MasukKalung Bintang Pemusnah memberi satu denyut daya tembus. Rong Tian menahannya agar tidak menjadi ledakan, hanya membiarkan satu titik tekanan masuk ke pusat langkah Jin Xuanwei, tepat pada saat Sepatu Jejak Langit hendak memotong jarak berikutnya.Cahaya emas memekik di udara. Bau logam terbakar menyebar, membuat beberapa prajurit menutup hidung, dan panji serigala di bawah tangga berhenti berkibar seolah kain itu sendiri takut mengganggu benturan dua kekuatan.Tekanan balik dari Istana Pedang memaksa Jin Xuanwei menggeser kaki setengah langkah ke belakang, dan gerak kecil itu langsung membuat garis perak Sepatu Jejak Langit bergetar di udara. Ribuan mata di Gunung Xuandu menangkapnya serempak, dari murid kecil yang masih gemetar di sisi tangga sampai prajurit Tentara Serigala Perak yang menggenggam tombak dengan tangan basah oleh keringat.Beberapa orang yang sejak tadi berlutut tanpa berani mengangkat kepala akhirnya m
Gerbang pertama retak dari sisi atas. Suara retaknya terdengar panjang, membuat beberapa murid sekte kecil menekuk bahu seolah tulang mereka ikut dirayapi patahan.Jubah Bumi Bergetar di tubuh Rong Tian menyerap getaran itu dan menyalurkannya ke batu pelataran. Retakan yang sempat merambat ke arah saksi berhenti beberapa jengkal dari kaki seorang murid Biara Tiantai, membuat anak muda itu jatuh terduduk dengan wajah kosong.Lonceng Jiwa Senyap berdenting halus di kedalaman Rong Tian, menahan gelombang jiwa yang ikut dibakar Api Nirwana. Pada saat yang sama, Kalung Bintang Pemusnah di dadanya berdenyut seperti langit malam yang ingin pecah, tetapi jari Rong Tian menekannya sebelum cahaya bintang itu naik penuh dan menyeret para saksi lemah ke dalam ledakan balasan.“Dia masih menahan diri,” bisik murid Akademi Linchuan dengan bibir kering.Murid di sebelahnya menggenggam lengan sendiri. &l
Gunung Xuandu sudah kehilangan ketenangan lamanya ketika cahaya merah keemasan di tangan Kaisar Jin Xuanwei mulai membuka napas. Batu pelataran retak dari tangga utama sampai pilar tua, murid-murid Sekte Gunung Xuandu dibawa turun oleh biksu Biara Tiantai, sementara Tentara Serigala Perak berdiri kaku di bawah panji yang warnanya tampak pucat di antara kabut.Biksu Mingyuan duduk bersila di sisi pelataran, tasbih kayunya bergerak tanpa henti di antara jari-jari tua yang mulai memutih. Setiap butir tasbih yang saling menyentuh terdengar seperti bunyi tulang kecil, menahan gelombang panas dari Sarung Tangan Api Nirwana agar murid-murid lemah tidak langsung terseret ke dalam tekanan dua Abadi.Chen Shouyi berdiri tidak jauh dari sana, kuasnya tergantung di atas lembar bambu. Ia ingin mencatat, tetapi tinta di ujung kuas mulai mengering oleh panas qi yang merayap di udara, meninggalkan kerak tipis sebelum satu kalimat pun selesai.Di tepi tangga bawah, prajurit muda Tentara Serigala Perak
Benturan pertama tertahan di antara dua hukum, menekan ruang sampai rambut para saksi bergerak mundur dan tepi lengan jubah mereka menempel ke tubuh. Bau batu panas naik dari retakan lantai, bercampur dengan getah pinus yang pecah dari batang tua di sisi pelataran.Di lantai pelataran, retakan memanjang dari titik benturan sampai pilar batu paling dekat. Garis itu berhenti tepat sebelum mencapai kaki seorang murid kecil, seolah kehendak pedang Rong Tian sengaja menutup jalannya di sana.Murid itu menatap retakan di depan sepatunya. Wajahnya kehilangan warna, dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia mengerti bahwa satu tebasan Abadi bukan sesuatu yang bisa dibicarakan dengan bahasa ujian sekte.Di antara para saksi, beberapa orang yang dulu meragukan Rong Tian kini tidak lagi berani mengangkat wajah terlalu tinggi. Mereka pernah mengira Tuan Jubah Putih hanyalah orang luar yang pandai mempermalukan sekte kecil, tabib, for
Chen Shouyi menurunkan kuas ke lembar catatan baru, tetapi tangannya berhenti sesaat sebelum tinta menyentuh bambu. Ia memandang orang-orang yang masih berlutut, lalu mereka yang berdiri dengan ragu, dan akhirnya menulis perlahan bahwa Dewa Perak tidak kehilangan kekuatan, tetapi hari ini jarak sucinya mulai retak di depan banyak saksi.Zhang Qingshan membaca perubahan itu dari wajah para murid Sekte Gunung Xuandu. Sebagian masih gemetar di bawah tekanan cahaya perak, sebagian terpaku pada Rong Tian yang tidak menunduk, dan beberapa mulai memahami bahwa arena di depan mereka tidak lagi sepenuhnya milik satu sekte, satu kekaisaran, atau satu hukum lama.Jin Xuanwei juga melihat perubahan kecil itu. Tatapannya berhenti lebih lama pada Rong Tian, lalu suaranya turun dengan ketenangan yang membuat para saksi di bawah tangga kembali menahan napas. “Kau membuat saksi terlalu banyak.”“Agar dunia punya cukup m
Liang Cheng masih berdiri di depan pasukannya. Harga dirinya baru saja jatuh bersama formasi Tentara Serigala Perak, tetapi ketika cahaya perak muncul di langit, wajahnya mengangkat kembali seolah ia menemukan tiang untuk menyandarkan malu.“Yang Mulia datang,” bisiknya.Ucapan itu menyebar lebih cepat daripada perintah militer. Beberapa prajurit muda Tentara Serigala Perak langsung berlutut, bukan karena disuruh, tetapi karena sejak kecil mereka dibesarkan untuk percaya bahwa Dewa Perak tidak turun ke dunia fana untuk urusan kecil.Di barisan saksi, seorang tetua sekte kecil ikut menekuk lutut. Murid di belakangnya ragu, menatap gurunya, lalu menunduk setengah badan karena takut tampak kurang hormat.Namun tidak semua orang berlutut. Pengawal dari Balai Angin Senja tetap berdiri dengan tangan menahan gagang pedang, sedangkan beberapa murid Akademi Linchuan hanya menoleh kepada Chen Shouy
Jauh di dalam Istana Kekaisaran Lingxiao Tian, tersembunyi sebuah ruang rahasia yang hanya diketahui oleh segelintir orang. Ruangan itu tidak besar, dindingnya diukir dengan naga dan awan yang saling berkelindan.Cahaya rembulan menembus celah jendela tinggi, jatuh menerangi lantai marmer hitam yan
Rong Tian melangkah lebih dalam ke Makam Pedang Kekaisaran. Kegelapan semakin pekat, hanya diterangi oleh cahaya samar yang keluar dari celah-celah dinding batu. Udara di sini dingin dan lembap, membawa bau logam berkarat yang bercampur dengan debu ribuan tahun.Di sepanjang jalan, gundukan tanah m
Di tengah Makam Pedang, Rong Tian berdiri tegak. Lonceng Jiwa Senyap di satu tangan, memancarkan aura kuno yang menenangkan. Pedang kayu persiknya yang patah ia genggam di tangan lainnya.Meskipun pedang itu hanya separuh, ia memegangnya dengan penuh hormat, seolah itu adalah pusaka paling berharga
Di gerbang Makam Pedang, Master Yuan, Jenderal Fang, dan Penasihat Tua Lin masih berdiri. Kebingungan dan kekalahan masih terpancar dari wajah mereka. Mereka berbicara dengan suara pelan, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.Tiba-tiba, sebuah gelombang suara lonceng raksasa menghantam merek







