LOGINSampai di rumah, Annasya tidak menemukan Chika. Pintu kontrakan terkunci rapat seperti yang dia tinggalkan. Pagar besi tidak terbuka. Tapi di dalam rumah, sunyi.
Tidak ada suara tawa cadel Chika. Tidak ada suara boneka kelinci yang diseret-seret di lantai. Tidak ada aroma sabun bayi yang biasanya menempel di setiap sudut ruangan.
Annasya membuka pintu dengan tergesa. Jantungnya berdegup tidak karuan. Matanya menjelajahi setiap sudut ruang tamu, dapur, kamar tidur. Semuanya koson
"Ayo, Sayang," kata Raka pelan. "Kita jemput Chika."Raka menggenggam tangannya. Genggaman yang hangat. Genggaman yang mengingatkan Annasya bahwa masa lalu tidak perlu diangkut ke masa depan.Annasya mengangguk. Dia membiarkan Raka menarik tangannya, menjauh dari tempat pertemuan dengan Tari, menjauh dari rasa tidak nyaman yang masih melekat di sekujur tubuhnya.Mereka berjalan ke toko Bu Dewi. Langkah Raka masih sedikit pincang, tapi dia sudah berjalan tanpa kruk. Kruk itu sudah dia tinggalkan di rumah agar kakinya cepat terbiasa menopang beban tubuh. Sesekali Annasya membantu menahan siku Raka saat jalanan tidak rata.Toko Bu Dewi tidak terlalu ramai siang itu. Beberapa pembeli terlihat mondar-mandir melihat baju, ada juga yang sedang menawar harga di meja kasir. Chika duduk manis di kursi plastik di pojok toko, ditemani boneka kelincinya dan sebotol susu kotak yang tinggal setengah."Ibu, Papa ….!" teriak Chika begitu melihat Raka dan Ann
Annasya berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Wajah itu—wajah dengan lesung pipit di pipi kanan—tidak mungkin dia lupakan. Meskipun sudah bertahun-tahun tidak bertemu, meskipun pertemuan terakhir mereka di depan toko baju dulu berlangsung singkat dan menyakitkan, Annasya tetap mengenalinya.Tari.Teman SD dulu. Perempuan yang dulu semasa kecil sempat akrab dengannya, yang kemudian berubah menjadi begitu asing saat dewasa. Perempuan yang pernah mengejeknya di depan toko baju, yang mengatakan bahwa kerjaannya sekarang hanya penjaga toko kelontong.Dan sekarang, Tari berdiri di depannya lagi.Dengan senyum yang tidak ramah. Dengan tatapan yang menusuk."Ternyata kamu sudah menikah lagi ya, Annasya?"Suara Tari terdengar manis, tapi menyakitkan. Dia berdiri dengan tangan bersilang di dada, kakinya sedikit dibuka, seperti seorang ratu yang sedang menghakimi rakyat jelata.Annasya tidak bergerak. Dia merasakan Raka di sampingny
Bab 53Pagi itu adalah jadwal kontrol Raka yang keempat sejak kecelakaan. Dan hari ini juga, setelah hampir dua bulan lamanya, dokter akan memutuskan apakah kakinya sudah cukup pulih untuk melepas perban dan memulai terapi berjalan tanpa kruk.Raka sudah bangun sejak azan Subuh. Dia tidak bisa tidur lagi setelah itu, bukan karena sakit, tapi karena gugup. Perutnya terasa kembung, tangannya dingin, dan matanya tidak bisa fokus pada satu titik. Laki-laki itu kini gelisah seperti anak kecil yang akan menghadapi ujian sekolah.Annasya menyadari kegelisahan itu. Saat dia bangun untuk menyiapkan sarapan, dia melihat suaminya sudah duduk di kursi ruang tamu, merapikan ujung perban di kakinya yang mulai longgar."Mas belum tidur lagi?" tanya Annasya sambil menguap kecil."Udah. Bangun sejak subuh.""Kenapa nggak lanjut tidur?""Nggak bisa. Pikiranku ... nggak tenang."Annasya tersenyum. Dia berjalan mendekat, duduk di samping Raka, lal
Tangan Annasya seketika gemetar. Delapan ratus lima puluh juta. Delapan ratus lima puluh juta rupiah. Nominal yang sangat besar untuk seorang laki-laki yang sehari-hari menjadi kuli angkut, yang kerja serabutan, yang kakinya patah dan tidak punya rumah mewah, yang menyewa kontrakan seharga satu juta per bulan."Ini ... ini milik Mas Raka?" bisik Annasya pada dirinya sendiri, tidak percaya.Dia membaca ulang. Angkanya tidak berubah.Dia mengecek nama. Masih nama Raka.Dia mengecek logo bank. Masih bank yang sama.Annasya duduk di tepi tempat tidur. Kakinya terasa lemas. Dunia terasa berputar.Delapan ratus lima puluh juta."Kenapa Mas Raka nggak pernah bilang?" tanya Annasya dalam hati."Dia bilang dia nggak punya apa-apa. Dia bilang dia kerja serabutan. Dia bilang dia nggak bisa ngundang orang tuanya karena malu. Dia bilang dia nggak punya uang untuk pesta. Tapi dia punya tabungan delapan ratus lima puluh juta?"Annasya
Raka mengangguk. "Iya. Kita memang perlu bicara.""Jaga mereka baik-baik."Raka menatap Aldo. Matanya tidak berkedip."Aku akan jaga mereka dengan nyawaku kalau perlu."Aldo tersenyum pahit.“Semoga kamu ingat ucapanku dulu,” kata Aldo.Raka tidak menjawab. Dia hanya menunduk.Annasya lalu keluar dari dapur, membawakan segelas air putih untuk Aldo. Tangannya sedikit gemetar saat meletakkan gelas di atas meja."Makasih, Annasya. Kamu nggak perlu repot-repot.""Sama-sama."Aldo meminum air itu perlahan. Chika duduk di pangkuan Raka, matanya yang bulat menatap Aldo dengan rasa ingin tahu."Ayah, Ayah sedih?" tanya Chika polos.Aldo tersenyum. "Nggak, Sayang. Ayah nggak sedih.""Tapi mata Ayah
Jantung Annasya seketika berdegup kencang. Bukan karena bahagia, tapi karena dia tidak siap. Dia tidak siap melihat laki-laki itu lagi. Tidak setelah semua yang terjadi.Tidak setelah dia memutuskan untuk pindah, untuk menikah, untuk memulai hidup baru dengan Raka.Raka juga membeku. Wajahnya berubah menegang, dan Annasya yang duduk di sampingnya bisa merasakan ketegangan yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh suaminya.Rahang Raka mengeras. Tangan kirinya yang semula santai di pangkuan, kini mengepal.Chika tidak mengerti ketegangan itu. Gadis kecil itu hanya mendengar suara salam yang familiar, suara yang meskipun jarang dia dengar akhir-akhir ini, tetap terekam di memori kecilnya."Ayah!" teriak Chika dengan suara cadelnya yang khas. Matanya yang masih sembab bekas menangis kini berbinar-binar.Chika berlari.Lari kecil menuju pintu yang masih terbuka. Sandal jepitnya terlepas di tengah jalan, tapi dia tidak peduli. Dia terus ber







