Share

Bab 2

Author: Liam
Waktu berlalu detik demi detik, dan setiap detik terasa sangat lama.

Dari yang awalnya panik dan gelisah, lalu malu dan marah pada diri sendiri … hingga akhirnya, muncul ketenangan aneh seperti orang yang sudah pasrah pada keadaan.

Namun saat itu, seluruh indraku terasa semakin tajam.

Aku dapat merasakan tekstur kain kemejanya. Bisa merasakan garis otot di perut bawahnya. Bahkan embusan napas hangat yang jatuh di tengkukku terasa begitu jelas.

Napas itu seperti bulu lembut yang menggelitik kulit sensitif di belakang leherku, membuatku merinding.

Aku tidak berani bergerak. Bahkan bernapas terlalu dalam pun takut, khawatir pergerakan sekecil apa pun akan dianggap sebagai undangan.

Di saat aku hampir gila karena suasana ambigu dan menyesakkan itu, tiba-tiba dia bergerak.

Tangan yang tadi menopang pinggangku jatuh ke bawah, lalu jarinya “tidak sengaja” menyapu sisi luar pahaku.

Seluruh tubuhku langsung bergetar seperti tersengat listrik.

Sentuhan itu berlalu begitu cepat hingga nyaris terasa seperti ilusi.

Namun aku tahu itu nyata.

Ujung jarinya yang sedikit kasar menggesek stocking halusku, dan perbedaan antara kasar dan lembut itu menimbulkan getaran aneh yang sulit dijelaskan.

Aku sangat gugup.

Apa yang ingin dia lakukan?

Aku menunggu dengan tegang, tetapi dia tidak melakukan apa pun lagi, seolah sentuhan tadi benar-benar hanya kecelakaan kecil tanpa arti.

Aku sedikit lega … namun di sudut hatiku, ada sedikit rasa kecewa yang bahkan membuatku malu pada diri sendiri.

“Maaf.”

Suara rendahnya kembali terdengar di dekat telingaku. Kali ini dia lebih dekat. Napas hangatnya langsung menyapu telingaku.

“Tidak ada tempat untuk menaruh tangan.”

Telingaku adalah bagian tubuh yang paling sensitif. Baru disentuh oleh embusan napas seperti itu saja, separuh tubuhku langsung melemas.

Aku menggigit bibir bawahku dan menggeleng pelan, tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Apa yang harus kulakukan?

Berteriak dan memakinya sebagai pria mesum?

Namun bus ini terlalu penuh. Dia bisa saja menyangkal semuanya dan menganggapku berlebihan. Dan diriku yang berpakaian seperti ini hanya akan menjadi sasaran tatapan dan bisikan semua orang.

Tetap diam dan menahannya?

Tetapi dia sudah mulai menguji batas kesabaranku. Siapa yang tahu hal keterlaluan apa lagi yang akan dilakukan setelah ini?

Pikiranku kacau. Malu, takut, marah … dan juga sedikit harapan yang bahkan tidak berani kuakui, bercampur menjadi satu.

Aku merasa seperti berdiri di tepi jurang. Melangkah maju berarti kehancuran. Tetapi mundur pun sudah tidak mungkin lagi.

Dan pria di belakangku adalah iblis yang perlahan mendorongku jatuh ke sana.

Seolah menyadari kebimbanganku, tangan yang berada di samping tubuhku bergerak lagi.

Kali ini bukan lagi sentuhan samar untuk menguji reaksiku.

Dengan tekanan lembut namun tidak memberi ruang penolakan, telapak tangannya perlahan menempel di pahaku.

Telapak tangannya sangat besar, hampir menutupi setengah pahaku.

Panas dari telapak itu menembus stocking tipis yang kupakai dan terus mengalir ke kulitku, seolah ingin membakarnya.

Dalam sekejap, darah di seluruh tubuhku terasa membeku.

Aku bisa merasakan dengan jelas bentuk jari-jari dan garis-garis di telapak tangannya.

Di dalam bus yang penuh sesak, dia begitu terang-terangan meletakkan tangan di paha seorang wanita bersuami.

Dan aku … bahkan tidak langsung menepisnya.

Tubuhku mengkhianati kehendakku sendiri.

Sensasi yang telah lama hilang … sensasi dikendalikan oleh pria kuat, datang seperti racun yang perlahan melumpuhkan sarafku dan menghancurkan seluruh pertahananku.

Jari-jarinya mulai bergerak perlahan di atas pahaku, dengan ritme yang penuh godaan.

Dari atas lutut, sedikit demi sedikit bergerak naik ke atas.

Setiap kali bergerak, detak jantungku terasa seperti terhenti sesaat.

Rasanya seperti memainkan permainan berbahaya, sementara aku adalah peserta yang ditutup matanya dan sama sekali tidak tahu langkah berikutnya akan membawaku ke mana.

Rokku terlalu pendek.

Aku belum pernah sebegitu membenci diriku sendiri karena memilih memakai rok ini hari ini.

Tidak lama kemudian, ujung jarinya menyentuh tepi rokku.

Dia berhenti sesaat. Ujung jarinya mengait lembut kain satin itu, seolah sedang meminta izin.

Napasku langsung tertahan.

Di dalam tubuhku seakan ada dua suara yang bertarung hebat.

Yang satu berteriak, 'Tepis dia! Cepat! Kamu ini wanita bersuami!'

Namun suara lainnya berbisik pelan, 'Jangan bergerak … sebentar saja … rasakan sebentar ….'

Tepat di tengah pergulatan itu, seluruh lampu di dalam bus tiba-tiba padam.

Bus memasuki sebuah terowongan panjang.

Dalam sekejap, dunia tenggelam ke dalam kegelapan pekat.

Kegelapan mendadak itu seperti tombol yang membuka sisi paling tersembunyi dari naluri manusia.

Sekaligus menjadi perlindungan terbaik baginya.

Aku segera merasakan tangan yang berada di pahaku berubah semakin berani dan terang-terangan.

Dia tidak lagi puas hanya dengan menyentuh dari luar rok.

Jari-jarinya dengan luwes menyelinap ke balik rokku.

“Jangan ….”

Aku refleks mengeluarkan seruan pendek, tetapi suaranya terlalu kecil dan langsung tenggelam oleh deru mesin bus.

Kedua kakiku refleks merapat, berusaha menghentikan gerakannya.

Namun perlawanan kecil itu terasa begitu lemah di hadapan kekuatannya.

Jari-jarinya sudah menyentuh bagian paling lembut di pangkal pahaku.

Tidak ada lagi lapisan stocking yang menghalangi dan membuat sentuhan itu terasa berkali-kali lebih jelas.

Aku bisa merasakan ujung jarinya yang sedikit kasar dan suhu hangat kulitnya.

Seluruh tubuhku seperti dilempar ke dalam api, panas menjalar dari ujung kaki sampai ke kepalaku.

Rasa malu dan takutku mencapai puncaknya.

Namun bersamaan dengan itu, muncul pula sensasi asing yang lebih kuat … sebuah getaran yang mengalir dari tempat yang disentuhnya dan menyebar cepat ke seluruh tubuhku seperti arus listrik.

Dalam kegelapan total itu, semua indraku terasa berkali-kali lebih tajam.

Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berdentum keras. Bisa mendengar napasnya yang semakin berat. Dan mencium aroma maskulin dari tubuhnya yang semakin pekat memenuhi udara sempit di antara kami.

Jari-jarinya bergerak perlahan seperti ular yang luwes, menyusuri sisi dalam pahaku sedikit demi sedikit.

Kulit di sana adalah bagian yang paling sensitif. Saat ujung jarinya yang sedikit kasar menggeseknya perlahan, tubuhku hampir tidak mampu menahan gemetar.

Aku menggigit bibirku sekuat tenaga, menelan semua suara yang nyaris lolos dari tenggorokanku.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata … bercampur antara rasa malu dan sensasi asing yang bahkan sulit kuakui.

Ada apa denganku?

Seharusnya aku merasa jijik dan marah. Tetapi di dalam tubuhku, ada kekosongan yang terlalu lama terpendam dan kini perlahan dibangunkan olehnya.

Jari-jarinya berhenti di titik paling akhir.

Area tersembunyi yang hanya tertutup kain tipis pakaian dalamku.

Dia berhenti sesaat. Lalu ujung jarinya bergerak perlahan di atas kain tipis itu, membentuk lingkaran kecil.

“Mmh ….”

Aku tidak mampu lagi menahan suara lirih yang lolos dari tenggorokanku.

Suara itu seperti sebuah isyarat.

Seolah mendapat dukungan, gerakannya menjadi semakin berani.

Jarinya mengait perlahan tepian pakaian dalamku.

Aku tersentak dan refleks menggerakkan tubuh ingin menghindar.

Namun di ruang sempit dan sesak itu, gerakanku justru terasa seperti balasan samar terhadap sentuhannya.

Pantatku bergesek kuat dengan bagian keras miliknya.

Aku mendengar tarikan napas berat dari belakangku.

Detik berikutnya, lengan di pinggangku mengencang, menarik tubuhku semakin dekat ke dadanya.

Pada saat yang sama, jarinya yang menyusup ke balik rokku tidak lagi meraba dengan lembut, melainkan bergerak dengan sedikit tekanan seolah sedang menghukum, lalu mendorongnya kuat ke samping.

Tali tipis yang rapuh itu pun dengan mudah disingkirkannya.

Bagian paling lembut dan paling basah dariku itu, sepenuhnya terekspos di bawah ujung jarinya tanpa perlindungan sedikit pun.

Pikiranku langsung kosong.

Tamat sudah ….

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Debaran Tiga Menit di Dalam Terowongan   Bab 6

    Baru ketika kedua kakiku menginjak tanah yang kokoh dan menghirup udara segar di luar bus, jantungku yang sejak tadi terasa menggantung akhirnya sedikit tenang.Aku tidak berani menoleh dan segera meninggalkan terminal secepat mungkin.Setelah berjalan cukup jauh, barulah aku berhenti dan bersandar pada sebuah pohon besar sambil terengah-engah.Kedua kakiku masih lemas, hampir tidak mampu menopang tubuhku sendiri.Aku perlahan jongkok dan menyembunyikan wajah di antara lutut, sementara bahuku bergetar tidak terkendali.Apa yang sebenarnya baru saja kulakukan ….Tring ….Nada dering ponsel tiba-tiba berbunyi dan membuatku terkejut.Aku mengeluarkan ponsel dari tasku dengan gugup. Di layar tertulis: “Suami”.Itu Vino.Aku menatap nama yang berkedip di layar cukup lama sebelum akhirnya menjawab.“Halo, Istriku, sudah turun dari bus?” Suara Vino terdengar dari seberang telepon, sedikit letih karena perjalanan.“Ya … baru saja,” jawabku dengan suara serak.“Syukurlah. Perjalanannya lancar?

  • Debaran Tiga Menit di Dalam Terowongan   Bab 5

    Aku dipermainkan hingga mencapai puncak oleh seorang pria asing dengan jarinya … di dalam bus yang penuh sesak.Rasa malu yang luar biasa dan ketakutan yang datang belakangan langsung menelanku seperti gelombang air dingin.Aku menoleh perlahan, ingin melihat pria di belakangku itu.Pria yang menyeretku ke jurang hasrat seperti iblis.Dia sudah duduk sekarang.Di kursi kosong tidak jauh di belakangku.Dia bersandar di dekat jendela, satu lengannya diletakkan di tepi kaca dengan sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di antara jarinya.Cahaya matahari yang menembus jendela memantulkan bayangan terang dan gelap di wajah sampingnya yang tegas.Dia sedikit memicingkan mata sambil melihat pemandangan yang melaju mundur di luar sana, ekspresinya dingin dan berjarak, seolah pria agresif dan penuh dominasi di dalam kegelapan tadi sama sekali bukan dirinya.Kalau bukan karena ujung telinganya yang sedikit memerah dan satu kancing kerah bajunya yang terlepas akibat “aktivitas” tadi, aku h

  • Debaran Tiga Menit di Dalam Terowongan   Bab 4

    Aku merasa diriku sangat kotor dan hina.Namun jauh di dalam tubuhku, ada sesuatu yang terus berteriak liar, meminta lebih … dan lebih lagi ….Dia seolah mampu membaca bahasa tubuhku.Entah sejak kapan tangannya yang lain sudah naik dari pinggang dan berhenti di dadaku.Melalui kain satin tipis, telapak tangannya membungkus salah satu sisi tubuhku sepenuhnya. Ibu jari dan telunjuknya dengan tepat menemukan kuncup kecil yang sudah menegang seperti kacang itu, lalu dengan lembut mengusap dan meremasnya.“Ah ….”Rangsangan kuat yang datang bersamaan dari atas dan bawah membuatku runtuh seketika.Aku tidak sanggup lagi menahannya. Sebuah erangan bercampur isak lolos dari bibirku yang kugigit hingga memutih.Untungnya, gemuruh terowongan cukup keras untuk menutupi suara memalukan itu.Aku merasa diriku hampir tidak sanggup bertahan lagi.Kenikmatan di dalam tubuhku seperti air pasang laut, bergelombang dan terus menghantam setiap ujung sarafku.Ketika kupikir diriku akan benar-benar tengge

  • Debaran Tiga Menit di Dalam Terowongan   Bab 3

    Aku merasa seperti telur yang kulitnya sudah dikupas bersih … tidak ada lagi satu pun perlindungan yang tersisa di tubuhku.Udara di sekitarku terasa dingin, menyapu area paling pribadi yang belum pernah disentuh pria lain selain suamiku.Aku begitu tegang hingga hampir tidak berani bernapas. Tubuhku kaku seperti batu.Namun jari-jarinya tidak langsung bergerak lebih jauh.Dia hanya mengusap perlahan area yang sudah basah itu dengan ujung jarinya, bergerak maju mundur dengan santai.Setiap sentuhan membuat kulit kepalaku mati rasa dan tubuhku bergetar halus.Itu adalah sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya … kenikmatan yang bercampur dengan rasa malu yang begitu kuat.Saat bersama Vino, semuanya selalu terburu-buru dan langsung menuju intinya. Dia tidak pernah tahu bahwa tubuh wanita memiliki begitu banyak titik sensitif.Tetapi pria asing ini … bahkan tanpa melihat pun, dia seperti seseorang yang sangat berpengalaman dan dengan mudah menemukan titik yang mampu menghancurkan s

  • Debaran Tiga Menit di Dalam Terowongan   Bab 2

    Waktu berlalu detik demi detik, dan setiap detik terasa sangat lama.Dari yang awalnya panik dan gelisah, lalu malu dan marah pada diri sendiri … hingga akhirnya, muncul ketenangan aneh seperti orang yang sudah pasrah pada keadaan.Namun saat itu, seluruh indraku terasa semakin tajam.Aku dapat merasakan tekstur kain kemejanya. Bisa merasakan garis otot di perut bawahnya. Bahkan embusan napas hangat yang jatuh di tengkukku terasa begitu jelas.Napas itu seperti bulu lembut yang menggelitik kulit sensitif di belakang leherku, membuatku merinding.Aku tidak berani bergerak. Bahkan bernapas terlalu dalam pun takut, khawatir pergerakan sekecil apa pun akan dianggap sebagai undangan.Di saat aku hampir gila karena suasana ambigu dan menyesakkan itu, tiba-tiba dia bergerak.Tangan yang tadi menopang pinggangku jatuh ke bawah, lalu jarinya “tidak sengaja” menyapu sisi luar pahaku.Seluruh tubuhku langsung bergetar seperti tersengat listrik.Sentuhan itu berlalu begitu cepat hingga nyaris tera

  • Debaran Tiga Menit di Dalam Terowongan   Bab 1

    Namaku Sellen. Aku sudah setahun menikah, tetapi suamiku, Vino, adalah tipe manusia yang sibuk pergi ke berbagai penjuru dunia demi proyek kerjanya.Manisnya masa pengantin baru bahkan belum sempat benar-benar kunikmati, diriku sudah harus menjalani hidup seperti janda yang ditinggal suaminya.Sahabatku, Bella, sudah berkali-kali menasihatiku, “Sellen, kamu tidak bisa terus memanjakan Vino seperti ini. Kehidupan suami istri yang tidak harmonis cepat atau lambat pasti bermasalah. Lihatlah dirimu, baru berusia 25 tahun tetapi sudah seperti perempuan kesepian yang mengurung diri di kamar.”Aku hanya bisa tersenyum pahit.Bukannya Vino tidak mencintaiku. Dia hanya terlalu sibuk. Setiap kali pulang dinas, dia sudah lelah setengah mati dan langsung tertidur begitu menyentuh kasur. Kalaupun ada sedikit kemesraan, semuanya selalu terburu-buru, seolah hanya menyelesaikan kewajiban.Api dalam tubuhku sudah dia nyalakan, tetapi tidak pernah benar-benar dipadamkan.Lama-kelamaan, api itu berubah m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status