Teilen

Tiga Demigod Kuno

last update Veröffentlichungsdatum: 07.01.2026 18:32:33

"Jiwa Muda level delapan," pikir Rong Tian dengan keterkejutan yang semakin besar. "Dan usianya... paling tidak enam ratus delapan puluh tahun! Bagaimana mungkin dia masih hidup?!"

Sosok kedua, yang berada di kanan. Auranya seperti batu gunung yang kokoh, tidak bergerak, namun mengandung kekuatan eksplosif yang mengerikan. Otot-ototnya terlihat padat meskipun dia sudah sangat tua. Ini adalah aura seorang ahli bela diri fisik yang telah mencapai puncak.

"Jiwa Muda level delapan juga," lanjut Ron
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
makin seru dan penasaran
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Dunia Fana yang Mencela Penahannya

    “Dengar. Yang Mulia naik karena langit mengakuinya,” katanya, tetapi matanya tidak berani menatap retakan yang terus melebar.Seorang saksi dari wilayah barat Kekaisaran Bai Feng membalas, “Kalau Tuan Jubah Putih tertahan karena dosa, mengapa retakan ini menunggu tangannya?”“Siapa yang tahu hukum langit?” sahut sekte kecil lain, berusaha mencari aman. “Bisa saja ia punya hutang kepada Benua Longhai.”Pengawal Balai Angin Senja maju setengah langkah. “Kalau punya hutang berarti dia sedang membayar dengan menyelamatkan kalian, bukan dengan menjual nyawa orang lain seperti pengecut.”Perdebatan itu tidak berhenti di Gunung Xuandu. Sebelum malam tiba, kabar mulai turun lewat murid-murid yang pulang, prajurit yang menulis laporan, pengawal karavan yang menahan gemetar, dan biksu muda yang membawa murid pingsan menuju kaki gunung.

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Penjaga Gerbang Surga Rendah

    Zhang Qingshan menoleh kepada murid Sekte Gunung Xuandu. “Bawa yang pingsan turun. Perbaiki formasi pelataran semampu kalian, dan jangan ikut menjual lidah sebelum batu di bawah kaki kalian berhenti retak.”Perintah itu membuat murid-muridnya bergerak. Beberapa mengangkat murid luar yang tak sadarkan diri, beberapa menutup retakan kecil dengan formasi darurat, sementara lonceng yang pecah di sudut atap masih bergetar tanpa suara, membuat bulu kuduk para saksi meremang.Liang Cheng tetap diam, tetapi diamnya lebih banyak mengatakan sesuatu daripada perintahnya. Ia melihat Jubah Perak mundur setengah langkah, melihat pintu cahaya menarik Yang Mulia lebih dulu, dan melihat Rong Tian masih berdiri di hadapan retakan yang belum tertutup.Ia tidak berani memerintahkan Tentara Serigala Perak menyerang. Bahkan fanatik yang paling keras pun tahu pasukan mereka akan menjadi korban pertama jika retakan Gunung Xuandu mel

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Yang Mundur Justru Dijemput Langit

    Cahaya dunia lebih tinggi mulai menarik tubuh Jin Xuanwei. Ia tidak berteriak, tidak meminta tolong, dan tidak terlihat panik, hanya menatap Rong Tian dengan dingin seperti seseorang yang memahami bahwa panggung berikutnya telah terbuka lebih cepat dari rencana siapa pun.Rong Tian bergerak hendak mengejar, tetapi Cermin Sutra Ruang Waktu di dalam jiwanya bergetar begitu keras sampai garis perak di udara berubah tajam seperti bilah. Di atas Gunung Xuandu, cahaya itu menarik Jubah Perak semakin jauh, sementara di bawahnya ribuan saksi saling memandang dengan pertanyaan yang sama, mengapa orang yang baru saja terdorong mundur justru menjadi yang pertama diambil langit?Kepergian Jubah Perak tidak melahirkan sorak-sorai di Gunung Xuandu. Yang tersisa adalah pelataran retak, lonceng gunung yang pecah di salah satu sudut atap, murid-murid lemah yang pingsan karena residu pusaka, dan Tentara Serigala Perak yang berdiri bingung di bawah panji merek

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Setengah Langkah yang Mengguncang Benua Longhai

    Kalung Bintang Pemusnah memberi satu denyut daya tembus. Rong Tian menahannya agar tidak menjadi ledakan, hanya membiarkan satu titik tekanan masuk ke pusat langkah Jin Xuanwei, tepat pada saat Sepatu Jejak Langit hendak memotong jarak berikutnya.Cahaya emas memekik di udara. Bau logam terbakar menyebar, membuat beberapa prajurit menutup hidung, dan panji serigala di bawah tangga berhenti berkibar seolah kain itu sendiri takut mengganggu benturan dua kekuatan.Tekanan balik dari Istana Pedang memaksa Jin Xuanwei menggeser kaki setengah langkah ke belakang, dan gerak kecil itu langsung membuat garis perak Sepatu Jejak Langit bergetar di udara. Ribuan mata di Gunung Xuandu menangkapnya serempak, dari murid kecil yang masih gemetar di sisi tangga sampai prajurit Tentara Serigala Perak yang menggenggam tombak dengan tangan basah oleh keringat.Beberapa orang yang sejak tadi berlutut tanpa berani mengangkat kepala akhirnya m

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Istana Pedang Menahan Langit

    Gerbang pertama retak dari sisi atas. Suara retaknya terdengar panjang, membuat beberapa murid sekte kecil menekuk bahu seolah tulang mereka ikut dirayapi patahan.Jubah Bumi Bergetar di tubuh Rong Tian menyerap getaran itu dan menyalurkannya ke batu pelataran. Retakan yang sempat merambat ke arah saksi berhenti beberapa jengkal dari kaki seorang murid Biara Tiantai, membuat anak muda itu jatuh terduduk dengan wajah kosong.Lonceng Jiwa Senyap berdenting halus di kedalaman Rong Tian, menahan gelombang jiwa yang ikut dibakar Api Nirwana. Pada saat yang sama, Kalung Bintang Pemusnah di dadanya berdenyut seperti langit malam yang ingin pecah, tetapi jari Rong Tian menekannya sebelum cahaya bintang itu naik penuh dan menyeret para saksi lemah ke dalam ledakan balasan.“Dia masih menahan diri,” bisik murid Akademi Linchuan dengan bibir kering.Murid di sebelahnya menggenggam lengan sendiri. &l

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Hukum Dunia Retak di Gunung Xuandu

    Gunung Xuandu sudah kehilangan ketenangan lamanya ketika cahaya merah keemasan di tangan Kaisar Jin Xuanwei mulai membuka napas. Batu pelataran retak dari tangga utama sampai pilar tua, murid-murid Sekte Gunung Xuandu dibawa turun oleh biksu Biara Tiantai, sementara Tentara Serigala Perak berdiri kaku di bawah panji yang warnanya tampak pucat di antara kabut.Biksu Mingyuan duduk bersila di sisi pelataran, tasbih kayunya bergerak tanpa henti di antara jari-jari tua yang mulai memutih. Setiap butir tasbih yang saling menyentuh terdengar seperti bunyi tulang kecil, menahan gelombang panas dari Sarung Tangan Api Nirwana agar murid-murid lemah tidak langsung terseret ke dalam tekanan dua Abadi.Chen Shouyi berdiri tidak jauh dari sana, kuasnya tergantung di atas lembar bambu. Ia ingin mencatat, tetapi tinta di ujung kuas mulai mengering oleh panas qi yang merayap di udara, meninggalkan kerak tipis sebelum satu kalimat pun selesai.Di tepi tangga bawah, prajurit muda Tentara Serigala Perak

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Meridian yang Berkhianat

    Seiring kata-katanya, Idris Zhadir, Rafiq Mahrun, dan dua Pelindung lainnya bergerak ke titik-titik tertentu di tepi dataran. Mereka berjalan dengan langkah yang terukur dan sangat tahu apa yang mereka lakukan.Hasilnya segera terasa. Udara di sekitar dataran berubah sedikit lebih berat. Tekanan ya

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-31
  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Racun di Balik Pasir

    Biarawati Thunder dari Sekte Bunga Salju mengatupkan bibirnya sangat rapat. Gigi gerahamnya bertemu dengan tekanan yang membuat rahangnya sakit.Pimpinan Li Mingyuan dari Sekte Awan Sembilan Keabadian mengangkat tangan kanannya setengah. Seperti ingin berbicara.Lalu menurunkannya kembali. Tidak ad

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-31
  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Seratus Jurus yang Tak Menyentuh

    "Ini bukan pertarungan, ini lelucon!" sahut yang lain dengan tawa yang sangat terbahak-bahak.Bahkan beberapa pimpinan sekte ortodoks yang tadinya penasaran kini terdiam dengan wajah yang sangat heran dan sangat bingung. Li Mingyuan menatap pedang kayu itu dengan alis yang terangkat sangat tinggi.

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-30
  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Kuda Hitam yang Bergerak

    "Lima belas jurus," kata Feng Cangyun dengan suara yang sangat lemah namun masih sangat jelas."Aku kalah."Rakhim mengangguk dengan cara yang sangat menghormati."Kau lebih baik dari yang kukira," katanya dengan nada yang sangat tulus."Lima belas jurus melawan aku tanpa menggunakan senjata adalah

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-30
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status