Share

3. Solusi

Author: Dita SY
last update publish date: 2026-09-04 19:38:34

Tepat jam sembilan malam, baru saja ingin menutup mata, tiba tiba cahaya lampu dari luar masuk ke dalam kamar yang bercahaya temaram.

Pintu kamar terbuka lebar, disusul suara langkah kaki mendekati baby box di samping sofa panjang tempat Arum berbaring.

Arum membuka mata sedikit, melihat siapa yang masuk ke kamar anak kembarnya. Ternyata itu Enggar, ia pun langsung memejamkan mata rapat. Berpura-pura tidur.

"Bawa anak-anak ke kamar," kata Enggar melirik ke arah sofa, melihat Arum meringkuk dan menutupi seluruh tubuh gemuknya menggunakan selimut tipis. "Ngapain kamu ikut tidur di sini? Pindah ke kamar! Kamu belum tidur 'kan?"

Arum hanya diam, pura-pura tidak mendengar. Biar saja Enggar menganggapnya tuli, yang jelas ia masih kesal dan tidak akan mau tidur di kamar utama.

"Oh, jadi sekarang kamu mau kita pisah ranjang?" tanya Enggar sinis.

Arum tetap diam. Malas meladeni sikap dingin suaminya. Toh selama beberapa bulan sejak anak mereka lahir ia juga tidak pernah disentuh. Apa bedanya dengan pisah ranjang?

"Rum!"

Suara Enggar naik satu oktav dan sukses membuat kedua bayi mereka terbangun. Salah satu dari bayi kembar itu menangis, membuat Arum bergerak cepat mengubah posisinya menjadi berdiri untuk menenangkan.

"Kalau ngomong pelan-pelan dong, Mas. Kasihan Arsy baru aja tidur," keluh Arum melirik suaminya kesal.

Tak ada raut bersalah sedikit pun di wajah Enggar, ia malah mengatakan, "Mangkanya kamu jangan pura-pura tuli. Aku tahu kamu belum tidur. Ngapain kamu tidur di sini? Mau kita pisah ranjang?"

"Nggak pisah ranjang juga kamu nggak pernah mau nyentuh aku 'kan? Sejak melahirkan si kembar, mana pernah kamu kasih aku nafkah batin? Bahkan terakhir kali kita berhubungan kamu malah nyebut nama Julia. Istri mana yang nggak sakit hati Mas?" Suara Arum terdengar serak, menahan tangis. Kedua manik matanya mulai berembun.

Enggar tersenyum sinis. " Harusnya kamu sadar diri Rum, suami mana yang mau melakukan hubungan intim sama istri yang badannya aja udah kayak sapi perah begini? Ngeliat aja udah nggak nafsu!"

Mendengar itu, emosi Arum naik. Air mata yang ditahannya luruh seketika. "Terus kamu maunya apa? Cerai? Ya udah kita cerai aja, biar kamu bisa cari istri yang lebih cantik, langsing dan bisa bikin kamu nafsu lagi!"

"Kamu nantangin aku? Kamu pikir aku takut cerai sama kamu?" Mata Enggar melotot, membuat Arum takut dan langsung menundukkan kepala. "Jangan mentang-mentang kamu pemilik rumah ini, kamu jadi seenaknya sama suami. Kalau bukan karena aku yang mengelola pabrik, kamu nggak akan bisa makan, nggak bisa beli baju dan belanja! Kamu pikir kamu bisa mengelola pabrik setelah bercerai dari aku?" 

Arum menelan ludah dengan bersusah payah. Yang dikatakan Enggar ada benarnya. Selama ini ia mana tahu urusan apapun soal pabrik. Semua dihandle oleh suaminya, meski kepemilikan masih atas namanya. 

"Kalau kita cerai, aku akan lepas tangan soal pabrik. Aku hanya minta beberapa aset yang aku beli pakai uang hasil kerja keras aku, dan kamu mendapatkan semuanya lagi. Itu mau kamu?" tantang Enggar. Dadanya turun naik menahan emosi. Bahkan nada bicaranya terdengar lebih dingin dan pedas, berbeda jauh dari Enggar yang dikenal Arum. Pria itu seperti orang kesurupan.

Arum hanya diam sambil menenangkan bayinya yang kembali tertidur dan meletakkan kembali ke dalam baby box perlahan.

Ancaman Enggar sukses membuat nyali Arum ciut. Mengurus pabrik tanpa skill? Apa mungkin bisa? Apalagi dia harus mengurus dua anak kembarnya juga. Yang ada semuanya akan terbengkalai dan warisan kakeknya habis untuk biaya hidup. 

"Ingat itu! Kamu nggak akan bisa melakukan apapun tanpa aku!" Enggar memutar tubuh dengan kasar dan berjalan keluar dari kamar. 

Setelah suaminya hilang dari pandangan, Arum terduduk di atas sofa. Seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga, seolah seluruh tulangnya melunak.

"Ya Allah .... " Arum menangis sambil memegang dada yang terasa sangat sesak sambil terus menatap pintu kamar yang dibiarkan terbuka oleh Enggar.

Lalu, tatapan itu beralih pada ponsel. Ia meraih benda pipih itu dan membukanya, melihat lagi brosur yang dikirim Anton tadi. 

Jika dia tidak bisa berpisah dari Enggar. Dia akan merebut hati suaminya dan membuat pria itu kembali mencintainya. Ya, Arum membulatkan tekad untuk kurus dan cantik seperti dulu.

*

Sinar matahari pagi menyorot wajah Arum yang masih tidur pulas di atas sofa. Ia membuka mata sedikit, melihat tirai jendela kamar yang dibuka oleh Ibu mertuanya.

"Udah siang, Rum," kata Yanti sengaja membuka jendela lebih lebar agar Arum kesilauan. "Kenapa kamu tidur di sini? Semalam kamu dan Enggar berantem lagi ya?"

"Nggak Bu," dusta Arum malas membahas masalah semalam. Ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya kemudian duduk. 

Arum melirik meja di sebelah sofa, melihat satu cangkir susu dan roti kesukaannya sudah terhidang.

'Tumben,' batin Arum. Biasanya sang mertua hanya memikirkan perut anaknya sendiri.

"Enggar udah cerita kok sama Ibu. Kamu nggak usah nutupin," ujar Yanti kemudian duduk di sofa sebelah Arum. "Kamu itu harus bisa ngambil hati Enggar. Kalau sikap dia udah berubah dan dingin, kamu harus bersikap baik. Turutin apa mau dia, jangan dilawan."

Arum mendengus, matanya mendelik jengkel mendengar nasihat sang mertua. Merasa percuma ia meminta pembelaan, toh wanita paruh baya itu hanya akan membela anak kandungnya habis-habisan.

"Sebenarnya masalahnya ada di kamu," lanjut Yanti.

"Ada di aku? Karena bentuk badan aku yang gemuk ini? Karena muka aku kusam? Karena aku udah nggak cantik kayak dulu? Aku begini karena melahirkan anak dia. Cucu Ibu. Harusnya kalian mendukung aku selama aku menyusui anak aku, bukan malah menyudutkan!" Emosi Arum pecah, dengan mata melotot ia membeberkan semua unek-uneknya.

Yanti membuang napas panjang. "Enggar udah ngomong sama Ibu kalau kamu mau bercerai. Lalu setelah kalian bercerai, apa yang kamu bisa kamu lakukan untuk anak kamu tanpa bantuan Enggar? Jangan bertindak bodoh Rum. Kalau nggak ada Enggar, kamu nggak mungkin masih tinggal di rumah mewah ini. Kakek kamu memang kaya, tapi sekaya apapun, sebanyak apapun hartanya, akan tetap habis kalau nggak dikelola dengan baik. Selama bertahun-tahun ini siapa yang mengelola keuangan dan pabrik? Enggar!"

Arum tertawa sinis. Memalingkan wajah ke arah lain, menatap lantai jauh lebih menenangkan baginya.

"Pikirkan lagi. Yang dirugikan dari perceraian itu kamu. Kalau Enggar, dia laki-laki, dia tampan, pekerja keras, dia bisa mendapatkan apa yang dia mau dengan mudah. Sementara kamu .... " Yanti menatap Arum, meremehkan.

Arum hanya diam. Menyadari posisinya yang terpojok dan kedua orang itu sengaja menggunakan kelemahannya sebagai senjata.

"Ingat itu, Rum .... " Yanti menghentikan ucapan saat mendengar suara telepon. Ia melirik Arum yang buru-buru mengambil ponsel di atas meja dan berbicara.

"Halo," sapa Arum sedikit berbisik.

"Halo, Rum, aku udah daftarin kamu ke gym itu. Hari ini jam sepuluh kamu temui aja Koko Lee. Aku udah cerita semuanya sama dia dan dia bersedia jadi instruktur gym khusus untuk kamu sampai kamu mendapatkan berat badan ideal."

Mendengar itu, senyum di bibir Arum merekah. Akhirnya ia mendapat kabar baik yang membuat hatinya tenang. Setelah lama tersiksa mendengar hinaan suami dan mertuanya. 

"Oke, aku siap-siap ke sana sekarang. Makasih ya, Anton."

Deg!

Mendengar nama Anton disebut, mata Yanti membulat. Tiba-tiba saja perasaannya tidak enak.

Apa mungkin Arum sedang merencanakan sesuatu dengan sepupunya itu? Bagaimana kalau Arum membahas soal pabrik? Ah! Tidak mungkin Anton tahu cara mengelola pabrik, pria itu 'kan seorang Dokter yang sibuk, pikir Yanti. 

Meski begitu, hatinya tetap tidak tenang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   6. Skakmat

    "Gimana Enggar?"Enggar masih diam membeku, sementara ibunya terus menjejalinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat otaknya penuh."Pokoknya kamu harus bisa mencari cara agar Arum nggak berbuat nekat. Kalau sampai kamu .... ""Bu!"Yanti terdiam dengan mata membulat sempurna saat mendengar bentakan Enggar. Nyali wanita paruh baya itu ciut seketika."Tolong diam dulu! Aku lagi nyari solusi. Aku mau coba hubungi Anton, dan nanya sama dia. Siapa tahu Arum nggak jadi ke sana," lanjut Enggar penuh penekanan.Yanti mengangguk berkali-kali. "Ya udah, kamu hubungi Anton cepet," titahnya menggebu-gebu sambil terus menatap Enggar.Lama-lama sifat dan karakter Enggar sama persis dengan almarhum suaminya. Dingin, kasar dan cuek. 'Semoga saja Enggar tidak gila wanita seperti Mas Jonas,' pikir Yanti.Enggar mengambil po

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   5. 4 Bungkus Nasi Kuning

    "Pesanan nasi kuning empat bungkus dan es semangka susu atas nama Bu Arum." Seorang pria berjaket hijau dan helm bertuliskan logo perusahaan antar jemput barang online berdiri di depan pintu kaca gym milik Lee.Pria berkumis tebal itu celingak-celinguk, memperhatikan bagian dalam gym lewat pintu kaca. Namun, ia tidak melihat penampakan wanita yang dia kenal sebagai sahabat istrinya."Permisi! Spada! Bu Arum, ini kiriman makanan udah sampai." Takut kena marah istri di rumah karena pergi terlalu lama, pria itu nekat membuka pintu kaca tersebut dan melangkah masuk. Melihat seorang pria berwajah oriental yang sangat tampan, mirip seperti artis di drama China menghampiri, pria itu langsung menghentikan langkah kakinya. "Permisi Ko, maaf saya mengantar makanan atas nama Bu Arum. Katanya suruh antar ke sini," ucap pria bernama Toto itu sambil menunjukkan paperbag besar di tangannya. Lee menatap paperbag itu, lalu mengalihkan pandangan ke luar pintu. "Arum?" Ia tahu nama itu, tetapi apa be

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   4. Hari Pertama Gym

    Setelah mendapat telepon itu, Arum buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Yanti masih duduk di sofa dengan pandangan kosong keluar jendela.Rasa penasaran itu kian membuncah, membuat Yanti tidak tenang. Apalagi tadi dia mendengar nama Anton disebut. Sudah pasti ada sesuatu."Kamu ditelepon siapa tadi? Kamu mau pergi ya?" tanya Yanti menyelidik.Arum tidak menjawab, karena di dalam kamar mandi memang tidak boleh mengeluarkan suara apapun. Selesai mandi, wanita bertubuh subur itu mendekati baby box anak kembarnya."Kamu mau ke mana? Kok pake baju rapih?" Yanti melirik Arum dari ujung kepala sampai kaki. Wanita subur yang biasanya hanya mengenakan daster XXL itu kini memakai stelan formal sambil menenteng tas cukup besar. "Enggar udah tahu kamu mau pergi?""Ini aku mau minta antar Mas Enggar. Dia belum berangkat kerja 'kan, Bu?"Mendengar jawaban itu, Yanti menghela napas lega. Hampir saja ia terkena serangan panik melihat menantunya akan pergi seorang diri menemui Anton.Selama

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   3. Solusi

    Tepat jam sembilan malam, baru saja ingin menutup mata, tiba tiba cahaya lampu dari luar masuk ke dalam kamar yang bercahaya temaram.Pintu kamar terbuka lebar, disusul suara langkah kaki mendekati baby box di samping sofa panjang tempat Arum berbaring.Arum membuka mata sedikit, melihat siapa yang masuk ke kamar anak kembarnya. Ternyata itu Enggar, ia pun langsung memejamkan mata rapat. Berpura-pura tidur."Bawa anak-anak ke kamar," kata Enggar melirik ke arah sofa, melihat Arum meringkuk dan menutupi seluruh tubuh gemuknya menggunakan selimut tipis. "Ngapain kamu ikut tidur di sini? Pindah ke kamar! Kamu belum tidur 'kan?"Arum hanya diam, pura-pura tidak mendengar. Biar saja Enggar menganggapnya tuli, yang jelas ia masih kesal dan tidak akan mau tidur di kamar utama."Oh, jadi sekarang kamu mau kita pisah ranjang?" tanya Enggar sinis.Arum tetap diam. Malas meladeni sikap dingin suaminya. Toh selama beberapa bulan sejak anak mereka lahir ia juga tidak pernah disentuh. Apa bedanya d

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   2. 10 Porsi Dimsum

    Paket!Arum yang sejak satu jam lalu menunggu di teras rumah langsung menerima kiriman makanan dari temannya itu. "Udah ditransfer ya, Bang," kata Arum pada suami dari sahabatnya."Iya, makasih ya. Semoga jadi langganan terus."Arum hanya tersenyum. Setelah pria berkumis tebal itu pergi, ia buru-buru masuk ke dalam rumah sambil membawa bungkus makanan. Matanya mengedar, memastikan tidak ada yang melihat. Seingatnya Enggar ada di dalam kamar dan belum keluar sejak pulang kerja tadi.Aman!Arum berlari kecil dan masuk ke dalam kamar si kembar lalu menutup pintu rapat.Senyum di bibirnya merekah saat melihat makanan kesukaannya ada di depan mata. Ia membuka satu per satu box berisi dimsum dengan saus mentai itu.Satu box berisi lima dimsum berukuran besar. Bagi perut manusia normal satu atau dua porsi saja cukup, tapi bagi Arum ... ia sanggup menghabiskan sepuluh porsi seorang diri."Besok aku diet dan olahraga," ucap Arum menyemangati diri sendiri lalu melahap dimsum satu per satu. Ti

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   1. Sindiran dari Suami

    [120]Arum menelan ludah dengan bersusah payah saat melihat angka yang tertera pada timbangan digital di bawah kakinya."Halah, paling timbangan kamu naik lagi. Nggak perlu ditimbang juga udah keliatan dari bentuk perut kamu."Suara seseorang dari belakang terdengar seperti ejekan, membuat Arum semakin tertekan dan sesak.Itu suara Enggar_suami Arum. Entah darimana datangnya pria itu, tiba-tiba saja dia sudah ada di dalam kamar, padahal Arum sudah mewanti-wanti agar suaminya tidak melihat ia menimbang badan."Aku 'kan udah bilang jangan sering makan malam, naik lagi 'kan berat badan kamu. Nggak usah ditimbang juga udah keliatan dari lemak di perut kamu yang menggelambir itu," sindir Enggar melirik sinis.Arum menghela napas panjang. Sudah sering ia mendengar penghinaan itu dari mulut suaminya sendiri, tepatnya setelah ia melahirkan anak kembar mereka tiga bulan yang lalu.Sebagai seorang suami, Enggar tidak pernah mendukung Arum memberi ASI Ekslusif pada anak kembar mereka, pria itu j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status