Home / Romansa / Degrees Of Intimacy / Bab 4: Malam di Bawah Lampu Merkuri

Share

Bab 4: Malam di Bawah Lampu Merkuri

Author: Sasmita
last update publish date: 2026-06-15 14:20:52

Setelah berjam-jam merendam kertas koran hingga jemari menghitam, Nika dan Ardi keluar dari gedung aula pukul 17.30. Bahu Nika kaku, betisnya berdenyut.

Ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari Dania: Nika, sudah balik? Tolong titip pembalut bungkus pink dan biskuit Roma Kelapa di minimarket depan ya. Nika membalas singkat, lalu menatap jalanan kampus yang temaram oleh lampu merkuri.

​"Belum pulang?"

​Nika sedikit tersentak. Ardi sudah berjalan di sampingnya sejak tadi. Tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana. Jaket parasut hitamnya yang tadi pagi ditaruh di dalam tas, sekarang sudah terpasang rapi, menutupi kemeja putih ospeknya.

​"Eh, Ardi. Iya nih, mau ke minimarket depan dulu, dititipi barang sama kakak kos," kata Nika sambil menyesuaikan langkah kakinya yang pendek dengan langkah kaki Ardi yang lebar.

​Ardi mengangguk paham. "Kos kamu di daerah mana memangnya?"

​"Di Gang Senggol belakang kampus itu. Yang dekat warung makan Bu Sipon. Tahu tidak?"

​"Oh, tahu. Kosan cowok aku juga di gang sebelah situ. Berarti kita searah jalan ke depannya," sahut Ardi lempeng.

​Di bawah temaram lampu merkuri kuning, bayangan tubuh mereka yang kontras, Nika yang mungil dan Ardi yang jangkung, terproyeksi panjang di atas trotoar semen.

Tidak ada obrolan yang berat di antara mereka, hanya suara langkah sepatu yang bergesekan dengan kerikil kecil dan deru angin malam yang mulai terasa dingin meniup permukaan kulit.

​"Hari pertama yang kacau ya," celetuk Nika memecah keheningan, mencoba menertawakan nasib sial mereka tadi siang.

​"Bagi kamu mungkin kacau. Tapi bagi aku, ini lumayan seru," balas Ardi tanpa menoleh, pandangannya lurus ke depan memperhatikan gerbang luar kampus yang sudah mulai dekat.

​Nika mendengus kecil, menatap Ardi dari samping. "Seru dari mananya coba? Tangan belepotan tinta, kena hukum, dijemur siang-siang. Kamu memang rada aneh ya, Ardi."

​Ardi menghentikan langkahnya tepat di bawah salah satu tiang lampu, membuat Nika refleks ikut berhenti dan berbalik menghadap cowok itu. Ardi menatap Nika dengan pandangan matanya yang tajam namun tidak terasa intimidatif lagi seperti tadi pagi.

​"Seru karena aku mendapat teman baru yang langsung bisa diajak susah bareng di hari pertama," kata Ardi pelan, suaranya terdengar sangat tulus di antara desau angin malam. "Aku pikir anak-anak IT bakal individualis atau sibuk dengan dunianya sendiri. Ternyata tidak semua."

​Kalimat Ardi barusan rasanya menembus lapisan pertahanan dirinya yang sejak kemarin dipenuhi rasa cemas sebagai anak rantau. Kata "teman baru" yang diucapkan Ardi dengan begitu mudahnya, mendadak terasa sangat mahal dan berarti bagi Nika yang belum punya siapa-siapa di kota ini.

​Nika tersenyum, kali ini senyumnya lepas dan tulus. "Aku juga makasih ya, Ardi. Tadi siang kalau tidak ada kamu yang hafal pasal itu, mungkin hukuman kita bakal lebih parah dari sekadar membuat bubur kertas."

​Ardi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia cuma mengangguk kecil, lalu kembali berjalan mendahului Nika menuju pintu keluar minimarket yang lampunya menyala terang benderang.

​"Ayo, buruan beli titipan kakak kos kamu. Keburu malam, nanti gang masuk kosan kamu makin gelap," ajak Ardi dari depan.

​Nika mempercepat langkahnya, menyusul di belakang punggung Ardi. Malam itu, di mata Nika, Ardi resmi berubah status menjadi seorang teman.

Namun, saat Nika baru saja akan melangkah masuk ke minimarket, ia melihat Ardi berhenti mendadak di depan rak majalah. Ardi tidak mengambil apa-apa, tetapi tangannya gemetar hebat saat menyentuh sebuah surat kabar yang memuat berita kecelakaan kerja di proyek besar yang melibatkan perusahaan IT milik keluarga Ardi.

​"Nika, jangan pernah ceritakan pada siapa pun kalau kamu melihat aku di sini malam ini," bisik Ardi dengan suara yang bergetar.

​Nika mematung. "Apa maksudmu?"

​"Kamu tidak perlu tahu. Semakin sedikit yang kamu tahu, semakin aman kamu."

Ardi berbalik, lalu berlari menjauh ke arah gang gelap di samping minimarket.

​"Ardi! Tunggu!" teriak Nika.

​Ia baru saja hendak bertanya, namun Ardi sudah berlari menjauh ke arah gang gelap di samping minimarket, meninggalkan Nika sendiri dengan keranjang belanjaan di tangan dan sebuah misteri besar yang baru saja terbuka lebar.

Saat di kasir, ia sempat melirik ke luar jendela kaca. Gang itu tetap gelap, seolah-olah menelan semua rahasia yang baru saja Ardi tumpahkan.

​"Totalnya dua puluh lima ribu, Mbak," suara kasir membuyarkan lamunannya.

​Nika merogoh saku, menyerahkan uang, lalu berjalan keluar dan ternyata ada sebuah rahasia yang baru saja mengubah segalanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Degrees Of Intimacy   Bab 65: Jejak Digital yang Mencurigakan

    Malam itu, suasana di ruang keluarga terasa jauh lebih senyap dari biasanya. Nika duduk di tepi sofa dengan laptop menyala di pangkuannya, tetapi pandangannya menerawang kosong ke arah sudut ruangan. Pesan singkat dari Kirana di ponsel Ardi yang sempat terbaca sekilas masih berputar-putar di kepalanya, meninggalkan rasa gundah yang sulit untuk diabaikan begitu saja. ​Dia hanya rekan kerja baru, Nika. Jangan terlalu membesar-besarkan masalah, batin Nika mencoba menenangkan pikirannya sendiri. Sebagai sesama pengembang perangkat lunak, ia sangat paham bahwa diskusi hingga larut malam dan obrolan santai antarrekan kerja adalah hal yang lumrah. Dunia IT menuntut komunikasi yang intens, terutama saat tenggat proyek semakin dekat. ​Namun, ada satu hal dalam insting seorang programmer andal yang tidak bisa dibohongi: anomali data dan pola yang ganjil. ​Karena rasa penasaran yang mulai menggerogoti ketenangannya, Nika perlahan membuka panel server sinkronisasi keluarga yang terhubung den

  • Degrees Of Intimacy   Bab 64: Bayangan di Meja Kerja

    Suara ketukan sepatu berhak tajam menggema pelan di atas lantai marmer lobi utama perusahaan pengembang perangkat lunak tempat Ardi bekerja di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Waktu kini telah menunjukkan pukul tujuh malam lewat, di mana sebagian besar karyawan lain sudah membereskan meja mereka dan bersiap pulang untuk menikmati waktu bersama keluarga. ​Ardi, di sisi lain, masih duduk di kubikal kerjanya, memandangi layar monitor yang menampilkan barisan panjang kode sistem keamanan yang baru saja direvisi. Di tangannya, sebuah cangkir kopi hitam yang mulai mendingin dibiarkan begitu saja. ​Tak lama kemudian, bayangan seseorang terlihat mendekat dari balik partisi kaca. Seorang wanita berpenampilan sangat rapi dengan setelan blazer profesional dan rambut tergerai rapi tersenyum tipis menyapa Ardi. ​"Masih sibuk dengan barisan kodenya, Ardi?" suara Kirana terdengar lembut memecah kesunyian lantai kantor yang mulai lengang. ​Kirana adalah seorang konsultan keamanan siber ekster

  • Degrees Of Intimacy   Bab 63: Fajar di Pelabuhan Lama

    Suara sirine mobil polisi yang meraung-raung memecah keheningan dini hari di kawasan pelabuhan lama Tanjung Priok. Lampu rotator berwarna biru dan merah berputar liar, memantulkan sinarnya ke dinding-dinding kontainer karatan yang berderet di sepanjang dermaga. ​Di dalam gudang yang kini dipenuhi oleh aparat kepolisian dan tim siber forensik, pemimpin sindikat beserta anak buahnya tampak terduduk lemas dengan tangan terborgol di balik punggung. Bukti-bukti digital berupa salinan master dan server lokal telah berhasil disita sepenuhnya oleh pihak berwenang sebelum sempat menghancurkan infrastruktur kota. ​Ardi duduk di tepi sebuah kotak kayu, meringis pelan saat seorang petugas medis melilitkan perban steril di lengan kirinya yang terluka akibat tusukan pisau. Di hadapannya, Nika berlari kecil menerobos garis polisi, napasnya tersengal-sengal dengan air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya. ​"Ardi!" panggil Nika panik, langsung berlutut di hadapan suaminya dan meme

  • Degrees Of Intimacy   Bab 62: Pertaruhan Terakhir di Pelabuhan

    Darah segar mengalir hangat membasahi lengan kiri Ardi, meresap cepat ke balik kain kemejanya yang koyak. Rasa nyeri yang menusuk tajam seketika menjalar hingga ke bahu, namun Ardi sama sekali tidak memedulikannya. Sepasang matanya menatap tajam penuh kemarahan ke arah pemimpin sindikat yang berdiri pongah di bawah temaram lampu gudang. ​"Jangan bergerak atau peluru ini benar-benar menembus kepala kalian!" bentak salah satu penjaga bersenjata sambil mengarahkan laras pistolnya semakin dekat ke arah Gibran dan Dania. ​Gibran menggertakkan giginya, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Meski tangannya berada di dekat perangkat dekoder, ia tahu gerakan sekecil apa pun akan berakibat fatal bagi keselamatan mereka berempat. Di layar monitor utama, barisan progres unggah data Project Sentinel sudah mencapai angka delapan puluh lima persen. Waktu tersisa tinggal hitungan detik sebelum sistem kota benar-benar lumpuh di bawah kendali sindikat tersebut. ​"Gibran, apa status unggah

  • Degrees Of Intimacy   Bab 61: Titik Balik di Ujung Senjata

    Pria berjas kusut itu terbatuk keras, tubuhnya terjepit di antara dinding semen dingin dan meja kerja yang roboh akibat terjangan Ardi. Napasnya memburu, namun alih-alih menunjukkan rasa takut, sudut bibirnya justru terangkat membentuk sebuah senyuman miring yang mengerikan. ​"Kamu pikir dengan melumpuhkanku, semua masalah ini selesai, Ardi?" geram pria itu di tengah ringikannya, matanya menatap tajam penuh kebencian. "Organisasi ini tidak dibangun oleh satu atau dua orang saja. Kami adalah akar yang tertanam di bawah tanah Jakarta. Bahkan jika kamu membunuhku sekarang, salinan data Project Sentinel yang asli sudah otomatis terunggah ke cloud luar negeri. Dalam waktu satu jam, seluruh sistem infrastruktur kota ini akan lumpuh total!" ​Gibran yang berdiri tak jauh dari sana langsung berlari mendekati jajaran monitor utama, jemarinya bergerak selihai kilat menyusuri baris demi baris kode yang sedang berjalan. "Ardi, jangan dengarkan dia! Dia sedang mengulur waktu! Sial... enkrip

  • Degrees Of Intimacy   Bab 60: Bayangan di Dermaga Lama

    Malam di kawasan pelabuhan lama Tanjung Priok terasa begitu pekat, diselimuti kabut tipis yang bergeser pelan tertiup angin laut. Di balik tumpukan kontainer karatan yang berderet rapi, sebuah mobil pickup hitam terparkir tanpa lampu penerangan. Ardi, Gibran, dan Dania berjongkok di balik bayangan, mengamati sebuah gudang besar beratap seng yang tampak usang dengan satu-satunya lampu sorot kuning menyala di atas pintu utamanya. ​"Dari pantauan sinyal jammer yang dikirim Gibran tadi, sumber transmisi enkripsi itu berasal dari dalam gedung utama gudang itu," bisik Ardi pelan, matanya menatap tajam ke arah pintu masuk yang dijaga oleh dua orang pria berbadan tegap dengan jaket kulit gelap. ​Gibran yang memegang tablet kecil di pangkuannya mengangguk setuju. "Sistem keamanannya menggunakan local intranet tertutup. Mereka tidak pakai internet publik agar tidak mudah dilacak. Pintar juga sisa-sisa anak buah organisasi itu." ​"Tapi mereka tidak tahu kalau kita sudah memotong jalur

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status