Share

Tiga Demigod Kuno

Author: Jimmy Chuu
last update publish date: 2026-01-07 18:32:33

"Jiwa Muda level delapan," pikir Rong Tian dengan keterkejutan yang semakin besar. "Dan usianya... paling tidak enam ratus delapan puluh tahun! Bagaimana mungkin dia masih hidup?!"

Sosok kedua, yang berada di kanan. Auranya seperti batu gunung yang kokoh, tidak bergerak, namun mengandung kekuatan eksplosif yang mengerikan. Otot-ototnya terlihat padat meskipun dia sudah sangat tua. Ini adalah aura seorang ahli bela diri fisik yang telah mencapai puncak.

"Jiwa Muda level delapan juga," lanjut Ron
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
makin seru dan penasaran
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Getar dari Utara

    Malam itu, di atas kapal spiritual kecil yang melaju di atas arus qi dingin, Rong Tian membuka segel kecil di lengan jubahnya. Dari ruang lipatan yang disembunyikan di bawah lapisan kain, sebuah pedang memancarkan cahaya hangat yang sangat tipis, tidak menyala ganas, tetapi cukup untuk membuat permukaan air di bawah kapal berkilau seperti bara dalam abu.Pedang Matahari terbaring di telapak tangannya. Pedang itu bukan rampasan yang pernah diumumkan, bukan pula piala kemenangan yang dibawa ke depan banyak saksi, melainkan sisa dari Bai Lie, seorang lawan yang pernah cukup tajam untuk melihat bayangan masa lalu Rong Tian sebelum tubuhnya jatuh ke Laut Timur.Setelah Bai Lie mati, Rong Tian tidak membiarkan pedang itu menjadi rebutan gelombang, monster laut, atau tangan kultivator rakus yang kelak akan menjual nama orang mati demi reputasi. Ia turun diam-diam ke kedalaman Laut Timur, mengambil Pedang Matahari dari pasir hitam dan karang retak,

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Dunia yang Terlalu Sunyi

    Retakan di langit Benua Longhai sudah menutup, tetapi bekasnya masih tertinggal di puncak Gunung Xuandu seperti guratan luka tua yang tidak ingin dibicarakan orang. Angin melewati batu pecah dan panji kusam, membawa sisa debu perang yang dulu membuat sekte, kaisar, prajurit, dan pendekar kecil menahan napas di bawah bayang-bayang dua abadi.Rong Tian berdiri di tepi tebing dengan jubah putih yang kini tidak lagi asing bagi Dataran Tengah Benua Longhai. Di kaki gunung, beberapa rombongan pendekar melewati jalur batu dengan suara tertahan, sebagian memberi hormat dari jauh, sebagian lain menundukkan kepala setelah memastikan sosok itu benar-benar bukan bayangan kabut.Di masa lalu, suara seperti itu sering membawa tantangan, fitnah, atau niat membunuh yang disembunyikan di balik sapaan sopan. Hari ini, semuanya berubah menjadi jarak yang sangat tertib, dan justru jarak itulah yang membuat Rong Tian merasa dunia fana semakin kehilangan suara yang pernah membuat pedangnya bergerak.Seoran

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Dunia Fana yang Mencela Penahannya

    “Dengar. Yang Mulia naik karena langit mengakuinya,” katanya, tetapi matanya tidak berani menatap retakan yang terus melebar.Seorang saksi dari wilayah barat Kekaisaran Bai Feng membalas, “Kalau Tuan Jubah Putih tertahan karena dosa, mengapa retakan ini menunggu tangannya?”“Siapa yang tahu hukum langit?” sahut sekte kecil lain, berusaha mencari aman. “Bisa saja ia punya hutang kepada Benua Longhai.”Pengawal Balai Angin Senja maju setengah langkah. “Kalau punya hutang berarti dia sedang membayar dengan menyelamatkan kalian, bukan dengan menjual nyawa orang lain seperti pengecut.”Perdebatan itu tidak berhenti di Gunung Xuandu. Sebelum malam tiba, kabar mulai turun lewat murid-murid yang pulang, prajurit yang menulis laporan, pengawal karavan yang menahan gemetar, dan biksu muda yang membawa murid pingsan menuju kaki gunung.

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Penjaga Gerbang Surga Rendah

    Zhang Qingshan menoleh kepada murid Sekte Gunung Xuandu. “Bawa yang pingsan turun. Perbaiki formasi pelataran semampu kalian, dan jangan ikut menjual lidah sebelum batu di bawah kaki kalian berhenti retak.”Perintah itu membuat murid-muridnya bergerak. Beberapa mengangkat murid luar yang tak sadarkan diri, beberapa menutup retakan kecil dengan formasi darurat, sementara lonceng yang pecah di sudut atap masih bergetar tanpa suara, membuat bulu kuduk para saksi meremang.Liang Cheng tetap diam, tetapi diamnya lebih banyak mengatakan sesuatu daripada perintahnya. Ia melihat Jubah Perak mundur setengah langkah, melihat pintu cahaya menarik Yang Mulia lebih dulu, dan melihat Rong Tian masih berdiri di hadapan retakan yang belum tertutup.Ia tidak berani memerintahkan Tentara Serigala Perak menyerang. Bahkan fanatik yang paling keras pun tahu pasukan mereka akan menjadi korban pertama jika retakan Gunung Xuandu mel

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Yang Mundur Justru Dijemput Langit

    Cahaya dunia lebih tinggi mulai menarik tubuh Jin Xuanwei. Ia tidak berteriak, tidak meminta tolong, dan tidak terlihat panik, hanya menatap Rong Tian dengan dingin seperti seseorang yang memahami bahwa panggung berikutnya telah terbuka lebih cepat dari rencana siapa pun.Rong Tian bergerak hendak mengejar, tetapi Cermin Sutra Ruang Waktu di dalam jiwanya bergetar begitu keras sampai garis perak di udara berubah tajam seperti bilah. Di atas Gunung Xuandu, cahaya itu menarik Jubah Perak semakin jauh, sementara di bawahnya ribuan saksi saling memandang dengan pertanyaan yang sama, mengapa orang yang baru saja terdorong mundur justru menjadi yang pertama diambil langit?Kepergian Jubah Perak tidak melahirkan sorak-sorai di Gunung Xuandu. Yang tersisa adalah pelataran retak, lonceng gunung yang pecah di salah satu sudut atap, murid-murid lemah yang pingsan karena residu pusaka, dan Tentara Serigala Perak yang berdiri bingung di bawah panji merek

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Setengah Langkah yang Mengguncang Benua Longhai

    Kalung Bintang Pemusnah memberi satu denyut daya tembus. Rong Tian menahannya agar tidak menjadi ledakan, hanya membiarkan satu titik tekanan masuk ke pusat langkah Jin Xuanwei, tepat pada saat Sepatu Jejak Langit hendak memotong jarak berikutnya.Cahaya emas memekik di udara. Bau logam terbakar menyebar, membuat beberapa prajurit menutup hidung, dan panji serigala di bawah tangga berhenti berkibar seolah kain itu sendiri takut mengganggu benturan dua kekuatan.Tekanan balik dari Istana Pedang memaksa Jin Xuanwei menggeser kaki setengah langkah ke belakang, dan gerak kecil itu langsung membuat garis perak Sepatu Jejak Langit bergetar di udara. Ribuan mata di Gunung Xuandu menangkapnya serempak, dari murid kecil yang masih gemetar di sisi tangga sampai prajurit Tentara Serigala Perak yang menggenggam tombak dengan tangan basah oleh keringat.Beberapa orang yang sejak tadi berlutut tanpa berani mengangkat kepala akhirnya m

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Tak Ada yang Berani Menghadang

    Ma Cheng bangkit perlahan dengan kaki yang masih gemetar. "Aku dulunya tidak percaya cerita tentang kultivator abadi," katanya sambil menatap Rong Tian dengan mata yang penuh kekaguman. "Sekarang aku tahu mereka ada. Dan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."Liu An berbicara dengan nada yan

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Bangkitnya Pedang Hitam

    Jarum itu jatuh ke bawah dengan tidak berdaya seperti kehilangan semua kekuatan yang mendorongnya, seperti kehilangan semua energi spiritual yang memberinya kekuatan.Kawat Qi tersembunyi Kael meluncur dengan sangat cepat, tetapi berhenti mendadak tepat di depan Rong Tian. Seolah menabrak dinding i

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Arus Menuju Kota Ashgar

    Kemudian, Liu An tiba-tiba menahan napas. Matanya melebar menatap ke bawah dengan tatapan yang sangat terkejut."Kapten," katanya dengan suara yang hampir berbisik karena tidak percaya. "Lihat itu."Gu Han menoleh cepat, mengikuti arah pandangan Liu An. Matanya langsung menyipit melihat pemandangan

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Zaman Berpihak

    Murid-murid Biarawati Thunder yang melihat dari jarak aman di belakang dengan tubuh gemetar menelan ludah dengan sangat susah payah. Tenggorokan mereka terasa kering dan sesak melihat kekuatan guru mereka yang begitu mengerikan."Guru semakin kuat dengan cara yang sangat menakutkan," bisik salah sa

    last updateLast Updated : 2026-03-28
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status