หน้าหลัก / Romansa / Degrees Of Intimacy / Bab 6: Hukum Newton dan Seporsi Siomay Dingin

แชร์

Bab 6: Hukum Newton dan Seporsi Siomay Dingin

ผู้เขียน: Sasmita
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-17 10:48:01

Kantin Fakultas Teknik saat jam makan siang adalah representasi sempurna dari pasar malam yang kehilangan kendali. Suara dentingan sendok beradu dengan piring plastik, gemuruh obrolan tentang rumus kalkulus, hingga aroma minyak gorengan panas memenuhi udara di bawah atap seng raksasa itu.

Nika berjalan di belakang Ardi, menjadikan punggung cowok itu sebagai tameng pembuka jalan di tengah lautan manusia ber-almamater. Ia memeluk buku catatannya erat, takut tersenggol hingga jatuh ke lantai yang becek oleh tumpahan air es.

​"Mau makan apa?" tanya Ardi tanpa menghentikan langkahnya.

​"Apa saja! Yang antreannya tidak seperti ular naga!" balas Nika keras, berusaha mengalahkan suara petikan gitar sumbang di pojokan.

​"Siomay saja yuk? Abangnya lagi senggang," tunjuk Ardi ke arah rombong bungkusan biru di dekat tiang tengah.

​Setelah mengamankan meja panjang dekat kipas angin berkarat, Ardi menyajikan dua piring siomay dengan bumbu kacang melimpah. Nika langsung menyambar gelas es tehnya, meminumnya hingga tersisa separuh dalam satu tarikan napas. "Ah, nikmat. Otakku terasa baru disiram air es setelah mendidih di kelas Profesor Bambang."

​Ardi duduk di seberangnya, membelah tahu putih dengan sendok plastik. "Baru hari Senin, Nika. Perjalanan kita masih panjang. Jangan habiskan energimu di minggu pertama."

​"Gampang sekali kamu bicara," gerutu Nika sambil menusuk kentang. "Kamu punya dasarnya. Tadi pas ditanya logika gelas saja langsung bisa menjawab. Aku tadi hampir mau menggunting gelas sungguhan gara-gara mikir keras."

​Ardi terkekeh. "Aku cuma kebetulan membaca buku logika sepupuku saat liburan. Bukan karena jenius."

​"Tetap saja, curi start," sahut Nika sambil mengunyah siomay yang terasa sudah agak dingin. "Janji kamu tadi mana? Katanya mau melihat catatanku?"

​Nika menggeser buku catatan tebalnya ke tengah meja, membukanya pada halaman yang dipenuhi tulisan tangan rapinya. Ardi menarik buku itu, lalu terdiam. Fokus utamanya berpindah total ke barisan rumus yang tertata apik.

Nika memperhatikan wajah Ardi dari seberang meja. Ia bisa melihat bekas luka kecil samar di dekat pelipis kiri Ardi dan rambutnya yang mencuat di belakang, tanda ia tidak terlalu peduli pada cermin.

​"Tulisanmu bagus, rapi sekali," celetuk Ardi tiba-tiba tanpa mendongak. "Dan cara kamu membuat analogi di sini lebih gampang dipahami daripada slide Profesor Bambang."

​Wajah Nika memanas. Ia buru-buru menyedot sisa es di gelasnya untuk menyembunyikan rasa salah tingkah. "Iya, aku kalau belajar memang harus divisualisasikan, biar tidak gampang lupa."

​Ardi mendongak, menatap Nika lurus. "Aku pinjam buku ini sampai malam boleh? Aku mau menyalin bagian yang tadi pagi tidak sempat kutangkap."

​"Boleh, tapi awas ya kalau ketumpahan kopi atau robek. Ini buku keramatku," ancam Nika sambil mengacungkan garpu.

​"Aman. Taruhannya nyawaku," jawab Ardi dengan sudut bibir terangkat tipis.

​Saat itulah, tepukan keras mendarat di bahu Ardi. "Woi! Mahasiswa baru teladan lagi pacaran di pojokan!" Suara cempreng itu tidak salah lagi. Nika menoleh dan mendapati Gibran berdiri di sana, diikuti Dania yang berjalan santai membawa sebotol susu kotak.

​"Kak Dania! Kak Gibran!" sapa Nika ceria.

​Dania menarik kursi plastik kosong. "Gila ya kalian, kelas baru bubar langsung mojok di sini." Gibran duduk di sebelah Ardi, merangkul bahunya sok akrab.

​"Ini sedang diskusi materi kelas," bela Nika sambil menunjuk buku catatannya.

​Gibran melirik buku itu, lalu bergidik. "Idih, tulisan apaan nih? Include iostream? Int main? Kepala aku langsung migrain. Anak Arsitektur tidak kuat melihat beginian."

​"Halah, gaya kamu. Laporan praktikum mekanika tanah kamu saja kemarin menyontek anak Sipil," cibir Dania, membuat Gibran memasang wajah tersinggung secara dramatis.

​Nika tertawa lepas melihat kelakuan dua seniornya. "Ngomong-ngomong, minggu depan sudah pembukaan pendaftaran kepanitiaan Teknik Bersatu," ujar Dania serius. "Daftarlah. Cari pengalaman organisasi di awal, biar relasi kalian luas."

​Nika saling berpandangan dengan Ardi. Ada keraguan di mata Nika, sementara Ardi tampak menimbang-nimbang. "Daftar divisi apa memangnya?" tanya Ardi.

​"Kalau Ardi cocoknya masuk Divisi Keamanan atau Perlengkapan, badannya bongsor ini bisa dipakai buat angkat-angkat panggung," celetuk Gibran.

​"Kalau Nika, masuk Divisi Sekretariat atau Acara saja, biar bareng aku," tawar Dania sambil mengedipkan mata.

​Sebelum Nika sempat menolak, Ardi menutup buku catatan Nika pelan. "Aku bakal daftar, Kak," kata Ardi tegas. Ia menatap mata Nika dengan intensitas yang membuat jantung gadis itu berdegup kencang. "Kamu ikut juga kan, Nika? Biar minimal ada teman yang bisa diajak berbagi tugas."

​Nika terpaku. Rasa aman yang aneh merayap di dadanya. "Ya sudah, demi solidaritas bubur kertas minggu lalu, aku ikut daftar juga," sahut Nika pasrah.

​Namun, di saat mereka tertawa, ponsel Ardi di atas meja bergetar hebat. Nama penelepon di layar membuat tawanya hilang seketika. Wajah Ardi berubah tegang. Ia mematikan ponselnya dengan terburu-buru, lalu menatap Nika dengan ekspresi gelisah yang tak terbaca.

​"Nika, maaf, aku harus pergi sekarang juga," ucap Ardi singkat sebelum ia bangkit dan melangkah cepat meninggalkan kantin.

​Nika terdiam menatap punggung Ardi yang menjauh, bertanya-tanya mengapa pria setenang itu bisa terlihat begitu ketakutan hanya karena sebuah panggilan telepon. Di kantin yang masih riuh, Nika merasa sepotong misteri besar baru saja dimulai.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Degrees Of Intimacy   Bab 59: Jejak di Jaringan Gelap

    "Kamu yakin langkah ini benar-benar aman, Gibran? Bagaimana kalau server umpan yang Nika buat justru terbaca sebagai sebuah jebakan oleh mereka?" tanya Dania dengan nada suara yang menyiratkan kecemasan mendalam, matanya menatap tajam ke arah layar monitor yang kini dipenuhi oleh barisan kode biner berwarna hijau menyala di ruangan yang temaram itu. ​Gibran mengetuk papan ketik laptopnya dengan sangat cepat, dahinya berkerut serius sementara kacamatanya memantulkan cahaya layar. "Justru itu tujuan utamanya, Dan. Kita harus membuat mereka mengira Nika sedang merasa panik ketakutan dan mencoba menghapus sisa data penting itu secara mandiri. Dengan begitu, mereka akan terpancing untuk membuka jalur komunikasi langsung guna meretas balik, dan tepat di situlah kita akan mencatat titik koordinat alamat IP asli mereka." ​Nika yang duduk tepat di sebelah Gibran menarik napas panjang-panjang untuk menenangkan degup jantungnya, lalu jemarinya yang lentik kembali menari di atas tombol ente

  • Degrees Of Intimacy   Bab 58: Meja Bundar Darurat

    Suasana di ruang tamu apartemen Ardi dan Nika malam itu terasa begitu menyesakkan, jauh berbeda dari kehangatan keluarga kecil yang biasa mereka bangun dengan tenang dan damai. Di atas meja kopi, sebuah laptop menyala menampilkan barisan kode enkripsi asing yang dikirimkan melalui jalur peretasan siang tadi. Gibran dan Dania duduk bersila di karpet dengan ekspresi tegang, sementara Ardi berdiri mondar-mandir di dekat jendela dengan rahang mengeras, dan Nika duduk di sofa sambil mendekap erat pundaknya sendiri, mencoba menepis rasa dingin yang merayap di dadanya. ​"Ini bukan kerjaan penjahat siber amatiran," ucap Gibran memecah keheningan malam, jemarinya bergerak sangat lincah menelusuri log data yang tersisa di layar monitor. "Pola enkripsinya menggunakan algoritma turunan Project Sentinel, tapi dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa melewati dinding api modern tanpa meninggalkan jejak identitas pengirimnya. Seseorang sedang mempermainkan kita dari bayang-bayang." ​Dania ya

  • Degrees Of Intimacy   Bab 57: Bayangan di Balik Layar

    Nika mematung di depan layar komputernya. Jantungnya berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya seolah ingin lepas. Barisan teks ancaman itu seakan mengejek rasa aman yang selama dua tahun terakhir mati-matian ia dan Ardi bangun di Jakarta. ​Bagaimana bisa? batin Nika panik. Sistem itu sudah hancur. Semua jaringannya sudah dibabat habis oleh kepolisian. ​Ia mencoba bernapas teratur, memaksa otaknya yang dibalut rasa takut untuk kembali berpikir analitis sebagai seorang programmer andal. Jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik, menelusuri jejak digital (IP trace) dari mana sinyal pesan pop-up itu dikirimkan. Namun, hasilnya justru membuat bulu kuduknya meremang. Jalur komunikasi itu berlapis-lapis, menggunakan proksi anonim yang memantul dari berbagai server luar negeri sebelum akhirnya mendarat langsung ke perangkat privat miliknya. ​Seseorang tidak sedang meretas server kantor secara acak. Orang ini secara spesifik menargetkan dirinya. ​Di tengah kepanikan yang mula

  • Degrees Of Intimacy   Bab 56: Retak di Balik Dinding Rumah

    Suara dering jam dinding di ruang tamu apartemen Jakarta Selatan itu berdetak konstan, mengisi kesunyian malam yang terasa begitu menyesakkan. Di atas meja kerja kecil di sudut ruangan, layar laptop Nika menyala terang, memantulkan barisan kode program yang sedang ia audit. Namun, jari-jarinya terdiam di atas papan ketik. Matanya menatap kosong ke arah layar, sementara pikirannya melayang pada pertengkaran kecil yang baru saja terjadi beberapa menit lalu antara dirinya dan Ardi. ​"Ardi, ini sudah yang ketiga kalinya minggu ini kamu memeriksa kunci jendela dan sensor pagar sampai tiga kali lipat," suara Nika terdengar lelah, mencoba menahan emosinya saat melihat Ardi kembali mondar-mandir mengecek setiap sudut ruang tamu. ​Ardi menghentikan langkahnya, menoleh dengan sorot mata yang menyiratkan kecemasan luar biasa. "Aku hanya ingin memastikan semuanya aman, Nika. Kamu tahu sendiri masa lalu kita tidak semudah itu dilupakan. Di luar sana, orang-orang itu... mereka bisa saja masih p

  • Degrees Of Intimacy   Bab 55: Rumah, Cinta, dan Fajar Baru

    Dua tahun telah berlalu sejak badai teror dan intrik digital mengguncang hidup Nika dan Ardi di ibu kota. Jakarta yang sibuk dan bising kini terasa jauh lebih hangat, terutama di dalam sebuah rumah minimalis bernuansa modern di kawasan Jakarta Selatan yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup mereka. ​Sore itu, sinar matahari keemasan menyusup lembut lewat jendela ruang keluarga, menerangi hamparan karpet bermain anak. Nika duduk bersila di lantai, mengenakan pakaian santai rumahannya sambil tertawa renyah. Di hadapannya, seorang anak laki-laki berusia satu tahun dengan mata bulat mewarisi sorot ketegasan Ardi tengah tertatih-tatih melangkah, berusaha mengejar bola mainannya. ​"Pelan-pelan, sayang... jangan terburu-buru," ucap Nika lembut, merentangkan kedua tangannya untuk menyambut tubuh mungil sang buah hati yang akhirnya terjatuh pelan ke dalam pelukannya. Nika menghujani pipi anaknya dengan ciuman gemas, membuat balita itu tertawa riang. ​Di ambang pintu dapur, Ardi berdir

  • Degrees Of Intimacy   Bab 54: Lembaran Baru di Ruang Sidang

    Sinar matahari pagi di Jakarta memantul terang dari kaca-kaca gedung Fakultas Teknik, memancarkan atmosfer yang jauh lebih ramah dibanding ketegangan yang sempat mencengkeram hidup Nika dan Ardi beberapa bulan lalu. Di ruang tunggu sidang lantai dua, suasana terasa begitu senyap namun penuh debar. ​Nika merapikan setelan jas hitam formalnya, memastikan setiap lembar naskah skripsi di dalam map biru di pangkuannya tersusun rapi tanpa ada yang terlewat. Di sampingnya, Ardi duduk dengan postur tegap, mengenakan kemeja putih bersih dan dasi gelap yang menyamarkan bekas luka di lehernya. Meski fisik mereka sempat dihantam badai teror yang mematikan, sorot mata keduanya kini menyala oleh tekad yang tak tergoyahkan. ​"Bagaimana perasaanmu, Nik?" bisik Ardi pelan, tangannya terulur menggenggam jemari Nika yang terasa sedikit dingin di dalam balutan jas formalnya. ​Nika menoleh, membalas genggaman tangan Ardi dengan erat, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan degup jantungnya. "Sedi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status