LOGINAcara pernikahan berjalan dengan cepat.
Tidak ada lagi drama setelah itu. Ia dan Dimitri menjalankan akad dengan lancar. Begitu juga dengan pesta pernikahan mereka. Meski sepanjang acara Lily banyak merasakan tatapan dan bisik-bisik tak mengenakkan dari para tamu.
Lily tidak tahu apakah Dimitri juga merasakan hal tersebut sama seperti dirinya. Karena bukankah pria itu harusnya bereaksi meskipun sedikit? Bagaimana pun, ini menyinggung tentang harga dirinya.
Tapi, pria itu justru terlihat tenang. Ekspresi wajahnya datar, tidak terlihat terganggu sedikit pun dan sorot matanya juga merefleksikan hal yang sama. Meski begitu, ia juga tidak berusaha untuk mendiamkan tamu atau menenangkan Lily dari berbagai hal tersebut.
Dengan kata lain, pria itu hanya tidak peduli saja. Baik situasi ini, maupun dirinya.
Tidak masalah. Toh, sejak awal Lily sudah tahu kalau Dimitri bukanlah pria yang baik. Terbukti dari ucapan merendahkannya tadi pada Lily.
Karena itu, Lily berusaha untuk tidak memasukkannya ke dalam hati.
Beberapa jam kemudian, acara pernikahan itu akhirnya selesai. Waktunya mereka kembali ke tempat masing-masing.
Dan untuk Lily, waktunya ia pergi ke rumah Dimitri.
Mobil Alphard putih mewah sudah berdiri gagah di depan hotel ketika mereka keluar. Ada berbagai dekorasi pernikahan yang menghiasinya. Terlihat cantik dan mewah, tapi Lily tak merasakan apa pun ketika menatapnya.
Tentu saja. Karena mobil ini seharusnya mengangkut Azalea di dalamnya. Bukan dirinya.
“Ingat kata mama, Lily. Turuti suamimu dan dampingi dia sebaik mungkin sebagai istrinya,” Ana tiba-tiba membuka suara saat Lily beranjak naik ke mobil.
Ana kemudian mendekat dan berbisik padanya. “Buat dirimu berguna di sana. Jangan sampai mereka marah dan mengeluarkanmu sebelum Azalea ditemukan.”
Apa mamanya baru saja mengancamnya?
Menahan rasa bergemuruh dalam hatinya, Lily menjawab singkat, “Baik, Ma.” kemudian beringsut lebih masuk ke dalam mobil.
Mobil itu segera bergerak meninggalkan area pernikahan setelah Dimitri ikut masuk. Membawa Lily dan Dimitri ke rumah mereka.
Tidak ada percakapan apa pun di sepanjang perjalanan. Dimitri tetap diam seperti sepanjang acara dan Lily yang terlalu lelah hanya mampu bersandar pada kaca mobil. Menatap kosong billboard di gedung-gedung pencakar langit yang menampilkan berita acara pernikahan mereka.
‘Dimitri Wijaya, pewaris tunggal Keluarga Wijaya menikah dengan putri bungsu keluarga Kusuma yang cacat. Rumor mengatakan Dimitri harusnya menikahi putri sulung keluarga Kusuma?’
***
Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai di rumah Dimitri.
Rumah itu lima kali lebih besar dibanding rumahnya. Bahkan sampai ada halaman luas dengan air mancur di tengahnya sebagai hiasan.
Pria itu benar-benar hidup di dunia yang berbeda dengannya. Tidak heran Rose menolaknya habis-habisan tadi dan bersikukuh ingin Azalea yang menjadi pendamping Dimitri.
Mobil bergerak menuju pintu utama rumah. Sudah ada pria baruh baya dengan seragam pelayan yang berdiri menunggu mereka di sana, didampingi beberapa maid di sisinya. Ia segera membukakan pintu mobil begitu mereka berhenti.
“Selamat malam, Tuan Dimitri. Apa acara pernikahannya berjalan lancar?” sapanya ramah. Berbanding terbalik sekali dengan tuannya yang masih memasang wajah dingin.
“Ya. Antarkan dia ke kamar, Rudi. Dan suruh para maid untuk mengurusnya,” titah Dimitri singkat sambil mengendikkan pandangan ke Lily di belakangnya.
“Baik, Tuan. Saya akan segera mengantarkannya.”
Dimitri kemudian segera beranjak dari sana. Meninggalkan Lily yang terperangah menatapnya.
Begitu saja? Pria itu meninggalkannya bersama bawahannya yang bahkan belum diperkenalkan padanya?
‘Pria itu memang bukan orang baik,’ dengus Lily dalam hati. Ana pastilah senang karena Azalea tidak perlu menikahinya.
“Selamat malam, Nyonya. Saya yakin Anda adalah istri dari Tuan Dimitri, benar?” tanya Rudi tiba-tiba yang sudah berada di dekat Lily. Gadis itu mengangguk pelan membuat senyum Rudi terukir lebih lebar.
“Saya Rudi. Mulai hari ini akan bertugas membantu Anda. Salam kenal, Nyonya.”
“Salam kenal, saya Lily Kanita. Mohon bantuannya mulai sekarang,” balas Lily canggung sambil menganggukkan kepalanya pelan.
“Mari saya antarkan ke kamar, Nyonya.”
Rudi memanggil para maid yang ada di dekat pintu untuk membantunya. Enam maid segera mengelilingi dirinya membuat Lily kikuk.
Di rumahnya dulu juga ada pelayan, tapi mereka tidak pernah sekali pun membantu Lily. Pekerjaan mereka hanya terfokus pada Azalea dan tentu saja hal itu sudah diarahkan orang tua mereka.
Karena itu, melihat para maid ini membantu membawakan barangnya bahkan bersiaga di sisinya ketika ia berjalan, membuat Lily merasa canggung. Meski akhirnya perasaan itu lenyap saat melihat mereka tercengang ketika Lily berjalan dengan kruk.
Pastilah mereka juga tidak mengira bahwa istri Dimitri adalah gadis cacat sepertinya.
“Ini kamar Anda dan Tuan Dimitri, Nyonya. Mulai sekarang, Anda akan tidur di sini bersama Tuan Dimitri,” ucap Rudi begitu mereka sampai di salah satu kamar.
Kamar itu terlihat besar dan luas. Juga terlihat megah karena berbagai perabotan mewah di dalamnya. Benar-benar berbeda dengan kamar Lily dulu.
Tapi, bukannya takjub, Lily justru merasa sesak dalam hatinya. Ia semakin tersadar bahwa ini semua bukanlah mimpi. Bahwa orang tuanya memang benar-benar membuangnya ke neraka ini, untuk tinggal bersama pria yang bahkan tidak mengharapkannya.
Lily berharap bisa mengulang waktu sekarang.
Rudi kemudian berkata kembali, “Saya akan meninggalkan Anda di sini bersama para maid. Mereka akan menyiapkan Anda untuk malam pertama.”
Lily tersenyum miris. Malam pertama? Apa Dimitri bahkan akan melakukannya dengannya?
Tapi, ia tetap membiarkan para maid menyiapkannya. Meski selanjutnya Lily tercengang karena yang dimaksud membantunya itu bukan sekadar memilihkan pakaian atau melepas gaun pernikahannya, tapi sampai mendandani dirinya juga! Bahkan rambutnya juga ikut ditata bak putri kerajaan.
‘Bukankah ini sedikit berlebihan?’ batin Lily ketika memerhatikan dirinya di depan cermin yang sudah dipoles make-up dan mengenakan gaun tidur selutut berbahan sutra.
Haruskah dia didandani segininya demi malam pertama yang belum jelas akan bagaimana? Apalagi, dia bukan nyonya asli di sini. Tidak seharusnya para maid itu mengerahkan tenaga mereka demi dirinya.
Tetapi, sepertinya mereka tidak mengetahui fakta itu. Sekali pun mereka tahu, tidak mungkin juga mereka akan membantah perintah Dimitri, kan?
“Kalau begitu, kami pamit undur diri dulu, Nyonya,” ucap salah satu maid sambil membungkukkan badan. Di belakangnya, teman-temannya juga mengikuti.
“Kami akan mengabari Tuan Dimitri kalau Anda sudah siap.”
Lily mengangguk, “Terima kasih.”
Keenam maid itu lalu beranjak dari kamar. Meninggalkan Lily seorang diri.
“Sa-Saya mau ke kamar mandi.” Dimitri menaikkan sebelah alisnya. Kemudian seolah mengejek Lily, ia kemudian mengarahkan dagunya ke pintu kamar mandi. Lily menggigit bibirnya tidak sadar. Ia seharusnya memang berpikir lebih dahulu sebelum berbicara. Untuk apa ia harus keluar dari kamar hanya untuk ke kamar mandi. Padahal sudah jelas setiap kamar di rumah ini memiliki kamar mandi sendiri. “Duduk.”Lily seperti mematung membuat suaminya itu kembali mengulangi ucapannya. “Duduk di sini, Lily. Ada yang harus kita bicarakan.” Lily akhirnya menurut karena ia juga tidak punya alasan untuk menolak Dimitri. Ia menaruh kruk di dekatnya yang juga tak luput dari pandangan pria gagah itu. “Kenapa kamu tadi datang ke kantor?Apa ada masalah?” Lily menggeleng. Ia kembali teringat bagaimana teman-teman suaminya tadi memojokkan dan menghina dirinya. Sakit hati sekali dirinya jika harus mengingat hal itu. “Tidak ada masalah. Tadi hanya…”“Hanya apa?” Dimitri memerhatikan Lily yang sepertinya tid
Lily menimbang-nimbang sejenak apakah dia perlu mengangkat telepon tersebut. Ia tahu mamanya pasti akan menanyakan lagi soal hubungannya dengan Dimitri dan Lily sedang tidak mood untuk menanggapinya.Tapi, teringat bahwa ia membutuhkan Azalea dan hanya orang tuanya lah yang mempunyai informasi terkait kakaknya itu, membuat Lily akhirnya memutuskan untuk mengangkatnya.“Halo, Lily. Bagaimana kabarmu? Apa hubunganmu dan Dimitri baik-baik saja?”Ucapan pertama Ana membuat Lily seketika mencengkram ponselnya. Dugaannya ternyata benar. Menarik napas sejenak, Lily akhirnya menjawab, “Kami baik-baik saja. Baru saja tadi aku bertemu dengannya.”“Benarkah? Baguslah kalau begitu. Mama senang mendengarnya,” ucap Ana. Nada suaranya terdengar lega. Meski begitu, Lily tahu Ana merasa lega bukan karena hal itu. Tapi, karena Lily masih tetap bisa mengikat Dimitri. Seandainya dia tahu kejadian hari ini, mamanya sudah pasti akan marah besar dengannya. “Ingat Lily, kamu harus tetap berhubungan baik
“Julian! Jaga ucapanmu!” tegur Kayla pada lelaki yang menuding Lily, “Kamu bisa membuatnya menangis. Kasian kan Dimitri nanti makin sibuk dan tidak bisa bermain dengan kita karena harus menenangkannya?”“Aku hanya berbicara yang sebenarnya. Harus ada orang yang menyadarkannya, kan?” dengus Julian tak terima.Seluruh tubuh Lily bergetar melihat teman-teman Dimitri yang lain mengangguk-anggukkan kepala, setuju dengan ucapan Julian. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan; percakapan Kayla dan Julian ini atau ucapan Julian tadi.Tapi, ia tahu ucapan Julian tadi tidak salah. Azalea adalah gadis sempurna. Semua orang menginginkannya, dan Dimitri bukanlah pengecualian. Karena itu, ucapan pria tadi seolah memberikan lubang di hatinya. Membuat dadanya sesak dan terluka.Tahu tidak bisa membendung emosinya lagi, Lily akhirnya bangkit dan berbalik badan. Ia segera pergi dari sana tanpa memerhatikan reaksi teman-teman Dimitri.Gadis itu berjalan tertatih-tatih melewati koridor depan pintu rapa
Lily menunggu Dimitri sampai semalaman suntuk. Berpikir bahwa Dimitri mungkin akan tetap datang setelah mengetahui dirinya bersiap. Karena tidak mungkin seorang pria akan menolak godaan itu, kan?Tapi, sampai pagi menjelang, Dimitri ternyata tidak datang. Bahkan tidak ada bekas ia tidur di sebelah Lily, yang berarti ia juga tidak tidur di sana. “Tuan Dimitri ada banyak pekerjaan dari semalam, Nyonya. Karena itu, ia tidak datang ke kamar,” beritahu Rudi dengan raut wajah tak enak saat Lily bertanya, “Pagi ini beliau juga ada rapat. Makanya masih belum sempat pulang.”Alasan yang masuk akal. Apalagi, ia tahu kalau Dimitri memang sibuk. Tapi, setelah berhari-hari ditinggal terus sampai malam hari, Lily menyadari mungkin itu semua alasan belaka.Mungkin saja pria itu sebenarnya hanya enggan untuk bersamanya. Meski dia setuju menikahi Lily sebagai pengganti Azalea, tapi bukan berarti dia juga mau tinggal bersamanya, kan? Karena itu, dia pasti menghindari Lily.Tapi, bukankah itu keterlalu
Acara pernikahan berjalan dengan cepat.Tidak ada lagi drama setelah itu. Ia dan Dimitri menjalankan akad dengan lancar. Begitu juga dengan pesta pernikahan mereka. Meski sepanjang acara Lily banyak merasakan tatapan dan bisik-bisik tak mengenakkan dari para tamu.Lily tidak tahu apakah Dimitri juga merasakan hal tersebut sama seperti dirinya. Karena bukankah pria itu harusnya bereaksi meskipun sedikit? Bagaimana pun, ini menyinggung tentang harga dirinya.Tapi, pria itu justru terlihat tenang. Ekspresi wajahnya datar, tidak terlihat terganggu sedikit pun dan sorot matanya juga merefleksikan hal yang sama. Meski begitu, ia juga tidak berusaha untuk mendiamkan tamu atau menenangkan Lily dari berbagai hal tersebut.Dengan kata lain, pria itu hanya tidak peduli saja. Baik situasi ini, maupun dirinya.Tidak masalah. Toh, sejak awal Lily sudah tahu kalau Dimitri bukanlah pria yang baik. Terbukti dari ucapan merendahkannya tadi pada Lily.Karena itu, Lily berusaha untuk tidak memasukkannya
“Apa? Menikah dengan anakmu yang pincang itu?” Rose menggeram, “Mana sudi kami menerimanya! Apa kalian ingin semakin mempermalukan kami, hah?!”Lily menundukkan kepalanya saat tatapan menghina Rose dilayangkan ke arahnya. Tubuhnya bergetar. Berusaha menahan mati-matian air mata yang hendak keluar.Kenapa semuanya tiba-tiba begini? Belum sembuh ia dari rasa sakit hati karena Evan ikut kabur dengan Azalea, sekarang ia disuruh menggantikan kakaknya itu? Bahkan tanpa berkata apa pun lebih dulu dengannya!Apakah dia memang tidak memiliki arti di mata orang tuanya? Hanya sekadar cadangan? Sosok yang bisa dipakai kapan saja untuk menggantikan kakaknya? Dada Lily terasa sesak.“Sudahlah! Kami tidak mau mendengar apapun lagi. Sebaiknya kalian segera angkat kaki dan membayar hutang pada kita!” seru Rose lagi.“Tapi, Nyonya—”“Aku setuju dengan ide itu.”Suara berat dan dalam itu menyentakkan semua orang. Mereka segera menoleh ke arah pintu dan tercekat ketika melihat pria berperawakan tinggi d







