Mag-log inBaru ketika kedua kakiku menginjak tanah yang kokoh dan menghirup udara segar di luar bus, jantungku yang sejak tadi terasa menggantung akhirnya sedikit tenang.Aku tidak berani menoleh dan segera meninggalkan terminal secepat mungkin.Setelah berjalan cukup jauh, barulah aku berhenti dan bersandar pada sebuah pohon besar sambil terengah-engah.Kedua kakiku masih lemas, hampir tidak mampu menopang tubuhku sendiri.Aku perlahan jongkok dan menyembunyikan wajah di antara lutut, sementara bahuku bergetar tidak terkendali.Apa yang sebenarnya baru saja kulakukan ….Tring ….Nada dering ponsel tiba-tiba berbunyi dan membuatku terkejut.Aku mengeluarkan ponsel dari tasku dengan gugup. Di layar tertulis: “Suami”.Itu Vino.Aku menatap nama yang berkedip di layar cukup lama sebelum akhirnya menjawab.“Halo, Istriku, sudah turun dari bus?” Suara Vino terdengar dari seberang telepon, sedikit letih karena perjalanan.“Ya … baru saja,” jawabku dengan suara serak.“Syukurlah. Perjalanannya lancar?
Aku dipermainkan hingga mencapai puncak oleh seorang pria asing dengan jarinya … di dalam bus yang penuh sesak.Rasa malu yang luar biasa dan ketakutan yang datang belakangan langsung menelanku seperti gelombang air dingin.Aku menoleh perlahan, ingin melihat pria di belakangku itu.Pria yang menyeretku ke jurang hasrat seperti iblis.Dia sudah duduk sekarang.Di kursi kosong tidak jauh di belakangku.Dia bersandar di dekat jendela, satu lengannya diletakkan di tepi kaca dengan sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di antara jarinya.Cahaya matahari yang menembus jendela memantulkan bayangan terang dan gelap di wajah sampingnya yang tegas.Dia sedikit memicingkan mata sambil melihat pemandangan yang melaju mundur di luar sana, ekspresinya dingin dan berjarak, seolah pria agresif dan penuh dominasi di dalam kegelapan tadi sama sekali bukan dirinya.Kalau bukan karena ujung telinganya yang sedikit memerah dan satu kancing kerah bajunya yang terlepas akibat “aktivitas” tadi, aku h
Aku merasa diriku sangat kotor dan hina.Namun jauh di dalam tubuhku, ada sesuatu yang terus berteriak liar, meminta lebih … dan lebih lagi ….Dia seolah mampu membaca bahasa tubuhku.Entah sejak kapan tangannya yang lain sudah naik dari pinggang dan berhenti di dadaku.Melalui kain satin tipis, telapak tangannya membungkus salah satu sisi tubuhku sepenuhnya. Ibu jari dan telunjuknya dengan tepat menemukan kuncup kecil yang sudah menegang seperti kacang itu, lalu dengan lembut mengusap dan meremasnya.“Ah ….”Rangsangan kuat yang datang bersamaan dari atas dan bawah membuatku runtuh seketika.Aku tidak sanggup lagi menahannya. Sebuah erangan bercampur isak lolos dari bibirku yang kugigit hingga memutih.Untungnya, gemuruh terowongan cukup keras untuk menutupi suara memalukan itu.Aku merasa diriku hampir tidak sanggup bertahan lagi.Kenikmatan di dalam tubuhku seperti air pasang laut, bergelombang dan terus menghantam setiap ujung sarafku.Ketika kupikir diriku akan benar-benar tengge
Aku merasa seperti telur yang kulitnya sudah dikupas bersih … tidak ada lagi satu pun perlindungan yang tersisa di tubuhku.Udara di sekitarku terasa dingin, menyapu area paling pribadi yang belum pernah disentuh pria lain selain suamiku.Aku begitu tegang hingga hampir tidak berani bernapas. Tubuhku kaku seperti batu.Namun jari-jarinya tidak langsung bergerak lebih jauh.Dia hanya mengusap perlahan area yang sudah basah itu dengan ujung jarinya, bergerak maju mundur dengan santai.Setiap sentuhan membuat kulit kepalaku mati rasa dan tubuhku bergetar halus.Itu adalah sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya … kenikmatan yang bercampur dengan rasa malu yang begitu kuat.Saat bersama Vino, semuanya selalu terburu-buru dan langsung menuju intinya. Dia tidak pernah tahu bahwa tubuh wanita memiliki begitu banyak titik sensitif.Tetapi pria asing ini … bahkan tanpa melihat pun, dia seperti seseorang yang sangat berpengalaman dan dengan mudah menemukan titik yang mampu menghancurkan s
Waktu berlalu detik demi detik, dan setiap detik terasa sangat lama.Dari yang awalnya panik dan gelisah, lalu malu dan marah pada diri sendiri … hingga akhirnya, muncul ketenangan aneh seperti orang yang sudah pasrah pada keadaan.Namun saat itu, seluruh indraku terasa semakin tajam.Aku dapat merasakan tekstur kain kemejanya. Bisa merasakan garis otot di perut bawahnya. Bahkan embusan napas hangat yang jatuh di tengkukku terasa begitu jelas.Napas itu seperti bulu lembut yang menggelitik kulit sensitif di belakang leherku, membuatku merinding.Aku tidak berani bergerak. Bahkan bernapas terlalu dalam pun takut, khawatir pergerakan sekecil apa pun akan dianggap sebagai undangan.Di saat aku hampir gila karena suasana ambigu dan menyesakkan itu, tiba-tiba dia bergerak.Tangan yang tadi menopang pinggangku jatuh ke bawah, lalu jarinya “tidak sengaja” menyapu sisi luar pahaku.Seluruh tubuhku langsung bergetar seperti tersengat listrik.Sentuhan itu berlalu begitu cepat hingga nyaris tera
Namaku Sellen. Aku sudah setahun menikah, tetapi suamiku, Vino, adalah tipe manusia yang sibuk pergi ke berbagai penjuru dunia demi proyek kerjanya.Manisnya masa pengantin baru bahkan belum sempat benar-benar kunikmati, diriku sudah harus menjalani hidup seperti janda yang ditinggal suaminya.Sahabatku, Bella, sudah berkali-kali menasihatiku, “Sellen, kamu tidak bisa terus memanjakan Vino seperti ini. Kehidupan suami istri yang tidak harmonis cepat atau lambat pasti bermasalah. Lihatlah dirimu, baru berusia 25 tahun tetapi sudah seperti perempuan kesepian yang mengurung diri di kamar.”Aku hanya bisa tersenyum pahit.Bukannya Vino tidak mencintaiku. Dia hanya terlalu sibuk. Setiap kali pulang dinas, dia sudah lelah setengah mati dan langsung tertidur begitu menyentuh kasur. Kalaupun ada sedikit kemesraan, semuanya selalu terburu-buru, seolah hanya menyelesaikan kewajiban.Api dalam tubuhku sudah dia nyalakan, tetapi tidak pernah benar-benar dipadamkan.Lama-kelamaan, api itu berubah m







