LOGINSerangan balasan W dan kedua kokonya sangat menohok!
57Jamuan makan malam yang disebutkan Zhou Yongrui tempo hari, ternyata berupa pesta eksklusif. Banyak pejabat penting dan pengusaha senior yang hadir, karena diundang 4 klan secara khusus. Zheung Edward sengaja datang dari Taiwan bersama anak, menantu dan kedua cucunya. Begitu juga dengan keluarga Cheung, Vong, Xie dan Han. Mereka menghadiri acara itu sebagai balas budi pada Dimas, yang pernah menjadi pengawal mendiang Vong Delany. Dimas juga tidak pernah absen dalam peperangan untuk membela 4 klan di masa silam. Zhou Ming Hao benar-benar senang dengan penerimaan keluarga taipan dari Taiwan tersebut, yang bersikap ramah padanya dan semua tamu. Zhou Ming Hao dan Xiao He Huan, diajak Cheung Chyou Jaden, untuk berkenalan dengan para pejabat dan pengusaha terkenal di seputar China. "Semua tamunya adalah orang-orang penting," ujar Xiao Longwei, sebelum meneguk minumannya. Namun, karena tidak direspons rekannya, dia menoleh ke kanan.Xiao Longwei berdecih kala menyadari ke mana arah tat
56Dimas mengusap punggung istrinya, sembari mendengarkan celotehan Zhou Yiran, atas keberatannya untuk menginap di rumah Zhou Ming Hao. Dimas membiarkan perempuan dalam dekapan terus berbicara, hingga suara Zhou Yiran akhirnya menghilang. Dimas menjauhkan diri, lalu mengangkat dagu istrinya dengan ujung telunjuk. "Ya, kita nggak akan nginap di sana," tutur Dimas. "Hu um," cicit Zhou Yiran. "Tapi, sebelum kita berangkat ke Taiwan, kita harus mengunjungi papamu." "Tidak mau!" "Pamitan, Yiran. Nggak sopan kalau kita pergi gitu aja." Zhou Yiran mendengkus. "Aku benar-benar tidak mau. Abang jangan memaksa!" "Suaranya diturunin. Jangan ngegass, gitu." Zhou Yiran mengerucutkan bibir. "Abang menyebalkan." "Jangan begitu. Kalau aku dinas sendiri, kamu pasti kangen." "Kata Ayah, aku harus ikut ke mana pun Abang pergi." "Itu kalau areanya aman dan nyaman. Kalau proyek belum jadi, gersang, panas, dan bikin keringatan. Kamu pasti nggak mau ikut." "Tidak masalah." "Nanti mabuk laut."
55"Aku sudah membaca laporan hasil penyelidikan anak buah Longwei," ucap Xiao He Huan. "Lawanmu bukan orang biasa, Ming Hao. Mereka triliuner Taiwan dan Indonesia. Cheung Grup dan Adhitama, merupakan bagian dari perusahaan keluarga raksasa, yang dikenal dengan sebutan 4 klan," lanjutnya. "Mereka anggota perkumpulan bisnis besar, disebut PG dan PC. Axelle Dante Adhitama merupakan anggota PG. Sedangkan adiknya, Wirya Arudji Adhitama, dan sepupunya, Cheung Chyou Jaden, adalah anggota PC. Lalu, ada PCD, dan Dimas tercatat sebagai anggotanya." "Keempat direktur baru, merupakan anggota PCT. Mereka juga menjabat posisi direktur di PBK, yaitu perusahaan jasa keamanan khusus bodyguard, sedangkan Dinas memimpin PB yang menangani sekuriti." "Saranku, jangan melawan mereka. Biarkan saja mereka bertindak apa pun, demi menyelamatkan perusahaanmu yang nyaris bangkrut," pungkas Xiao He Huan. Zhou Ming Hao manggut-manggut. "Kamu benar, He Huan. Aku tidak akan melawan mereka, karena pasti akan kala
54"Jabatan selanjutnya. General manajer, adalah Zhou Yongrui. Ini perusahaan turun- temurun keluarganya. Jelas Yongrui harus berkontribusi guna menyelamatkan perusahaan ini yang nyaris bangkrut," cakap Dante. "Setelah 5 tahun dan perusahaan ini kembali stabil di semua lini, aku akan mundur dari jabatan komisaris, dan memberikan 15% sahamku pada Dimas serta Yiran. Sebab nantinya mereka dan Yongrui yang akan meneruskan jalannya perusahaan ini," tukas Dante. "Aku juga akan mundur, dan sahamku dialihkan buat Yongrui," imbuh Cheung Chyou Jaden. "Jadi sudah jelas, kami mengambil alih perusahaan ini hanya untuk menyelamatkan, dan bukan buat menguasai," sambungnya. "Tidak bermaksud sombong, tapi aku dan Dante sudah sangat kaya. Perusahaan kami banyak dan tersebar di dunia, dan bukan hanya seputar China atau Asia," cetus Cheung Chyou Jaden. "Wirya juga sudah kaya, tapi dia harus turun tangan guna membantu Dimas, Yiran, dan Yongrui, dalam memulihkan kondisi perusahaan ini yang sangat kacau,"
53"Yiran, kamu menikah tanpa memberitahu Papa. Anak kurang ajar!" bentak Zhou Ming Hao. "Papaku sudah mati," jawab Zhou Yiran sembari mengepalkan tangan kanannya."Aku masih hidup. Bagaimana kamu bisa bilang jika aku sudah mati?" desak Zhou Ming Hao. "Bagiku, sudah, karena kamu tidak pernah benar-benar menjadi papaku!" desis Zhou Yiran. Dia tidak mau bersikap sopan pada pria tua yang tengah terperangah. "Kapan kamu pernah membelaku? Kapan kamu pernah bilang sayang padaku? Kapan kamu pernah memelukku saat sedang sedih, atau ketakutan? Tidak pernah. Sama sekali tidak pernah!" jerit Zhou Yiran. "Justru kamu menutup mata dan membiarkanku disiksa ketiga orang tolol itu!" Zhou Yiran menunjuk Ibu tiri dan kedua anaknya. "Dan kalian bertiga, bersiaplah. Aku akan membalas dendam atas semua perlakuan buruk kalian dari aku kecil dulu!" geramnya. "Jangan berbohong. Kami tidak pernah menyiksamu," kilah Sheng Eleanor. Zhou Yiran tersenyum sinis. "Aku punya buktinya, Pelacur!" "Jangan sebut
52Jalinan waktu terus bergulir. Siang itu, Dimas dan Zhou Yiran telah berada di pesawat Adhitama. Keduanya tersenyum seusai mendengar perdebatan antara Lazuardi dan Zikria, yang berada di deretan kursi kiri. Tawa pasangan itu meledak, kala Deswin dan Fikri kompak membenturkan kepala Zikria serta Lazuardi dari belakang, karena Deswin dan Fikri kesal dengan perdebatan kedua pria tersebut. Wirya yang menempati kursi belakang Dimas bersama Zayd, hanya bisa menggeleng menyaksikan tingkah keempat direktur PBK, yang masih meneruskan perkelahian pura-pura. Wirya enggan melerai perseteruan itu, karena menjadi hiburan buat seluruh penumpang lainnya. "Para Om, udah. Perutku sakit karena tertawa terus," rengek Marwa yang duduk berdampingan dengan Fazluna, di belakang kursi keempat Om direktur."Tadi ada yang merekam, nggak?" tanya Herjuno. "Aku," sahut Xie Honghui, anak pertama Xie Gui dan Han Suzie, kerabat 4 klan. "Aku juga," sela Xie Duyi, Adik Honghui. Keduanya merupakan ajudan Vanetta







