Share

Bab 7 - Gaji Pertama

Author: Si Pengkhayal
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-05 15:57:04

"Eh?!"

Rayyan sontak mundur beberapa langkah.

Melihat itu, ekspresi centil Chintya luntur seketika. Ia mulai tertawa lepas sambil memegangi perutnya.

"Hahahaha!!!"

"Hehe, tidak kusangka kamu akan sekaget itu, Rayyan."

Rayyan tersenyum kecut. "Kurasa semua orang juga akan kaget."

"Hehe,"

"Tenang saja, Rayyan. Kita akan sampai di ruangan kakek kalau jalan lurus terus dari lorong ini. Toh, ada banyak jalan ke ruangannya." ucap Chintya santai.

"Baiklah, ayo lanjut jalan." lanjutnya.

Mereka berdua pun lanjut berjalan di lorong luas dan panjang itu.

Sebenarnya Rayyan sejak tadi memiliki pertanyaan yang selalu berseliweran di pikirannya.

"Kenapa rumah mereka besar sekali ya? Apa tidak capek kalau harus berjalan dari satu tempat ke tempat lain?"

"Dari pintu masuk sampai sini saja sudah termasuk jauh."

"Hmm... Mungkin karena itu juga orang kaya punya banyak pelayan."

"Dasar orang kaya."

Tapi ya begitulah.

Rayyan tidak ingin mengutarakan pikirannya secara terang-terangan.

Mungkin malah dia sendiri yang aneh.

Akhirnya setelah beberapa saat Rayyan dan Chintya sampai di hadapan sepasang pintu yang ukurannya lebih besar dari kebanyakan ruangan di rumah itu.

Ukiran berwarna emas tercetak di permukaan pintu, menambah kesan mewah. Dua gagang pintu juga tak kalah garang dengan desain naga emas yang meliuk.

Chintya membuka pintu santai.

"Kakeeeekkk!!!!"

Di dalam sana, tampak ruangan luas dengan banyak lemari dan tumpukan dokumen yang menggunung.

Tidak terasa rapi sama sekali.

Chintya menarik tangan Rayyan dan membawanya masuk menghampiri kakeknya yang terlihat sibuk.

Kakek Arman meletakkan dokumen yang sedang dibacanya.

"Hmm... Kamu juga disini, nak Rayyan?"

Ekspresi Kakek Arman langsung berubah drastis menjadi cerah. Ia bangkit dari duduknya lalu segera memeluk Rayyan erat.

"Eh?"

Rayyan yang gugup hanya bisa membalas pelukan itu pelan.

"Kenapa kamu tidak menghubungi kakek dulu, nak? Aku akan menyambutmu dengan lebih baik kalau tahu kamu datang."

Rayyan terdiam.

"Aku mana punya nomor anda, Kakek Arman." batinnya.

"Ya sudahlah, heh." Kakek Arman menepuk pundak Rayyan. "Karena kamu datang maka saya asumsikan kamu menerima pekerjaan disini, kan?"

Rayyan mengangguk penuh semangat. "Iya, kek."

Mendengar respon antusias itu, Kakek Arman membuka laci meja kerjanya lalu mengambil secarik kertas dari sana.

Ia menyodorkan kertas itu pada Rayyan.

"Ini kontrak pekerjaanmu. Silakan dibaca. Kalau ada yang kamu bingungkan jangan sungkan bertanya."

Rayyan menatap kertas di tangannya itu.

Di sampingnya Chintya bergeser pelan, ikut melihat.

"Pekerjaanku hanya memijat semua anggota keluarga dengan kapan pun. Tinggal di kediaman Kakek Arman..." gumam Rayyan.

Pada barusan akhir matanya membelalak.

"Gaji dua puluh juta perbulan dan akan dibayarkan meski tidak memijat sebulan penuh,"

Rayyan sontak menatap Kakek Arman tak percaya.

"Ini.. Ini serius, kek?"

Kakek Arman tersenyum. “Tentu saja serius, nak.”

“Tapi bukannya ini terlalu menguntungkanku?”

“Oh,” Kakek Arman terkekeh. “Kamu tidak suka itu, nak? Jadi kamu lebih memilih kontrak pekerjaan yang memberatkanmu, ya..”

“B-bukan itu maksudku,”

“Sudahlah, kakek. Jangan membuat Rayyan gugup begitu.” tegur Chintya.

Gadis itu menoleh pada Rayyan.

“Aku tahu perasaanmu, Rayyan. Syarat kerjanya terlalu mudah dan gajinya lebih besar dibanding kebanyakan terapis pada umumnya. Jadi kamu takut kena penipuan, kan?”

Penipuan?

Rayyan malah baru memikirkan itu.

Dari tadi ia hanya kaget dengan bayaran yang sangat tinggi mulai berpikir untuk melakukan apa saja dengan uang sebanyak itu.

Chintya mengangkat tangannya menuju dagu. “Kalau kamu merasa ragu bagaimana kalau menjalani tes kecil?”

“Tes kecil?”

“Iya. Kamu bisa mulai dengan memijat kakek saat ini juga dan membiarkannya merasakan pijatan penuhmu.”

“Oh, itu ide yang bagus, Chintya.” sahut Kakek Arman. “Bagaimana menurutmu, nak Rayyan.” Lanjutnya.

Rayyan mengangguk setelah berpikir sejenak.

Kesepakatan telah dibuat.

Setelahnya tiga orang itu berjalan menuju kamar pribadi Kakek Arman.

Rayyan sesekali mencuri pandang ke arah Chintya.

Hal itu diketahui oleh Chintya, membuatnya menoleh cepat.

"Kenapa melihatku seperti itu, Rayyan?"

"Kukira kamu akan mengusulkan untuk tes dengan memijatmu."

Chintya tampak tertegun sejenak. Tapi sedetik kemudian senyum lebar tercetak di wajah cantiknya.

"Oh, jadi itu yang kamu mau~"

"Eh, yah itu..."

Chintya mendekatkan mulutnya ke telinga Rayyan. "Kalau kamu mau, kamu bisa datang ke kamarku setelah memijat kakek...."

"Kita lanjutkan kegiatan panas waktu ituu~"

Brr...

Tubuh Rayyan serasa merinding.

"Bercanda!"

"Ya udah aku pergi dulu, dadah."

Chintya langsung melenggang pergi, berjalan ke arah lain.

Sementara itu Rayyan tetap mengikuti langkah kaki Kakek Arman. Ia cukup terkejut bahwa dirinya tidak merasa gugup sama sekali.

Yah, semoga semuanya berjalan dengan lancar.

*********

Rayyan terdiam cukup lama.

Ia berdiri mematung sambil melihat ke arah layar ponselnya. Lebih tepatnya pada saldo yang ada di rekening banknya.

"50 juta..."

Sejak kapan angka sebesar itu bisa bertengger di rekeningnya?

Jangankan lima puluh juta, uang sepuluh juta saja belum pernah ia miliki. Paling banyak hanya sekitar lima jutaan.

Mau bagaimana lagi?

Gajinya dulu kecil. Bos sialan itu pelit.

"Ada apa, nak?" tanya Kakek Arman.

"Em.. Bukannya gajiku hanya 20 juta dan dibayar di akhir bulan?"

Kakek Arman tersenyum. "Haha, ternyata karena itu. Anggap saja itu bonus agar kau semangat bekerja." ucapnya sambil melambai santai.

Rayyan menelan ludah.

"Apa aku boleh tanya sesuatu, Kakek Arman?"

"Tentu saja, nak."

"Sebenarnya kenapa Anda memperlakukan saya sebaik ini? Maksud saya… memberi pekerjaan, memberi uang sebanyak ini… sebenarnya apa maksud Anda?"

"Oh, sebelumnya maafkan kalau saya terlalu lancang." lanjut Rayyan buru-buru.

Kakek Arman tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus ke arah Rayyan, mukanya tanpa ekspresi.

Kamar itu hening sejenak, menyisakan suara kipas yang berdengung pelan.

Hingga kemudian Kakek Arman tersenyum ramah.

"Anggap saja ini hobi orang kaya, nak," ujarnya santai.

Rayyan masih merasa aneh mendengar jawaban itu, tapi ia tidak tahu harus membalas apa lagi.

Kakek Arman lalu melambaikan tangan pelan.

"Sudahlah, sekarang pergilah dan nikmati gaji pertamamu."

Rayyan akhirnya mengangguk pelan sebelum berpamitan.

Tepat sebelum Rayyan menutup pintu kamar ia dapat melihat Kakek Arman yang tampak termenung di kasurnya.

Di luar kamar, seorang pria tua yang mengenakan pakaian pelayan sudah menunggu dengan sopan. Ia tersenyum ramah pada Rayyan begitu melihatnya keluar.

“Salam, Tuan Rayyan. Saya adalah kepala pelayan di kediaman Sanjaya. Anda bisa memanggil saya Albert.” sapanya sambil setengah membungkuk.

“Ah, iya. Salam kenal juga, Tuan Albert.” Rayyan balas membungkuk.

“Saya sudah ditugaskan oleh Tuan Besar untuk menemani anda selama berada di kediaman Sanjaya ini. Jika ada sesuatu yang tidak anda mengerti, anda bisa tanyakan ke saya.”

“Jadi Tuan Albert-“

“Albert saja, Tuan Rayyan.” potong Albert cepat.

Rayyan mengernyitkan dahi.

Bukankah status mereka harusnya sama?

Tukang pijat dan pelayan. Bahkan seharusnya posisi Albert di atasnya karena dia adalah kepala pelayan.

Apapun itu, Rayyan mengikuti kemauan Albert.

“Jadi, Albert. Kau akan menjadi penanggung jawabku begitu?”

Albert mengangguk sopan. “Anda bisa menganggapnya seperti itu, Tuan Rayyan.”

“Baiklah, kalau begitu mohon bantuannya, Albert.”

“Saya juga mohon bantuannya, Tuan Rayyan.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dari Tukang Pijat Jadi Tuan Muda   Bab 77 - Selesai?

    Yuni sudah terpesona pada dunia perkomikan sejak kecil. Entah kapan tepatnya, tapi bisa dibilang ia mulai sering membaca komik saat baru memasuki SD. Ya, di usia yang terbilang kecil, Yuni lebih memilih komik dibanding teman-temannya. Pada masa-masa itu, orang tua lima bersaudari Sanjaya yang masih hidup cukup kewalahan dengan sikap putri kedua mereka itu. Pasalnya bagi keluarga pebisnis, koneksi atau relasi itu sangat penting. Biasanya para orang tua suka membiarkan anak-anak mereka untuk bersosialisasi. Anak-anak itu harus diajarkan kebiasaan dalam berhubungan dengan orang lain sejak dini. Tapi hal itu tidak berlaku pada Yuni. Akhirnya Kakek Arman memerintahkan agar membiarkan Yuni punya dunianya sendiri. Toh, tidak harus dia juga yang mewarisi perusahaan raksasa Sanjaya. Hingga saat ini, pikiran Yuni masih saja sulit ditebak. Rayyan merasa sudah bisa memahami pemikiran Yuni selama ia bersama dengan wa

  • Dari Tukang Pijat Jadi Tuan Muda   Bab 76 - Aurel yang Ganas

    "AHH!!"Aurel mendesah kencang saat Rayyan mencumbu dadanya. Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi laki-laki itu untuk refleks menikmati dua gumpalan kenyal dan lembut itu saat pertama kali bercumbu. Dan untungnya, semua perempuan keturunan Sanjaya memiliki daya tarik yang hebat pada bagian itu. Hal ini seperti berkat tersendiri untuk Rayyan. Rayyan menghisap dada kanan Aurel dengan kencang sementara tangannya sudah bergerilya ke dada satunya. "Ahh!!""Enaakkhh!!"Desahan Aurel terdengar makin kencang. Gadis itu tersenyim lebar. Matanya menjuling ke atas dan lidahnya sedikit keluar. Pengaruh afrodisiak yang ia konsumsi membuat seluruh tubuhnya terasa sangat sensitif. Satu sentuhan maka gairah seksualnya akan memuncak. "Uhh!!""Lagii.. Lebih kerasss!!"Aurel mendorong kepala Rayyan ke dalam, memaksanya untuk menghisap putingnya dengan lebih kuat. "Urmphh

  • Dari Tukang Pijat Jadi Tuan Muda   Bab 75 - Pengaruh Afrodisiak

    BRAKK!!"Berhenti!!"Beberapa pria berbadan kekar dengan seragam putih hitam khas pelayan merangsek masuk ke dalam kamar tempat Aurel disekap. Mendengar teriakan yang begitu menggelegar, tiga pria berhoodie spontan menoleh dengan muka panik. "A-ada apa ini?!""Hei, apa-apaan ini?!"Hoodie abu-abu dan Hoodie merah menyalak tajam. Tiga pria bertubuh kekar segera mengamankan para pria berhoodie, menahan mereka agar tidak bisa bergerak dan menjatuhkan mereka ke lantai."H-hei, apa yang kalian semua lakukan, bangsat!!" Hoodie merah meronta-ronta, minta dibebaskan. Mulutnya masih saja berteriak kencang seolah tak menyadari situasinya saat ini.Sementara itu Hoodie hitam dan Hoodie abu-abu sudah terdiam sedari tadi. Keduanya sudah bisa menebak apa yang terjadi. Mereka dipergoki. Ada seseorang yang melaporkan mereka sehingga mereka ditangkap oleh petugas keamanan hotel.

  • Dari Tukang Pijat Jadi Tuan Muda   Bab 74 - Pengejaran

    Yuni berlari menuju tempat parkir mobil secepat mungkin. Di belakang wanita itu, Rayyan mengikuti meski dengan langkah sedikit pelan dan wajah ragu."Hei, Yuni. Apa maksudmu dengan kau tahu lokasi Aurel sekarang?" tanyanya heran. Sebelumnya, Yuni langsung berlari ke area parkir tanpa menoleh setelah menyebutkan tentang lokasi Aurel. Tapi bagaimana bisa wanita itu tahu?"Akan aku jelaskan di mobil. Ayo percepat langkahmu! Apa kau tidak mau menyelematkan Aurel?!" bentak Yuni. "Ah, baik, baik." Begitu sampai di mobil, keduanya segera masuk dan menutup pintu dengan tergesa-gesa."Jadi sekarang gimana?" tanya Rayyan sambil memasang sabuk pengaman. "Sebentar."Yuni mengambil ponsel miliknya lalu mengutak-atik benda itu sebentar. Sesaat kemudian ia menyerahkan ponsel itu pada Rayyan. "Itu adalah lokasi Aurel sekarang." ucap Yuni. Rayyan mengambil ponsel Yuni dan mel

  • Dari Tukang Pijat Jadi Tuan Muda   Bab 73 - Penculikan

    "Rayyan." panggil Yuni. Rayyan menoleh. "Kamu penasaran juga, kan?" Rayyan mengerutkan kening mendengar pertanyaan itu. Ia kebingungan sejenak sebelum kemudian langsung paham maksud Yuni. "Tentang Aurel kan?" Yuni mengangguk. "Aku memang belum tahu kebiasaan Aurel di event cosplay, tapi setahuku dia bukan tipe yang bakal telat dalam mengerjakan sesuatu." ucapnya. "Aku setuju." Aurel yang ada dalam ingatan Rayyan memang seseorang yang rajin dan disiplin. Cukup mengherankan mendegar bahwa Aurel belum siap untuk masuk ke panggung. Rayyan mengusap dagunya. "Hmm.. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di belakang panggung." "Bagaimana kalau kita langsung lihat kesana?" tanya Yuni. Rayyan langsung mengangguk tanpa pikir panjang. Pasti ada sesuatu yang menimpa Aurel. Rayyan dan Yuni pun segera merangsek keluar dari kerumunan pengunjung yang sedang bersorak.

  • Dari Tukang Pijat Jadi Tuan Muda   Bab 72 - Dimana Aurel?

    Rayyan menghembuskan nafas panjang. Untung saja masalah barusan selesai dengan cepat. Ia tidak mau dicap sebagai pembawa sial di event sebesar ini. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Rayyan.Yuni mengangguk. "Aku tidak apa-apa." Sudut bibir Rayyan sedikit terangkat begitu melihat wajah Yuni yang masih saja datar disaat seperti ini. Apa dia beneran manusia tanpa emosi?"Yah.. Lain kali sebaiknya kamu tidak keluyuran sendirian, oke? Wajah cantikmu bisa menjadi sasaran oleh banyak pria aneh." Yuni menatap Rayyan datar. "Apa maksudmu sendirian? Kamu kan selalu mengikutiku dari belakang.""Eh?""Tapi kamu benar. Wajah cantik memang selalu mengundang masalah. Di komik-komik por— ummpphh!!"Rayyan buru-buru membungkam mulut Yuni. Baru saja terkena masalah dan membicarakan hal seperti itu? Apa dia ingin mendapat tatapan tajam orang-orang? Ia pun membawa Yuni me

  • Dari Tukang Pijat Jadi Tuan Muda   Bab 8 - Keseharian yang Berbeda

    "Dua puluh sembilan..... Tiga puluh... Tiga puluh sa-""Ulangi!" bentak Albert. "Urrghh..." Namun tubuh Rayyan langsung ambruk mendengar perkataan itu. Nafasnya terengah-engah dengan keringat membasahi tubuh. "Kenapa anda malah berhenti, Tuan Rayyan?" ucap Albert pelan. "Bukankah saya bilang ula

  • Dari Tukang Pijat Jadi Tuan Muda   Bab 3 - Tawaran yang Menggiurkan

    "Iyaaaa!!! Aku dan Rayyan ada disini! Kamu jangan masuk, yaa!!" Bukannya merasa takut atau khawatir, Chintya justru berteriak kencang untuk menjawab panggilan pelayan. "Eh, C-Chintya!" tegur Rayyan gugup. Ia melirik ke arah pintu, takut pelayan masuk. Akan tetapi hal itu tidak terjadi. Alih-alih

  • Dari Tukang Pijat Jadi Tuan Muda   Bab 2 - Wanita yang Cantik

    Sepanjang perjalanan, Rayyan hanya bisa terdiam. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan, tetapi tidak satu pun ia ucapkan.Lebih tepatnya, ia merasa mengajukan pertanyaan pun tidak ada gunanya. Kakek tua itu selalu menjawabnya bahkan sebelum pertanyaan sempat keluar dari mulutnya."Sebenarnya apa

  • Dari Tukang Pijat Jadi Tuan Muda   Bab 1 - Rayyan

    "Ahh.. Ahhh.. Yeaaahh.." Desahan seorang perempuan merembes keluar dari balik pintu hotel.Langkah Rayyan spontan berhenti. Tangannya yang hendak membuka pintu kamar hotel membeku di udara. Ia tercekat. "Suara itu kan... " Adegan panas sudah mulai terbayang di kepala Rayyan. Ia menggeram, tangann

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status