LOGIN"Gimana Enggar?"
Enggar masih diam membeku, sementara ibunya terus menjejalinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat otaknya penuh.
"Pokoknya kamu harus bisa mencari cara agar Arum nggak berbuat nekat. Kalau sampai kamu .... "
"Bu!"
Yanti terdiam dengan mata membulat sempurna saat mendengar bentakan Enggar. Nyali wanita paruh baya itu ciut seketika.
"Tolong diam dulu! Aku lagi nyari solusi. Aku mau coba hubungi Anton, dan nanya sama dia. Siapa tahu Arum nggak jadi ke sana," lanjut Enggar penuh penekanan.
Yanti mengangguk berkali-kali. "Ya udah, kamu hubungi Anton cepet," titahnya menggebu-gebu sambil terus menatap Enggar.
Lama-lama sifat dan karakter Enggar sama persis dengan almarhum suaminya. Dingin, kasar dan cuek. 'Semoga saja Enggar tidak gila wanita seperti Mas Jonas,' pikir Yanti.
Enggar mengambil ponsel dan menghubungi Anton. Namun ternyata yang menerima telepon itu bukan sepupu Arum, tetapi seorang wanita.
"Halo, Mas Enggar ya?"
Enggar terdiam, ia mengenal suara itu. Dia Julia, mantan kekasihnya yang menikah dengan Anton_seorang Dokter dengan karir cemerlang. Berbeda jauh dengan Enggar yang hanya bekerja sebagai buruh pabrik.
Dulu Enggar hampir menikahi Julia, tetapi ternyata Julia lebih memilih Anton sebagai suami. Sejak saat itu Enggar berusaha keras mendapatkan wanita yang jauh lebih sempurna dari sang mantan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Arum.
Namun sekarang, wanita yang dulunya sangat cantik dan menjadi pujaan banyak pria, berubah jadi gemuk dan tidak menarik lagi. Sementara Julia masih tetap cantik meski sudah melahirkan tiga orang anak.
"K-kamu ... Julia," kata Enggar tergagu.
"Iya Mas, aku Julia. Kamu mau ngomong sama Mas Anton ya? Dia lagi mandi. Mau ngomong apa? Nanti aku sampein aja sama dia."
Enggar menghela napas panjang. Berusaha keras menahan gejolak rindu yang tiba-tiba merayap di hatinya.
"Gimana keadaan kamu, Jul?" tanya Enggar lembut.
Di depannya, Yanti langsung melotot saat mendengar anaknya malah berbicara dengan orang lain.
"Enggar!" tegur Yanti. "Kamu nelepon siapa? Bukan Anton?"
Enggar kembali menghela napas panjang. "Maaf Jul, boleh kasih teleponnya ke Anton aja? Atau kalau nggak, aku mau tahu apa Arum ke rumah kalian tadi? Soalnya Arum belum pulang ke rumah, katanya dia mau nemuin Anton."
"Oh Arum? Tadi aku lihat dia ada di tempat gym yang baru buka itu. Dekat komplek perumahan Mutiara," jawab Julia.
"Arum ke tempat gym?" Kening Enggar mengerenyit.
"Iya, tadi aku tanya sama Mas Anton, dan dia bilang emang Arum baru mulai nge-gym hari ini. Bahkan yang daftarin dia nge-gym di sana juga Mas Anton."
Mendengar itu, Enggar langsung membisikan sesuatu pada Yanti. Keduanya menghela napas lega karena semua prasangka buruk sebelumnya salah.
"Arum belum pulang ya?" tanya Julia.
"Belum," jawab Enggar. "Makasih ya informasinya. Nanti aku jemput dia. Oh iya, nomor aku masih yang lama. Kalau kamu perlu apa-apa hubungi aja."
"Iya Mas." Julia mengakhiri panggilan.
Setelah telepon berakhir, Enggar terlihat senyum-senyum sendiri seperti anak SMA yang baru jatuh cinta.
Melihat itu, Yanti berdecak kasar. "Jangan main api Enggar!" ucapnya mengingatkan.
***
"Satu, dua. Satu, dua!" Suara napas Arum terengah-engah, nyaris habis. Butiran peluh terlihat membasahi wajah, bahkan baju yang dikenakannya juga lepek.
"Satu, dua. Satu, dua! Dari tadi saya lihat kamu hanya berhitung! Mana gerakan badannya?"
Lee menggelengkan kepala berkali-kali sambil terus memperhatikan Arum yang tengah melakukan gerakan squat khusus pemula. Namun, dari yang ia lihat sejak tadi, tubuh Arum sama sekali tidak bergerak.
"Ini udah gerak, Pak. Pak Lee nggak liat saya keringetan begini? Kalau badan saya nggak gerak, nggak mungkin saya kecapean," keluh Arum.
Lee membuang napas kasar. "Saya memperhatikan kamu sejak tadi. Saya sama sekali tidak melihat kamu menggerakkan tubuh, yang kamu gerakan hanya jempol kaki!"
Arum terdiam. Mengusap keringat yang nyaris masuk ke mata. Ia hanya bisa menelan ludah saat mendengar hujan fakta yang dibeberkan Lee.
Kalau boleh jujur, olahraga ini sangat menyiksa jiwa dan raganya. Bobot tubuhnya sudah terlalu over, untuk menggerakkan satu tangan saja ia harus mengeluarkan tenaga ekstra. Apalagi kalau mengikuti gerakan yang diminta Lee.
Sementara, di sudut ruangan, para wanita yang berjumlah tiga orang terlihat tengah membicarakan Arum dan menertawakan wanita gemuk itu.
Namun, tawa mereka seketika terhenti saat melihat Lee berjalan menghampiri.
Salah satu dari tiga wanita itu terlihat salah tingkah, merasa dirinya paling cantik dan seksi. Mungkin saja Lee ingin berkenalan, pikirnya percaya diri.
"Saya tidak suka dengan segala bentuk pembullyan! Kalau kalian tidak bisa menghargai orang lain dan menjaga perasaan mereka, jangan pernah masuk ke tempat gym ini lagi!" tegas Lee menatap tajam ke arah wanita itu satu per satu.
Semua orang di dalam ruangan gym seketika diam, bahkan menghentikan gerakan olahraga mereka dan menoleh ke arah Lee.
Mendengar itu, Arum tersenyum kagum. Untuk pertama kalinya ia dibela di depan umum seperti ini. Enggar mana pernah.
"M-maaf Ko Lee," ucap tiga wanita itu berbarengan. Kini mereka yang harus menahan malu di depan banyak orang.
Setelah menegur para pembully, Lee memutar tubuhnya dan kembali menghampiri Arum. "Kamu sudah lelah? Kita bisa lanjutkan olahraganya besok. Tolong datang tepat waktu. Besok kita akan jalan santai keliling komplek."
"Jalan keliling komplek, Pak?" Mata Arum membulat lebar.
"Iya, kamu maunya jalan ke mana? Keliling Kabbah? Mau ongkosin saya ke sana?"
Glek!
Lagi-lagi Arum terkena skakmat. Eh tapi ....
"Emangnya Pak Lee muslim?" Dari apa yang dilihat Arum, wajah Lee terlihat seperti Chinese Original.
Suasana di luar gerbang rumah peninggalan kakek Arum itu tampak sepi. Sang pemilik rumah sah yang baru saja turun dari mobil mewah bersama Pak Hendra dan kedua orang tua Lee, langsung mendekati pintu pagar sambil celingukan.Arum mengedarkan pandangan mencari petugas keamanan yang biasanya berjaga di pos depan."Kamu cari siapa, hmm?" tanya Lee lembut, memperhatikan gerak-gerik wanita di sampingnya sambil tersenyum manis."Nyari Pak Satpam yang biasa jaga di pos. Tapi kok nggak ada. Apa dia nggak denger ada orang datang?" gumam Arum sambil mengernyitkan dahi."Kamu lupa? Terakhir kali kita datang ke sini, satpam rumah ini memang sudah tidak ada. Enggar sudah memecatnya. Mungkin untuk mengurangi pengeluaran bulanan.""Ohh iya. Astaghfirullah, saya kok lupa." Arum mengangguk pelan, baru ingat sikap sewenang-wenang Enggar dulu dalam mengatur orang-orang yang bekerja di rumah ini.Tanpa membuang waktu, Lee melangkah maju ke dekat pagar, lalu menekan tombol bel rumah yang terpasang di di
"Semua berjalan sesuai rencana kamu, Bi Itam udah pergi. Sekarang apalagi?" Yanti menatap Enggar yang tengah duduk bersandar di sofa sambil memegang ponsel.Yang ditanya itu tampak fokus menatap layar ponselnya dan mengabaikan pertanyaan sang ibu."Nggar!" bentak Yanti emosi. Ia menghentakkan kaki, menghampiri Enggar, kemudian duduk di samping anaknya. "Kenapa diam aja? Sekarang kita ngapain lagi? Ibu nggak mau kita diusir dari rumah ini! Ibu nggak mau jadi gembel. Ibu udah senang kita hidup bergelimang harta."Enggar melirik sekilas, lalu berdecak kesal. "Sabar, Bu. Aku lagi nyiapin rencana cadangan. Jadi, nanti kalau Arum datang ke sini, kita punya pegangan alibi yang kuat. Kalau cuma mengandalkan omongan kosong, Arum nggak mungkin percaya gitu aja."Yanti mengerutkan kening, memajukan tubuhnya mendekati Enggar untuk melihat layar ponsel sang anak."Emangnya kamu lagi ngapain, sih?" Matanya menyempit, memperhatikan apa yang dikerjakan Enggar. Namun, ia tidak paham sama sekali. D
Beberapa jam kemudian, mobil yang dibawa Enggar memasuki halaman rumah.Melihat kedatangan majikannya, buru-buru Bi Itam menghampiri dan membuka pintu utama.Melihat ke depan, Enggar turun dari mobil, disusul Yanti. Namun, yang mengejutkan mereka berdua hanya membawa satu anak saja.Di dalam gendongan Yanti, hanya terlihat si kecil Arsy yang menangis rewel. Sementara Aira sama sekali tidak ada!Tak ingin langsung berprasangka buruk, Bi Itam menegakkan posisinya berdiri, mengamati bagian dalam mobil, siapa tahu Aira tertidur di jok belakang.Namun lagi-lagi, ia tidak melihat Aira di sana.Bi Itam melangkah cepat, mengekor Enggar dan Yanti yang memasuki rumah."Maaf Pak Enggar. Nek Yanti. Di mana Aira ya? Kok cuma Arsy yang dibawa pulang? Di mana anak satunya lagi?" tanya Bi Itam dengan nada se-sopan mungkin.Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Yanti berubah seketika. Ia terduduk lemas di atas sofa sambil memegang dadanya."Aira, dia ... dia hilang." Tangis Yanti pecah, entah tangis
"Mi, Pi, please, jangan permasalahkan soal panggilan. Jangan buat Arum tidak nyaman," ucap Lee sambil melirik kedua orang tuanya bergantian.Sudah sangat lama Sofia dan Willy menantikan momen ini, akhirnya terwujud dengan kehadiran Arum di tengah keluarga mereka.Wajah Lee tampak memerah, jelas dia malu dengan ulah kedua orang tuanya, apalagi di depan Arum.Diam-diam Lee melirik wanita cantik itu, lalu mengatakan, "Jangan dipikirkan Rum. Untuk sementara kamu boleh memanggil saya apa saja, hmm."Arum mengangguk pelan. "Iya Pak Lee."Di samping mereka, Willy dan Sofia saling menatap. Senyum di bibir mereka semakin merekah melihat dua orang itu malu-malu."Ayo kita pulang," ajak Lee. Lama-lama di tempat ramai begini, ia bisa jadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang.***Di tempat berbeda, di rumah yang kini tampak kusam dan tidak terurus itu, Enggar dan ibunya tengah menyusun rencana terakhir.Panik karena kalah dalam persidangan dan ancaman jatuh miskin seperti dulu lagi, membuat
Setelah berdiskusi singkat dan meneliti dengan cermat berkas-berkas serta bukti forensik digital yang dilampirkan oleh pihak Arum, Hakim ketua akhirnya menghentikan bisik-bisiknya.Hakim menegakkan tubuh, merapikan mikrofon di hadapannya, lalu mengetuk palu satu kali dengan mantap.Tok!"Baiklah, majelis telah mempertimbangkan permohonan dari pihak penggugat serta meninjau ulang catatan kehadiran pihak tergugat," ucap Hakim ketua dengan suara berat dan berwibawa yang memenuhi seluruh ruangan sidang. "Mengingat pihak tergugat telah dipanggil secara sah dan patut, tetapi tidak hadir tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, serta berdasarkan asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan, maka majelis hakim memutuskan ...."Arum menahan napas. Jangan tanya perasaannya sekarang. Jantungnya bergemuruh kian hebat, seolah siap melompat keluar dari rongga dada. Jemarinya yang digenggam erat oleh Sofia terasa sedingin es."Tenangkan dirimu, Nak. Kamu pasti bisa membawa
Satu jam berlalu dengan begitu cepat. Namun, Enggar tak juga menunjukkan batang hidungnya. Sementara waktu penundaan yang diberikan oleh pihak pengadilan telah habis.Di kursi saksi, Arum duduk dengan perasaan yang semakin tak karuan. Jantungnya berdegup kencang dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.Kekhawatiran itu semakin menjadi saat ia melihat majelis hakim yang dipimpin oleh ketua sidang kini sudah memasuki ruangan dan duduk di kursi kebesarannya sambil mengetuk palu tiga kali.Tok! Tok! Tok!"Sidang perkara perdata nomor gugatan hak asuh anak dan rekonvensi atas nama Arum dan Enggar dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap sang Hakim ketua.Arum menelan ludah dengan susah payah. Bulir-bulir keringat dingin terus merembes membasahi telapak tangan yang saling meremas di atas pangkuan.Kursi di sisi meja pihak tergugat, kursi yang seharusnya diduduki oleh Enggar atau kuasa hukumnya, terlihat kosong."Mas Enggar beneran nggak akan datang?" gumam Arum.Di tengah







