FAZER LOGINSetelah berjam-jam merendam kertas koran hingga jemari menghitam, Nika dan Ardi keluar dari gedung aula pukul 17.30. Bahu Nika kaku, betisnya berdenyut.
Ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari Dania: Nika, sudah balik? Tolong titip pembalut bungkus pink dan biskuit Roma Kelapa di minimarket depan ya. Nika membalas singkat, lalu menatap jalanan kampus yang temaram oleh lampu merkuri. "Belum pulang?" Nika sedikit tersentak. Ardi sudah berjalan di sampingnya sejak tadi. Tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana. Jaket parasut hitamnya yang tadi pagi ditaruh di dalam tas, sekarang sudah terpasang rapi, menutupi kemeja putih ospeknya. "Eh, Ardi. Iya nih, mau ke minimarket depan dulu, dititipi barang sama kakak kos," kata Nika sambil menyesuaikan langkah kakinya yang pendek dengan langkah kaki Ardi yang lebar. Ardi mengangguk paham. "Kos kamu di daerah mana memangnya?" "Di Gang Senggol belakang kampus itu. Yang dekat warung makan Bu Sipon. Tahu tidak?" "Oh, tahu. Kosan cowok aku juga di gang sebelah situ. Berarti kita searah jalan ke depannya," sahut Ardi lempeng. Di bawah temaram lampu merkuri kuning, bayangan tubuh mereka yang kontras, Nika yang mungil dan Ardi yang jangkung, terproyeksi panjang di atas trotoar semen. Tidak ada obrolan yang berat di antara mereka, hanya suara langkah sepatu yang bergesekan dengan kerikil kecil dan deru angin malam yang mulai terasa dingin meniup permukaan kulit. "Hari pertama yang kacau ya," celetuk Nika memecah keheningan, mencoba menertawakan nasib sial mereka tadi siang. "Bagi kamu mungkin kacau. Tapi bagi aku, ini lumayan seru," balas Ardi tanpa menoleh, pandangannya lurus ke depan memperhatikan gerbang luar kampus yang sudah mulai dekat. Nika mendengus kecil, menatap Ardi dari samping. "Seru dari mananya coba? Tangan belepotan tinta, kena hukum, dijemur siang-siang. Kamu memang rada aneh ya, Ardi." Ardi menghentikan langkahnya tepat di bawah salah satu tiang lampu, membuat Nika refleks ikut berhenti dan berbalik menghadap cowok itu. Ardi menatap Nika dengan pandangan matanya yang tajam namun tidak terasa intimidatif lagi seperti tadi pagi. "Seru karena aku mendapat teman baru yang langsung bisa diajak susah bareng di hari pertama," kata Ardi pelan, suaranya terdengar sangat tulus di antara desau angin malam. "Aku pikir anak-anak IT bakal individualis atau sibuk dengan dunianya sendiri. Ternyata tidak semua." Kalimat Ardi barusan rasanya menembus lapisan pertahanan dirinya yang sejak kemarin dipenuhi rasa cemas sebagai anak rantau. Kata "teman baru" yang diucapkan Ardi dengan begitu mudahnya, mendadak terasa sangat mahal dan berarti bagi Nika yang belum punya siapa-siapa di kota ini. Nika tersenyum, kali ini senyumnya lepas dan tulus. "Aku juga makasih ya, Ardi. Tadi siang kalau tidak ada kamu yang hafal pasal itu, mungkin hukuman kita bakal lebih parah dari sekadar membuat bubur kertas." Ardi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia cuma mengangguk kecil, lalu kembali berjalan mendahului Nika menuju pintu keluar minimarket yang lampunya menyala terang benderang. "Ayo, buruan beli titipan kakak kos kamu. Keburu malam, nanti gang masuk kosan kamu makin gelap," ajak Ardi dari depan. Nika mempercepat langkahnya, menyusul di belakang punggung Ardi. Malam itu, di mata Nika, Ardi resmi berubah status menjadi seorang teman. Namun, saat Nika baru saja akan melangkah masuk ke minimarket, ia melihat Ardi berhenti mendadak di depan rak majalah. Ardi tidak mengambil apa-apa, tetapi tangannya gemetar hebat saat menyentuh sebuah surat kabar yang memuat berita kecelakaan kerja di proyek besar yang melibatkan perusahaan IT milik keluarga Ardi. "Nika, jangan pernah ceritakan pada siapa pun kalau kamu melihat aku di sini malam ini," bisik Ardi dengan suara yang bergetar. Nika mematung. "Apa maksudmu?" "Kamu tidak perlu tahu. Semakin sedikit yang kamu tahu, semakin aman kamu." Ardi berbalik, lalu berlari menjauh ke arah gang gelap di samping minimarket. "Ardi! Tunggu!" teriak Nika. Ia baru saja hendak bertanya, namun Ardi sudah berlari menjauh ke arah gang gelap di samping minimarket, meninggalkan Nika sendiri dengan keranjang belanjaan di tangan dan sebuah misteri besar yang baru saja terbuka lebar. Saat di kasir, ia sempat melirik ke luar jendela kaca. Gang itu tetap gelap, seolah-olah menelan semua rahasia yang baru saja Ardi tumpahkan. "Totalnya dua puluh lima ribu, Mbak," suara kasir membuyarkan lamunannya. Nika merogoh saku, menyerahkan uang, lalu berjalan keluar dan ternyata ada sebuah rahasia yang baru saja mengubah segalanya."Kamu yakin langkah ini benar-benar aman, Gibran? Bagaimana kalau server umpan yang Nika buat justru terbaca sebagai sebuah jebakan oleh mereka?" tanya Dania dengan nada suara yang menyiratkan kecemasan mendalam, matanya menatap tajam ke arah layar monitor yang kini dipenuhi oleh barisan kode biner berwarna hijau menyala di ruangan yang temaram itu. Gibran mengetuk papan ketik laptopnya dengan sangat cepat, dahinya berkerut serius sementara kacamatanya memantulkan cahaya layar. "Justru itu tujuan utamanya, Dan. Kita harus membuat mereka mengira Nika sedang merasa panik ketakutan dan mencoba menghapus sisa data penting itu secara mandiri. Dengan begitu, mereka akan terpancing untuk membuka jalur komunikasi langsung guna meretas balik, dan tepat di situlah kita akan mencatat titik koordinat alamat IP asli mereka." Nika yang duduk tepat di sebelah Gibran menarik napas panjang-panjang untuk menenangkan degup jantungnya, lalu jemarinya yang lentik kembali menari di atas tombol ente
Suasana di ruang tamu apartemen Ardi dan Nika malam itu terasa begitu menyesakkan, jauh berbeda dari kehangatan keluarga kecil yang biasa mereka bangun dengan tenang dan damai. Di atas meja kopi, sebuah laptop menyala menampilkan barisan kode enkripsi asing yang dikirimkan melalui jalur peretasan siang tadi. Gibran dan Dania duduk bersila di karpet dengan ekspresi tegang, sementara Ardi berdiri mondar-mandir di dekat jendela dengan rahang mengeras, dan Nika duduk di sofa sambil mendekap erat pundaknya sendiri, mencoba menepis rasa dingin yang merayap di dadanya. "Ini bukan kerjaan penjahat siber amatiran," ucap Gibran memecah keheningan malam, jemarinya bergerak sangat lincah menelusuri log data yang tersisa di layar monitor. "Pola enkripsinya menggunakan algoritma turunan Project Sentinel, tapi dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa melewati dinding api modern tanpa meninggalkan jejak identitas pengirimnya. Seseorang sedang mempermainkan kita dari bayang-bayang." Dania ya
Nika mematung di depan layar komputernya. Jantungnya berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya seolah ingin lepas. Barisan teks ancaman itu seakan mengejek rasa aman yang selama dua tahun terakhir mati-matian ia dan Ardi bangun di Jakarta. Bagaimana bisa? batin Nika panik. Sistem itu sudah hancur. Semua jaringannya sudah dibabat habis oleh kepolisian. Ia mencoba bernapas teratur, memaksa otaknya yang dibalut rasa takut untuk kembali berpikir analitis sebagai seorang programmer andal. Jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik, menelusuri jejak digital (IP trace) dari mana sinyal pesan pop-up itu dikirimkan. Namun, hasilnya justru membuat bulu kuduknya meremang. Jalur komunikasi itu berlapis-lapis, menggunakan proksi anonim yang memantul dari berbagai server luar negeri sebelum akhirnya mendarat langsung ke perangkat privat miliknya. Seseorang tidak sedang meretas server kantor secara acak. Orang ini secara spesifik menargetkan dirinya. Di tengah kepanikan yang mula
Suara dering jam dinding di ruang tamu apartemen Jakarta Selatan itu berdetak konstan, mengisi kesunyian malam yang terasa begitu menyesakkan. Di atas meja kerja kecil di sudut ruangan, layar laptop Nika menyala terang, memantulkan barisan kode program yang sedang ia audit. Namun, jari-jarinya terdiam di atas papan ketik. Matanya menatap kosong ke arah layar, sementara pikirannya melayang pada pertengkaran kecil yang baru saja terjadi beberapa menit lalu antara dirinya dan Ardi. "Ardi, ini sudah yang ketiga kalinya minggu ini kamu memeriksa kunci jendela dan sensor pagar sampai tiga kali lipat," suara Nika terdengar lelah, mencoba menahan emosinya saat melihat Ardi kembali mondar-mandir mengecek setiap sudut ruang tamu. Ardi menghentikan langkahnya, menoleh dengan sorot mata yang menyiratkan kecemasan luar biasa. "Aku hanya ingin memastikan semuanya aman, Nika. Kamu tahu sendiri masa lalu kita tidak semudah itu dilupakan. Di luar sana, orang-orang itu... mereka bisa saja masih p
Dua tahun telah berlalu sejak badai teror dan intrik digital mengguncang hidup Nika dan Ardi di ibu kota. Jakarta yang sibuk dan bising kini terasa jauh lebih hangat, terutama di dalam sebuah rumah minimalis bernuansa modern di kawasan Jakarta Selatan yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup mereka. Sore itu, sinar matahari keemasan menyusup lembut lewat jendela ruang keluarga, menerangi hamparan karpet bermain anak. Nika duduk bersila di lantai, mengenakan pakaian santai rumahannya sambil tertawa renyah. Di hadapannya, seorang anak laki-laki berusia satu tahun dengan mata bulat mewarisi sorot ketegasan Ardi tengah tertatih-tatih melangkah, berusaha mengejar bola mainannya. "Pelan-pelan, sayang... jangan terburu-buru," ucap Nika lembut, merentangkan kedua tangannya untuk menyambut tubuh mungil sang buah hati yang akhirnya terjatuh pelan ke dalam pelukannya. Nika menghujani pipi anaknya dengan ciuman gemas, membuat balita itu tertawa riang. Di ambang pintu dapur, Ardi berdir
Sinar matahari pagi di Jakarta memantul terang dari kaca-kaca gedung Fakultas Teknik, memancarkan atmosfer yang jauh lebih ramah dibanding ketegangan yang sempat mencengkeram hidup Nika dan Ardi beberapa bulan lalu. Di ruang tunggu sidang lantai dua, suasana terasa begitu senyap namun penuh debar. Nika merapikan setelan jas hitam formalnya, memastikan setiap lembar naskah skripsi di dalam map biru di pangkuannya tersusun rapi tanpa ada yang terlewat. Di sampingnya, Ardi duduk dengan postur tegap, mengenakan kemeja putih bersih dan dasi gelap yang menyamarkan bekas luka di lehernya. Meski fisik mereka sempat dihantam badai teror yang mematikan, sorot mata keduanya kini menyala oleh tekad yang tak tergoyahkan. "Bagaimana perasaanmu, Nik?" bisik Ardi pelan, tangannya terulur menggenggam jemari Nika yang terasa sedikit dingin di dalam balutan jas formalnya. Nika menoleh, membalas genggaman tangan Ardi dengan erat, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan degup jantungnya. "Sedi







