LOGINPaket!
Arum yang sejak satu jam lalu menunggu di teras rumah langsung menerima kiriman makanan dari temannya itu.
"Udah ditransfer ya, Bang," kata Arum pada suami dari sahabatnya.
"Iya, makasih ya. Semoga jadi langganan terus."
Arum hanya tersenyum. Setelah pria berkumis tebal itu pergi, ia buru-buru masuk ke dalam rumah sambil membawa bungkus makanan.
Matanya mengedar, memastikan tidak ada yang melihat. Seingatnya Enggar ada di dalam kamar dan belum keluar sejak pulang kerja tadi.
Aman!
Arum berlari kecil dan masuk ke dalam kamar si kembar lalu menutup pintu rapat.
Senyum di bibirnya merekah saat melihat makanan kesukaannya ada di depan mata. Ia membuka satu per satu box berisi dimsum dengan saus mentai itu.
Satu box berisi lima dimsum berukuran besar. Bagi perut manusia normal satu atau dua porsi saja cukup, tapi bagi Arum ... ia sanggup menghabiskan sepuluh porsi seorang diri.
"Besok aku diet dan olahraga," ucap Arum menyemangati diri sendiri lalu melahap dimsum satu per satu. Tidak ada satu jam makanan itu habis tak bersisa, meski dengan napas terengah-engah dan perut yang sesak.
Selesai makan, buru-buru Arum membuang bungkusnya ke dalam tempat sampah dan keluar dari kamar.
Dengan wajah tanpa dosa ia melangkah ke dapur untuk membantu ibu mertuanya menyiapkan makan malam sambil terus mengusap perutnya yang makin lebar.
Deg!
Arum terbelalak saat melihat suaminya sudah duduk di depan meja makan. Ia menelan ludah keras, memikirkan aksinya tadi. Apa mungkin Mas Enggar melihat? pikirnya takut.
"Hari ini Ibu nggak masak, Rum. Ibu beli lauk mateng tadi," kata Yanti kemudian duduk di seberang meja.
Arum mengangguk sedikit, berdiri diam di ambang pintu dan hanya menatap makanan di atas meja.
Melihat tingkah aneh menantunya, Yanti mengerutkan kening. "Kamu nggak makan? Ayo makan, mumpung masih panas."
Tidak seperti biasa, Arum yang hobi makan malah mematung dengan tatapan seperti tak berselera. Padahal rutinitas makan begini yang paling ditunggu oleh wanita itu.
"A-aku ... aku nggak makan malam, Bu," jawab Arum.
Yanti mengulum senyum dengan lirikan mata mengejek. "Yakin? Kenapa kamu nggak mau makan malam? Karena bukan masakan Ibu?"
"Nggak Bu, aku ... aku mau diet." Arum langsung menundukkan kepala.
Uhuk!
Hahahaha!
Enggar terbatuk dan langsung tertawa mendengar jawaban Arum. "Diet?" Ia menoleh sambil menaikan satu alisnya.
Yanti ikut tertawa. "Yakin kamu bisa diet, Rum? Puasa yang wajib aja kamu sering bolong. Sok-sokan diet."
Arum menarik napas panjang. Berusaha tetap tersenyum meski omongan suami dan mertuanya menyakitkan.
"Jangan percaya, Bu. Emang aku nggak tahu kalau dia baru aja makan sepuluh porsi dimsum ukuran jumbo. Ngomong mau diet, porsi monster kamu makan!" celetuk Enggar.
Arum menelan ludah. Kedua matanya berkaca-kaca mendengar tsunami fakta yang dibeberkan sang suami. Darimana Enggar tahu? Seingatnya tadi tidak ada siapapun yang melihat.
"Sepuluh porsi dimsum? Yang bener aja kamu, Rum. Itu sih porsi orang kesurupan," cetus Yanti.
Arum memegang dadanya yang sesak. Menatap dua orang yang mengejek dan menertawakannya dengan puas.
"Bayangin aja Bu, aku yang laki-laki aja cuma bisa makan satu porsi, dia makan sepuluh porsi. Gimana badannya nggak kayak badak," lanjut Enggar melirik jijik.
"Jahat banget mulut kamu, Mas," isak Arum, kemudian melirik ibu mertuanya. Wanita itu masih tertawa, padahal tadi dia mengatakan ingin menegur Enggar, tetapi mereka berdua justru kompak menghinanya habis-habisan.
"Kalau mau makan inget berdoa dulu, Rum. Lihat badan kamu udah segede drum minyak begitu," lirik Yanti.
"Bu, kenapa Ibu malah ikut-ikutan Mas Enggar? Bukannya Ibu sendiri yang bilang mau negur Mas Enggar? Kenapa sekarang Ibu begini sama aku?" Luruh air mata Arum mendengar ejekan ibu mertuanya.
"Semua yang diomongin Enggar benar, Rum, kamu harus mulai memperhatikan penampilan kamu. Dulu Ibu melahirkan Enggar dan adiknya yang kembar, badan Ibu nggak selebar kamu. Harusnya kamu denger kata-kata suami kamu kalau nggak mau suami kamu melirik wanita lain."
Mendengar itu, Arum menghentakkan kaki lalu melangkah cepat menuju kamar anak kembarnya dan mengurung diri di sana.
Tangisan Arum pecah. Tak menyangka ibu mertuanya yang ia hormati justru lebih berpihak pada Enggar. Dan yang lebih menyakitkan wanita itu ikut menghina fisik menantunya sendiri.
"Aku begini karena melahirkan cucu, Ibu," isak Arum kecewa.
Padahal dulu ibu mertuanya sangat baik. Apalagi saat meminta diijinkan tinggal di rumah Arum.
Dua tahun lalu ayah mertua Arum meninggal dunia, Yanti yang tidak memiliki sanak-saudara meminta tinggal bersama Enggar.
Suaminya memiliki dua adik perempuan kembar yang berkuliah di Bandung. Semua biaya kuliah, makan dan lainnya menjadi tanggung jawab Enggar sampai detik ini.
Namun, mereka seolah tidak pernah bisa menghargai Arum. Apalagi berterima kasih.
Seandainya Arum tega, ia bisa saja mengusir mertuanya itu dan meminta Enggar menghentikan aliran dana ke adik-adiknya. Namun, Arum tidak ingin melakukan itu demi menjaga perasaan sang suami yang sangat ia cintai.
Ting!
Saat tengah menangis tersedu-sedu, suara notifikasi terdengar. Arum melirik ke ponsel dan melihat satu kiriman foto dari Anton_sepupunya.
Foto itu lembaran brosur tempat gym baru yang berada di dekat rumah Anton. Arum hanya membuka, tanpa tahu apa maksud dari sepupunya.
Tak lama kemudian telepon masuk dari Anton dan langsung diterima oleh Arum.
"Udah lihat brosur yang aku kirim?" tanya Anton.
"Udah, untuk apa kamu kirim brosur itu?" Arum garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Masih tidak paham.
"Kamu mau kurus 'kan? Aku lihat twitan kamu tadi. Kalau mau kurus, kamu datang aja ke tempat gym itu. Nanti kamu aku kenalin sama instruktur gym di sana. Namanya Koko Lee, Spesialis Kedokteran Olahraga. Sebelum melakukan olahraga dan diet, Dokter itu akan memeriksa kesehatan kamu. Pokoknya kalau kamu dapat bimbingan dari dia, aku jamin aman. Tapi .... "
"Tapi apa?" tanya Arum. Baru saja ia bersemangat mendengar informasi dari sepupunya, tetapi ada ujung yang membuatnya sedikit ragu dan takut.
"Tapi Dokter Lee agak galak. Siap-siap aja kamu kena marah kalau kamu nggak nurutin apa kata dia."
Mendengar jawaban itu, Arum menghela napas lega. Ia pikir pria bernama Lee itu memiliki kelainan atau mesum.
"Nggak masalah kalau cuma galak sih, yang penting dia nggak mesum 'kan? Terus juga, dia nggak suka menghina fisik orang? Soalnya aku capek kalau belum apa-apa udah dihina dan diejek duluan."
"Nggak akan, dia sangat profesional kok. Kamu tenang aja," jawab Anton. "Jadi, kamu mau nih? Kalau mau, aku daftarin kamu sekarang. Besok kamu langsung datang aja. Tempatnya nggak jauh dari rumah aku."
"Mau," jawab Arum cepat.
"Oke, aku urus pendaftarannya."
"Makasih ya," ucap Arum terharu. Selama ini Anton memang sangat perhatian padanya. Meski mereka hanya sepupu jauh, tetapi Arum sudah menganggap Anton seperti kakak kandungnya sendiri.
"Jangan bilang makasih sekarang. Coba dulu ke sana, kalau kamu nggak kuat kena omel Bujang lapuk itu. Kamu bilang aja."
"Eh .... " Mata Arum membulat. "Dokter itu masih bujang?" Entah kenapa pikirannya jadi melayang. Jangan-jangan pria itu gay?
"Iya, dia bujang tua. Teman kuliah aku dulu. Udah jangan bahas dia. Aku mau ngurus pendaftaran dulu sebelum penuh. Soalnya banyak cewek yang mau nge-gym di sana karena instruktur gym di sana ganteng-ganteng."
"Apa Julia nge-gym di sana juga?" tanya Arum. Khawatir saat Enggar mengantarnya nanti mereka malah bertemu dan CLBK.
"Nggak, Julia nggak aku ijinin nge-gym. Lagian body dia udah bagus."
Arum manggut-manggut. Meski ia tahu Anton tidak bisa melihat itu. "Ya udah, besok aku ke sana. Nanti aku bilang aku yang kamu daftarin."
"Oke, jangan galau-galau lagi. Malu sama si kembar." Anton mengakhiri telepon.
Suasana di luar gerbang rumah peninggalan kakek Arum itu tampak sepi. Sang pemilik rumah sah yang baru saja turun dari mobil mewah bersama Pak Hendra dan kedua orang tua Lee, langsung mendekati pintu pagar sambil celingukan.Arum mengedarkan pandangan mencari petugas keamanan yang biasanya berjaga di pos depan."Kamu cari siapa, hmm?" tanya Lee lembut, memperhatikan gerak-gerik wanita di sampingnya sambil tersenyum manis."Nyari Pak Satpam yang biasa jaga di pos. Tapi kok nggak ada. Apa dia nggak denger ada orang datang?" gumam Arum sambil mengernyitkan dahi."Kamu lupa? Terakhir kali kita datang ke sini, satpam rumah ini memang sudah tidak ada. Enggar sudah memecatnya. Mungkin untuk mengurangi pengeluaran bulanan.""Ohh iya. Astaghfirullah, saya kok lupa." Arum mengangguk pelan, baru ingat sikap sewenang-wenang Enggar dulu dalam mengatur orang-orang yang bekerja di rumah ini.Tanpa membuang waktu, Lee melangkah maju ke dekat pagar, lalu menekan tombol bel rumah yang terpasang di di
"Semua berjalan sesuai rencana kamu, Bi Itam udah pergi. Sekarang apalagi?" Yanti menatap Enggar yang tengah duduk bersandar di sofa sambil memegang ponsel.Yang ditanya itu tampak fokus menatap layar ponselnya dan mengabaikan pertanyaan sang ibu."Nggar!" bentak Yanti emosi. Ia menghentakkan kaki, menghampiri Enggar, kemudian duduk di samping anaknya. "Kenapa diam aja? Sekarang kita ngapain lagi? Ibu nggak mau kita diusir dari rumah ini! Ibu nggak mau jadi gembel. Ibu udah senang kita hidup bergelimang harta."Enggar melirik sekilas, lalu berdecak kesal. "Sabar, Bu. Aku lagi nyiapin rencana cadangan. Jadi, nanti kalau Arum datang ke sini, kita punya pegangan alibi yang kuat. Kalau cuma mengandalkan omongan kosong, Arum nggak mungkin percaya gitu aja."Yanti mengerutkan kening, memajukan tubuhnya mendekati Enggar untuk melihat layar ponsel sang anak."Emangnya kamu lagi ngapain, sih?" Matanya menyempit, memperhatikan apa yang dikerjakan Enggar. Namun, ia tidak paham sama sekali. D
Beberapa jam kemudian, mobil yang dibawa Enggar memasuki halaman rumah.Melihat kedatangan majikannya, buru-buru Bi Itam menghampiri dan membuka pintu utama.Melihat ke depan, Enggar turun dari mobil, disusul Yanti. Namun, yang mengejutkan mereka berdua hanya membawa satu anak saja.Di dalam gendongan Yanti, hanya terlihat si kecil Arsy yang menangis rewel. Sementara Aira sama sekali tidak ada!Tak ingin langsung berprasangka buruk, Bi Itam menegakkan posisinya berdiri, mengamati bagian dalam mobil, siapa tahu Aira tertidur di jok belakang.Namun lagi-lagi, ia tidak melihat Aira di sana.Bi Itam melangkah cepat, mengekor Enggar dan Yanti yang memasuki rumah."Maaf Pak Enggar. Nek Yanti. Di mana Aira ya? Kok cuma Arsy yang dibawa pulang? Di mana anak satunya lagi?" tanya Bi Itam dengan nada se-sopan mungkin.Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Yanti berubah seketika. Ia terduduk lemas di atas sofa sambil memegang dadanya."Aira, dia ... dia hilang." Tangis Yanti pecah, entah tangis
"Mi, Pi, please, jangan permasalahkan soal panggilan. Jangan buat Arum tidak nyaman," ucap Lee sambil melirik kedua orang tuanya bergantian.Sudah sangat lama Sofia dan Willy menantikan momen ini, akhirnya terwujud dengan kehadiran Arum di tengah keluarga mereka.Wajah Lee tampak memerah, jelas dia malu dengan ulah kedua orang tuanya, apalagi di depan Arum.Diam-diam Lee melirik wanita cantik itu, lalu mengatakan, "Jangan dipikirkan Rum. Untuk sementara kamu boleh memanggil saya apa saja, hmm."Arum mengangguk pelan. "Iya Pak Lee."Di samping mereka, Willy dan Sofia saling menatap. Senyum di bibir mereka semakin merekah melihat dua orang itu malu-malu."Ayo kita pulang," ajak Lee. Lama-lama di tempat ramai begini, ia bisa jadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang.***Di tempat berbeda, di rumah yang kini tampak kusam dan tidak terurus itu, Enggar dan ibunya tengah menyusun rencana terakhir.Panik karena kalah dalam persidangan dan ancaman jatuh miskin seperti dulu lagi, membuat
Setelah berdiskusi singkat dan meneliti dengan cermat berkas-berkas serta bukti forensik digital yang dilampirkan oleh pihak Arum, Hakim ketua akhirnya menghentikan bisik-bisiknya.Hakim menegakkan tubuh, merapikan mikrofon di hadapannya, lalu mengetuk palu satu kali dengan mantap.Tok!"Baiklah, majelis telah mempertimbangkan permohonan dari pihak penggugat serta meninjau ulang catatan kehadiran pihak tergugat," ucap Hakim ketua dengan suara berat dan berwibawa yang memenuhi seluruh ruangan sidang. "Mengingat pihak tergugat telah dipanggil secara sah dan patut, tetapi tidak hadir tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, serta berdasarkan asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan, maka majelis hakim memutuskan ...."Arum menahan napas. Jangan tanya perasaannya sekarang. Jantungnya bergemuruh kian hebat, seolah siap melompat keluar dari rongga dada. Jemarinya yang digenggam erat oleh Sofia terasa sedingin es."Tenangkan dirimu, Nak. Kamu pasti bisa membawa
Satu jam berlalu dengan begitu cepat. Namun, Enggar tak juga menunjukkan batang hidungnya. Sementara waktu penundaan yang diberikan oleh pihak pengadilan telah habis.Di kursi saksi, Arum duduk dengan perasaan yang semakin tak karuan. Jantungnya berdegup kencang dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.Kekhawatiran itu semakin menjadi saat ia melihat majelis hakim yang dipimpin oleh ketua sidang kini sudah memasuki ruangan dan duduk di kursi kebesarannya sambil mengetuk palu tiga kali.Tok! Tok! Tok!"Sidang perkara perdata nomor gugatan hak asuh anak dan rekonvensi atas nama Arum dan Enggar dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap sang Hakim ketua.Arum menelan ludah dengan susah payah. Bulir-bulir keringat dingin terus merembes membasahi telapak tangan yang saling meremas di atas pangkuan.Kursi di sisi meja pihak tergugat, kursi yang seharusnya diduduki oleh Enggar atau kuasa hukumnya, terlihat kosong."Mas Enggar beneran nggak akan datang?" gumam Arum.Di tengah







