LOGIN"Mereka yang gila dalam mencinta akan sanggup melakukan apa pun demi yang dicinta."
~StarSea25~
***
"Kallistei ...."
Lain dengan semua orang yang tampak kebingungan mendengarnya, Dewi Harnum merasakan tubuhnya membeku sesaat dengan mata membulat saat mendengar nama panggilan tersebut.
Kallistei, panggilan sayang dari suami kelima Dewi Hanum; Dewa Ares.
Bagaimana mungki
"Mereka yang gila dalam mencinta akan sanggup melakukan apa pun demi yang dicinta."~StarSea25~***"Kallistei ...."Lain dengan semua orang yang tampak kebingungan mendengarnya, Dewi Harnum merasakan tubuhnya membeku sesaat dengan mata membulat saat mendengar nama panggilan tersebut.Kallistei, panggilan sayang dari suami kelima Dewi Hanum; Dewa Ares.Bagaimana mungkin Pangeran Arjuna mengetahui nama panggilan tersebut?Tubuh Dewi Harnum bergetar pelan saat mendapat sebuah kesimpulan yang cukup menyakinkan sekaligus mengejutkan; Pangeran Arjuna adalah reinkarnasi Dewa Ares.Ia teringat jika kakaknya, Dhan Arya juga merupakan reinkarnasi Dewa Ankhises.Apakah itu berarti Pancabharata yang lain juga turut bereinkarnasi di bumi? Jika benar, tersisa tiga reinkarnasi dewa lainnya yang belum terungkap.
"Pada akhirnya mengulur-ngulur waktu selama mungkinpun tak dapat mencegah takdir yang telah terukur."~StarSea25~***Usai kembali dari pantai biru, Pangeran Leonard tak mengizinkannya menjauh sedikitpun. Ia diikuti kemana pun dirinya melangkah pergi. Mereka menghabiskan banyak waktu sepanjang siang dan malam untuk terus berduaan dan bermesraan.Pangeran Leonard mengalihkan semua tanggung jawabnya begitu saja sebagai Putra Mahkota pada adik lelakinya, Pangeran Matias. Seolah mengerti, Pangeran Matias tak banyak membantah seperti biasanya. Bahkan para istri suaminya tiada yang berani mengganggu mereka yang tengah memadu cinta dan kasih.Mereka tampak jelas memberi Pangeran Leonard waktu lebih banyak bersamanya ... sebelum mereka berpisah, saling merasa kehilangan, haus akan kerinduan dan pertemuan.Bahkan saat sinar sang surya mulai menampakkan diri ke permuka
Usai 'terbebas' dari Selir Rashi, Dewi Harnum bergegas menuju ke kamar utama Putra Mahkota untuk membujuk sang suami yang tengah merajuk, karena Selir Rashi telah jujur, ia harus terbuka dan segera menjelaskan segalanya pada lelaki tersebut. Mungkin jika beruntung, lelaki itu akan berbaik hati turut serta membantunya.Kini ia melihat suami tercintanya itu tengah duduk di kursi panjang yang empuk sambil membaca sebuah buku kuno tebal. Tatapannya fokus sekali, tetapi sesekali mendengkus kasar. Ia turut duduk di sampingnya, namun ia tampak sedih saat lelaki itu bergeser posisi hingga duduk di ujung kursi."Suamiku ...."Pangeran Leonard bergeming."Selir Rashi telah memberitahuku ..." Dewi Harnum mengembuskan napas panjang. Tatapannya lurus, menatap suaminya serius. "Ya. Aku dan Pangeran Ageel memang bertemu. Kami membicarakan tentang ...."Lalu mengalirlah cerita dari mulut sang de
Suara rakyat yang menghina Dewi Harnum sebagai 'Permaisuri buruk rupa' kian menjadi-jadi. Mereka merasa sang dewi tak pantas bersama dengan Putra Mahkota mereka yang tercinta. Mereka semua terdiam saat anggota kekaisaran datang dan berdiri di balkon istana.Dewi Harnum sangat gugup. Namun genggaman tangan Pangeran Leonard yang berdiri di sampingnya seakan menguatkan dan menyakinkannya jika suaminya itu selalu ada untuknya.“Bicara.”"Saya mewakili semua yang hadir di sini, meminta kebijakan Anda atas kehadiran Kaalillya, Baginda. Putra Mahkota tak pantas bersama perempuan yang buruk rupa.""Dari manakah pemikiran dangkal itu berasal?" tanya Pangeran Leonard datar."Hati kami menyakininya, Yang Mulia, karena Kaalillya selalu menutupi wajahnya dengan kain! Pastilah wajahnya sangat buruk rupa!""Jaga bicara kalian!" desis Pangeran Dhan. Rasanya ia in
“Di manakah Anda berada, Yang Mulia? Terjadi kekacauan besar di istana. Anda diminta Baginda Kaisar menghadiri rapat kekaisaran bersama dengan Tuan Putri Kaalillya."Pangeran Leonard menarik diri dari Dewi Harnum dengan enggan saat Jenderal Theseus menghubunginya lewat telepati. Keningnya berkerut halus."Bagaimana mungkin? Bukankah pagi tadi baik-baik saja, Jenderal?"Napas Dewi Harnum tersenggal. Ia merasa bibirnya kebas. "Tuanku? Ada apakah gerangan?"Pangeran Leonard menggeleng lembut sambil membersihkan sisa ciuman mereka di bibir sang istri dengan ibu jarinya. Tak mendapat balasan dari Jenderal Theseus, ia kembali merapikan penampilan Dewi Harnum yang sedikit berantakan karena ulahnya sekaligus membantunya mengenakan selendangnya kembali sebelum mengulurkan tangan. "Mari, Kaalillya.""Ke mana?" Dari balik selendang, Dewi Harnum mengernyit. Namun tetap menyambut uluran
Sebuah sinar terang datang secara tiba-tiba dan menarik tubuh Dewi Harnum untuk kembali ke dunianya. Saat membuka mata, ia dikejutkan dengan kehadiran seorang lelaki berparas tampan rupawan yang tak manusiawi di dekatnya.Jangan lupakan mata ketiganya yang masih terbuka dan mendelik tajam.Menopang kepalanya dengan tangan kiri, Mahadewa yang tengah berbaring di sisi Dewi Harnum mengulurkan tangan kanannya yang bebas untuk mengusap sebelah pipinya dengan gerak ringan. Mata tajamnya menatap lekat mata indahnya secara bergantian seolah ingin menelaah perasaan sang dewi sebelum memilikinya dengan benar."Takut?"Suara berat nan dingin dan usapan ringan di pipinya membuat Dewi Harnum sedikit bergidik dan menelan ludah. "Ta-takut ... apa ...?""Padaku.""Se-sedikit," aku Dewi Harnum jujur.Anehnya, Mahadewa tersenyum kecil. Riak dinginnya tampa
“Bunga-bunga di sini sangat cantik.”“Tak secantik dirimu, Tuan Putri.”Istri dari Putra Mahkota, Putri Carrissa yang tengah duduk anggun tergelak mendengar ucapan pelayan pribadinya tersebut. “Kau benar sekali, Saba. Sebagai istri Putra Mahkota, tak ada yang lebih cantik dariku.”Saba yang tengah
Kekaisaran Alaska adalah sebuah bangunan megah terbesar di Yunani. Siapapun yang tinggal di sana hidupnya terjamin. Terlebih sejak pengalihan kekuasaan, di bawah kepemimpinan kaisar yang baru kemiskinan tak lagi ditemukan di negeri tersebut.“Saya sangat berharap Baginda berkenan membantu kerajaan
“Kebun bunga yang sangat indah. Pantas usai meminum teh, Anda sangat bersikeras mengajak saya kemari.”Putri Arianna tersenyum malu. “Saya hanya tak ingin Anda melewatkan apa pun selama di sini. Sebagai seorang tuan putri, saya bertanggungjawab menjamu Anda dengan baik, Yang Mulia.”“Apakah Anda m
Celotehan Putri Arianna mengiringi setiap langkahnya bersama Pangeran Arjuna. Sesekali ia akan tersenyum puas saat lelaki itu tampak sangat menikmati dan menanggapi ucapannya. Meski dalam hati ia masih kesal karena Pangeran Arjuna bersikukuh ingin keluar istana. Kini mereka menyusuri jalan setapak







