LOGINLampu minyak di rumah teh Wu Laosan diturunkan setengah, dan teh krisan di meja bundar sudah keburu dingin sebelum orang-orang yang duduk di sekelilingnya benar-benar bicara inti persoalan.Mereka datang dengan wajah seolah sedang memikirkan keselamatan Pasar Hantu Shiqiao, padahal tiap kepala di ruangan itu hanya sibuk menakar untung, rugi, dan muka sendiri.Zhou Kaimin duduk paling dekat jendela dengan punggung lurus dan wajah kaku. Di kiri kanannya ada pedagang kulit, penarik iuran lorong, pemilik kios obat liar, pengelola gudang kecil, dan dua lelaki yang biasanya tak pernah bicara keras kecuali saat merasa aman berdiri di tengah kerumunan.Zhao Meiyan berdiri dekat tiang, kipas lipatnya diketuk pelan ke telapak tangan. Wu Laosan tidak ikut duduk di meja rapat, hanya menyandar di balik meja teh sambil menuang cangkir demi cangkir seperti orang tua yang malas ikut campur, walau telinganya menangkap setiap kata lebih b
Lin Yuezhi yang sejak tadi mengikat ulang kain balut Shen Ruolan akhirnya ikut bicara. “Lalu ruang bawah.”Rong Tian menatapnya. “Aku atur sebelum berangkat.”Sisa hari itu dihabiskan bukan dengan pidato perpisahan, melainkan kerja yang makin sunyi. Rong Tian memeriksa ruang bawah, memindahkan dua peti obat untuk membentuk dinding palsu, menutup satu jalur keluar, membuka jalur lain yang hanya bisa dipakai dari dalam, dan menanam dua lapis jebakan di dekat ruang tempat dua saksi disimpan.Qingfeng mengubah susunan meja obat luar agar terlihat biasa bagi mata orang pasar, tetapi mematikan bagi siapa pun yang menyentuhnya tanpa tahu urutan. Wang Fu memeriksa pintu depan, kusen jendela, atap samping, dan semua sudut yang semalam pernah dipakai orang masuk.Xiao Li naik turun loteng seperti bayangan kecil yang tak bisa diam. Ia menaruh penanda di atap, memeriksa papan longgar, men
Shen Ruolan membalas tatapan itu dengan rahang kencang. “Kalau aku terus disimpan di sini, buat apa aku hidup.”“Untuk menjadi bukti,” kata Rong Tian tanpa meninggikan nada. “Bukti hidup lebih berharga daripada mayat yang berangkat dengan marah lalu tak pernah kembali.”Tak ada satu pun kata dalam kalimat itu yang lembut, tetapi justru karena benar, ia menghantam lebih dalam. Shen Ruolan menahan napas. Mo Lian memalingkan wajah sejenak, seolah perlu satu tarikan penuh agar tak meledak.Qingfeng yang sedari tadi diam akhirnya melangkah dari ruang belakang dengan mangkuk obat di tangan. “Dia benar,” katanya, suara tenangnya memecah benturan tanpa menghapus tepinya. “Orang luar sudah tahu dua saksi ada di bawah atap ini. Kalau kalian tiba-tiba hilang, mereka justru mendapat kepastian bahwa rumah obat sedang bergerak.”Mo Lian menoleh padanya de
Pagi di Shiqiao datang dengan bunyi-bunyi yang biasa, tetapi tak satu pun terdengar biasa. Teh di rumah Wu Laosan tetap diseduh, roti kukus tetap dijual, penarik iuran lorong tetap berjalan sambil membawa papan hitung, dan penjual mi masih mengaduk kuahnya dari balik uap.Namun suara mereka semua turun setengah tingkat, langkah mereka lebih hati-hati, dan tak ada lagi orang yang berani berdiri lama di depan Balai Pengobatan Bulan Patah sambil membuang ludah atau komentar seenaknya.Malam sebelumnya telah memukul blok utara dengan cara yang lebih telanjang daripada duel. Orang-orang masih mengaku pada diri sendiri bahwa mereka cuma terpeleset, cuma salah duduk, cuma kaget karena atap bergetar, tapi tak satu pun bisa menipu tulang lututnya sendiri.Zhao Meiyan berdiri di ambang rumah teh sambil menatap orang-orang yang lewat di depan balai. “Lihat mulut mereka. Semalam dipaksa menempel lantai, pagi ini langsung belaj
Wang Fu berdiri di ambang seperti batu besar yang tak bergerak meski debu halus dari atap jatuh ke bahunya.Xiao Li yang tadi baru selesai mengusir dua pengintai dari loteng kini menatap lorong dengan mata lebar, menyaksikan orang-orang yang terlalu lama merasa bisa menghitung Balai Pengobatan Bulan Patah akhirnya dipaksa berlutut oleh sesuatu yang sama sekali tak memedulikan harga lapak, status dagang, atau keberanian murahan.Qingfeng turun setengah langkah dari pintu ruang dalam, menjaga dua saksi dengan satu tangan dan menahan gelombang luar dengan qi tipis di tangan lainnya. Jarum-jarum di meja bergetar makin nyaring, seperti suara logam kecil yang menyanyikan satu nada terlalu tajam.“Dia sudah menyentuh batasnya,” kata Qingfeng.Wang Fu tak menoleh. “Kalau orang-orang luar masih tidak paham sesudah ini, berarti tulang kepala mereka terlalu tebal.”D
Rong Tian mengangkat tangan kanan dan membiarkan qi bergerak ke ujung dua jari. Kali ini ia tidak mendorong tenaga keluar seperti gelombang, melainkan menahannya sampai tipis, sampai rasa tajamnya berkumpul dan berubah dari kemarahan menjadi niat.Di atas, Qingfeng baru saja menaruh kain balut ketika mangkuk air hangat di meja bergerak lagi. Bukan hanya bergetar, melainkan membentuk lingkaran kecil yang terus berlari ke sisi mangkuk.Wang Fu segera melangkah ke ambang dan menutup pintu setengah. “Tidak ada yang masuk.”Xiao Li sudah bergerak ke lorong luar. “Yang berdiri terlalu dekat, mundur. Kalau masih ingin menempel di jendela, cari ibu kalian untuk mengantar.”Seorang penjaga loteng yang berdiri di atas tong kayu mendecih. “Jangan sok besar kepala. Kami cuma mau lihat.”Xiao Li menatapnya dari bawah. “Kalau cuma mau lihat, kuberi nas
Mo Yan dan Xue Sha telah memilih kuil kumuh ini sebagai lokasi perangkap mereka dengan cermat.Seorang pengemis tua, yang sebenarnya adalah kaki tangan Mo Yan, duduk di dekat gerbang kuil. Wajahnya berkerut, pakaiannya compang-camping."Nak," panggil pengemis tua itu saat melihat Xiao Li mendekat,
Kedua pelayan itu langsung membuka mata, napas mereka tersengal, dada naik turun dengan cepat.Wang Fu menatap Rong Tian dengan cemas, matanya penuh keputusasaan. "Tuan... kami... kami tidak bisa," ucapnya dengan nada putus asa, suaranya serak. "Energi di dalam kami menolak. Rasanya seperti api dan
Pagi di Kota Sembilan Ngarai selalu dimulai dengan hiruk-pikuk yang sama. Wangi teh herbal dan roti kukus bercampur dengan suara tawar-menawar pedagang dan langkah kaki kultivator yang tergesa.Di sebuah penginapan sederhana namun bersih di pinggir distrik pasar, Rong Tian duduk tenang di meja kayu
Aula Kuil Awan Berarak masih memancarkan aura dingin kematian. Mayat-mayat pembunuh Sekte Iblis Teratai Bulan Perak telah Rong Tian geser ke sudut dengan gerakan tangan yang cepat, namun bau darah segar masih menguar di udara malam.Cahaya bulan menembus celah-celah atap yang runtuh, menciptakan po







