เข้าสู่ระบบMentari pagi samar-samar mulai terlihat dibalik gorden tipis putih, embun berjatuhan di permukaan jendela kamar ruang dirawatnya Lilian yang saat ini masih terbaring dengan alat-alat medis yang terpasang pada tubuhnya.Satiap satu jam sekali, dokter datang memeriksa untuk memastikannya tetap stabil tidak menunjukan adanya penurunan akibat kerasnya racun yang sempat menyebar di tubuhnya.Obat-obatan terbaik dan tenaga medis paling kompeten telah dikerahkan untuk menyelamatkannya. Namun, hingga detik ini, Lilian masih belum sadarkan diri. Tubuhnya seolah masih berjuang melawan sisa-sisa racun yang nyaris merenggut nyawanya, membuat kesadarannya tetap berada di luar jangkauan siapa pun.Mante genggam lembut tangannya yang dingin tidak bertenaga, ia usap permukaan kulitnya bekas jarum transfuse darah. Racun dalam tubuh Lilian telah merusak sel darah merah yang menurunkan begitu banyak kadar hemoglobin.Tidak terbayang berapa besar sakit yang harus Lilian tanggung semalam.Dalam penantiann
Dari balik beningnya gelas wine yang tengah Elisio teguk, sekilas pria paruh baya itu pandangi Jach sebagai isyarat, agar putra bungsunya yang menjawab dan memberi alasan.Menyadari perintah yang tak terucap itu, dengan penuh ketenangan Jach angkat bicara menjawab pertanyaan sang bibi. “Saat ini, Mante sedang menyambut tamu yang baru datang, dia memiliki jadwal janji bincang secara pribadi dengan mereka,” ucapnya berdusta.Jach tahu, apa yang sebenarnya kini sedang terjadi diluar sana, dan apa yang kini tengah dialami oleh Mante.Sayang, situasi saat ini sama sekali tidak bisa mendukung Jach untuk datang dan membantu, begitupun dengan Mante yang tidak bisa membalas sekalipun bukti sudah jelas mengarahkan pada satu dalang, Celestine.Saat ini, Lilian boleh saja berstatus sebagai isteri sah-nya Mante, namun kenyataannya.. Lilian tidak lebih dari orang asing di mata anggota keluarga Hemilton yang tidak mengenali, bahkan Elisio pun belum pernah berjumpa empat mata dengan Lilian.Di tenga
Kepulan asap cerutu bergelombang di udara, menghiasi kegelapan malam yang dingin dan mencekam.Suara angin terdengar saat berhembus, menyapu rambut halus Mante yang tidak lagi tertata rapi seperti biasa.Wajah tampannya terlihat begitu tenang dan terkesan dingin, namun kilatan di matanya tidak dapat menyembunyikan kebenaran bahwa kini, Mante Hemilton sedang cemas.Setiap kali Mante tertunduk menatap jarum jam di pergelangan tangan, napasnya sesak dan beban dalam hatinya semakin besar menumpuk berat.Mante bertanya-tanya, harus berapa lama lagi dia habiskan waktu untuk bisa mengetahui keadaan Lilian? Semakin lama Mante menanti, dia merasa mulai kehilangan akal sehatnya.Sepanjang hidupnya, Mante sudah pernah merasakan ditinggal berbagai orang yang pernah dekat dengannya. Dimulai dari teman, kakaknya.. Halu Hemilton, bahkan perempuan yang sehari lagi akan dia nikahi, yaitu Gloria.Namun, Mante tidak pernah merasa terguncang apalagi menangis, dia masih bisa memikirkan dan mengerjakan pe
Air mata semakin deras berjatuhan, membasuh darah segar yang menodai wajah.Bibir Lilian terkatup rapat menelan sakit dan katakutan yang telah menjadi satu. Suara tembakan yang berkali-kali sempat pecah di pendengaran, menyisakan kesunyian dan jejak kengerian yang kini mencekam.Segala hal yang telah Lilian alami, segala hal yang telah Lilian saksikan, telah buatnya merasa seperti kehilangan sisi kemanusiaannya. ‘Mengapa ini terjadi? Mengapa aku harus menyaksikan situasi ini, disaat aku sedang belajar berdamai dan menerima sisi lain Mante?’ batin Lilian bertanya dalam tangisan.Lilian memanggilnya datang hanya ingin dapatkan perlindungannya yang normal dan membalas kejahatan semua orang di jalan yang benar, bukan membalasnya dengan kejahatan yang jauh lebih kejam.Apa yang telah Mante lakukan di depan mata, telah buat Lilian merasa kehilangan sosoknya yang selama ini dia cintai. Sosok laki-laki yang penuh kelembutan, pandai bicara manis dan tampil seperti seorang pahlawan yang menyel
Kerasnya suara jendela yang pecah menghamburkan serpihan kaca, berterbangan dan berserakan di lantai menyakiti pendengaran.Lilian bergerak lemah memeluk diri di lantai sebagai perlindungan terakhir yang bisa dia lakukan, serpihan kaca yang berterbangan itu menggores kaki dan lengannya.Lilian terisak sudah tidak mampu melakukan apapun, sudah tidak dapat berpikir apapun..Lilian berkubang menahan sakit yang begitu menyiksa. Sakitnya yang luar biasa sampai tidak mampu diwakilkan dengan kata-kata.Lilian sudah pasrah, jika memang takdirnya harus tiada dengan cara memilukan seperti ini, Lilian akan menerimnya. Namun, jika ternyata ini semua adalah sebuah ujian hidupnya, Lilian tahu kedepannya apa yang harus dia lakukan.Pergi! Persetan dengan kehidupan rumit seperti ini!Lampu-lampu kendaraan padam di depan café, tampak terlihat siluet pergerakan orang-orang yang datang mendekat.Dua anak buah Shopie saling lirik tanpa suara, secara naluri mereka perlahan mundur seraya mengeluarkan pisau
Shopie menelan salivanya dengan kesulitan, tangannya terkepal kuat menyembunyikan gugup yang sulit dia hindarkan. Pertanyaan Lilian tidak hanya berhasil menghantam ketenangannya, namun kesadaran Lilian yang tahu bahwa Shopie telah membohonginya juga membuat Shopie curiga…Mengapa Lilian tahu tidak ada klinik disekitar sini? Apakah Lilian telah menghubungi seseorang yang saat ini sedang dalam perjalanan menjemputnya?Lilian telah sadar perbuatan Shopie, lantas apa yang kini harus Shopie lakukan? Shopie tidak mungkin membiarkan Lilian pergi begitu saja apalagi membuatnya selamat, jika Lilian selamat maka dia akan melakukan tes lab dan mengusutnya di ranah hukum, menyeret Shopie yang memang telah melakukan tindakan criminal yang mengancam nyawa.Perasaan was-was mulai merayap disetiap denyut jantung Shopie. Wanita itu mendekat selangkah, meneliti wajah pucat pasi Lilian, meneliti bibirnya yang dihiasi darah mengeluarkan suara rintihan kesakitan disetiap tarikan napasnya, kakinya gemetar
Lilian menelan salivanya dengan kesulitan, kulitnya menggigil merasakan intimidasi hebat yang menekan. Ada kilatan liar seperti hewan pemburu dimata pria itu asing itu.. Apa ada yang salah dengan jam tangan yang Lilian bawa hingga pria itu bertanya berkali-kali? Apa jangan-jangan.. justru jam ta
Jarak yang begitu dekat menyisakan sedikit celah, hangat deru napas Lilian menyapu dinginnya kulit Mante.Pria itu menahan diri untuk tidak bergerak, diam-diam menarik napas ingin mengulang kembali sensasi pertama yang menyapa indranya saat sadar dari pingsan, yaitu aroma lembut milik Lilian. Aroma
“Dipertemuan tadi, semua orang membicarakan hal penting yang bahkan tidak aku tahu.” Seorang pria paruh baya melepaskan setelan jassnya, dengan sigap sang isteri menerimanya dan mengikuti langkah suaminya. “Memangnya apa yang sedang dibicarakan mereka?” tanya Katty penasaran. Dengan wajah muram
Lilian mundur seketika, dengan wajah pucat pasinya gadis itu mundar-mandir menggigit ujung jari, tidak dapat mengendalikan kepanikan yang semakin berkeacamuk dalam kepala. Jika pria asing itu tidak ingat apapun, apa itu artinya dia mengalami lupa ingatan akibat benturan? Jika hal itu benar, ini







