MasukTepat jam sembilan malam, baru saja ingin menutup mata, tiba tiba cahaya lampu dari luar masuk ke dalam kamar yang bercahaya temaram.
Pintu kamar terbuka lebar, disusul suara langkah kaki mendekati baby box di samping sofa panjang tempat Arum berbaring.
Arum membuka mata sedikit, melihat siapa yang masuk ke kamar anak kembarnya. Ternyata itu Enggar, ia pun langsung memejamkan mata rapat. Berpura-pura tidur.
"Bawa anak-anak ke kamar," kata Enggar melirik ke arah sofa, melihat Arum meringkuk dan menutupi seluruh tubuh gemuknya menggunakan selimut tipis. "Ngapain kamu ikut tidur di sini? Pindah ke kamar! Kamu belum tidur 'kan?"
Arum hanya diam, pura-pura tidak mendengar. Biar saja Enggar menganggapnya tuli, yang jelas ia masih kesal dan tidak akan mau tidur di kamar utama.
"Oh, jadi sekarang kamu mau kita pisah ranjang?" tanya Enggar sinis.
Arum tetap diam. Malas meladeni sikap dingin suaminya. Toh selama beberapa bulan sejak anak mereka lahir ia juga tidak pernah disentuh. Apa bedanya dengan pisah ranjang?
"Rum!"
Suara Enggar naik satu oktav dan sukses membuat kedua bayi mereka terbangun. Salah satu dari bayi kembar itu menangis, membuat Arum bergerak cepat mengubah posisinya menjadi berdiri untuk menenangkan.
"Kalau ngomong pelan-pelan dong, Mas. Kasihan Arsy baru aja tidur," keluh Arum melirik suaminya kesal.
Tak ada raut bersalah sedikit pun di wajah Enggar, ia malah mengatakan, "Mangkanya kamu jangan pura-pura tuli. Aku tahu kamu belum tidur. Ngapain kamu tidur di sini? Mau kita pisah ranjang?"
"Nggak pisah ranjang juga kamu nggak pernah mau nyentuh aku 'kan? Sejak melahirkan si kembar, mana pernah kamu kasih aku nafkah batin? Bahkan terakhir kali kita berhubungan kamu malah nyebut nama Julia. Istri mana yang nggak sakit hati Mas?" Suara Arum terdengar serak, menahan tangis. Kedua manik matanya mulai berembun.
Enggar tersenyum sinis. " Harusnya kamu sadar diri Rum, suami mana yang mau melakukan hubungan intim sama istri yang badannya aja udah kayak sapi perah begini? Ngeliat aja udah nggak nafsu!"
Mendengar itu, emosi Arum naik. Air mata yang ditahannya luruh seketika. "Terus kamu maunya apa? Cerai? Ya udah kita cerai aja, biar kamu bisa cari istri yang lebih cantik, langsing dan bisa bikin kamu nafsu lagi!"
"Kamu nantangin aku? Kamu pikir aku takut cerai sama kamu?" Mata Enggar melotot, membuat Arum takut dan langsung menundukkan kepala. "Jangan mentang-mentang kamu pemilik rumah ini, kamu jadi seenaknya sama suami. Kalau bukan karena aku yang mengelola pabrik, kamu nggak akan bisa makan, nggak bisa beli baju dan belanja! Kamu pikir kamu bisa mengelola pabrik setelah bercerai dari aku?"
Arum menelan ludah dengan bersusah payah. Yang dikatakan Enggar ada benarnya. Selama ini ia mana tahu urusan apapun soal pabrik. Semua dihandle oleh suaminya, meski kepemilikan masih atas namanya.
"Kalau kita cerai, aku akan lepas tangan soal pabrik. Aku hanya minta beberapa aset yang aku beli pakai uang hasil kerja keras aku, dan kamu mendapatkan semuanya lagi. Itu mau kamu?" tantang Enggar. Dadanya turun naik menahan emosi. Bahkan nada bicaranya terdengar lebih dingin dan pedas, berbeda jauh dari Enggar yang dikenal Arum. Pria itu seperti orang kesurupan.
Arum hanya diam sambil menenangkan bayinya yang kembali tertidur dan meletakkan kembali ke dalam baby box perlahan.
Ancaman Enggar sukses membuat nyali Arum ciut. Mengurus pabrik tanpa skill? Apa mungkin bisa? Apalagi dia harus mengurus dua anak kembarnya juga. Yang ada semuanya akan terbengkalai dan warisan kakeknya habis untuk biaya hidup.
"Ingat itu! Kamu nggak akan bisa melakukan apapun tanpa aku!" Enggar memutar tubuh dengan kasar dan berjalan keluar dari kamar.
Setelah suaminya hilang dari pandangan, Arum terduduk di atas sofa. Seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga, seolah seluruh tulangnya melunak.
"Ya Allah .... " Arum menangis sambil memegang dada yang terasa sangat sesak sambil terus menatap pintu kamar yang dibiarkan terbuka oleh Enggar.
Lalu, tatapan itu beralih pada ponsel. Ia meraih benda pipih itu dan membukanya, melihat lagi brosur yang dikirim Anton tadi.
Jika dia tidak bisa berpisah dari Enggar. Dia akan merebut hati suaminya dan membuat pria itu kembali mencintainya. Ya, Arum membulatkan tekad untuk kurus dan cantik seperti dulu.
*
Sinar matahari pagi menyorot wajah Arum yang masih tidur pulas di atas sofa. Ia membuka mata sedikit, melihat tirai jendela kamar yang dibuka oleh Ibu mertuanya.
"Udah siang, Rum," kata Yanti sengaja membuka jendela lebih lebar agar Arum kesilauan. "Kenapa kamu tidur di sini? Semalam kamu dan Enggar berantem lagi ya?"
"Nggak Bu," dusta Arum malas membahas masalah semalam. Ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya kemudian duduk.
Arum melirik meja di sebelah sofa, melihat satu cangkir susu dan roti kesukaannya sudah terhidang.
'Tumben,' batin Arum. Biasanya sang mertua hanya memikirkan perut anaknya sendiri.
"Enggar udah cerita kok sama Ibu. Kamu nggak usah nutupin," ujar Yanti kemudian duduk di sofa sebelah Arum. "Kamu itu harus bisa ngambil hati Enggar. Kalau sikap dia udah berubah dan dingin, kamu harus bersikap baik. Turutin apa mau dia, jangan dilawan."
Arum mendengus, matanya mendelik jengkel mendengar nasihat sang mertua. Merasa percuma ia meminta pembelaan, toh wanita paruh baya itu hanya akan membela anak kandungnya habis-habisan.
"Sebenarnya masalahnya ada di kamu," lanjut Yanti.
"Ada di aku? Karena bentuk badan aku yang gemuk ini? Karena muka aku kusam? Karena aku udah nggak cantik kayak dulu? Aku begini karena melahirkan anak dia. Cucu Ibu. Harusnya kalian mendukung aku selama aku menyusui anak aku, bukan malah menyudutkan!" Emosi Arum pecah, dengan mata melotot ia membeberkan semua unek-uneknya.
Yanti membuang napas panjang. "Enggar udah ngomong sama Ibu kalau kamu mau bercerai. Lalu setelah kalian bercerai, apa yang kamu bisa kamu lakukan untuk anak kamu tanpa bantuan Enggar? Jangan bertindak bodoh Rum. Kalau nggak ada Enggar, kamu nggak mungkin masih tinggal di rumah mewah ini. Kakek kamu memang kaya, tapi sekaya apapun, sebanyak apapun hartanya, akan tetap habis kalau nggak dikelola dengan baik. Selama bertahun-tahun ini siapa yang mengelola keuangan dan pabrik? Enggar!"
Arum tertawa sinis. Memalingkan wajah ke arah lain, menatap lantai jauh lebih menenangkan baginya.
"Pikirkan lagi. Yang dirugikan dari perceraian itu kamu. Kalau Enggar, dia laki-laki, dia tampan, pekerja keras, dia bisa mendapatkan apa yang dia mau dengan mudah. Sementara kamu .... " Yanti menatap Arum, meremehkan.
Arum hanya diam. Menyadari posisinya yang terpojok dan kedua orang itu sengaja menggunakan kelemahannya sebagai senjata.
"Ingat itu, Rum .... " Yanti menghentikan ucapan saat mendengar suara telepon. Ia melirik Arum yang buru-buru mengambil ponsel di atas meja dan berbicara.
"Halo," sapa Arum sedikit berbisik.
"Halo, Rum, aku udah daftarin kamu ke gym itu. Hari ini jam sepuluh kamu temui aja Koko Lee. Aku udah cerita semuanya sama dia dan dia bersedia jadi instruktur gym khusus untuk kamu sampai kamu mendapatkan berat badan ideal."
Mendengar itu, senyum di bibir Arum merekah. Akhirnya ia mendapat kabar baik yang membuat hatinya tenang. Setelah lama tersiksa mendengar hinaan suami dan mertuanya.
"Oke, aku siap-siap ke sana sekarang. Makasih ya, Anton."
Deg!
Mendengar nama Anton disebut, mata Yanti membulat. Tiba-tiba saja perasaannya tidak enak.
Apa mungkin Arum sedang merencanakan sesuatu dengan sepupunya itu? Bagaimana kalau Arum membahas soal pabrik? Ah! Tidak mungkin Anton tahu cara mengelola pabrik, pria itu 'kan seorang Dokter yang sibuk, pikir Yanti.
Meski begitu, hatinya tetap tidak tenang.
Beberapa jam kemudian, mobil yang dibawa Enggar memasuki halaman rumah.Melihat kedatangan majikannya, buru-buru Bi Itam menghampiri dan membuka pintu utama.Melihat ke depan, Enggar turun dari mobil, disusul Yanti. Namun, yang mengejutkan mereka berdua hanya membawa satu anak saja.Di dalam gendongan Yanti, hanya terlihat si kecil Arsy yang menangis rewel. Sementara Aira sama sekali tidak ada!Tak ingin langsung berprasangka buruk, Bi Itam menegakkan posisinya berdiri, mengamati bagian dalam mobil, siapa tahu Aira tertidur di jok belakang.Namun lagi-lagi, ia tidak melihat Aira di sana.Bi Itam melangkah cepat, mengekor Enggar dan Yanti yang memasuki rumah."Maaf Pak Enggar. Nek Yanti. Di mana Aira ya? Kok cuma Arsy yang dibawa pulang? Di mana anak satunya lagi?" tanya Bi Itam dengan nada se-sopan mungkin.Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Yanti berubah seketika. Ia terduduk lemas di atas sofa sambil memegang dadanya."Aira, dia ... dia hilang." Tangis Yanti pecah, entah tangis
"Mi, Pi, please, jangan permasalahkan soal panggilan. Jangan buat Arum tidak nyaman," ucap Lee sambil melirik kedua orang tuanya bergantian.Sudah sangat lama Sofia dan Willy menantikan momen ini, akhirnya terwujud dengan kehadiran Arum di tengah keluarga mereka.Wajah Lee tampak memerah, jelas dia malu dengan ulah kedua orang tuanya, apalagi di depan Arum.Diam-diam Lee melirik wanita cantik itu, lalu mengatakan, "Jangan dipikirkan Rum. Untuk sementara kamu boleh memanggil saya apa saja, hmm."Arum mengangguk pelan. "Iya Pak Lee."Di samping mereka, Willy dan Sofia saling menatap. Senyum di bibir mereka semakin merekah melihat dua orang itu malu-malu."Ayo kita pulang," ajak Lee. Lama-lama di tempat ramai begini, ia bisa jadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang.***Di tempat berbeda, di rumah yang kini tampak kusam dan tidak terurus itu, Enggar dan ibunya tengah menyusun rencana terakhir.Panik karena kalah dalam persidangan dan ancaman jatuh miskin seperti dulu lagi, membuat
Setelah berdiskusi singkat dan meneliti dengan cermat berkas-berkas serta bukti forensik digital yang dilampirkan oleh pihak Arum, Hakim ketua akhirnya menghentikan bisik-bisiknya.Hakim menegakkan tubuh, merapikan mikrofon di hadapannya, lalu mengetuk palu satu kali dengan mantap.Tok!"Baiklah, majelis telah mempertimbangkan permohonan dari pihak penggugat serta meninjau ulang catatan kehadiran pihak tergugat," ucap Hakim ketua dengan suara berat dan berwibawa yang memenuhi seluruh ruangan sidang. "Mengingat pihak tergugat telah dipanggil secara sah dan patut, tetapi tidak hadir tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, serta berdasarkan asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan, maka majelis hakim memutuskan ...."Arum menahan napas. Jangan tanya perasaannya sekarang. Jantungnya bergemuruh kian hebat, seolah siap melompat keluar dari rongga dada. Jemarinya yang digenggam erat oleh Sofia terasa sedingin es."Tenangkan dirimu, Nak. Kamu pasti bisa membawa
Satu jam berlalu dengan begitu cepat. Namun, Enggar tak juga menunjukkan batang hidungnya. Sementara waktu penundaan yang diberikan oleh pihak pengadilan telah habis.Di kursi saksi, Arum duduk dengan perasaan yang semakin tak karuan. Jantungnya berdegup kencang dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.Kekhawatiran itu semakin menjadi saat ia melihat majelis hakim yang dipimpin oleh ketua sidang kini sudah memasuki ruangan dan duduk di kursi kebesarannya sambil mengetuk palu tiga kali.Tok! Tok! Tok!"Sidang perkara perdata nomor gugatan hak asuh anak dan rekonvensi atas nama Arum dan Enggar dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap sang Hakim ketua.Arum menelan ludah dengan susah payah. Bulir-bulir keringat dingin terus merembes membasahi telapak tangan yang saling meremas di atas pangkuan.Kursi di sisi meja pihak tergugat, kursi yang seharusnya diduduki oleh Enggar atau kuasa hukumnya, terlihat kosong."Mas Enggar beneran nggak akan datang?" gumam Arum.Di tengah
Sementara itu di tempat berbeda, Enggar mondar-mandir di ruang tamu dengan langkah gontai, keringat dingin bercucuran membasahi kemejanya yang sudah tampak kusut."Gimana Nggar? Apa kamu udah nyiapin strategi buat balas Arum?" tanya Yanti yang tengah duduk bersandar dengan wajah pucat pasi.Enggar hanya diam, melirik sekilas ibunya lalu kembali sibuk mondar-mandir seperti setrikaan.Beberapa menit yang lalu, ia baru saja mengakhiri sambungan telepon dengan pengacaranya. Orang yang ia harapkan bisa menjadi perisai pelindung itu justru secara tegas menyatakan angkat tangan dan menolak mendampingi sidang hari ini."Bagaimana ini, Nggar? Kok kamu diem aja ditanyain? Apa kata pengacara tadi?" desak Yanti dengan suara bergetar, tak sabar menunggu putranya membuka mulut. "Dia mau datang ke pengadilan, kan? Dia bakal bela kita habis-habisan supaya hak asuh anak tetap ada di tanganmu, kan?"Enggar menghentikan langkahnya, menoleh menatap sang ibu dengan mata memerah dan napas memburu. "Dia ng
Setengah jam berlalu, Enggar belum juga menunjukkan batang hidungnya."Mas Enggar belum datang? Apa mungkin dia nggak akan datang?" Arum kembar bertanya dengan nada cemas, tatapannya menyiratkan ketakutan yang mendalam.Pak Hendra hanya diam sambil celingak-celinguk mengamati sekitar gedung dan pintu masuk utama."Jam berapa sidang dimulai?" tanya Pak Hendra pada sekretarisnya."Satu jam lagi, Pak."Mendengar itu, jantung Arum berdegup semakin kencang. Bayangan persidangan ini ditunda karena ketidakhadiran pihak tergugat mulai menghantui kepalanya.Rasanya tidak sanggup jika harus berlama-lama menggantungkan nasib dan menunda pertemuan untuk segera memeluk kedua buah hatinya.Melihat raut wajah Arum yang mendadak pias dan dipenuhi kekhawatiran, Sofia langsung merangkul pundak wanita itu lebih erat lagi. "Tenang, Nak. Jangan berpikiran yang tidak-tidak dulu. Pengacara pihak lawan atau Enggar pasti akan datang. Mungkin mereka hanya terjebak macet di jalan," hibur Sofia lembut, berusah







