INICIAR SESIÓNSeminggu setelah penderitaan ospek berakhir, kehidupan kampus yang sesungguhnya dimulai. Bagi Nika, ini adalah transisi dari kaos oblong santai ke kemeja berkerah yang masih terasa kaku.
Nika duduk di barisan ketiga, posisi strategis yang tidak terlalu mencolok. Sementara di grup W******p angkatan, anak-anak Jakarta sudah sibuk pamer bahasa pemrograman yang sama sekali belum pernah Nika dengar. "Kosong, Nika?" "Eh, Ardi. Kosong kok, duduk saja," jawab Nika, merasa lega setidaknya ia tidak harus duduk dengan orang asing. Ardi menurunkan tasnya, lalu mengeluarkan laptop Asus hitam yang layarnya agak baret, laptop yang sama dengan yang diselamatkan Nika di kosan Dania minggu lalu. "Siap buat hari ini?" tanya Ardi sambil menekan tombol power. "Siap tidak siap, Ardi. Jujur, aku deg-degan banget. Kamu lihat grup semalam? Bahasanya sudah seperti alien. Aku boro-boro tahu coding, membuat algoritma saja belum paham," curhat Nika dengan volume rendah. Ardi menoleh, menatap Nika yang jarinya sibuk memainkan tutup pulpen dengan gelisah. "Tidak usah dengarkan mereka. Kebanyakan yang pamer di grup itu hanya tahu kulitnya agar terlihat keren. Di kelas ini, semua mulai dari nol. Dosen tidak bakal langsung menyuruhmu membuat aplikasi di pertemuan pertama." Profesor Bambang masuk dengan wibawa yang membuat seisi ruangan senyap seketika. Beliau tidak membuang waktu. Setelah sepuluh menit kontrak kuliah, proyektor menampilkan tulisan besar: KONSEPTUALISASI LOGIKA DAN BAHASA C++. "Komputer itu bodoh," ujar Profesor Bambang sambil mengetuk papan tulis. "Mereka tidak punya intuisi. Mereka hanya melakukan perintah eksak. Jika ada satu titik atau koma yang salah dalam perintah kalian, mereka akan error. Hari ini, kita belajar cara berbicara dengan makhluk bodoh namun patuh ini." "Oke, saya tes logika dasar kalian. Siapa yang bisa menuliskan algoritma untuk menukar isi dua buah gelas? Gelas A berisi sirup, Gelas B berisi susu. Caranya agar isi keduanya bertukar tanpa mencampurnya?" Ruangan hening. Beberapa mahasiswa yang tadi malam pamer di grup W******p mendadak sibuk memandangi lantai. Nika mengerutkan dahi, mencoret-coret kertas catatannya dengan panik. "Saya, Pak." Nika menoleh. Ardi mengangkat tangan dengan santai. "Ya, kamu. Sebutkan nama dan logikanya," ujar Profesor Bambang. Ardi berdiri. "Nama saya Ardi Bramantyo, Pak. Logikanya kita butuh variabel bantuan, atau Gelas C yang kosong. Pertama, tuangkan sirup dari Gelas A ke Gelas C. Sekarang Gelas A kosong. Kedua, tuangkan susu dari Gelas B ke Gelas A. Ketiga, tuangkan sirup dari Gelas C ke Gelas B. Hasil akhirnya, isi keduanya bertukar tanpa tercampur." Profesor Bambang tersenyum lebar. "Bagaimana kelas? Sederhana, bukan? Itulah dasar logika pemrograman. Terima kasih, Ardi. Silakan duduk." Nika menyenggol lengan Ardi. "Gila kamu, Di. Kok kepikiran sih pakai gelas ketiga?" bisik Nika kagum. Ardi menoleh, senyum tipis muncul di wajahnya. "Itu logika dasar penukaran nilai variabel, Nika. Nanti pas masuk materi sorting, kamu bakal bertemu hal seperti ini setiap hari sampai bosan. Makanya, jangan pusing duluan." "Tetap saja, aku merasa tertinggal jauh," ujar Nika pelan. "Nika, dengerin aku," suara Ardi melembut. "Logika itu seperti otot. Awalnya kaku karena tidak pernah dipakai, tapi makin sering dilatih, makin lentur. Jangan bandingkan start-mu dengan finish-nya orang lain." Nika terdiam sejenak, memproses kata-kata Ardi. "Makasih, Ardi. Kedengarannya simpel kalau kamu yang ngomong." "Memang simpel," jawab Ardi enteng. Ketika kelas usai pada pukul 12.00, Nika merasa otaknya seperti diperas habis. "Pusing?" tanya Ardi sambil merapikan tas. "Banget. Berasa ada kurir yang baru memindahkan data bergiga-giga ke otakku yang memorinya cuma sisa sedikit," keluh Nika, membuat Ardi terkekeh pelan. "Ya sudah, biar otaknya tidak error, kita cari glukosa di kantin. Aku traktir es teh manis, gantinya kamu jelaskan catatan tipe data yang tadi aku tidak sempat tulis," ajak Ardi sambil berdiri. Nika menatap cowok di sebelahnya itu dengan senyuman yang merekah alami. Di tengah rimba sintaksis yang menakutkan ini, Nika sadar kalau kehadiran Ardi bukan lagi kebetulan ospek semata. Mereka beranjak meninggalkan kelas, langkah mereka terasa ringan seolah beban materi tadi perlahan menguap. Saat sampai di ambang pintu kantin, Nika tidak menyadari bahwa di sudut ruangan, seseorang sedang memperhatikan gerak-gerik mereka dengan tatapan tajam yang sulit diartikan.Pukul 19.00. Nika berdiri di depan pagar kosan. Ia merapikan kemeja kremnya berkali-kali. Suara knalpot motor mendekat. Ardi berhenti, melepas helm dengan gerakan santai. Jaket denimnya membuat bahunya tampak lebih lebar dari biasanya. "Sudah lama?" tanya Ardi, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Baru saja," jawab Nika, menghindari tatapan mata Ardi. "Pakai helmnya. Kita jalan sekarang?" Nika naik ke boncengan. Ardi melaju membelah kemacetan Jakarta. Saat motor mengerem mendadak, tubuh Nika terdorong ke depan, menempel di punggung Ardi. "Eh, maaf!" Nika menjauh, wajahnya memanas. "Pegang pinggangku saja, Nika. Jangan kaku begitu," suara Ardi terdengar dari balik helmnya sambil terkekeh pelan. Ardi menarik tangan Nika dan menempelkannya ke jaket denimnya. Jantung Nika berdegup kencang. Ia bisa merasakan otot pinggang Ardi yang kokoh. Ia bisa merasakan hangat tubuh Ardi menembus jaket denim itu. Di tengah bisingnya Jakarta, suara detak jantungnya sendiri
Koridor lantai dua Gedung Dekanat riuh oleh ratusan mahasiswa baru. Di sepanjang dinding, mading besar dipenuhi poster warna-warni berslogan makrab akbar fakultas: Teknik Bersatu 2026. Di depan Sekretariat Bersama, meja-meja kayu diletakkan berderet, tempat para senior panitia inti sibuk membagikan lembaran formulir pendaftaran berwarna biru muda. Nika berdiri di ujung antrean, memandangi kertas biru di tangannya dengan dahi berkerut. Formulir itu bukan sekadar kertas biasa, di dalamnya terdapat esai singkat tentang motivasi bergabung, skala prioritas kuliah, serta kolom pilihan tiga divisi."Masih bingung di pilihan kedua, Di?" bisik Nika tanpa menoleh, jarinya mengetuk-ngetuk pulpen gel hitam di atas papan jalan tripleks yang ia bawa dari kosan. "Pilihan pertama jelas Divisi Acara karena diajak Dania. Tapi yang kedua sama ketiga... mending apa? Kesekretariatan atau Logistik?"Ardi, yang berdiri tepat di belakang Nika dalam antrean, melirik formulir itu. Ia sendiri sudah selesai m
Kantin Fakultas Teknik saat jam makan siang adalah representasi sempurna dari pasar malam yang kehilangan kendali. Suara dentingan sendok beradu dengan piring plastik, gemuruh obrolan tentang rumus kalkulus, hingga aroma minyak gorengan panas memenuhi udara di bawah atap seng raksasa itu. Nika berjalan di belakang Ardi, menjadikan punggung cowok itu sebagai tameng pembuka jalan di tengah lautan manusia ber-almamater. Ia memeluk buku catatannya erat, takut tersenggol hingga jatuh ke lantai yang becek oleh tumpahan air es."Mau makan apa?" tanya Ardi tanpa menghentikan langkahnya."Apa saja! Yang antreannya tidak seperti ular naga!" balas Nika keras, berusaha mengalahkan suara petikan gitar sumbang di pojokan."Siomay saja yuk? Abangnya lagi senggang," tunjuk Ardi ke arah rombong bungkusan biru di dekat tiang tengah.Setelah mengamankan meja panjang dekat kipas angin berkarat, Ardi menyajikan dua piring siomay dengan bumbu kacang melimpah. Nika langsung menyambar gelas es tehnya, m
Seminggu setelah penderitaan ospek berakhir, kehidupan kampus yang sesungguhnya dimulai. Bagi Nika, ini adalah transisi dari kaos oblong santai ke kemeja berkerah yang masih terasa kaku. Nika duduk di barisan ketiga, posisi strategis yang tidak terlalu mencolok. Sementara di grup WhatsApp angkatan, anak-anak Jakarta sudah sibuk pamer bahasa pemrograman yang sama sekali belum pernah Nika dengar."Kosong, Nika?""Eh, Ardi. Kosong kok, duduk saja," jawab Nika, merasa lega setidaknya ia tidak harus duduk dengan orang asing. Ardi menurunkan tasnya, lalu mengeluarkan laptop Asus hitam yang layarnya agak baret, laptop yang sama dengan yang diselamatkan Nika di kosan Dania minggu lalu."Siap buat hari ini?" tanya Ardi sambil menekan tombol power."Siap tidak siap, Ardi. Jujur, aku deg-degan banget. Kamu lihat grup semalam? Bahasanya sudah seperti alien. Aku boro-boro tahu coding, membuat algoritma saja belum paham," curhat Nika dengan volume rendah.Ardi menoleh, menatap Nika yang jarin
Setelah berjam-jam merendam kertas koran hingga jemari menghitam, Nika dan Ardi keluar dari gedung aula pukul 17.30. Bahu Nika kaku, betisnya berdenyut. Ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari Dania: Nika, sudah balik? Tolong titip pembalut bungkus pink dan biskuit Roma Kelapa di minimarket depan ya. Nika membalas singkat, lalu menatap jalanan kampus yang temaram oleh lampu merkuri."Belum pulang?"Nika sedikit tersentak. Ardi sudah berjalan di sampingnya sejak tadi. Tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana. Jaket parasut hitamnya yang tadi pagi ditaruh di dalam tas, sekarang sudah terpasang rapi, menutupi kemeja putih ospeknya."Eh, Ardi. Iya nih, mau ke minimarket depan dulu, dititipi barang sama kakak kos," kata Nika sambil menyesuaikan langkah kakinya yang pendek dengan langkah kaki Ardi yang lebar.Ardi mengangguk paham. "Kos kamu di daerah mana memangnya?""Di Gang Senggol belakang kampus itu. Yang dekat warung makan Bu Sipon. Tahu tidak?""Oh, tahu. Kosan cowok
Pagi itu, lapangan upacara terasa seperti tungku pembakaran. Di tengah instruksi panitia yang diteriakkan dengan suara parau, Nika berusaha berdiri tegak meski tubuhnya lelah.Tiba-tiba, cowok yang berdiri tepat di belakangnya berbisik pelan, "Papan namamu miring. Geser sedikit ke kiri." Nika baru saja akan membetulkan posisinya saat seorang panitia berwajah galak sudah berdiri tepat di depan mereka. "Heh! Kalian berdua! Berani-beraninya mengobrol di barisan?" Panitia itu menyambar papan nama Nika dengan kasar. "Karena kalian tidak disiplin, sebutkan pasal pertama aturan mahasiswa sekarang juga!" Nika membeku, otaknya kosong melompong. Panitia itu menatapnya tajam, namun cowok di belakangnya dengan tenang menyela, "Pasal satu: Mahasiswa wajib menjaga integritas dan etika di lingkungan kampus dalam kondisi apa pun, Kak." Panitia itu mendengus kesal, lalu menunjuk mereka berdua. "Karena kamu tidak hafal dan rekanmu ikut campur, kalian keluar dari barisan dan ke selasar sekretariat se







