LOGIN“Jemput kamu.”
“Hah?!” Langkah yang tenang itu terhenti, ia balikkan badannya, “je-m-put ka-mu.” “Ya ampun. Gila kamu, Hei? Aku juga denger kali. Maksudnya ngapain kamu kesini gitu aja, selain itu kamu punya pacar dan selama ini juga jaga jarak ke aku.” Ia terdiam mendengar pernyataanku. Namun dengan percaya dirinya, ia tarik lenganku dan berkata, “Buruan, kita udah telat berangkat, nanti sampe sana bisa-bisa udah pada mulai latihan.” Ahhh,, bodoh bodoh bodohh!!! Bisa-bisanya, aku cuma nurut gitu aja dan malah teringat masa-masa kami berteman dulu. Bayangan masa lalu itu buyar saat suara klakson mobil terdengar. Dengan cepat kulepaskan tanganku dari genggamannya. Sengaja aku beralasan ingin ke toilet saat kami sampai di sekolah. Tentu demi menghindari masuk kelas bersamanya. Entahlah sepertinya, ini akan jadi hari sial untukku. Jika tadi karena kedatangan Kyohei yang tiba-tiba, sekarang malah ketemu kak Imada di toilet. Aku terlalu canggung untuk menyapanya.. Tapi, tak sopan jika aku hanya diam saja. Kuambil nafas panjang dan, “pagi kak..” Kak Imada melihatku dari cermin karna sedang menata rambutnya. Ia hanya berdehem singkat menjawab sapaanku. POV AUTHOR Kyohei berjalan menuju kelas setelah mengganti sepatunya dengan sepatu sekolah. Ia melewati Shima yang sedang mengobrol bersama anak kelas lain dengan santai karna memang tak ada yang perlu diherankan jika itu Shima. Sebaliknya, Shima yang merasa diabaikan oleh teman kelasnya itu menyelesaikan obrolannya dan menghampiri Kyohei. “Yo bro!! Good morning!”, ucapnya merangkul Kyohei dari belakang. “Sendirian aja nih, pacar tercantiknya kemana? Pacar baru masa gak berangkat bareng..” Kyohei menghempaskan tangan Shima. Shima pun mengangkat dua tangannya seakan berhadapan dengan polisi, ia meledek terlalu dalam sepertinya. Dan sialnya Yuuki, ia yang baru saja masuk ke kelas mendapat sebuah kejutan yang tentunya membuat gempar suasana. Semua temannya pun terkejut, bahkan hal ini sangat menarik perhatian siswa kelas lain yang melewati lorong. BYUURRRRHHHRRR… Air satu botol penuh mengguyur Yuuki dari ujung rambut sampai sepatunya. Tak lama setelah itu, Shima beranjak dari kursinya membawa jaket dan celana olahraga miliknya yang tersimpan di laci. Ia tarik Yuuki keluar dari sana dan diantarnya ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Menunggu Yuuki, Shima terdiam. Beberapa anak yang menyapanya hanya ia beri anggukan dan senyuman pahit. Semakin resah menunggu, tangannya menggenggam seakan menahan amarah. Hampir saja ia melayangkan tinjunya ke arah tembok, “Shima?? Kamu ngapain??” Tanya Yuuki. Layaknya aktor, Shima menoleh tersenyum, ia berpura-pura sedang bergerak dengan alasan pemanasan sebelum latihan. "Beneran kan ternyata," "Apanyaa??" "Udah kupikir daritadi si, bakal keliatan imut kalo dipake kamu yang kecil ini,” sambil tertawa, tawanya dihentikan oleh Yuuki yang memukul lengannya cukup keras. Yuuki mengajak Shima untuk kembali ke kelas, tapi Shima menolak. Ia malah mengajak untuk pergi ke ruang UKS. Yuuki heran, tapi tetap mengikutinya. Sesampainya mereka, Shima hanya mengatakan, “kamu tunggu sini dulu aja.” Shima masuk ke ruang UKS, ia bertemu dengan penjaga yang sedang piket. Dalam beberapa menit, ia keluar dan memberikan sandal pada Yuuki. “Aaa!! Makasih loh.., aku gak kepikiran bakalan ada sandal gini di sekolahan, kok kamu bisa tahu?” “Ya dong, kamu gak lupa kan siapa aku?” .. Kembalinya dua anak itu ke kelas, ternyata sang pelaku yang menyiram Yuuki sedang dihakimi oleh beberapa anak kelas. Shima yang selalu tersenyum ceria setiap saat, terlihat dingin dan mempercepat tempo jalannya. Dia siap untuk meluapkan emosi yang sejak tadi ditahan. Dia gebrak meja Minami, sambil meminta penjelasan atas tingkahnya. Minami malah tertawa, “aku melakukan hal yang benar kok. Itu pelajaran buat orang yang deketin pacar orang.” Semua anak di kelas menatap ke arah Kyohei dan Yuuki bergantian. Yuuki yang tadinya terdiam karena kaget melihat Shima marah mulai bersuara. “Maksudnya apa? Deketin? Gimana bisa aku deketin pacarmu?” Minami meraih ponsel yang ada di sakunya. Dia menunjukkan foto dimana Kyohei menggandeng lengan Yuuki tadi. Rupanya, ada yang memotret dari kejauhan dan mengirimnya pada Minami. Yuuki terlihat frustasi. Ia mengambil nafas panjang dan menjelaskan apa yang terjadi. Semua anak membela Yuuki, di foto itu Kyoheilah yang memegang tangan Yuuki. Tapi Minami tetap saja menyangkalnya dan bersikeras bahwa Yuukilah yang salah. Saking lelahnya membela diri, Yuuki menyerah untuk memperpanjang hal ini dan meminta maaf pada Minami. “Ya gak bisa gitu dong!!” Protes Shima. Yuuki menahannya agar tak melanjutkan masalah ini lagi. Kyohei pun sebagai orang yang dibawa-bawa hanya diam saja. Suasana canggung ini sedikit berpengaruh di awal latihan, tapi lama kelaman itu hanyut oleh waktu yang terus berlalu. Bersambung..“Ngapain?” “Eh? Hai, Ru.. Aku lagi ajak Aimi kencan ini,” jawab Yamada-teman kencan Aimi- dan sayang sekali, jawaban itu diabaikan oleh Hikaru. Aimi tahu, teman kecilnya ini sedang marah sekarang. Dia buru-buru menjelaskan tentang Yuuki yang diajaknya. Hikaru menarik lembut Yuuki untuk pergi dari sana. Aimi kelabakan, dia juga pergi dan meminta maaf pada Yamada dan temannya yang sejak tadi makan bersamanya. Dia berusaha mengikuti Hikaru dan Yuuki dengan jarak kurang lebih satu meter dibelakangnya. Langkah Aimi dan Yuuki terhenti bersamaan, saat Hikaru menghentikan langkahnya. “Bener-bener ya, gak habis pikir sama kamu Mi,” “Maaf Ru, aku cuma minta Yuuki temenin. Gak tahunya dia juga bawa temen.” “Lagian kan itu kencanmu, kenapa bawa-bawa orang lain?” “Ya sorry..” “Lain kali, gak ada hal kaya gini lagi. Kamu kalo gak suka sama cinta-cintaan ya udah putusin dari awal, bilang dan terus terang ke ora
“Tahu bakal gitu aku gak nyaranin kita dateng ke sini, Ma.. Sorry ya..” ujar Masao turut merasa bersalah. Shima tertawa mendengar ucapan kakak kelasnya. Bagaimana mungkin ia menyalahkan orang lain atas perasaannya sendiri? Dengan segera, Shima keluar dari sana untuk mencari udara segar, katanya. Tapi dia bertitip pesan kalau Yuuki mencarinya beri saja jawaban yang masuk akal. Tepat sasaran, Yuuki mencari. Satu sosok temannya tak terlihat di sekitar. Dia menghampiri Masao dan bertanya apakah Masao tahu dimana Shima saat ini. “Dia lagi cari makanan, laper katanya.” jawab Masao cepat seakan ia sudah menyiapkan jawaban itu sejak tadi. Tapi Yuuki tak mencurigainya.Karena sekarang Souta sedang bersama Kenta, Yuuki keluar dari area game dan menunggu Shima. Dia seperti sedang merasakan sesuatu yang aneh, terlihat dari gaya mondar-mandirnya. Tak! Bunyi dahi Yuuki yang disentil oleh Shima ketika ia baru saja membalikkan badan. Gadis itu me
“Mau aku ajarin?” tanya Souta dengan senyum tipisnya. Yuuki hanya memberinya satu jawaban, “Boleh..” Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Semua anak mulai merapikan barang bawaannya ke tas masing-masing. Yuuki pun sudah dijemput di depan kelas oleh.. siapa lagi kalau bukan Shima. “Hey! Jadi battle melodi gak?” Shima menaruh tangan kanannya pada bahu Souta yang kini berjalan di sampingnya. Souta menyingkirkan dengan cepat tangan itu dari dirinya. “Ditanyain juga diem aja, ngomong ama orang apa tembok ya.” cibir mulut Shima yang pasti ingin Souta ikat saja mulut itu. Dia bahkan membawa-bawa Yuuki ikut campur. Lengannya menggandeng tangan Yuuki tanpa aba-aba. “Emang enak punya temen kelas kaya tembok Yuu?” ejek si paling usil tanpa henti. Souta melihat menolehkan wajahnya, melihat tangan Shima yang menetap di sana. Segera Souta berpindah ke tengah melepaskan ikatan dua tangan itu. “Apa sih, ganggu aja.” keluh Shima yang sempat b
Seisi kelas sedang sibuk rapat soal festival olahraga. Ada satu siswa yang sibuk bolak-balik di depan kelas Yuuki. Kali ini bukan Minami yang seperti sebelumnya. Dia Kyohei, pacar Minami. Yuuki dengan cepat mendapati sosok yang dia kenal. Lalu dirinya bergegas keluar dari kelas. “Kamu gila ya!?” bentak Yuuki, “Pacarmu loh bukan siswi yang beda sekolahnya!” Walaupun marah-marah, Yuuki tetap pelankan suaranya. Dia tak ingin jadi pusat perhatian dan tak ingin ketahuan tentunya. “A-aku..” “Apa? Mau bahas soal omongan lagi? Mau ngomong apa sih to the point aja.” “Gak bisa segampang itu,” “Ya udah kalo gak gampang, mending gak usah ngomong.” “T-tapi..” “Balik atau aku panggil pacarmu?” ancam Yuuki pada Kyohei. Dia benar-benar geram sepertinya. Kyohei terlalu bimbang sampai kehilangan momen berkali-kali. Lagi-lagi Kyohei ditinggal Yuuki. Gadis itu kembali masuk ke
Bunga Lily berwarna kuning. Bunga kesukaan nenek sejak ia masih remaja. Padahal, aku kesulitan mencarinya di toko bunga sekitar sini. Bagaimana Kyohei menemukannya? Lalu, ternyata dia masih mengingat hal itu rupanya. Kupikir dia tak tahu karena nenek bercerita kisahnya dengan bunga itu saat kami masih kecil. Kudengar samar suara kak Aimi. Kemudian semua orang pergi lebih dulu menyisakanku dan Kyohei di dekat makam nenek. Seakan mereka memberiku ruang untuk mengobrol dengan sahabat kecilku. “Kamu ternyata ingat bunga itu..” ucapku blak-blakan karena akhirnya keceplosan. Laki-laki itu tersenyum, tak begitu terangkat, hanya sedikit naik saja sudut bibirnya. Kyohei berjalan menghampiri makam nenek. “Kyohei datang, Nek.. Maaf baru dateng. Tapi tak disangka, aku malah bertemu cucu nenek yang menyebalkan ini.” Aku berdecak lalu berkata, “Kalo kakak kosku gak minta datang ke sini juga, gak
“Orang yang dimaksud semua anak, siapa katamu?” “Semua anak? Emang udah nyebar ke seluruh sekolah?” “Enggak gitu, maksudnya banyak yang udah tahu gosipnya. Mereka yang gak kenal kamu jadi tahu kamu.” “Oh,” aku bernapas lega mendengarnya, setidaknya tidak semua orang tahu, “Kak Hikaru.” “Kak Hikaru?” tanya Shima menegaskan. “Iya. Kak Hikaru orang yang mereka maksud.” Shima duduk di sebelahku. Lalu, ia bertanya bagaimana kronologi awalnya kenapa bisa jadi ada gosip soal pacaran. “Wajar sih, wajah Kak Hikaru membekas pasti bagi beberapa siswi. Jadi bahan gosip deh,” kataku mengakhiri percakapan soal gosip ini. Setelahnya, Shima kembali menjadi Shima yang dulu suka menempel padaku. Dia juga membantuku setiap kali ada anak yang mengejek atau sekedar kepo soal gosip itu. Beruntungnya, dia salah satu anak yang omongannya pasti dipercaya siswa lain, jadi tak lama setelah aku bercerita dengan Shima gosip lenyap. Seperti dua masalahku langsung terselesaikan rasanya. *** Ha