Share

4. Hari Pertama Gym

Penulis: Dita SY
last update Tanggal publikasi: 2026-09-04 19:39:22

Setelah mendapat telepon itu, Arum buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Yanti masih duduk di sofa dengan pandangan kosong keluar jendela.

Rasa penasaran itu kian membuncah, membuat Yanti tidak tenang. Apalagi tadi dia mendengar nama Anton disebut. Sudah pasti ada sesuatu.

"Kamu ditelepon siapa tadi? Kamu mau pergi ya?" tanya Yanti menyelidik.

Arum tidak menjawab, karena di dalam kamar mandi memang tidak boleh mengeluarkan suara apapun. Selesai mandi, wanita bertubuh subur itu mendekati baby box anak kembarnya.

"Kamu mau ke mana? Kok pake baju rapih?" Yanti melirik Arum dari ujung kepala sampai kaki. Wanita subur yang biasanya hanya mengenakan daster XXL itu kini memakai stelan formal sambil menenteng tas cukup besar. "Enggar udah tahu kamu mau pergi?"

"Ini aku mau minta antar Mas Enggar. Dia belum berangkat kerja 'kan, Bu?"

Mendengar jawaban itu, Yanti menghela napas lega. Hampir saja ia terkena serangan panik melihat menantunya akan pergi seorang diri menemui Anton.

Selama ini Anton adalah penghalang sekaligus ancaman bagi Enggar untuk menguasai kepemilikan pabrik. Meskipun Anton hanya saudara jauh Arum, tetapi pria itu selalu ikut campur ke dalam urusan menantu dan anaknya.

"Enggar ada di kamar. Mungkin lagi siap-siap mau berangkat kerja, kamu temuin aja dan jangan sekali-sekali pergi tanpa ijin suamimu. Dia harus tahu kamu kemana dan pergi sama siapa," ujar Yanti tegas.

"Iya Bu," balas Arum. "Aku titip si kembar ya. Susunya udah aku siapin di freezer kayak biasa."

"Hmmmm." Yanti mengangguk pelan.

Setelah mendapat ijin dari sang mertua, Arum berjalan cepat keluar dari kamar. Namun, langkahnya terhenti di ruang keluarga saat ia mendengar suara Enggar yang tengah berbicara dengan seseorang.

Dengan perlahan, Arum mendekati dinding pembatas dan mengintip apa yang dilakukan Enggar. 

Pria itu sedang berbicara di telepon. Tidak ada yang aneh, hanya saja wajah Enggar terlihat sangat bahagia. Mirip seperti remaja yang kasmaran. 

Arum berusaha mendekat karena dari jarak yang cukup jauh di ruangan luas itu, ia tidak bisa mendengar apapun. Hanya melihat ekspresi Enggar dan tawa pria itu. 

Duk! 

Aaargghhh!

Sialnya kaki Arum malah terbentur meja hingga apa yang dilakukan diketahui oleh Enggar yang langsung menutup telepon. 

"Kamu ngapain?" tanya Enggar ketus. Buru-buru ia memasukan ponsel ke dalam saku kemejanya. "Nguping?"

Arum yang tengah meringis kesakitan sambil memegang lutut, langsung menganga, kaget mendengar tuduhan itu. "Kenapa kalau aku nguping? Kamu takut ketahuan kalau kamu lagi melakukan sesuatu di belakang aku?" 

"Melakukan apa?" Enggar melotot. Nada bicaranya naik satu oktav. "Aku cuma ngobrol sama teman lama, emang kamu pikir aku ngapain?"

"Teman lama?" Arum tersenyum kecut. Melangkah mendekati Enggar sambil berkacak pinggang. "Ngobrol sama temen lama emang harus senyum-senyum begitu? Perasaan kamu nggak pernah ngomong halus sama Istri kamu sendiri!"

"Mulai lagi!" bentak Enggar emosi. "Aku nggak ada waktu buat berdebat sama kamu. Terserah kamu mau mikir apa!"

Bukannya menjelaskan siapa yang dihubungi, Enggar justru melangkah pergi meninggalkan Arum.

"Mas! Mas Enggar! Tunggu!" panggil Arum berteriak kencang. Namun, suaminya tetap melangkah cepat tanpa memedulikan wanita itu.

"Mas tunggu!" Arum berlari mengejar Enggar sambil memegang perutnya yang menggelambir dan terguncang-guncang mirip seperti balon diisi air. "Mas Enggar! Tunggu!" Ia menghentikan langkahnya di halaman rumah dengan napas terengah-engah.

Sekencang apapun Arum berteriak, Enggar tetap tidak memedulikan, malah masuk ke dalam mobil lalu membanting pintu.

"Mas, antar aku ke tempat gym. Tolong Mas!" teriak Arum. Namun diabaikan oleh Enggar yang melajukan mobil dengan cepat setelah pintu pagar dibuka oleh satpam pribadi di rumah itu. 

Arum menghela sesak. Mengatur napas yang nyaris habis setelah berlari mengejar Enggar tadi.

Belum apa-apa dia sudah mengeluarkan banyak keringat dan merasa lelah setengah mati membawa bobot tubuhnya yang berlemak.

"Ya Allah Mas Enggar, jahat banget sih kamu," ucap Arum lirih.

Dari sudut pagar, satpam pribadi yang bernama Budi menghampiri. "Mau ke mana, Bu Arum?"

"Saya mau ke tempat gym, Pak. Nggak jauh sih, pas banget di depan komplek sebelah," jawab Arum. 

"Oh, mau saya pesenin taksi?" 

"Boleh, Pak."

"Tunggu ya Bu. Duduk aja dulu," ucap satpam, mengambil kursi plastik dan memberikan pada Arum.

Bruk! 

Baru saja menjatuhkan tubuh suburnya, salah satu kaki kursi plastik itu patah. Beruntung Arum memiliki reflek cepat dan tidak terjatuh.

"Astaghfirullah!" kaget satpam langsung berlari menghampiri Arum. "Hati-hati Bu Arum."

"I-iya Pak, saya nggak apa-apa, makasih." Wajah Arum memerah, menahan malu. "Mungkin kursinya udah lapuk."

"I-iya Bu .... " Pak Budi garuk-garuk kepala. Takut salah bicara.

Tak menunggu lama, taksi yang dipesan Pak Budi datang. Arum, dengan sisa tenaga yang tinggal satu persen melangkah lemah mendekati mobil dan masuk.

Di dalam taksi, ia merogoh tasnya mengambil ponsel lalu melihat jam ... sudah hampir jam sepuluh dan dia belum makan apapun. Hanya segelas susu dan sepotong roti yang masuk ke lambung raksasanya tadi pagi.

Glek!

Arum menelan ludah saat melihat postingan terbaru Loren_sahabatnya yang biasa menjual makanan via online.

Postingan kali ini Loren menjual nasi kuning dengan aneka lauk-pauk yang menggugah selera. Arum sudah tahu bagaimana rasa masakan sahabatnya itu, tidak pernah gagal, selalu enak dan membuat ketagihan. 

Tanpa sadar jari-jari bengkak Arum mulai bergerak sendiri, menekan huruf demi huruf, memesan makanan itu. Namun saat tersadar, ia langsung menghapus pesannya sebelum dikirim. 

"Tidak! Jangan sampai usahaku gagal cuma karena nasi kuning buatan Loreng. Aku harus bisa nahan diri!" ucap Arum dengan penekanan.

Malas melihat postingan itu, buru-buru Arum mematikan ponsel dan menyimpannya lagi.

Dalam diam, Arum membayangkan bodinya dulu saat belum memiliki anak. Entah apa yang terjadi, saat hamil sampai melahirkan bobot tubuhnya semakin hari semakin besar. Belum lagi wajahnya juga terlihat kusam dan kulitnya jadi kasar, mirip seperti jalanan aspal yang dananya dikorupsi.

"Huhhh!" Arum menghela napas panjang, mengusap perut yang berlemak. 'Lapar!' Ia menelan ludah untuk membasahi tenggorokan yang kering.

"Emang kalau nge-gym harus puasa dulu ya?" gumam Arum.

Penasaran dengan aturan nge-gym orang-orang, ia mengaktifkan ponsel kembali dan bertanya pada aplikasi Mbah Serba Tahu.

Namun, belum sempat mengetik pertanyaan itu, satu chat masuk dari Loren. 

Loren [Ada nasi kuning lauk ayam sambel kemangi, ikan goreng sambel petai, kentang ati balado, telor balado, dendeng sapi, rendang, cumi goreng tepung, ikan teri kacang dan minumannya kayak biasa, es semangka susu]

"Loreng sialan!" geram Arum. 

Kesal dengan temannya itu, Arum mengetik balasan sambil mendengus kesal. 

Arum [Nasi kuning empat bungkus pake lauk lengkap. Es susu semangka dua. Antar ke gym yang baru buka dekat komplek Mutiara. Jangan pake lama]

Loren [Oke. Makasih pelanggan setia akohh. Wkwkwkwk]

Setelah pesan terkirim, Arum mengusap dada menyesal. "Ya Allah, semoga makanan kali ini lemaknya pindah ke Loreng aja. Dia yang menggoda aku terus ya Allah. Aku nggak mungkin khilaf kalau nggak digoda. Dia temen yang nggak ada akhlak ya Allah."

*

10:30 seharusnya menjadi pertemuan pertama instruktur gym bernama Lee dengan Arum yang sudah didaftarkan khusus oleh Anton.

Namun, hingga jam sebelas siang Arum belum juga menunjukkan batang hidungnya di tempat gym itu.

"Sepupu kamu belum datang. Apa dia tidak jadi ke sini?" tanya Lee pada Anton di dalam telepon. 

"Lho, dia janji kok mau datang. Mungkin lagi di jalan. Aku coba hubungi dia dulu."

"Ya, hubungi saja dulu. Saya sudah meluangkan waktu dan membatalkan janji dengan seseorang, jangan sampai dia tidak datang hari ini."

"Oke, oke. Sorry ya Ko Lee. Nanti aku tegur dia."

Lee mengakhiri telepon dan kembali menatap taman di depan tempat gym-nya, mengamati setiap orang yang berlalu lalang. Namun, tidak ada tanda-tanda kedatangan Arum.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   6. Skakmat

    "Gimana Enggar?"Enggar masih diam membeku, sementara ibunya terus menjejalinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat otaknya penuh."Pokoknya kamu harus bisa mencari cara agar Arum nggak berbuat nekat. Kalau sampai kamu .... ""Bu!"Yanti terdiam dengan mata membulat sempurna saat mendengar bentakan Enggar. Nyali wanita paruh baya itu ciut seketika."Tolong diam dulu! Aku lagi nyari solusi. Aku mau coba hubungi Anton, dan nanya sama dia. Siapa tahu Arum nggak jadi ke sana," lanjut Enggar penuh penekanan.Yanti mengangguk berkali-kali. "Ya udah, kamu hubungi Anton cepet," titahnya menggebu-gebu sambil terus menatap Enggar.Lama-lama sifat dan karakter Enggar sama persis dengan almarhum suaminya. Dingin, kasar dan cuek. 'Semoga saja Enggar tidak gila wanita seperti Mas Jonas,' pikir Yanti.Enggar mengambil po

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   5. 4 Bungkus Nasi Kuning

    "Pesanan nasi kuning empat bungkus dan es semangka susu atas nama Bu Arum." Seorang pria berjaket hijau dan helm bertuliskan logo perusahaan antar jemput barang online berdiri di depan pintu kaca gym milik Lee.Pria berkumis tebal itu celingak-celinguk, memperhatikan bagian dalam gym lewat pintu kaca. Namun, ia tidak melihat penampakan wanita yang dia kenal sebagai sahabat istrinya."Permisi! Spada! Bu Arum, ini kiriman makanan udah sampai." Takut kena marah istri di rumah karena pergi terlalu lama, pria itu nekat membuka pintu kaca tersebut dan melangkah masuk. Melihat seorang pria berwajah oriental yang sangat tampan, mirip seperti artis di drama China menghampiri, pria itu langsung menghentikan langkah kakinya. "Permisi Ko, maaf saya mengantar makanan atas nama Bu Arum. Katanya suruh antar ke sini," ucap pria bernama Toto itu sambil menunjukkan paperbag besar di tangannya. Lee menatap paperbag itu, lalu mengalihkan pandangan ke luar pintu. "Arum?" Ia tahu nama itu, tetapi apa be

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   4. Hari Pertama Gym

    Setelah mendapat telepon itu, Arum buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Yanti masih duduk di sofa dengan pandangan kosong keluar jendela.Rasa penasaran itu kian membuncah, membuat Yanti tidak tenang. Apalagi tadi dia mendengar nama Anton disebut. Sudah pasti ada sesuatu."Kamu ditelepon siapa tadi? Kamu mau pergi ya?" tanya Yanti menyelidik.Arum tidak menjawab, karena di dalam kamar mandi memang tidak boleh mengeluarkan suara apapun. Selesai mandi, wanita bertubuh subur itu mendekati baby box anak kembarnya."Kamu mau ke mana? Kok pake baju rapih?" Yanti melirik Arum dari ujung kepala sampai kaki. Wanita subur yang biasanya hanya mengenakan daster XXL itu kini memakai stelan formal sambil menenteng tas cukup besar. "Enggar udah tahu kamu mau pergi?""Ini aku mau minta antar Mas Enggar. Dia belum berangkat kerja 'kan, Bu?"Mendengar jawaban itu, Yanti menghela napas lega. Hampir saja ia terkena serangan panik melihat menantunya akan pergi seorang diri menemui Anton.Selama

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   3. Solusi

    Tepat jam sembilan malam, baru saja ingin menutup mata, tiba tiba cahaya lampu dari luar masuk ke dalam kamar yang bercahaya temaram.Pintu kamar terbuka lebar, disusul suara langkah kaki mendekati baby box di samping sofa panjang tempat Arum berbaring.Arum membuka mata sedikit, melihat siapa yang masuk ke kamar anak kembarnya. Ternyata itu Enggar, ia pun langsung memejamkan mata rapat. Berpura-pura tidur."Bawa anak-anak ke kamar," kata Enggar melirik ke arah sofa, melihat Arum meringkuk dan menutupi seluruh tubuh gemuknya menggunakan selimut tipis. "Ngapain kamu ikut tidur di sini? Pindah ke kamar! Kamu belum tidur 'kan?"Arum hanya diam, pura-pura tidak mendengar. Biar saja Enggar menganggapnya tuli, yang jelas ia masih kesal dan tidak akan mau tidur di kamar utama."Oh, jadi sekarang kamu mau kita pisah ranjang?" tanya Enggar sinis.Arum tetap diam. Malas meladeni sikap dingin suaminya. Toh selama beberapa bulan sejak anak mereka lahir ia juga tidak pernah disentuh. Apa bedanya d

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   2. 10 Porsi Dimsum

    Paket!Arum yang sejak satu jam lalu menunggu di teras rumah langsung menerima kiriman makanan dari temannya itu. "Udah ditransfer ya, Bang," kata Arum pada suami dari sahabatnya."Iya, makasih ya. Semoga jadi langganan terus."Arum hanya tersenyum. Setelah pria berkumis tebal itu pergi, ia buru-buru masuk ke dalam rumah sambil membawa bungkus makanan. Matanya mengedar, memastikan tidak ada yang melihat. Seingatnya Enggar ada di dalam kamar dan belum keluar sejak pulang kerja tadi.Aman!Arum berlari kecil dan masuk ke dalam kamar si kembar lalu menutup pintu rapat.Senyum di bibirnya merekah saat melihat makanan kesukaannya ada di depan mata. Ia membuka satu per satu box berisi dimsum dengan saus mentai itu.Satu box berisi lima dimsum berukuran besar. Bagi perut manusia normal satu atau dua porsi saja cukup, tapi bagi Arum ... ia sanggup menghabiskan sepuluh porsi seorang diri."Besok aku diet dan olahraga," ucap Arum menyemangati diri sendiri lalu melahap dimsum satu per satu. Ti

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   1. Sindiran dari Suami

    [120]Arum menelan ludah dengan bersusah payah saat melihat angka yang tertera pada timbangan digital di bawah kakinya."Halah, paling timbangan kamu naik lagi. Nggak perlu ditimbang juga udah keliatan dari bentuk perut kamu."Suara seseorang dari belakang terdengar seperti ejekan, membuat Arum semakin tertekan dan sesak.Itu suara Enggar_suami Arum. Entah darimana datangnya pria itu, tiba-tiba saja dia sudah ada di dalam kamar, padahal Arum sudah mewanti-wanti agar suaminya tidak melihat ia menimbang badan."Aku 'kan udah bilang jangan sering makan malam, naik lagi 'kan berat badan kamu. Nggak usah ditimbang juga udah keliatan dari lemak di perut kamu yang menggelambir itu," sindir Enggar melirik sinis.Arum menghela napas panjang. Sudah sering ia mendengar penghinaan itu dari mulut suaminya sendiri, tepatnya setelah ia melahirkan anak kembar mereka tiga bulan yang lalu.Sebagai seorang suami, Enggar tidak pernah mendukung Arum memberi ASI Ekslusif pada anak kembar mereka, pria itu j

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status