Share

Bab 4

Author: diahara
last update publish date: 2026-10-06 12:32:35

Lily menunggu Dimitri sampai semalaman suntuk. Berpikir bahwa Dimitri mungkin akan tetap datang setelah mengetahui dirinya bersiap. Karena tidak mungkin seorang pria akan menolak godaan itu, kan?

Tapi, sampai pagi menjelang, Dimitri ternyata tidak datang. Bahkan tidak ada bekas ia tidur di sebelah Lily, yang berarti ia juga tidak tidur di sana. 

“Tuan Dimitri ada banyak pekerjaan dari semalam, Nyonya. Karena itu, ia tidak datang ke kamar,” beritahu Rudi dengan raut wajah tak enak saat Lily bertanya, “Pagi ini beliau juga ada rapat. Makanya masih belum sempat pulang.”

Alasan yang masuk akal. Apalagi, ia tahu kalau Dimitri memang sibuk. Tapi, setelah berhari-hari ditinggal terus sampai malam hari, Lily menyadari mungkin itu semua alasan belaka.

Mungkin saja pria itu sebenarnya hanya enggan untuk bersamanya. Meski dia setuju menikahi Lily sebagai pengganti Azalea, tapi bukan berarti dia juga mau tinggal bersamanya, kan? Karena itu, dia pasti menghindari Lily.

Tapi, bukankah itu keterlaluan? Mereka adalah suami-istri sekarang. Meski pria itu enggan, setidaknya mereka harus bertatap muka sesekali. 

Apalagi Lily hanya sendirian di lingkungan asing ini. Meski dia sudah terbiasa kesepian, tapi tetap saja rasanya berbeda jika berada di tempat yang baru.

Hal itu membuat Lily frustrasi. Belum lagi juga orang tuanya terus-terusan menanyakan kabar hubungan mereka. Seolah-olah ingin memastikan kalau mereka ‘baik-baik saja’.

Karena itu, Lily tidak bisa membiarkan situasi ini. Ia harus melakukan sesuatu, setidaknya demi dirinya sendiri.

Jadilah Lily menyiapkan bekal untuk suaminya hari itu. Ia memasaknya sendiri, dibantu dengan para maid yang terheran-heran karena Lily akhirnya tidak berdiam diri setelah berhari-hari.

“Aku akan pergi untuk mengantarkan bekal Dimitri,” beritahu Lily ke Rudi.

Rudi mengangguk, “Saya akan segera menyampaikannya ke sopir.” ia kemudian berlalu dari dapur sebelum Lily sempat bilang dia ingin pergi dengan taksi.

Gadis itu akhirnya mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sang suami, tapi ia tersadar tidak memiliki kontak suaminya sendiri. Jadilah Lily beralih menghubungi kantor di mana Dimitri bekerja. Setelah beberapa lama menunggu, seorang wanita yang Lily yakini sebagai resepsionis perusahaan itu membalas teleponnya, “Selamat pagi, dengan Wijaya Corp. Ada yang bisa kami bantu?”

“Selamat pagi, saya istri Pak Dimitri. Apa saya bisa bertemu dengannya siang ini? Saya berencana untuk mengantarkan bekal makan siang,” sahut Lily.

“Baik, mohon ditunggu sebentar. Akan saya tanyakan terlebih dahulu ke asistennya terkait jadwal Bapak Dimitri.”

Telepon itu kemudian beralih menjadi nada tunggu. Lily mengetuk-ngetuk kruknya beberapa kali, menunggu telepon kembali tersambung. Beberapa saat kemudian, suara wanita itu kembali muncul.

“Hari ini jadwal Pak Dimitri penuh, Bu. Jadi mungkin ibu harus menunggu jika tetap ingin mengantar makanan ke Pak Dimitri.”

Lily sudah sedikit menduga jawaban itu. Toh, pria itu dari kemarin memang sibuk, kan? Hal itu tidak akan membuat Lily mundur sekarang.

Gadis itu akhirnya menjawab, “Baik, terima kasih. Saya akan kesana.”

Setelah itu, Lily diantar ke rumah sakit oleh sopir yang sudah disiapkan Rudi. Jalanan tidak terlalu padat siang itu membuat perjalanan mereka lancar. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk akhirnya sampai di kantor perusahaan Keluarga Wijaya.

Lily keluar dari mobil sambil menggenggam erat bekal yang hendak diberikannya ke Dimitri. Seketika banyak mata memandang ke arahnya. Apalagi ketika Lily mulai berjalan masuk dengan menggunakan kruknya.

Di dalam lobi, semakin banyak orang yang menatapnya. Terutama para karyawan yang kini juga ikut berbisik-bisik ketika Lily melewatinya. Beberapa di antara mereka bahkan memberikan kode ke rekan sesamanya sebelum tertawa kecil.

Lily berusaha mengabaikan hal itu. Ia tetap berjalan ke resepsionis yang segera mengenali dirinya.

“Selamat siang, Bu. Istri Pak Dimitri, ya?” sapa wanita resepsionis itu. Dia lah yang menerima telepon Lily tadi.

Meski wanita itu menyapanya ramah, tapi tatapan matanya terlihat ganjil ketika menatap kruk di tangan Lily. Ia lalu berkata, "Pak Dimitri sedang meeting dengan dewan direksi sekarang. Mari saya antar ke lounge.”

Lily mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Ia diarahkan ke lounge dekat ruang rapat khusus presiden direktur dan para direksi. 

Perusahaan ini adalah milik keluarga Wijaya. Sebagai pewaris tunggal, tentu Dimitri lah yang menjadi  seorang presiden direksi di sini. Maka tak heran jika pria itu selalu disibukkan dengan pekerjaannya hingga tidak bisa menemui Lily.

Meski begitu, jika Azalea yang menjadi istrinya, apakah pria itu akan tetap tenggelam dalam kesibukannya? Lily rasa tidak. Mengingat semua orang selalu berlomba-lomba untuk peduli dengan Azalea, Dimitri juga pastilah seperti itu.

Sesampainya  di lounge, ia ternyata tidak sendirian. Ada beberapa orang di sana yang sibuk mengobrol. Tiga laki-laki dan satu perempuan. 

Lily segera mengenali mereka. Teman-teman Dimitri yang datang ke pesta pernikahan waktu itu. Ia ingat karena saat acara, mereka terlihat begitu akrab dengan Dimitri dan benar-benar mengabaikan Lily. Tatapan memicing mereka sekarang bahkan sama persis dengan waktu itu.

Dan seperti waktu itu pula, Lily berusaha mengabaikannya.

“Kalau begitu, saya akan meningggalkan Anda di sini. Pak Dimitri seharusnya selesai meeting beberapa saat lagi,” ucap wanita resepsionis itu.

Lily mengangguk, “Baik, terima kasih.”

Wanita resepsionis itu segera meninggalkan Lily. Gadis itu kemudian duduk di sofa single yang tidak jauh dari tempat teman-teman Dimitri berada. Bekal Dimitri ia taruh di pangkuannya dan hal itu dilihat oleh salah satu teman laki-laki Dimitri.

“Itu istri Dimitri, kan? Ia sepertinya datang untuk membawa bekal,” bisiknya. Meski begitu, suaranya tetap terdengar oleh Lily. “Apa dia pikir  Dimitri akan menerima sesuatu dari barang reject sepertinya?”

Lelaki lain mendengus sinis, “Memang sial nasib Dimitri. Bukannya tahu diri, gadis cacat ini malah berusaha bersikap seperti Azalea. Harusnya dia sadar kalau tidak akan bisa menggantikan kakaknya yang sempurna itu.”

“Sudahlah, jangan berkata seperti itu. Dia sudah susah payah loh agar bisa seperti Azalea,” sahut sang perempuan. Kalau Lily tidak salah ingat, namanya Kayla. 

Gadis itu kemudian menatap Lily dengan seulas senyum lebar yang membuat dada Lily terasa mengerat. “Senang bertemu denganmu lagi … Lily? Maaf aku belum menghafal namamu dengan baik karena masih teringat Azalea yang seharusnya bersama dengan Dimitri.”

Lily seketika mencengkram erat kotak bekal di tangannya. Ia menarik napas pelan, berusaha menekan rasa amarah yang ada di dalam hatinya. 

Ia tidak ingin terpancing dengan ucapan Kayla. Mengingat gadis itu sengaja menyentuh Dimitri saat bercanda dan melirik-liriknya di pesta waktu itu, Lily tahu Kayla sengaja memberikan umpan untuk mempermalukannya.

Tersenyum simpul, Lily berkata, “Tidak masalah. Pernikahan saya dengan Dimitri memang terburu-buru, jadi wajar kalau saya masih belum diingat. Apalagi untuk orang-orang seperti kalian.” 

Sindiran halus itu membuat wajah Kayla dan yang lain seketika memerah. Penuh emosi dan tersinggung. Salah satu lelaki langsung berdiri dan menunjuk wajah Lily penuh tudingan.

“Dengar baik-baik, Nona Cacat! Bahkan jika kamu tidak pincang, Dimitri tetap akan lebih memilih kakakmu yang jelita itu! Jadi jangan bersikap sombong hanya karena Dimitri menerimamu di rumahnya!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 7

    “Sa-Saya mau ke kamar mandi.” Dimitri menaikkan sebelah alisnya. Kemudian seolah mengejek Lily, ia kemudian mengarahkan dagunya ke pintu kamar mandi. Lily menggigit bibirnya tidak sadar. Ia seharusnya memang berpikir lebih dahulu sebelum berbicara. Untuk apa ia harus keluar dari kamar hanya untuk ke kamar mandi. Padahal sudah jelas setiap kamar di rumah ini memiliki kamar mandi sendiri. “Duduk.”Lily seperti mematung membuat suaminya itu kembali mengulangi ucapannya. “Duduk di sini, Lily. Ada yang harus kita bicarakan.” Lily akhirnya menurut karena ia juga tidak punya alasan untuk menolak Dimitri. Ia menaruh kruk di dekatnya yang juga tak luput dari pandangan pria gagah itu. “Kenapa kamu tadi datang ke kantor?Apa ada masalah?” Lily menggeleng. Ia kembali teringat bagaimana teman-teman suaminya tadi memojokkan dan menghina dirinya. Sakit hati sekali dirinya jika harus mengingat hal itu. “Tidak ada masalah. Tadi hanya…”“Hanya apa?” Dimitri memerhatikan Lily yang sepertinya tid

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 6

    Lily menimbang-nimbang sejenak apakah dia perlu mengangkat telepon tersebut. Ia tahu mamanya pasti akan menanyakan lagi soal hubungannya dengan Dimitri dan Lily sedang tidak mood untuk menanggapinya.Tapi, teringat bahwa ia membutuhkan Azalea dan hanya orang tuanya lah yang mempunyai informasi terkait kakaknya itu, membuat Lily akhirnya memutuskan untuk mengangkatnya.“Halo, Lily. Bagaimana kabarmu? Apa hubunganmu dan Dimitri baik-baik saja?”Ucapan pertama Ana membuat Lily seketika mencengkram ponselnya. Dugaannya ternyata benar. Menarik napas sejenak, Lily akhirnya menjawab, “Kami baik-baik saja. Baru saja tadi aku bertemu dengannya.”“Benarkah? Baguslah kalau begitu. Mama senang mendengarnya,” ucap Ana. Nada suaranya terdengar lega. Meski begitu, Lily tahu Ana merasa lega bukan karena hal itu. Tapi, karena Lily masih tetap bisa mengikat Dimitri. Seandainya dia tahu kejadian hari ini, mamanya sudah pasti akan marah besar dengannya. “Ingat Lily, kamu harus tetap berhubungan baik

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 5

    “Julian! Jaga ucapanmu!” tegur Kayla pada lelaki yang menuding Lily, “Kamu bisa membuatnya menangis. Kasian kan Dimitri nanti makin sibuk dan tidak bisa bermain dengan kita karena harus menenangkannya?”“Aku hanya berbicara yang sebenarnya. Harus ada orang yang menyadarkannya, kan?” dengus Julian tak terima.Seluruh tubuh Lily bergetar melihat teman-teman Dimitri yang lain mengangguk-anggukkan kepala, setuju dengan ucapan Julian. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan; percakapan Kayla dan Julian ini atau ucapan Julian tadi.Tapi, ia tahu ucapan Julian tadi tidak salah. Azalea adalah gadis sempurna. Semua orang menginginkannya, dan Dimitri bukanlah pengecualian. Karena itu, ucapan pria tadi seolah memberikan lubang di hatinya. Membuat dadanya sesak dan terluka.Tahu tidak bisa membendung emosinya lagi, Lily akhirnya bangkit dan berbalik badan. Ia segera pergi dari sana tanpa memerhatikan reaksi teman-teman Dimitri.Gadis itu berjalan tertatih-tatih melewati koridor depan pintu rapa

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 4

    Lily menunggu Dimitri sampai semalaman suntuk. Berpikir bahwa Dimitri mungkin akan tetap datang setelah mengetahui dirinya bersiap. Karena tidak mungkin seorang pria akan menolak godaan itu, kan?Tapi, sampai pagi menjelang, Dimitri ternyata tidak datang. Bahkan tidak ada bekas ia tidur di sebelah Lily, yang berarti ia juga tidak tidur di sana. “Tuan Dimitri ada banyak pekerjaan dari semalam, Nyonya. Karena itu, ia tidak datang ke kamar,” beritahu Rudi dengan raut wajah tak enak saat Lily bertanya, “Pagi ini beliau juga ada rapat. Makanya masih belum sempat pulang.”Alasan yang masuk akal. Apalagi, ia tahu kalau Dimitri memang sibuk. Tapi, setelah berhari-hari ditinggal terus sampai malam hari, Lily menyadari mungkin itu semua alasan belaka.Mungkin saja pria itu sebenarnya hanya enggan untuk bersamanya. Meski dia setuju menikahi Lily sebagai pengganti Azalea, tapi bukan berarti dia juga mau tinggal bersamanya, kan? Karena itu, dia pasti menghindari Lily.Tapi, bukankah itu keterlalu

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 3

    Acara pernikahan berjalan dengan cepat.Tidak ada lagi drama setelah itu. Ia dan Dimitri menjalankan akad dengan lancar. Begitu juga dengan pesta pernikahan mereka. Meski sepanjang acara Lily banyak merasakan tatapan dan bisik-bisik tak mengenakkan dari para tamu.Lily tidak tahu apakah Dimitri juga merasakan hal tersebut sama seperti dirinya. Karena bukankah pria itu harusnya bereaksi meskipun sedikit? Bagaimana pun, ini menyinggung tentang harga dirinya.Tapi, pria itu justru terlihat tenang. Ekspresi wajahnya datar, tidak terlihat terganggu sedikit pun dan sorot matanya juga merefleksikan hal yang sama. Meski begitu, ia juga tidak berusaha untuk mendiamkan tamu atau menenangkan Lily dari berbagai hal tersebut.Dengan kata lain, pria itu hanya tidak peduli saja. Baik situasi ini, maupun dirinya.Tidak masalah. Toh, sejak awal Lily sudah tahu kalau Dimitri bukanlah pria yang baik. Terbukti dari ucapan merendahkannya tadi pada Lily.Karena itu, Lily berusaha untuk tidak memasukkannya

  • Dari Pengganti Jadi Kesayangan   Bab 2

    “Apa? Menikah dengan anakmu yang pincang itu?” Rose menggeram, “Mana sudi kami menerimanya! Apa kalian ingin semakin mempermalukan kami, hah?!”Lily menundukkan kepalanya saat tatapan menghina Rose dilayangkan ke arahnya. Tubuhnya bergetar. Berusaha menahan mati-matian air mata yang hendak keluar.Kenapa semuanya tiba-tiba begini? Belum sembuh ia dari rasa sakit hati karena Evan ikut kabur dengan Azalea, sekarang ia disuruh menggantikan kakaknya itu? Bahkan tanpa berkata apa pun lebih dulu dengannya!Apakah dia memang tidak memiliki arti di mata orang tuanya? Hanya sekadar cadangan? Sosok yang bisa dipakai kapan saja untuk menggantikan kakaknya? Dada Lily terasa sesak.“Sudahlah! Kami tidak mau mendengar apapun lagi. Sebaiknya kalian segera angkat kaki dan membayar hutang pada kita!” seru Rose lagi.“Tapi, Nyonya—”“Aku setuju dengan ide itu.”Suara berat dan dalam itu menyentakkan semua orang. Mereka segera menoleh ke arah pintu dan tercekat ketika melihat pria berperawakan tinggi d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status