Share

Bab 4

Penulis: Muriaz
Karena hari pernikahan sudah sangat dekat, aku bahkan membayar biaya tambahan yang cukup besar agar foto kami bisa diedit lebih cepat.

Namun, sesi pemotretan yang kupilih dengan sangat teliti itu, justru diberikan oleh Lionel kepada orang lain di belakangku.

Dia, yang selalu keras kepala tidak suka difoto, ternyata memiliki kesabaran tak terbatas untuk menemani Novia berfoto dalam lima konsep berbeda. Hal ini membuatku tersadar. Dia bukannya tidak suka difoto, tapi hanya tidak suka jika harus berfoto denganku.

Mobil sedikit berguncang sebelum akhirnya berhenti di tempat parkir bawah tanah. Aku membuka akun media sosial Novia. Benar saja, dia baru saja mengunggah rangkaian foto baru dan dengan sengaja menyensor wajah Lionel.

[Yee! Hadiah ulang tahun terbaik yang kuterima lebih awal tahun ini, tentu saja foto-foto cantik ini. Terima kasih banyak untuk seseorang!]

Lionel yang sudah berdiri di luar mobil tampak mengeluarkan ponselnya. Detik berikutnya, tanda suka darinya muncul di unggahan Novia. Menatap ikon hati merah kecil itu, aku tidak bisa menahan tawa getir.

Dia tidak pernah sekalipun menyukai unggahanku dengan sukarela.

"Sudah sampai di rumah, kenapa masih di mobil?"

Melihatku tidak kunjung bergerak, Lionel mengetuk kaca mobil. Aku menatapnya dari balik kaca, lalu tiba-tiba berkata, "Karena kamu sudah foto dengan Novia, kenapa nggak sekalian pakai konsep foto pernikahan yang sudah kupesan saja? Lagi pula, kalian berdua kelihatan sangat serasi."

Ekspresi Lionel seketika menegang, sebelum akhirnya dahi itu berkerut dalam.

"Devara, apa kamu gila?"

"Kamu yang mengubah bookingan foto pernikahanku dan malah foto studio dengan wanita lain untuk hari ulang tahunnya. Lalu sekarang kamu tanya apa aku gila?"

"Lionel, yang gila itu kamu!"

Kira aku bisa menahan diri, tetapi pada akhirnya aku tetap berteriak meluapkan seluruh rasa sesak di dadaku. Aku menatapnya tajam, menuntut sebuah jawaban.

Namun, dia hanya berdecak kesal tanpa peduli.

"Novia itu gadis yang baru saja mulai bekerja. Dia sedang ulang tahun dan nggak ada seorang pun yang merayakannya. Sebagai mentornya, wajar kalau aku bertanggung jawab untuk memperhatikannya."

"Lagi pula, itu cuma foto pernikahan. Kalau nggak bisa foto sekarang, kita bisa foto lain kali. Kenapa reaksimu harus lebay begini?"

Menatap wajahnya yang tampak begitu tenang tanpa beban, seluruh amarah di dadaku mendadak menguap tanpa sisa.

"Sudahlah," ucapku lirih.

Di dalam hati, aku melanjutkan kalimat itu, "Lagi pula foto itu nggak akan pernah dibutuhkan lagi."

Ekspresi Lionel baru tampak melunak setelah mendengar itu.

Dia kembali mengetikkan balasan pesan di ponselnya. Begitu aku turun dari mobil, dia justru kembali duduk di kursi kemudi.

"Ya sudah, kamu masuk saja duluan. Besok Novia ulang tahun dan mau traktir teman guru di sekolah makan bersama. Dia nggak bisa menyiapkan semuanya sendiri, jadi malam ini aku harus ke sana untuk membantunya menyiapkan bahan makanan."

Aku mengerjapkan mata. Tadinya, malam ini aku berniat membicarakan pembatalan pernikahan kami baik-baik dengannya. Namun sekarang, sepertinya hal itu sudah tidak diperlukan lagi.

Aku mengangguk, lalu berjalan sendirian menuju rumah baru kami.

Aku mengeluarkan koper. Namun, melihat seisi rumah yang dipenuhi jejak kehidupanku di sana, aku memutuskan untuk tidak membawa apa pun selain obat pereda nyeri dan tumpukan pembalut yang selalu kusimpan di rumah.

Setelah itu, aku menelepon pihak hotel untuk membatalkan sewa gedung pernikahan, meskipun uang mukanya tidak bisa dikembalikan. Uang mahar yang pernah diberikan Lionel, kukumpulkan di dalam satu kartu ATM dan kuletakkan di atas meja rias, lengkap tanpa kurang sepeser pun. Terakhir, aku melepas cincin pertunangan kami dan menaruhnya tepat di atas kartu tersebut.

Dengan menyeret koper yang tidak terlalu berat, aku masuk ke dalam taksi menuju bandara. Tepat sesaat sebelum pesawat lepas landas, aku mengirimkan satu pesan terakhir kepada Lionel.

[Lionel, kita batalkan saja pernikahan ini. Aku sudah menjelaskan semuanya pada kedua orang tua kita. Terakhir, semoga kamu bisa menemukan orang yang benar-benar kamu cintai.]

Begitu pesanku terkirim, aku langsung mengaktifkan mode pesawat di ponselku.

Aku menyandarkan kepala pada sandaran kursi lalu tertidur lelap. Saat terbangun, aku sudah tiba di tempat tujuan. Begitu menonaktifkan mode pesawat, ratusan panggilan tidak terjawab langsung membanjiri ponselku seketika.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Daun Gugur Tanpa Suara   Bab 10

    Pada hari final berlangsung, aku mengenakan pakaian rapi, berdiri dengan anggun dan penuh percaya diri di atas panggung. Aku membawakan materi presentasi hasil riset pembelajaranku dengan sangat tenang.Metode pengajaran yang kuhadirkan, sangat baru, unik, dan begitu hidup, sampai menarik perhatian seluruh dewan juri serta penonton di dalam aula konferensi.Saat juri mengumumkan namaku sebagai peraih penghargaan juara pertama, air mata haru seketika menetes di pipiku.Seluruh kerja keras dan air mata yang kutumpahkan selama satu tahun ini, akhirnya terbayar lunas.Gerald yang berdiri di barisan penonton, tampak tersenyum lebar menatapku dengan binar mata yang dipenuhi rasa bangga dan kehangatan.Setelah kompetisi berakhir, aku menerima surat rekomendasi resmi dari pihak sekolah studi banding untuk mengajar di salah satu SMP bergengsi di kota ini.Di saat yang bersamaan, beberapa SMP unggulan di negaraku juga mengirimkan tawaran mengajar dengan fasilitas yang sangat menggiurkan.Aku bim

  • Daun Gugur Tanpa Suara   Bab 9

    "Lionel, berani-beraninya kamu mau memukulku? Aku nggak akan membiarkanmu lolos begitu saja!"Novia berteriak histeris sembari merogoh ponsel dari dalam tasnya."Aku menyimpan semua foto dan video mesra kita, termasuk bukti obrolan saat kamu memintaku memalsukan surat undangan itu. Kalau aku mengunggah semua ini ke internet, kamu bakal hancur!"Wajah Lionel seketika memucat. Dia bergegas bangkit dari tanah dan mencoba merebut ponsel tersebut."Novia, berani sekali kamu! Kalau kamu berani menyebarkannya, aku nggak akan memaafkanmu!"Mereka berdua saling cakar dan menjambak, merobek pakaian satu sama lain, sambil diiringi makian kasar yang saling terlontar. Pemandangan itu sungguh menjijikkan.Orang-orang di sekitar sibuk mengeluarkan ponsel untuk merekam dan mengabadikan momen memalukan tersebut.Aku dan Gerald yang berdiri tidak jauh dari sana, hanya menatap mereka tanpa rasa iba sedikit pun. Ini adalah akibat dari perbuatan mereka sendiri, yang menghancurkan masa depan mereka dengan

  • Daun Gugur Tanpa Suara   Bab 8

    Orang itu adalah Lionel.Dia mengenakan pakaian kasual yang kusut dengan rambut berantakan, dan tatapan mata yang sangat kuyu. Dia tampak seperti orang yang berbeda dari sosok Pak Lionel yang dulu selalu tampil penuh wibawa.Begitu melihatku, matanya seketika berbinar. Dia bergegas melangkah lebar menghampiriku."Devara, kamu benar-benar di sini!"Suara Lionel terdengar sangat serak, menyiratkan rasa bersalah yang mendalam. "Aku mencarimu ke mana-mana, akhirnya aku menemukanmu!"Aku mengernyitkan dahi, lalu refleks menggeser dudukku merapat ke arah Gerald.Gerald dengan sigap menggenggam tanganku erat, lalu menatap Lionel dengan dingin namun tenang."Tuan Lionel, ada yang bisa kami bantu? Devara sekarang adalah pacarku, rasanya kurang pantas kalau Tuan Lionel terus mengganggunya."Wajah Lionel seketika memucat. Dia menatapku, lalu beralih menatap tangan Gerald yang menggenggam tanganku. Matanya memancarkan rasa sakit dan penyesalan yang luar biasa."Pacar? Devara, apa kamu benar-benar

  • Daun Gugur Tanpa Suara   Bab 7

    Lionel tersentak kaget. "Saya tidak memalsukan surat undangan itu. Novia yang memberikannya pada saya."Novia yang wajahnya sudah pucat pasi, langsung membantah dengan panik, "Bukan saya! Kak Lionel, aku nggak pernah memalsukan surat itu. Aku cuma membantumu menanyakannya, aku nggak tahu kalau surat itu ternyata palsu!"Melihat keduanya saling melempar tanggung jawab dengan begitu memalukan, sudut bibirku terangkat membentuk senyuman sinis.Aku sudah menduga Novia akan berulah. Itulah sebabnya, aku memberi tahu kepala sekolah terlebih dahulu agar memeriksa keaslian surat undangan Lionel. Siapa sangka, gadis itu benar-benar nekat memalsukan surat undangan.Pada akhirnya, Lionel diseret keluar oleh petugas keamanan sekolah untuk diserahkan kepada kepolisian setempat guna penyelidikan lebih lanjut. Sementara itu, Novia dijatuhi sanksi teguran tertulis dari pihak sekolah atas pemalsuan tersebut, dan status magangnya langsung dicabut.Menatap punggung mereka yang pergi dengan sangat mengen

  • Daun Gugur Tanpa Suara   Bab 6

    Menatap sorot mataku yang tampak sangat dingin dan penuh tekad, Lionel akhirnya tidak memaksa lagi. Dia hanya berkata dengan mata yang memerah menahan tangis, "Devara, aku nggak akan nyerah begitu saja. Aku akan terus menunggumu kembali!" Aku tidak memberikan jawaban apa pun. Aku langsung berbalik mengikuti koordinator masuk ke dalam area sekolah. Di belakangku, tatapan mata Lionel terasa sangat berat seperti belenggu yang mengikat. Namun, aku tahu pasti bahwa mulai detik ini, aku tidak akan pernah membiarkan diriku terikat olehnya lagi.Lionel tidak langsung pulang. Dia justru menyewa sebuah flat kecil di dekat tempat tinggalku.Setiap hari dia akan berdiri menunggu di depan gerbang sekolah. Meskipun tidak membuat keributan lagi, kehadirannya tetap saja memicu desas-desus di antara orang-orang sekitar.Aku memilih untuk mengabaikannya dan fokus pada kegiatan studi banding. Aku mempelajari metode pengajaran terbaru dari para guru lokal, serta bertukar pengalaman mengajar dengan rekan

  • Daun Gugur Tanpa Suara   Bab 5

    Layar ponselku dipenuhi oleh panggilan tidak terjawab, yang semuanya berasal dari nomor Lionel.Ada juga puluhan pesan teks yang masuk. Mulai dari awalnya yang bernada ketus dan menuntut penjelasan, hingga akhirnya berubah menjadi pesan panik yang memohon-mohon.Aku hanya meliriknya sekilas tanpa membuka satu pun pesan tersebut. Tanpa ragu, aku langsung memblokir nomornya. Begitu pula dengan akun WhatsApp, Instagram, dan seluruh kontak sosial mediaku yang bisa menghubungkannya denganku.Koordinator program studi banding sudah menungguku di pintu keluar bandara. Dia menyerahkan jadwal kegiatan serta kartu SIM lokal sambil tersenyum ramah."Bu Devara, Anda pasti lelah selama perjalanan. Kita ke penginapan untuk istirahat dulu, baru besok kita mulai kegiatannya."Aku menerima barang-barang itu, mengucapkan terima kasih dengan sopan, lalu mengikuti rombongan menuju tempat tinggal sementara kami.Embusan angin di negara asing ini membawa aroma yang terasa asing di indra penciumanku. Namun,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status