar, lalu pergi diam-diam. Aku juga takut kalau set
Kertas itu tidak seharusnya ada di sana. Azura tahu benda tipis itu begitu matanya menangkap lembaran putih yang tergeletak di meja makan, terselip di antara tablet vitamin dan map berisi dokumen perusahaan yang semestinya ia bawa ke ruang kerja. Tulisan dokter tercetak rapi, dingin, dan terlalu klinis untuk berada di ruang yang seharusnya hangat.Reflek Azura berhenti melangkah. Lalu tangannya terulur tanpa sadar, lantas berhenti di udara, seolah memberi dirinya sendiri waktu untuk berpikir ulang. Namun, rasa ingin tahu dan sesuatu yang lebih dalam mendadak muncul, lebih personal mengalahkan kehati-hatian.Azura pun membacanya. Awalnya satu baris, lalu baris berikutnya. Kemudian masuk pada baris kalimat yang membuat dadanya mengeras.Diagnosis: tanda penuaan dini pada sistem reproduksi dan hormonal.Reflek Azura menghela napas pelan. Bukan marah, bukan kecewa. Yang datang justru pemahaman yang terlambat. Lalu menyusul potongan-potongan memori sikap Anggun yang selama ini ia anggap se







