ログインKoridor lantai dua Gedung Dekanat riuh oleh ratusan mahasiswa baru. Di sepanjang dinding, mading besar dipenuhi poster warna-warni berslogan makrab akbar fakultas: Teknik Bersatu 2026. Di depan Sekretariat Bersama, meja-meja kayu diletakkan berderet, tempat para senior panitia inti sibuk membagikan lembaran formulir pendaftaran berwarna biru muda.
Nika berdiri di ujung antrean, memandangi kertas biru di tangannya dengan dahi berkerut. Formulir itu bukan sekadar kertas biasa, di dalamnya terdapat esai singkat tentang motivasi bergabung, skala prioritas kuliah, serta kolom pilihan tiga divisi. "Masih bingung di pilihan kedua, Di?" bisik Nika tanpa menoleh, jarinya mengetuk-ngetuk pulpen gel hitam di atas papan jalan tripleks yang ia bawa dari kosan. "Pilihan pertama jelas Divisi Acara karena diajak Dania. Tapi yang kedua sama ketiga... mending apa? Kesekretariatan atau Logistik?" Ardi, yang berdiri tepat di belakang Nika dalam antrean, melirik formulir itu. Ia sendiri sudah selesai mengisi sejak sepuluh menit lalu dengan tulisan yang sangat rapi dan ringkas. "Pilih Kesekretariatan saja kalau kamu tidak mau badanmu remuk," sahut Ardi tenang di tengah kebisingan koridor. "Logistik itu nama halusnya Divisi Perlengkapan. Kerjanya mengangkat genset, memasang tenda, sampai menjaga peralatan hingga subuh. Kamu yakin badan seukuran botol sirup ini mau ikut angkat besi?" Nika refleks menoleh dan mendelik kesal. "Sembarangan! Badan aku tidak sekecil itu ya! Tapi... oke, saran kamu masuk akal. Kesekretariatan saja." Nika buru-buru menuliskan pilihannya sebelum nyalinya menciut. Setelah menyerahkan formulir ke meja panitia, mereka berjalan menuju selasar luar gedung yang menghadap lapangan utama. Angin sore berembus kencang, menerbangkan helai rambut Nika. Bau tanah kering yang tersiram air menyajikan aroma khas yang menenangkan. Nika menyandarkan lengan di pagar pembatas, memandangi langit yang mulai meredup dengan semburat emas di ufuk barat. "Kamu sendiri daftar divisi apa?" tanya Nika, menikmati sensasi angin dingin di wajahnya. "Pilihan pertama Keamanan. Kedua Logistik," jawab Ardi pendek. Ia ikut bersandar, memasukkan kedua tangan ke saku celana jinsnya. Nika menoleh, menatap profil samping wajah Ardi yang terpapar cahaya senja. "Sesuai tebakan Gibran banget. Memang kamu tidak malas? Anak Keamanan kan mirip komdis, harus memasang muka galak, menertibkan mahasiswa baru, terus pulangnya paling malam gara-gara evaluasi." Ardi membalas tatapan Nika, sudut bibirnya terangkat tipis. Senyum khas yang irit namun terasa hangat. "Aku tidak bisa berakting ramah atau membuat konsep acara yang seru seperti kamu. Jadi, daripada aku masuk Divisi Acara lalu malah membuat konsep makrab mirip upacara militer, mending aku masuk divisi yang memang butuh tenaga serta ketegasan saja." Nika tertawa kecil. "Iya juga sih. Tidak terbayang kalau kamu masuk Divisi Acara, mungkin kita semua disuruh baris-berbaris saat api unggun." Suasana kembali hening, namun kali ini terasa sangat nyaman. Jarak emosional di antara mereka sudah menyusut jauh, mencapai tahap di mana keheningan tidak lagi terasa canggung. "Ngomong-ngomong, Nika," Ardi membuka suara lagi. "Catatanmu kemarin... terima kasih ya. Sangat membantu. Aku jadi paham konsep pointer dan alokasi memori yang dijelaskan Profesor Bambang." "Sama-sama. Santai saja," sahut Nika riang. "Aku juga terbantu kok saat kamu menjelaskan logika gelas itu. Anggap saja kita impas." "Belum impas," potong Ardi cepat. Nika mengernyit. "Kok belum?" "Catatanmu terlalu detail dan rapi untuk diganti pakai es teh plastik sama siomay dingin waktu itu," kata Ardi serius, menatap Nika lekat. "Nanti malam, kalau kamu tidak ada jadwal tugas, aku mau mengajakmu makan bakso di dekat belokan gang kosan kita. Bakso Pak Kumis rasanya lumayan terkenal. Anggap saja itu sisa pembayaran royalti catatanmu." Jantung Nika berdesir. Ia mengalihkan pandangan ke arah lapangan, pura-pura tertarik pada sekelompok anak UKM sepak bola yang baru mulai latihan. "Makan bakso ya... Hm, boleh deh. Kebetulan persediaan mi instan di kamarku juga sudah menipis," jawab Nika santai, meski dalam hati ia berusaha menyembunyikan debaran aneh yang muncul tiba-tiba. "Oke. Jam tujuh malam nanti aku jemput ke depan pagar kosanmu," ujar Ardi final. Sore itu, di bawah langit senja koridor dekanat, Nika merasa hari-harinya akan segera berubah. Janji makan bakso malam nanti terasa jauh lebih mendominasi pikirannya daripada tumpukan tugas yang menanti. Sambil memandangi matahari yang hampir tenggelam, Nika bertanya-tanya, apakah pertemuan makan bakso nanti malam akan menjadi langkah awal yang mengubah segalanya? Apakah bakso Pak Kumis malam nanti akan menjadi saksi perubahan status mereka menjadi lebih dari sekadar teman satu kelas?Koridor lantai dua Gedung Dekanat riuh oleh ratusan mahasiswa baru. Di sepanjang dinding, mading besar dipenuhi poster warna-warni berslogan makrab akbar fakultas: Teknik Bersatu 2026. Di depan Sekretariat Bersama, meja-meja kayu diletakkan berderet, tempat para senior panitia inti sibuk membagikan lembaran formulir pendaftaran berwarna biru muda. Nika berdiri di ujung antrean, memandangi kertas biru di tangannya dengan dahi berkerut. Formulir itu bukan sekadar kertas biasa, di dalamnya terdapat esai singkat tentang motivasi bergabung, skala prioritas kuliah, serta kolom pilihan tiga divisi."Masih bingung di pilihan kedua, Di?" bisik Nika tanpa menoleh, jarinya mengetuk-ngetuk pulpen gel hitam di atas papan jalan tripleks yang ia bawa dari kosan. "Pilihan pertama jelas Divisi Acara karena diajak Dania. Tapi yang kedua sama ketiga... mending apa? Kesekretariatan atau Logistik?"Ardi, yang berdiri tepat di belakang Nika dalam antrean, melirik formulir itu. Ia sendiri sudah selesai m
Kantin Fakultas Teknik saat jam makan siang adalah representasi sempurna dari pasar malam yang kehilangan kendali. Suara dentingan sendok beradu dengan piring plastik, gemuruh obrolan tentang rumus kalkulus, hingga aroma minyak gorengan panas memenuhi udara di bawah atap seng raksasa itu. Nika berjalan di belakang Ardi, menjadikan punggung cowok itu sebagai tameng pembuka jalan di tengah lautan manusia ber-almamater. Ia memeluk buku catatannya erat, takut tersenggol hingga jatuh ke lantai yang becek oleh tumpahan air es."Mau makan apa?" tanya Ardi tanpa menghentikan langkahnya."Apa saja! Yang antreannya tidak seperti ular naga!" balas Nika keras, berusaha mengalahkan suara petikan gitar sumbang di pojokan."Siomay saja yuk? Abangnya lagi senggang," tunjuk Ardi ke arah rombong bungkusan biru di dekat tiang tengah.Setelah mengamankan meja panjang dekat kipas angin berkarat, Ardi menyajikan dua piring siomay dengan bumbu kacang melimpah. Nika langsung menyambar gelas es tehnya, m
Seminggu setelah penderitaan ospek berakhir, kehidupan kampus yang sesungguhnya dimulai. Bagi Nika, ini adalah transisi dari kaos oblong santai ke kemeja berkerah yang masih terasa kaku. Nika duduk di barisan ketiga, posisi strategis yang tidak terlalu mencolok. Sementara di grup WhatsApp angkatan, anak-anak Jakarta sudah sibuk pamer bahasa pemrograman yang sama sekali belum pernah Nika dengar."Kosong, Nika?""Eh, Ardi. Kosong kok, duduk saja," jawab Nika, merasa lega setidaknya ia tidak harus duduk dengan orang asing. Ardi menurunkan tasnya, lalu mengeluarkan laptop Asus hitam yang layarnya agak baret, laptop yang sama dengan yang diselamatkan Nika di kosan Dania minggu lalu."Siap buat hari ini?" tanya Ardi sambil menekan tombol power."Siap tidak siap, Ardi. Jujur, aku deg-degan banget. Kamu lihat grup semalam? Bahasanya sudah seperti alien. Aku boro-boro tahu coding, membuat algoritma saja belum paham," curhat Nika dengan volume rendah.Ardi menoleh, menatap Nika yang jarin
Setelah berjam-jam merendam kertas koran hingga jemari menghitam, Nika dan Ardi keluar dari gedung aula pukul 17.30. Bahu Nika kaku, betisnya berdenyut. Ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari Dania: Nika, sudah balik? Tolong titip pembalut bungkus pink dan biskuit Roma Kelapa di minimarket depan ya. Nika membalas singkat, lalu menatap jalanan kampus yang temaram oleh lampu merkuri."Belum pulang?"Nika sedikit tersentak. Ardi sudah berjalan di sampingnya sejak tadi. Tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana. Jaket parasut hitamnya yang tadi pagi ditaruh di dalam tas, sekarang sudah terpasang rapi, menutupi kemeja putih ospeknya."Eh, Ardi. Iya nih, mau ke minimarket depan dulu, dititipi barang sama kakak kos," kata Nika sambil menyesuaikan langkah kakinya yang pendek dengan langkah kaki Ardi yang lebar.Ardi mengangguk paham. "Kos kamu di daerah mana memangnya?""Di Gang Senggol belakang kampus itu. Yang dekat warung makan Bu Sipon. Tahu tidak?""Oh, tahu. Kosan cowok
Pagi itu, lapangan upacara terasa seperti tungku pembakaran. Di tengah instruksi panitia yang diteriakkan dengan suara parau, Nika berusaha berdiri tegak meski tubuhnya lelah.Tiba-tiba, cowok yang berdiri tepat di belakangnya berbisik pelan, "Papan namamu miring. Geser sedikit ke kiri." Nika baru saja akan membetulkan posisinya saat seorang panitia berwajah galak sudah berdiri tepat di depan mereka. "Heh! Kalian berdua! Berani-beraninya mengobrol di barisan?" Panitia itu menyambar papan nama Nika dengan kasar. "Karena kalian tidak disiplin, sebutkan pasal pertama aturan mahasiswa sekarang juga!" Nika membeku, otaknya kosong melompong. Panitia itu menatapnya tajam, namun cowok di belakangnya dengan tenang menyela, "Pasal satu: Mahasiswa wajib menjaga integritas dan etika di lingkungan kampus dalam kondisi apa pun, Kak." Panitia itu mendengus kesal, lalu menunjuk mereka berdua. "Karena kamu tidak hafal dan rekanmu ikut campur, kalian keluar dari barisan dan ke selasar sekretariat se
Aroma kayu lapis tua dan parfum ruangan rasa jeruk yang sudah hampir habis langsung menyambut Nika begitu ia memutar kunci kamar nomor 9. Kamar itu kecil, hanya berukuran dua setengah kali tiga meter. Di dalamnya hanya ada sebuah kasur busa tipis yang dibungkus sprei motif bunga matahari yang sudah agak pudar, lemari pakaian kayu dua pintu yang salah satu engselnya berdecit saat dibuka, dan sebuah meja belajar kecil yang menghadap ke arah jendela.Nika menjatuhkan tas ranselnya ke lantai, menyusul dua kardus besar berisi pakaian dan peralatan masak yang tadi siang ia angkat sendiri dari bagasi travel. Ia duduk di pinggiran kasur, menekuk lutut, lalu menghela napas panjang hingga poninya terangkat."Akhirnya, aku resmi menjadi anak kos," bisiknya pada kamar kosong itu.Ada rasa sesak yang tiba-tiba mampir di dadanya. Seumur hidup, Nika tidak pernah berada jauh dari ibunya. Namun, demi beasiswa penuh di jurusan Teknik Informatika, ia harus rela menempuh perjalanan delapan jam, meninggal







