LOGINSeorang prajurit Haneulguk muda di sisi kanan berdiri dengan wajah merah. "Komandan, dua orang kita sudah terluka! Kita diam saja?""Tangan di samping tubuh!" jawab Yoon Jaeseok dengan nada yang tidak memberi ruang. "Semua orang!""Kita bukan pengecut!" balas prajurit muda itu. "Mereka menembak lebih dulu!""Dan kalau kau menembak balik," kata Yoon Jaeseok dengan suara yang turun satu oktaf namun terdengar lebih keras dari sebelumnya, "kau yang memulai perang. Bukan mereka. Pahami itu."Namun seorang penembak Haneulguk di sisi kanan sudah melepaskan tiga serangan Qi balasan sebelum perintah itu sempat menahannya. Ia bertindak berdasarkan insting seseorang yang menyaksikan kawannya terluka.Krek. Krek. Krek.Lambung dua kapal Yamatsukuni retak di bawah garis air.Di kapal pengintai Yamatsukuni, Ishida Toru berdiri dengan rahang yang mengen
Zhao Wuchen duduk di batu karang yang sama dengan Guo Haishan tanpa meminta izin.Guo Haishan meletakkan cangkir tehnya ke permukaan batu dengan suara yang lebih keras dari yang diperlukan. Matanya tetap ke laut di depannya."Kau mau bicara tentang seseorang," kata Guo Haishan. "Bukan tentang cara masuk zona. Tentang orangnya.""Tepat," jawab Zhao Wuchen sambil tangannya bertumpu di lututnya."Tiga level 9 sudah mencoba," kata Guo Haishan sambil ia akhirnya menoleh, matanya tidak menyembunyikan skeptismenya."Takeda Raigen. Kang Baekryong. Master Seo Hwan. Tiga nama yang disebut jianghu dengan hormat selama puluhan tahun. Semuanya gagal. Kau dan aku berdua jauh di bawah level mereka. Dasar apa yang kau pakai untuk bicara tentang seseorang yang bisa berhasil?""Justru karena mereka level 9," jawab Zhao Wuchen dengan nada yang sangat datar. "Zona itu menyerap Q
Di kapalnya di sisi utara zona, Takeda Raigen duduk di ruang navigasi.Peta Laut Xinghai terbuka di depan meja.Bekas sensasi panas di meridian tangannya masih belum sepenuhnya hilang.Seorang perwira dari armada utama baru saja tiba."General Kang Baekryong kembali ke armada Haneulguk," lapor perwira itu."Ia mencoba dari jalur selatan."Takeda Raigen mengangguk sedikit."Hasilnya sama?""Dari yang bisa kami lihat, ya."Perwira itu menelan ludah sebelum melanjutkan."Kapalnya terdorong mundur hampir sejauh kapal Tuan Jenderal."Ia berhenti sebentar."Dan Master Seo Hwan terlihat kapalnya terangkat dari dalam zona."Takeda Raigen menatap peta."Zona itu tidak bereaksi terhadap kekuatan."
Kapal Master Seo Hwan tiba-tiba terangkat.Bukan perlahan.Seluruh badan kapal terlontar beberapa chi ke atas seolah ada tangan raksasa yang mendorongnya dari bawah laut. Air di sekelilingnya terbelah dan jatuh kembali seperti hujan.Sesaat kemudian kapal itu jatuh kembali ke permukaan.Benturannya keras.Papan-papan kayu berderak dari setiap sambungan. Suaranya terdengar sampai puluhan langkah di permukaan laut. Tiang layar retak di bagian tengah dengan bunyi kering yang panjang.Beberapa tali layar terlepas.Master Seo Hwan menggenggam sisi kapal.Seluruh tulangnya bergetar dari tekanan yang menjalar melalui badan kapal. Getaran itu naik dari papan kayu ke telapak kakinya, lalu ke meridian tubuhnya.Napasnya terpotong selama beberapa detik.Darah di dadanya terasa berputar.
Takeda Raigen menggenggam tiang kapal dengan satu tangan.Tubuhnya menyerap guncangan itu tanpa bergeser.Meridian di tangan kanannya terasa panas.Bukan panas dari teknik yang berhasil.Panas dari Qi yang dipaksa keluar terlalu cepat oleh zona.Dari posisi mundurnya, di kejauhan arah selatan, ia melihat siluet kapal kecil lain.Kapal itu juga terdorong mundur.Gerakannya hampir identik.Jaraknya terlalu jauh untuk melihat lambang.Namun pria yang berdiri di haluan kapal itu tidak perlu lambang untuk dikenali."General Kang Baekryong," kata Takeda Raigen pelan.Lebih kepada dirinya sendiri."Ia mengalami hal yang sama."Fujita mengikuti arah pandangannya.Ia melihat kapal kecil di selatan.
Energi di dalam zona tidak bergerak seperti arus laut biasa yang mengalir ke satu arah.Ia berputar.Tidak hanya di permukaan. Dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas sekaligus. Pusaran kecil muncul dan hilang di berbagai titik, saling bertaut seperti bagian dari satu sistem raksasa yang sudah berumur sangat tua.Permukaan laut terlihat tenang dari jauh.Namun di bawah kabut, energi itu berputar tanpa henti.Seperti ribuan roda kecil yang bekerja bersama dalam satu mekanisme yang tidak terlihat."Ini bukan formasi buatan," katanya pelan kepada dirinya sendiri.Tangannya segera menarik Qi yang ia kirim ke dalam zona sebelum pusaran di depannya menyerapnya lebih jauh."Terlalu besar," gumamnya.Ia menatap pusaran yang berputar di bawah kapal."Dan terlalu tidak beraturan untuk
Malam semakin larut. Rong Tian menyelesaikan makannya, lalu naik ke kamarnya untuk beristirahat. Madam Yu tetap duduk di lantai bawah, menyalakan lampion tambahan, dan sesekali menatap ke arah danau melalui jendela.Angin malam berhembus lebih kencang, membuat dedalu bergoyang lebih hebat. Suara bi
Madam Yu berdiri kaku di balik batang pohon dedalu yang besar. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali, seolah membeku dalam posisi yang sama sejak pertarungan dimulai. Tapi pertarungan itu bahkan tidak bisa disebut pertarungan.Hanya pembantaian.Matanya masih terbelalak, menatap dua mayat yang tergel
Rong Tian melangkah masuk ke Dataran Kabut Hitam. Kabut tebal langsung menyelimuti tubuhnya, jarak pandang menyusut hingga hanya beberapa langkah. Tanah di bawah kakinya lembap, setiap langkah menciptakan suara kecipak pelan yang terdengar terlalu keras di keheningan ini.Bau busuk menyeruak ke hid
Kabut di Dataran Kabut Hitam berputar perlahan, lebih tebal dari sebelumnya. Angin berhembus dengan suara yang aneh, seperti rintihan panjang yang tak pernah berhenti. Udara terasa dingin menusuk tulang, membawa bau kematian yang semakin kental.Di atas tebing terjal yang menjulang di sisi barat da







