Share

Bab 51

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-05-23 11:35:37

51

Matahari sudah menyorot saat Zhou Yiran terbangun. Dia merintih ketika kepalanya berdenyut dan sekujur tubuhnya sakit. Zhou Yiran memaksakan diri untuk bangkit duduk. Dia memindai sekeliling, sebelum berdiri dan jalan terhuyung-huyung ke bilik mandi.

Setengah jam berlalu. Zhou Yiran keluar dari kamar sambil berpegangan ke dinding. Kepalanya yang masih pusing menjadikan Zhou Yiran tidak jadi membuat makanan, dan beralih ke meja buffet guna menyiapkan roti untuk sarapan.

Bunyi mesin cuci dar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 51

    51Matahari sudah menyorot saat Zhou Yiran terbangun. Dia merintih ketika kepalanya berdenyut dan sekujur tubuhnya sakit. Zhou Yiran memaksakan diri untuk bangkit duduk. Dia memindai sekeliling, sebelum berdiri dan jalan terhuyung-huyung ke bilik mandi. Setengah jam berlalu. Zhou Yiran keluar dari kamar sambil berpegangan ke dinding. Kepalanya yang masih pusing menjadikan Zhou Yiran tidak jadi membuat makanan, dan beralih ke meja buffet guna menyiapkan roti untuk sarapan. Bunyi mesin cuci dari area servis di atas dapur, menjadikan Zhou Yiran mendongak. Dia memanggil sang asisten, yang segera menuruni tangga putar dan mendekatinya."Bisa tolong buatkan teh? Kepalaku sakit," ujar Zhou Yiran."Ya, Ci," balas Puput. "Cici duduk aja, kubuatkan dulu," lanjutnya sembari memapah perempuan berkulit putih yang wajahnya pucat. Setelah Zhou Yiran duduk di sofa panjang, Puput memberanikan diri untuk meraba dahi perempuan tersebut. "Cici demam," tukasnya. "Hu um. Badanku juga sakit," rengek Zho

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 50

    50Dimas keluar dari kamar depan dan hendak menuju kamarnya, ketika melihat Zhou Yiran yang tengah berdiri membelakanginya di dapur. Dimas membuka mulut untuk memanggil, tetapi bibirnya segera dirapatkan kembali. Dimas khawatir Zhou Yiran akan kabur jika dia mengeluarkan suara. Pria itu merunduk dan melepaskan sandalnya, lalu dia jalan sambil berjinjit, supaya Zhou Yiran tidak mengetahui bila dirinya tengah mendekat. Tiba di dekat perempuan bersetelan piama hijau, Dimas langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zhou Yiran dan merapatkan tubuh mereka. Namun, ketika Zhou Yiran menoleh, justru Dimas yang kaget menyaksikan wajah istrinya yang menghitam. "Kamu pakai masker apa?" tanya Dimas, setelah bisa menguasai diri. Akan tetapi, Zhou Yiran tidak menyahut. Perempuan itu kembali sibuk mengaduk-aduk mi di panci, lalu mematikan kompor. Zhou Yiran memaksakan lepas dari pelukan suaminya dan berpindah ke kiri, guna menuangkan mi ke mangkuk kaca. Dimas bergidik melihat banyaknya p

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 49

    49Zhou Yiran mengemasi barang-barang yang hendak dibawanya ke China. Perempuan itu sangat bahagia bisa pulang ke negara asalnya, walaupun waktunya singkat. Jika menuruti keinginan, Zhou Yiran mau kembali menetap di Guangzhou. Dia merindukan kota itu dan banyak orang di sana, kecuali keluarga papanya. Mengingat sosok pria tua itu, menjadikan Zhou Yiran berhenti beraktivitas. Dia belum mengabari Zhou Ming Hao tentang pernikahannya dengan Dimas, sekaligus kepindahan keyakinannya. Zhou Yiran bisa membayangkan reaksi papanya. Zhou Ming Hao pasti murka dan akan memarahinya. Namun, Zhou Yiran tidak peduli. Bahkan dia juga tidak keberatan bila namanya dihapus dari silsilah keluarga Zhou. "Ran, sudah beres?" tanya Dimas seusai membuka pintu kamar. "Belum," jawab Zhou Yiran. "Dilanjutin nanti aja. Sekarang, ikut aku." "Ke mana?" "Warungnya Syuja. Dia lagi eksperimen menu baru. Minta riview jujur dari kita." "Dia atau Bubu?' "Dia, karena ini masakan yang resepnya dari mamanya." "Aku

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 48

    48Selama dua hari berikutnya, suasana hati Dimas sangat kacau. Dia gelisah, karena tidak menemukan Esme, yang ternyata telah berhenti kerja di perusahaan properti yang dihubungi Dimas. Sebab benar-benar bingung untuk mencari keberadaan Esme, Dimas akhirnya mendatangi Lazuardi di kantor PBK. Dimas meminta tolong sahabatnya itu guna mencari posisi Esme. "Siapa yang bisa bantu nyelidikin dia, Di?" tanya Dimas. Lazuardi tidak langsung menyahut, melainkan mengecek daftar nama para ajudan Australia di layar laptopnya. "Kayaknya kudu nanya ke Mahesa, Bang. Ini laporan bulan lalu. Mungkin personel kita di sana sudah berubah," jelasnya."Oke, nanti aku chat Mahesa." "Telepon aja." Dimas mengecek arlojinya. "Di sini jam 11, berarti di sana jam 3 sore. Mungkin dia lagi meeting." "Ya, udah. Tunggu 1 jam lagi, baru telepon." "Oke." "Bang, aku dengar, beberapa hari lalu Abang ketemu Zianka." Dimas melengos. "Kamu mengintaiku?" "Enggak." Lazuardi menampilkan raut wajah tenang. "Tapi, katan

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 47

    47"Bang," panggil Zhou Yiran, sambil membelai dada suaminya."Hmm," balas Dimas. "Aku merasa aneh dengan sikap Zianka." Dimas terdiam sejenak, lalu memiringkan badan ke kiri dan memerhatikan sang istri, yang balas menatapnya lekat-lekat. "Aneh, gimana?" desak Dimas. "Tadi siang itu, pas kita ketemu dia di restoran Kang Ian. Sama yang lain, dia salaman biasa aja. Sama kita, cuma pakai ujung jari," jelas Zhou Yiran. Dimas terhenyak. Tidak menyangka bila Zhou Yiran bisa merasakan hal yang sama dengannya. "Abaikan aja." "Perasaanku nggak nyaman. Kayak ... ditolak jadi teman. Sedangkan Kak Laura dan yang lainnya, ramah semua." "Enggak usah dipikirkan. Zianka memang agak introvert. Kadang, dia kayak sengaja menyembunyikan diri. Padahal lagi acara ngumpul sama teman-temannya." "Feelingku tidak pernah salah. Tatapannya itu seperti ... ehm ... cemburu." Dimas kembali terdiam, lalu dia memaksakan senyuman untuk menenangkan Zhou Yiran. "Cuekin aja. Kamu fokus padaku dan kerabat kita. P

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 46

    46Seunit mobil sedan hitam berhenti di depan bangunan besar di kawasan Tendean. Keempat penumpangnya turun dan jalan memasuki restoran keluarga yang terlihat ramai pengunjung. Seorang pegawai menyambut di dekat pintu. Zianka menerangkan maksudnya dan pegawai itu mengajak keempat tamu, menaiki tangga hingga tiba di lantai dua. Mereka melintasi lorong panjang yang di kanan dan kirinya merupakan ruang VIP. Mereka menghentikan langkah di depan pintu ujung kiri. Sang pegawai membukakan pintu ruang VIP 1 dan mempersilakan para tamu masuk. Lalu dia menerangkan cara memesan, dan menunggu keempat tamu itu menentukan menu pilihan masing-masing. Sekian menit berikutnya, seorang pria bermata besar memasuki ruangan. Disusul seorang perempuan yang juga bermata besar. Keduanya menyalami semua tamu, sebelum duduk di kursi yang berdekatan. Selama belasan menit selanjutnya, Hadrian Danadyaksha dan Laura Hayaka berdiskusi dengan Raidu. Ketiganya sepakat untuk menjalin kerjasama dalam membuka restor

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status