Compartir

9. Ditantang Mertua

Autor: Dita SY
last update Fecha de publicación: 2026-09-16 13:42:28

"Bercerai? Dengan Pak Enggar?" Suara pengacara di ujung sana terdengar lebih tinggi dari sebelumnya.

"Iya Pak," jawab Arum dengan helaan napas panjang berulang kali. "Saya udah nggak bisa melanjutkan pernikahan ini. Saya udah nggak bahagia, apalagi saya yakin Mas Enggar selingkuh. Meskipun saya belum mendapatkan buktinya."

Hening!

Hanya terdengar helaan napas panjang dari ujung sambungan telepon.

"Saya bisa 'kan menggugat cerai Mas Enggar?" tanya Arum kemudian.

"Kalau boleh saya beri saran, lebih baik Anda bicarakan semuanya dengan Pak Enggar secara baik-baik. Perbaiki hubungan kalian. Apalagi tadi Anda bilang Anda belum memiliki bukti perselingkuhan suami Anda. Jangan mengambil keputusan terlalu cepat," ujar pengacara.

"Tapi Pak .... "

"Saya hanya mengingatkan," potong pengacara. "Kalau rumah tangga kalian masih bisa diperbaiki, itu jauh lebih baik. Apa Anda lupa dengan pesan Kakek Anda sebelum meninggal dunia? Beliau sangat membenci perceraian apapun alasannya, karena perceraian yang membuat anaknya pergi tanpa kabar dan meninggalkan Anda seorang diri. Hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua itu tidak enak. Anda pernah merasakannya sendiri, bukan? Apa Anda mau kedua anak Anda merasakan itu juga?"

"Setelah bercerai nanti, saya akan membawa kedua anak saya Pak. Dan saya pastikan kedua anak saya tidak akan kekurangan kasih sayang dari saya dan juga dari Mas Enggar," tegas Arum.

"Meskipun begitu .... "

"Maaf Pak Hendra, keputusan saya sudah bulat. Saya tetap akan menggugat cerai Mas Enggar setelah saya mendapatkan bukti perselingkuhan suami saya."

Tut!

Telepon langsung diakhiri oleh Arum. Wanita gemuk itu melepas ponsel ke samping lalu merebahkan tubuh suburnya di atas ranjang.

Kedua matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar, memikirkan ucapan pengacara tadi. Namun, lamunan itu seketika buyar saat ia mendengar suara notifikasi dari ponselnya. 

Ting! 

Arum melirik, mengambil benda pipih itu dengan malas. Mengangkat satu tangan ke udara dan melihat layar. Satu pesan masuk dari Instruktur Lee. 

Lee [Tumbler dan handuk kamu ketinggalan]

Chat yang dikirim itu dilengkapi dengan foto tumbler dan handuk milik Arum. Pesan pun dibalas.

Arum [Saya berhenti nge-gym. Percuma saya berjuang mati-matian kalau suami saya nggak pernah dukung perjuangan saya. Dia malah nyari perempuan lain]

Bukannya membalas, Lee justru menghubungi Arum. Namun, Arum yang tengah malas berbicara, memilih mengabaikan telepon itu dan melempar ponsel ke sembarang.

Ting! Ting! Ting! 

Balasan pesan dari Lee masuk secara beruntun.

***

Pagi harinya, setelah mengurus dua bayi kembarnya yang kembali tertidur lelap di dalam box bayi, Arum membuka pintu kamar dengan perlahan lalu keluar.

Deg! 

Arum terhenyak kaget saat melihat Ibu mertuanya sudah berdiri tegak di depan pintu seperti satpam.

"Enggar udah berangkat kerja. Dia bilang dia lagi malas berantem sama kamu, mangkanya dia berangkat lebih pagi," kata Yanti melirik Arum dari ujung kepala sampai kaki. 

Satu alisnya naik melihat penampilan sang menantu yang berbeda dari kemarin. Hari ini Arum hanya memakai daster jumbo bunga-bunga seperti biasa.

"Kamu nggak ada niat keluar rumah hari ini?" tanya Yanti dengan nada dingin.

Arum menggeleng sambil mengusap dasternya yang sedikit basah terkena tumpahan susu. "Nggak, aku nggak ada acara keluar rumah. Aku cuma mau belanja ke pasar aja."

"Udah nggak nge-gym lagi? Cuma satu hari nge-gym kamu langsung berhenti? Gimana mau kurus?" Yanti tertawa meremehkan.

Arum membuang napas kasar, menatap Ibu mertuanya tajam. "Aku kurus atau nggak, itu bukan urusan Ibu. Mending Ibu urus aja anak Ibu yang tukang selingkuh itu!"

Mendengar tuduhan Arum, kedua mata Yanti melotot. "Selingkuh? Sembarangan kamu ngomong! Mana buktinya kalau Enggar selingkuh? Oh, atau jangan-jangan kamu yang selingkuh sama tukang sayur!"

"Astaghfirullah Bu!" Arum meninggikan suaranya. "Kalau ngomong dijaga Bu. Emang Ibu pikir aku wanita apaan?"

"Lalu kamu pikir Enggar laki-laki seperti apa? Enak banget kamu nuduh anak Ibu tukang selingkuh! Kalau kamu mau cerai sama dia, cerai aja! Ngapain kamu nuduh Enggar selingkuh tanpa bukti! Itu namanya fitnah!" cecar Yanti dengan tatapan nyalang dan suara yang menggelegar.

Arum langsung terdiam melihat kemarahan Yanti dan mendengar ucapan sang mertua yang tidak seperti biasanya.

Kenapa sekarang Yanti justru memintanya menceraikan Enggar? Biasanya wanita paruh baya itu paling takut mendengar ia membicarakan perceraian.

"Kenapa kamu diam?" Yanti mencengkram bahu Arum dengan kuat.

"Sakit Bu! Kenapa Ibu jadi kasar begini?" Arum meringis, menepis cengkraman tangan Yanti.

"Ibu udah muak sama kelakuan kamu Rum! Kalau kamu mau cerai dari Enggar, cepat sana urus saja surat cerainya! Jangan harap Enggar mau mengemis cinta kamu lagi!" desis Yanti.

Lagi-lagi Arum dibuat tak berkutik. Entah kenapa ia merasa Enggar dan mertuanya sedang menyiapkan sesuatu.

Tanpa mengatakan apapun lagi, Yanti membuka pintu kamar dan masuk. Sementara Arum masih diam membeku seperti patung. 

Ting! 

Suara notifikasi dari ponsel terdengar, memecah lamunan Arum, ia merogoh saku dasternya dan melihat satu pesan masuk dari Loren.

Loren [Cewek yang kamu maksud di gym itu namanya Santi. Dia tinggal sendirian di komplek Mutiara blog G nomor 244. Cat rumahnya kuning. Pagar cokelat]

Setelah membaca pesan lengkap itu, Arum membalas. 

Arum [Makasih ya, nggak percuma aku punya temen tukang jualan makanan online. Kamu tahu banget seluk-beluk penghuni komplek Mutiara]

Loren [Iya dong, siapa dulu ... Loren. By the way kamu mau ke sana sendirian? Mau aku temenin nggak]

Arum [Nggak usah. Aku mau jalan kaki ke sana. Itung-itung olahraga]

Loren [Oke, hati-hati]

Setelah mendapatkan alamat lengkap wanita itu dari Loren, buru-buru Arum memasukan ponsel kembali ke saku dasternya.

Malas berpamitan dengan Yanti, Arum melangkah cepat keluar dari rumah.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (2)
goodnovel comment avatar
JUANITA 88
babnya d tambahin
goodnovel comment avatar
JUANITA 88
kpan nih arum bisa seksi lgi..thoor terimakasih
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   13. Bagai Langit dan Selokan

    "Mas Enggar benar-benar selingkuh!"Tangisan Arum pecah. Tubuh suburnya terhuyung lemah ke samping. Beruntung Lee dengan sigap menahannya dan membawa ke pinggir ranjang.Mereka pun duduk bersebelahan. Lee tampak sangat perhatian dan terus berusaha menenangkan Arum. Sangat berbeda dengan prespektif orang-orang yang mengatakan bahwa Lee_laki-laki galak."Kejahatan tidak akan bisa diterima oleh semesta, cepat atau lambat orang yang menyakitimu akan mendapatkan balasan setimpal," ucap Lee dengan pembawaannya yang sangat dewasa dan tenang.Ibarat air, Lee seperti air dari pegunungan yang jernih. Sementara Enggar seperti air selokan yang penuh dengan kotoran. Perbedaan mereka bagai langit dan jamban.Perlahan Arum menoleh, menatap pria tampan itu dengan mata yang sembab dan merah. "Saya ingin pulang." Ia berdiri, berjalan gontai keluar dari kamar.Melihat itu, Lee buru-buru mengejar, takut terjadi sesuatu pada Arum yang terlihat sangat kacau.Dengan sangat hati-hati, Lee menuntun Arum menuj

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   12. Sapu Tangan

    "Sendal jepit jelek ini punya suamimu?"Lee mengambil sendal yang terselip di balik pot bunga dan menunjukkan pada Arum. Memastikan kalau sendal jepit hitam yang sudah rusak itu memang sendal milik Enggar. Arum mengangguk. Air matanya mengalir kian deras. Dadanya terasa sesak dan sakit, tetapi ia berusaha tetap kuat."Hanya sendal, mungkin saja memang benar hilang di pabrik dan dibawa anjing ke sini," kata Lee berusaha menenangkan dengan teorinya yang agak memaksa. Mendengar ucapan Lee, tentu saja tidak membuat Arum tenang. Wanita subur itu justru makin menangis tersedu-sedu. Pasalnya jarak antara pabrik dan komplek sangat jauh, anjing jenis apa yang bisa naik taksi dan menyembunyikan sendal di rumah Santi?"Kenapa kamu makin nangis?" Lee mendekat, mengusap lengan Arum. "Jangan berpikir negatif dulu. Kita cari bukti lain, kalau hanya sendal, suamimu pasti bisa mengelak dengan seribu alasan. Apalagi sendal seperti ini sangat banyak di toko online."Kali ini Arum setuju dengan ucapan

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   11. Sendal Jepit

    "Turun, jangan kaku. Lemasin saja badan kamu!"Arum memejamkan mata rapat-rapat sampai bola matanya terasa tertekan. Perlahan ia merosot turun, mengikuti arahan dari Lee. Dalam hati takut setengah mati, tapi apa boleh buat, daripada dia nangkring di atas tembok sampai pagi, lebih baik dia memberanikan diri menjatuhkan tubuh suburnya dalam pelukan Lee.Meski taruhannya, ia akan jatuh ke tanah, atau yang paling parah ia akan menyebabkan Lee meninggal tragis karena terhimpit bobot tubuhnya.Namun, saat ia mulai menjatuhkan tubuh sepenuhnya, ia tidak merasakan sakit sama sekali, justru merasa seperti sedang terbang ke udara. "Pak, s-saya udah ada di Surga ya? Kok badan saya melayang gini, kayak lagi terbang," ceplos Arum. Matanya masih terpejam rapat."Iya, kamu lagi terbang. Sekarang buka mata kamu," jawab Lee.Arum menggeleng. "Takut, saya belum siap mati Pak. Anak saya masih bayi, masih butuh saya.""Yang bilang kamu sudah meninggal siapa? Cepat buka mata kamu!"Dengan sangat perlaha

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   10. Peluk Saya!

    "Namanya Santi. Dia tinggal sendirian di komplek Mutiara blok G nomor 244. Cat rumahnya warna kuning. Pagar cokelat."Arum terus membaca ulang chat dari Loren sambil memperhatikan rumah-rumah yang berjejer di komplek Mutiara.Rumah Arum sendiri ada di blok F sedangkan rumah Santi ada di blok G, tidak terlalu jauh. Namun, jika ditempuh dengan berjalan kaki cukup menguras tenaga bagi Arum.Huh! Hah! Huh! Hah!Napas Arum mulai terengah-engah padahal ia baru berjalan beberapa meter dari rumahnya. Keringat sebesar butiran jagung terus merembes keluar dari pori-pori tubuh, hingga membuat daster jumbo yang ia kenakan basah kuyup."Di mana sih rumahnya?" gumam Arum sambil celingak-celinguk mencari rumah bercat kuning di blok G.Deg!Arum menghentikan langkah kaki saat melihat rumah yang sama persis seperti yang diberitahu Loren. "Cat tembok kuning, pagar besi coklat. Ini rumahnya?"Setelah memastikan kecocokan dengan alamat yang diberitahu Loren, Arum mengedarkan pandangan, memastikan tidak a

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   9. Ditantang Mertua

    "Bercerai? Dengan Pak Enggar?" Suara pengacara di ujung sana terdengar lebih tinggi dari sebelumnya."Iya Pak," jawab Arum dengan helaan napas panjang berulang kali. "Saya udah nggak bisa melanjutkan pernikahan ini. Saya udah nggak bahagia, apalagi saya yakin Mas Enggar selingkuh. Meskipun saya belum mendapatkan buktinya."Hening!Hanya terdengar helaan napas panjang dari ujung sambungan telepon."Saya bisa 'kan menggugat cerai Mas Enggar?" tanya Arum kemudian."Kalau boleh saya beri saran, lebih baik Anda bicarakan semuanya dengan Pak Enggar secara baik-baik. Perbaiki hubungan kalian. Apalagi tadi Anda bilang Anda belum memiliki bukti perselingkuhan suami Anda. Jangan mengambil keputusan terlalu cepat," ujar pengacara."Tapi Pak .... ""Saya hanya mengingatkan," potong pengacara. "Kalau rumah tangga kalian masih bisa diperbaiki, itu jauh lebih baik. Apa Anda lupa dengan pesan Kakek Anda sebelum meninggal dunia? Beliau sangat membenci perceraian apapun alasannya, karena perceraian yang

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   8. Menghubungi Pengacara

    "Apa maksud dari ucapanmu, Mas?" Air mata Arum luruh. Napasnya tertahan. Ia menatap senyum licik yang tersungging di bibir suaminya. Namun sial, Enggar memilih diam membisu. Tak menjawab pertanyaan Arum tadi, malah memakai handset di telinga dan asik mendengarkan musik.Arum yang emosi menggebrak dasbor mobil berharap Enggar mau menanggapi. Namun tetap saja pria itu memilih diam seribu bahasa.Setelah perjalanan singkat menuju rumah, Arum langsung turun dari mobil dan berjalan cepat menuju kamar utama.Dari sudut ruang tamu, Yanti berdiri diam menatap wajah emosi sang menantu yang bahkan tidak menyapanya sama sekali.Melihat Enggar menyusul masuk ke rumah, Yanti langsung menghentikan langkah kaki anaknya."Kenapa Arum marah-marah begitu? Kamu sama dia berantem lagi?" tanya Yanti dengan wajah cemas.Setiap kali melihat pertengkaran anak dan menantunya, jantung Yanti berdebar-debar. Ia sangat takut Arum benar-benar menceraikan Enggar dan mereka akan ditendang keluar dari rumah mewah in

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status