Share

Debaran Tiga Menit di Dalam Terowongan
Debaran Tiga Menit di Dalam Terowongan
Penulis: Liam

Bab 1

Penulis: Liam
Namaku Sellen. Aku sudah setahun menikah, tetapi suamiku, Vino, adalah tipe manusia yang sibuk pergi ke berbagai penjuru dunia demi proyek kerjanya.

Manisnya masa pengantin baru bahkan belum sempat benar-benar kunikmati, diriku sudah harus menjalani hidup seperti janda yang ditinggal suaminya.

Sahabatku, Bella, sudah berkali-kali menasihatiku, “Sellen, kamu tidak bisa terus memanjakan Vino seperti ini. Kehidupan suami istri yang tidak harmonis cepat atau lambat pasti bermasalah. Lihatlah dirimu, baru berusia 25 tahun tetapi sudah seperti perempuan kesepian yang mengurung diri di kamar.”

Aku hanya bisa tersenyum pahit.

Bukannya Vino tidak mencintaiku. Dia hanya terlalu sibuk. Setiap kali pulang dinas, dia sudah lelah setengah mati dan langsung tertidur begitu menyentuh kasur. Kalaupun ada sedikit kemesraan, semuanya selalu terburu-buru, seolah hanya menyelesaikan kewajiban.

Api dalam tubuhku sudah dia nyalakan, tetapi tidak pernah benar-benar dipadamkan.

Lama-kelamaan, api itu berubah menjadi kegelisahan panas yang tidak punya tempat untuk diluapkan dan berkecamuk liar di dalam tubuhku.

Hari ini ulang tahun ibuku, jadi aku harus pulang ke rumah orang tuaku.

Sebelum berangkat, aku berdiri sangat lama di depan lemari pakaian. Seperti kerasukan sesuatu, aku mengambil gaun satin bertali yang baru kubeli.

Warna hijau tuanya membuat kulitku tampak semakin putih. Roknya pendek, nyaris hanya menutupi garis bokong dan memperlihatkan kedua kakiku tanpa malu-malu.

Yang lebih gawat lagi, demi mencocokkan dengan gaun ini, aku memakai thong.

Di cermin, tulang selangkaku tampak indah, lekuk dadaku samar terlihat, pinggangku ramping, dan pinggulku terangkat sempurna.

Bahkan aku sendiri berdebar saat melihatnya.

“Berdandan seperti ini, apa kamu tidak takut dimangsa orang di jalan?” gumamku pada bayangan di cermin. Namun di dalam hatiku ada sedikit rasa puas yang tersembunyi, seperti bentuk balas dendam kecil.

Vino selalu berkata aku terlalu konservatif. Kalau begitu, akan kutunjukkan seberapa “terbuka” diriku sebenarnya.

Walaupun dia sedang berada di belahan bumi lain dan jelas tidak akan melihatnya.

Di perjalanan menuju terminal, aku menikmati tatapan kagum orang-orang di sekitarku. Perasaan diperhatikan seperti itu sedikit mengisi kekosongan di hatiku.

Tetapi begitu naik bus, aku langsung menyesal.

Ini adalah akhir pekan. Busnya penuh sesak, bahkan hampir tidak ada tempat berpijak. Sambil membawa koper, aku terdorong ke sana-sini oleh kerumunan sebelum akhirnya berhasil menemukan sedikit ruang di tengah lorong untuk berdiri.

Udara bercampur bau keringat, mie instan, dan parfum murahan membuatku mual.

Pakaianku hari ini, di situasi seperti ini, benar-benar seperti sasaran empuk.

Aku refleks merapatkan kedua kaki dan menyilangkan tangan di depan dada, berusaha mengurangi keberadaanku.

Bus mulai berjalan dan tiba-tiba berguncang keras.

Aku kehilangan keseimbangan dan berseru pelan saat tubuhku terjatuh ke belakang tanpa kendali.

Namun aku tidak terjatuh seperti yang kubayangkan.

Sebuah tangan besar yang kuat menopang pinggangku dengan stabil lalu menarikku kembali.

Telapak tangan itu lebar dan hangat. Bahkan melalui kain satin tipis, panasnya terasa seperti hendak membakar kulitku.

“Hati-hati.” Suara pria yang rendah dan dalam terdengar dari atas kepalaku.

Aku segera berdiri tegak lalu menoleh ke belakang untuk mengucapkan terima kasih.

Di belakangku berdiri seorang pria, kira-kira berusia 35 atau 36 tahun. Ia mengenakan kemeja putih yang disetrika rapi, lengan bajunya digulung dengan sangat teratur, memperlihatkan pergelangan tangan yang kuat dan sebuah jam tangan mahal.

Tubuhnya sangat tinggi. Walaupun sudah mengenakan sepatu hak tinggi, kepalaku hanya sampai di bawah dagunya.

Wajahnya mungkin tidak bisa disebut sangat tampan, tetapi keseluruhan penampilannya memancarkan pesona pria dewasa yang sulit dijelaskan. Terutama sepasang matanya yang dalam, seperti kolam sunyi yang menyimpan banyak cerita.

“Terima kasih,” kataku pelan dengan wajah memerah.

Dia hanya mengangguk tipis. Tatapannya menyapu wajahku sekilas sebelum menarik kembali tangannya, seolah sentuhan tadi hanyalah kecelakaan kecil yang tak berarti.

Namun bagian pinggangku yang sempat disentuhnya terasa seperti dialiri listrik, mati rasa sekaligus geli.

Aku segera membalikkan badan lagi dan jantungku berdetak kacau.

Penumpang di dalam bus semakin banyak. Dalam dorong-dorongan itu, jarak di antara kami terus terhimpit hingga nyaris lenyap.

Pada akhirnya, punggungku hampir sepenuhnya menempel pada dadanya.

Aku bisa merasakan dengan jelas otot hangat dan kokoh di balik kemejanya. Meski terhalang dua lapis kain, aroma khas pria dewasa bercampur samar bau tembakau dan aftershave bernuansa kayu itu tetap menyeruak kasar ke rongga hidungku.

Seluruh tubuhku langsung menegang.

Kami terlalu dekat.

Begitu dekat hingga aku bisa merasakan detak jantungnya yang stabil dan kuat, juga naik turun dadanya setiap kali bernapas.

Yang lebih mematikan, seiring dengan guncangan kendaraan, aku merasa bokongku berkali-kali menyentuh sesuatu yang keras dan panas.

Dari bentuk dan kerasnya, itu jelas bukan ponsel ataupun dompet.

Wajahku langsung memanas seolah terbakar.

Selama 25 tahun hidupku, selain dengan Vino, aku belum pernah sedekat ini dengan pria lain.

Rasa malu langsung menelanku seperti ombak besar. Aku berusaha keras mencoba bergeser sedikit ke depan, walaupun hanya 1 cm.

Tetapi orang-orang di depan berhimpitan seperti tembok. Aku sama sekali tidak punya ruang untuk melarikan diri.

Aku hanya bisa berdiri kaku, tubuhku menegang seperti busur yang ditarik penuh, mencoba melawan sensasi memusingkan itu.

Aku terus meyakinkan diri sendiri bahwa dia pasti tidak sengaja. Bus ini terlalu penuh. Semua ini hanyalah kecelakaan.

Ya … hanya kecelakaan.

Tetapi kenapa dia tidak mundur sedikit?

Jika dia memiringkan tubuh sedikit saja, pasti ada ruang di antara kami.

Namun dia tidak melakukannya.

Dia tetap berdiri kokoh di belakangku seperti pohon besar yang berakar kuat, menggunakan tubuh lebarnya untuk sepenuhnya menyelimuti diriku dalam aroma dan panas tubuhnya.

Aku merasa seperti ikan yang terjebak dalam jaring tak terlihat. Semakin berusaha melepaskan diri, semakin erat aku terlilit.

Keramaian di sekitarku perlahan terasa menjauh. Di duniaku saat itu, yang tersisa hanya tubuh panas di belakangku … dan alat keras di balikku, tepatnya di depan bokongku yang semakin sulit untuk diabaikan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Debaran Tiga Menit di Dalam Terowongan   Bab 6

    Baru ketika kedua kakiku menginjak tanah yang kokoh dan menghirup udara segar di luar bus, jantungku yang sejak tadi terasa menggantung akhirnya sedikit tenang.Aku tidak berani menoleh dan segera meninggalkan terminal secepat mungkin.Setelah berjalan cukup jauh, barulah aku berhenti dan bersandar pada sebuah pohon besar sambil terengah-engah.Kedua kakiku masih lemas, hampir tidak mampu menopang tubuhku sendiri.Aku perlahan jongkok dan menyembunyikan wajah di antara lutut, sementara bahuku bergetar tidak terkendali.Apa yang sebenarnya baru saja kulakukan ….Tring ….Nada dering ponsel tiba-tiba berbunyi dan membuatku terkejut.Aku mengeluarkan ponsel dari tasku dengan gugup. Di layar tertulis: “Suami”.Itu Vino.Aku menatap nama yang berkedip di layar cukup lama sebelum akhirnya menjawab.“Halo, Istriku, sudah turun dari bus?” Suara Vino terdengar dari seberang telepon, sedikit letih karena perjalanan.“Ya … baru saja,” jawabku dengan suara serak.“Syukurlah. Perjalanannya lancar?

  • Debaran Tiga Menit di Dalam Terowongan   Bab 5

    Aku dipermainkan hingga mencapai puncak oleh seorang pria asing dengan jarinya … di dalam bus yang penuh sesak.Rasa malu yang luar biasa dan ketakutan yang datang belakangan langsung menelanku seperti gelombang air dingin.Aku menoleh perlahan, ingin melihat pria di belakangku itu.Pria yang menyeretku ke jurang hasrat seperti iblis.Dia sudah duduk sekarang.Di kursi kosong tidak jauh di belakangku.Dia bersandar di dekat jendela, satu lengannya diletakkan di tepi kaca dengan sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di antara jarinya.Cahaya matahari yang menembus jendela memantulkan bayangan terang dan gelap di wajah sampingnya yang tegas.Dia sedikit memicingkan mata sambil melihat pemandangan yang melaju mundur di luar sana, ekspresinya dingin dan berjarak, seolah pria agresif dan penuh dominasi di dalam kegelapan tadi sama sekali bukan dirinya.Kalau bukan karena ujung telinganya yang sedikit memerah dan satu kancing kerah bajunya yang terlepas akibat “aktivitas” tadi, aku h

  • Debaran Tiga Menit di Dalam Terowongan   Bab 4

    Aku merasa diriku sangat kotor dan hina.Namun jauh di dalam tubuhku, ada sesuatu yang terus berteriak liar, meminta lebih … dan lebih lagi ….Dia seolah mampu membaca bahasa tubuhku.Entah sejak kapan tangannya yang lain sudah naik dari pinggang dan berhenti di dadaku.Melalui kain satin tipis, telapak tangannya membungkus salah satu sisi tubuhku sepenuhnya. Ibu jari dan telunjuknya dengan tepat menemukan kuncup kecil yang sudah menegang seperti kacang itu, lalu dengan lembut mengusap dan meremasnya.“Ah ….”Rangsangan kuat yang datang bersamaan dari atas dan bawah membuatku runtuh seketika.Aku tidak sanggup lagi menahannya. Sebuah erangan bercampur isak lolos dari bibirku yang kugigit hingga memutih.Untungnya, gemuruh terowongan cukup keras untuk menutupi suara memalukan itu.Aku merasa diriku hampir tidak sanggup bertahan lagi.Kenikmatan di dalam tubuhku seperti air pasang laut, bergelombang dan terus menghantam setiap ujung sarafku.Ketika kupikir diriku akan benar-benar tengge

  • Debaran Tiga Menit di Dalam Terowongan   Bab 3

    Aku merasa seperti telur yang kulitnya sudah dikupas bersih … tidak ada lagi satu pun perlindungan yang tersisa di tubuhku.Udara di sekitarku terasa dingin, menyapu area paling pribadi yang belum pernah disentuh pria lain selain suamiku.Aku begitu tegang hingga hampir tidak berani bernapas. Tubuhku kaku seperti batu.Namun jari-jarinya tidak langsung bergerak lebih jauh.Dia hanya mengusap perlahan area yang sudah basah itu dengan ujung jarinya, bergerak maju mundur dengan santai.Setiap sentuhan membuat kulit kepalaku mati rasa dan tubuhku bergetar halus.Itu adalah sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya … kenikmatan yang bercampur dengan rasa malu yang begitu kuat.Saat bersama Vino, semuanya selalu terburu-buru dan langsung menuju intinya. Dia tidak pernah tahu bahwa tubuh wanita memiliki begitu banyak titik sensitif.Tetapi pria asing ini … bahkan tanpa melihat pun, dia seperti seseorang yang sangat berpengalaman dan dengan mudah menemukan titik yang mampu menghancurkan s

  • Debaran Tiga Menit di Dalam Terowongan   Bab 2

    Waktu berlalu detik demi detik, dan setiap detik terasa sangat lama.Dari yang awalnya panik dan gelisah, lalu malu dan marah pada diri sendiri … hingga akhirnya, muncul ketenangan aneh seperti orang yang sudah pasrah pada keadaan.Namun saat itu, seluruh indraku terasa semakin tajam.Aku dapat merasakan tekstur kain kemejanya. Bisa merasakan garis otot di perut bawahnya. Bahkan embusan napas hangat yang jatuh di tengkukku terasa begitu jelas.Napas itu seperti bulu lembut yang menggelitik kulit sensitif di belakang leherku, membuatku merinding.Aku tidak berani bergerak. Bahkan bernapas terlalu dalam pun takut, khawatir pergerakan sekecil apa pun akan dianggap sebagai undangan.Di saat aku hampir gila karena suasana ambigu dan menyesakkan itu, tiba-tiba dia bergerak.Tangan yang tadi menopang pinggangku jatuh ke bawah, lalu jarinya “tidak sengaja” menyapu sisi luar pahaku.Seluruh tubuhku langsung bergetar seperti tersengat listrik.Sentuhan itu berlalu begitu cepat hingga nyaris tera

  • Debaran Tiga Menit di Dalam Terowongan   Bab 1

    Namaku Sellen. Aku sudah setahun menikah, tetapi suamiku, Vino, adalah tipe manusia yang sibuk pergi ke berbagai penjuru dunia demi proyek kerjanya.Manisnya masa pengantin baru bahkan belum sempat benar-benar kunikmati, diriku sudah harus menjalani hidup seperti janda yang ditinggal suaminya.Sahabatku, Bella, sudah berkali-kali menasihatiku, “Sellen, kamu tidak bisa terus memanjakan Vino seperti ini. Kehidupan suami istri yang tidak harmonis cepat atau lambat pasti bermasalah. Lihatlah dirimu, baru berusia 25 tahun tetapi sudah seperti perempuan kesepian yang mengurung diri di kamar.”Aku hanya bisa tersenyum pahit.Bukannya Vino tidak mencintaiku. Dia hanya terlalu sibuk. Setiap kali pulang dinas, dia sudah lelah setengah mati dan langsung tertidur begitu menyentuh kasur. Kalaupun ada sedikit kemesraan, semuanya selalu terburu-buru, seolah hanya menyelesaikan kewajiban.Api dalam tubuhku sudah dia nyalakan, tetapi tidak pernah benar-benar dipadamkan.Lama-kelamaan, api itu berubah m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status