Share

2. 10 Porsi Dimsum

Author: Dita SY
last update publish date: 2026-09-04 19:37:30

Paket!

Arum yang sejak satu jam lalu menunggu di teras rumah langsung menerima kiriman makanan dari temannya itu. 

"Udah ditransfer ya, Bang," kata Arum pada suami dari sahabatnya.

"Iya, makasih ya. Semoga jadi langganan terus."

Arum hanya tersenyum. Setelah pria berkumis tebal itu pergi, ia buru-buru masuk ke dalam rumah sambil membawa bungkus makanan. 

Matanya mengedar, memastikan tidak ada yang melihat. Seingatnya Enggar ada di dalam kamar dan belum keluar sejak pulang kerja tadi.

Aman!

Arum berlari kecil dan masuk ke dalam kamar si kembar lalu menutup pintu rapat.

Senyum di bibirnya merekah saat melihat makanan kesukaannya ada di depan mata. Ia membuka satu per satu box berisi dimsum dengan saus mentai itu.

Satu box berisi lima dimsum berukuran besar. Bagi perut manusia normal satu atau dua porsi saja cukup, tapi bagi Arum ... ia sanggup menghabiskan sepuluh porsi seorang diri.

"Besok aku diet dan olahraga," ucap Arum menyemangati diri sendiri lalu melahap dimsum satu per satu. Tidak ada satu jam makanan itu habis tak bersisa, meski dengan napas terengah-engah dan perut yang sesak.

Selesai makan, buru-buru Arum membuang bungkusnya ke dalam tempat sampah dan keluar dari kamar. 

Dengan wajah tanpa dosa ia melangkah ke dapur untuk membantu ibu mertuanya menyiapkan makan malam sambil terus mengusap perutnya yang makin lebar.

Deg! 

Arum terbelalak saat melihat suaminya sudah duduk di depan meja makan. Ia menelan ludah keras, memikirkan aksinya tadi. Apa mungkin Mas Enggar melihat? pikirnya takut.

"Hari ini Ibu nggak masak, Rum. Ibu beli lauk mateng tadi," kata Yanti kemudian duduk di seberang meja. 

Arum mengangguk sedikit, berdiri diam di ambang pintu dan hanya menatap makanan di atas meja. 

Melihat tingkah aneh menantunya, Yanti mengerutkan kening. "Kamu nggak makan? Ayo makan, mumpung masih panas."

Tidak seperti biasa, Arum yang hobi makan malah mematung dengan tatapan seperti tak berselera. Padahal rutinitas makan begini yang paling ditunggu oleh wanita itu. 

"A-aku ... aku nggak makan malam, Bu," jawab Arum. 

Yanti mengulum senyum dengan lirikan mata mengejek. "Yakin? Kenapa kamu nggak mau makan malam? Karena bukan masakan Ibu?" 

"Nggak Bu, aku ... aku mau diet." Arum langsung menundukkan kepala.

Uhuk! 

Hahahaha! 

Enggar terbatuk dan langsung tertawa mendengar jawaban Arum. "Diet?" Ia menoleh sambil menaikan satu alisnya.

Yanti ikut tertawa. "Yakin kamu bisa diet, Rum? Puasa yang wajib aja kamu sering bolong. Sok-sokan diet."

Arum menarik napas panjang. Berusaha tetap tersenyum meski omongan suami dan mertuanya menyakitkan.

"Jangan percaya, Bu. Emang aku nggak tahu kalau dia baru aja makan sepuluh porsi dimsum ukuran jumbo. Ngomong mau diet, porsi monster kamu makan!" celetuk Enggar. 

Arum menelan ludah. Kedua matanya berkaca-kaca mendengar tsunami fakta yang dibeberkan sang suami. Darimana Enggar tahu? Seingatnya tadi tidak ada siapapun yang melihat. 

"Sepuluh porsi dimsum? Yang bener aja kamu, Rum. Itu sih porsi orang kesurupan," cetus Yanti. 

Arum memegang dadanya yang sesak. Menatap dua orang yang mengejek dan menertawakannya dengan puas.

"Bayangin aja Bu, aku yang laki-laki aja cuma bisa makan satu porsi, dia makan sepuluh porsi. Gimana badannya nggak kayak badak," lanjut Enggar melirik jijik.

"Jahat banget mulut kamu, Mas," isak Arum, kemudian melirik ibu mertuanya. Wanita itu masih tertawa, padahal tadi dia mengatakan ingin menegur Enggar, tetapi mereka berdua justru kompak menghinanya habis-habisan. 

"Kalau mau makan inget berdoa dulu, Rum. Lihat badan kamu udah segede drum minyak begitu," lirik Yanti. 

"Bu, kenapa Ibu malah ikut-ikutan Mas Enggar? Bukannya Ibu sendiri yang bilang mau negur Mas Enggar? Kenapa sekarang Ibu begini sama aku?" Luruh air mata Arum mendengar ejekan ibu mertuanya.

"Semua yang diomongin Enggar benar, Rum, kamu harus mulai memperhatikan penampilan kamu. Dulu Ibu melahirkan Enggar dan adiknya yang kembar, badan Ibu nggak selebar kamu. Harusnya kamu denger kata-kata suami kamu kalau nggak mau suami kamu melirik wanita lain."

Mendengar itu, Arum menghentakkan kaki lalu melangkah cepat menuju kamar anak kembarnya dan mengurung diri di sana.

Tangisan Arum pecah. Tak menyangka ibu mertuanya yang ia hormati justru lebih berpihak pada Enggar. Dan yang lebih menyakitkan wanita itu ikut menghina fisik menantunya sendiri. 

"Aku begini karena melahirkan cucu, Ibu," isak Arum kecewa.

Padahal dulu ibu mertuanya sangat baik. Apalagi saat meminta diijinkan tinggal di rumah Arum. 

Dua tahun lalu ayah mertua Arum meninggal dunia, Yanti yang tidak memiliki sanak-saudara meminta tinggal bersama Enggar.

Suaminya memiliki dua adik perempuan kembar yang berkuliah di Bandung. Semua biaya kuliah, makan dan lainnya menjadi tanggung jawab Enggar sampai detik ini.

Namun, mereka seolah tidak pernah bisa menghargai Arum. Apalagi berterima kasih.

Seandainya Arum tega, ia bisa saja mengusir mertuanya itu dan meminta Enggar menghentikan aliran dana ke adik-adiknya. Namun, Arum tidak ingin melakukan itu demi menjaga perasaan sang suami yang sangat ia cintai.

Ting! 

Saat tengah menangis tersedu-sedu, suara notifikasi terdengar. Arum melirik ke ponsel dan melihat satu kiriman foto dari Anton_sepupunya.

Foto itu lembaran brosur tempat gym baru yang berada di dekat rumah Anton. Arum hanya membuka, tanpa tahu apa maksud dari sepupunya. 

Tak lama kemudian telepon masuk dari Anton dan langsung diterima oleh Arum. 

"Udah lihat brosur yang aku kirim?" tanya Anton. 

"Udah, untuk apa kamu kirim brosur itu?" Arum garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Masih tidak paham. 

"Kamu mau kurus 'kan? Aku lihat twitan kamu tadi. Kalau mau kurus, kamu datang aja ke tempat gym itu. Nanti kamu aku kenalin sama instruktur gym di sana. Namanya Koko Lee, Spesialis Kedokteran Olahraga. Sebelum melakukan olahraga dan diet, Dokter itu akan memeriksa kesehatan kamu. Pokoknya kalau kamu dapat bimbingan dari dia, aku jamin aman. Tapi .... "

"Tapi apa?" tanya Arum. Baru saja ia bersemangat mendengar informasi dari sepupunya, tetapi ada ujung yang membuatnya sedikit ragu dan takut. 

"Tapi Dokter Lee agak galak. Siap-siap aja kamu kena marah kalau kamu nggak nurutin apa kata dia."

Mendengar jawaban itu, Arum menghela napas lega. Ia pikir pria bernama Lee itu memiliki kelainan atau mesum.

"Nggak masalah kalau cuma galak sih, yang penting dia nggak mesum 'kan? Terus juga, dia nggak suka menghina fisik orang? Soalnya aku capek kalau belum apa-apa udah dihina dan diejek duluan."

"Nggak akan, dia sangat profesional kok. Kamu tenang aja," jawab Anton. "Jadi, kamu mau nih? Kalau mau, aku daftarin kamu sekarang. Besok kamu langsung datang aja. Tempatnya nggak jauh dari rumah aku."

"Mau," jawab Arum cepat.

"Oke, aku urus pendaftarannya."

"Makasih ya," ucap Arum terharu. Selama ini Anton memang sangat perhatian padanya. Meski mereka hanya sepupu jauh, tetapi Arum sudah menganggap Anton seperti kakak kandungnya sendiri. 

"Jangan bilang makasih sekarang. Coba dulu ke sana, kalau kamu nggak kuat kena omel Bujang lapuk itu. Kamu bilang aja."

"Eh .... " Mata Arum membulat. "Dokter itu masih bujang?" Entah kenapa pikirannya jadi melayang. Jangan-jangan pria itu gay?

"Iya, dia bujang tua. Teman kuliah aku dulu. Udah jangan bahas dia. Aku mau ngurus pendaftaran dulu sebelum penuh. Soalnya banyak cewek yang mau nge-gym di sana karena instruktur gym di sana ganteng-ganteng."

"Apa Julia nge-gym di sana juga?" tanya Arum. Khawatir saat Enggar mengantarnya nanti mereka malah bertemu dan CLBK. 

"Nggak, Julia nggak aku ijinin nge-gym. Lagian body dia udah bagus."

Arum manggut-manggut. Meski ia tahu Anton tidak bisa melihat itu. "Ya udah, besok aku ke sana. Nanti aku bilang aku yang kamu daftarin."

"Oke, jangan galau-galau lagi. Malu sama si kembar." Anton mengakhiri telepon.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   6. Skakmat

    "Gimana Enggar?"Enggar masih diam membeku, sementara ibunya terus menjejalinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat otaknya penuh."Pokoknya kamu harus bisa mencari cara agar Arum nggak berbuat nekat. Kalau sampai kamu .... ""Bu!"Yanti terdiam dengan mata membulat sempurna saat mendengar bentakan Enggar. Nyali wanita paruh baya itu ciut seketika."Tolong diam dulu! Aku lagi nyari solusi. Aku mau coba hubungi Anton, dan nanya sama dia. Siapa tahu Arum nggak jadi ke sana," lanjut Enggar penuh penekanan.Yanti mengangguk berkali-kali. "Ya udah, kamu hubungi Anton cepet," titahnya menggebu-gebu sambil terus menatap Enggar.Lama-lama sifat dan karakter Enggar sama persis dengan almarhum suaminya. Dingin, kasar dan cuek. 'Semoga saja Enggar tidak gila wanita seperti Mas Jonas,' pikir Yanti.Enggar mengambil po

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   5. 4 Bungkus Nasi Kuning

    "Pesanan nasi kuning empat bungkus dan es semangka susu atas nama Bu Arum." Seorang pria berjaket hijau dan helm bertuliskan logo perusahaan antar jemput barang online berdiri di depan pintu kaca gym milik Lee.Pria berkumis tebal itu celingak-celinguk, memperhatikan bagian dalam gym lewat pintu kaca. Namun, ia tidak melihat penampakan wanita yang dia kenal sebagai sahabat istrinya."Permisi! Spada! Bu Arum, ini kiriman makanan udah sampai." Takut kena marah istri di rumah karena pergi terlalu lama, pria itu nekat membuka pintu kaca tersebut dan melangkah masuk. Melihat seorang pria berwajah oriental yang sangat tampan, mirip seperti artis di drama China menghampiri, pria itu langsung menghentikan langkah kakinya. "Permisi Ko, maaf saya mengantar makanan atas nama Bu Arum. Katanya suruh antar ke sini," ucap pria bernama Toto itu sambil menunjukkan paperbag besar di tangannya. Lee menatap paperbag itu, lalu mengalihkan pandangan ke luar pintu. "Arum?" Ia tahu nama itu, tetapi apa be

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   4. Hari Pertama Gym

    Setelah mendapat telepon itu, Arum buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Yanti masih duduk di sofa dengan pandangan kosong keluar jendela.Rasa penasaran itu kian membuncah, membuat Yanti tidak tenang. Apalagi tadi dia mendengar nama Anton disebut. Sudah pasti ada sesuatu."Kamu ditelepon siapa tadi? Kamu mau pergi ya?" tanya Yanti menyelidik.Arum tidak menjawab, karena di dalam kamar mandi memang tidak boleh mengeluarkan suara apapun. Selesai mandi, wanita bertubuh subur itu mendekati baby box anak kembarnya."Kamu mau ke mana? Kok pake baju rapih?" Yanti melirik Arum dari ujung kepala sampai kaki. Wanita subur yang biasanya hanya mengenakan daster XXL itu kini memakai stelan formal sambil menenteng tas cukup besar. "Enggar udah tahu kamu mau pergi?""Ini aku mau minta antar Mas Enggar. Dia belum berangkat kerja 'kan, Bu?"Mendengar jawaban itu, Yanti menghela napas lega. Hampir saja ia terkena serangan panik melihat menantunya akan pergi seorang diri menemui Anton.Selama

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   3. Solusi

    Tepat jam sembilan malam, baru saja ingin menutup mata, tiba tiba cahaya lampu dari luar masuk ke dalam kamar yang bercahaya temaram.Pintu kamar terbuka lebar, disusul suara langkah kaki mendekati baby box di samping sofa panjang tempat Arum berbaring.Arum membuka mata sedikit, melihat siapa yang masuk ke kamar anak kembarnya. Ternyata itu Enggar, ia pun langsung memejamkan mata rapat. Berpura-pura tidur."Bawa anak-anak ke kamar," kata Enggar melirik ke arah sofa, melihat Arum meringkuk dan menutupi seluruh tubuh gemuknya menggunakan selimut tipis. "Ngapain kamu ikut tidur di sini? Pindah ke kamar! Kamu belum tidur 'kan?"Arum hanya diam, pura-pura tidak mendengar. Biar saja Enggar menganggapnya tuli, yang jelas ia masih kesal dan tidak akan mau tidur di kamar utama."Oh, jadi sekarang kamu mau kita pisah ranjang?" tanya Enggar sinis.Arum tetap diam. Malas meladeni sikap dingin suaminya. Toh selama beberapa bulan sejak anak mereka lahir ia juga tidak pernah disentuh. Apa bedanya d

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   2. 10 Porsi Dimsum

    Paket!Arum yang sejak satu jam lalu menunggu di teras rumah langsung menerima kiriman makanan dari temannya itu. "Udah ditransfer ya, Bang," kata Arum pada suami dari sahabatnya."Iya, makasih ya. Semoga jadi langganan terus."Arum hanya tersenyum. Setelah pria berkumis tebal itu pergi, ia buru-buru masuk ke dalam rumah sambil membawa bungkus makanan. Matanya mengedar, memastikan tidak ada yang melihat. Seingatnya Enggar ada di dalam kamar dan belum keluar sejak pulang kerja tadi.Aman!Arum berlari kecil dan masuk ke dalam kamar si kembar lalu menutup pintu rapat.Senyum di bibirnya merekah saat melihat makanan kesukaannya ada di depan mata. Ia membuka satu per satu box berisi dimsum dengan saus mentai itu.Satu box berisi lima dimsum berukuran besar. Bagi perut manusia normal satu atau dua porsi saja cukup, tapi bagi Arum ... ia sanggup menghabiskan sepuluh porsi seorang diri."Besok aku diet dan olahraga," ucap Arum menyemangati diri sendiri lalu melahap dimsum satu per satu. Ti

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   1. Sindiran dari Suami

    [120]Arum menelan ludah dengan bersusah payah saat melihat angka yang tertera pada timbangan digital di bawah kakinya."Halah, paling timbangan kamu naik lagi. Nggak perlu ditimbang juga udah keliatan dari bentuk perut kamu."Suara seseorang dari belakang terdengar seperti ejekan, membuat Arum semakin tertekan dan sesak.Itu suara Enggar_suami Arum. Entah darimana datangnya pria itu, tiba-tiba saja dia sudah ada di dalam kamar, padahal Arum sudah mewanti-wanti agar suaminya tidak melihat ia menimbang badan."Aku 'kan udah bilang jangan sering makan malam, naik lagi 'kan berat badan kamu. Nggak usah ditimbang juga udah keliatan dari lemak di perut kamu yang menggelambir itu," sindir Enggar melirik sinis.Arum menghela napas panjang. Sudah sering ia mendengar penghinaan itu dari mulut suaminya sendiri, tepatnya setelah ia melahirkan anak kembar mereka tiga bulan yang lalu.Sebagai seorang suami, Enggar tidak pernah mendukung Arum memberi ASI Ekslusif pada anak kembar mereka, pria itu j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status