Se connecterBab 53
Pagi itu adalah jadwal kontrol Raka yang keempat sejak kecelakaan. Dan hari ini juga, setelah hampir dua bulan lamanya, dokter akan memutuskan apakah kakinya sudah cukup pulih untuk melepas perban dan memulai terapi berjalan tanpa kruk.
Raka sudah bangun sejak azan Subuh. Dia tidak bisa tidur lagi setelah itu, bukan karena sakit, tapi karena gugup. Perutnya terasa kembung, tangannya dingin, dan matanya tidak bisa fokus pada satu titik. Laki-laki itu kini gelisah seperti a
[Aku melihat Raka bersama seorang wanita].Foto itu terkirim. Satu centang, dua centang, lalu berubah menjadi berwarna biru.Sudah dibaca.Aldo menunggu balasan. Tapi tidak ada balasan.Dia memasukkan ponselnya ke saku, tapi matanya tidak pernah lepas dari meja Raka dan perempuan itu.Sementara itu, di meja dekat jendela, Raka sama sekali tidak menyadari keberadaan Aldo. Pikiran dan matanya hanya tertuju pada perempuan di hadapannya.“Kamu baik-baik saja, Raka?” suara perempuan itu lembut, dengan sedikit logat asing, seperti orang yang sudah lama tinggal di luar negeri.Raka menghela napas. “Aku baik, Via. Kamu?”“Baik. Sudah lama kita tidak bertemu. Terakhir ... waktu pamanku meninggal, ya?”Raka mengangguk. “Iya. Sudah hampir tiga tahun.”Perempuan bernama Vianita—atau Via, panggilan akrabnya adalah sepupu Raka. Anak dari adik ibunya.Mereka tumbuh ber
Pagi itu Raka bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena tidak bisa tidur, tapi karena ada urusan yang harus dia selesaikan. Kakinya yang masih dalam masa pemulihan sudah jauh lebih baik.Dia bisa berjalan tanpa kruk meskipun masih sedikit rasa ngilu yang dulu sering datang kini hanya sesekali muncul saat cuaca sedang dingin.Annasya sudah berangkat ke toko Bu Dewi lebih pagi karena ada kiriman barang baru yang harus dirapikan. Chika masih tidur ketika Annasya pergi, jadi Raka yang bertugas mengantarkan gadis kecil itu ke tempat penitipan anak tidak jauh dari rumah.“Papa, Chika nggak mau sekolah,” rengek Chika sambil mengucek matanya.Rambut keritingnya baru saja disisir, dan Raka juga memakaikan bajunya sampai memakaikan bedak ke wajah Chika.“Ini bukan sekolah, Sayang. Ini tempat main. Nanti Chika ketemu teman-teman baru. Seru lho.”“Beneran, Pa?”“Iya Sayang.”Chika mengangguk meskipun matanya masih sayu. Raka menggendongnya dengan hati-hati, karena kakinya masih dalam masa pen
"Ayo, Sayang," kata Raka pelan. "Kita jemput Chika."Raka menggenggam tangannya. Genggaman yang hangat. Genggaman yang mengingatkan Annasya bahwa masa lalu tidak perlu diangkut ke masa depan.Annasya mengangguk. Dia membiarkan Raka menarik tangannya, menjauh dari tempat pertemuan dengan Tari, menjauh dari rasa tidak nyaman yang masih melekat di sekujur tubuhnya.Mereka berjalan ke toko Bu Dewi. Langkah Raka masih sedikit pincang, tapi dia sudah berjalan tanpa kruk. Kruk itu sudah dia tinggalkan di rumah agar kakinya cepat terbiasa menopang beban tubuh. Sesekali Annasya membantu menahan siku Raka saat jalanan tidak rata.Toko Bu Dewi tidak terlalu ramai siang itu. Beberapa pembeli terlihat mondar-mandir melihat baju, ada juga yang sedang menawar harga di meja kasir. Chika duduk manis di kursi plastik di pojok toko, ditemani boneka kelincinya dan sebotol susu kotak yang tinggal setengah."Ibu, Papa ….!" teriak Chika begitu melihat Raka dan Ann
Annasya berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Wajah itu—wajah dengan lesung pipit di pipi kanan—tidak mungkin dia lupakan. Meskipun sudah bertahun-tahun tidak bertemu, meskipun pertemuan terakhir mereka di depan toko baju dulu berlangsung singkat dan menyakitkan, Annasya tetap mengenalinya.Tari.Teman SD dulu. Perempuan yang dulu semasa kecil sempat akrab dengannya, yang kemudian berubah menjadi begitu asing saat dewasa. Perempuan yang pernah mengejeknya di depan toko baju, yang mengatakan bahwa kerjaannya sekarang hanya penjaga toko kelontong.Dan sekarang, Tari berdiri di depannya lagi.Dengan senyum yang tidak ramah. Dengan tatapan yang menusuk."Ternyata kamu sudah menikah lagi ya, Annasya?"Suara Tari terdengar manis, tapi menyakitkan. Dia berdiri dengan tangan bersilang di dada, kakinya sedikit dibuka, seperti seorang ratu yang sedang menghakimi rakyat jelata.Annasya tidak bergerak. Dia merasakan Raka di sampingny
Bab 53Pagi itu adalah jadwal kontrol Raka yang keempat sejak kecelakaan. Dan hari ini juga, setelah hampir dua bulan lamanya, dokter akan memutuskan apakah kakinya sudah cukup pulih untuk melepas perban dan memulai terapi berjalan tanpa kruk.Raka sudah bangun sejak azan Subuh. Dia tidak bisa tidur lagi setelah itu, bukan karena sakit, tapi karena gugup. Perutnya terasa kembung, tangannya dingin, dan matanya tidak bisa fokus pada satu titik. Laki-laki itu kini gelisah seperti anak kecil yang akan menghadapi ujian sekolah.Annasya menyadari kegelisahan itu. Saat dia bangun untuk menyiapkan sarapan, dia melihat suaminya sudah duduk di kursi ruang tamu, merapikan ujung perban di kakinya yang mulai longgar."Mas belum tidur lagi?" tanya Annasya sambil menguap kecil."Udah. Bangun sejak subuh.""Kenapa nggak lanjut tidur?""Nggak bisa. Pikiranku ... nggak tenang."Annasya tersenyum. Dia berjalan mendekat, duduk di samping Raka, lal
Tangan Annasya seketika gemetar. Delapan ratus lima puluh juta. Delapan ratus lima puluh juta rupiah. Nominal yang sangat besar untuk seorang laki-laki yang sehari-hari menjadi kuli angkut, yang kerja serabutan, yang kakinya patah dan tidak punya rumah mewah, yang menyewa kontrakan seharga satu juta per bulan."Ini ... ini milik Mas Raka?" bisik Annasya pada dirinya sendiri, tidak percaya.Dia membaca ulang. Angkanya tidak berubah.Dia mengecek nama. Masih nama Raka.Dia mengecek logo bank. Masih bank yang sama.Annasya duduk di tepi tempat tidur. Kakinya terasa lemas. Dunia terasa berputar.Delapan ratus lima puluh juta."Kenapa Mas Raka nggak pernah bilang?" tanya Annasya dalam hati."Dia bilang dia nggak punya apa-apa. Dia bilang dia kerja serabutan. Dia bilang dia nggak bisa ngundang orang tuanya karena malu. Dia bilang dia nggak punya uang untuk pesta. Tapi dia punya tabungan delapan ratus lima puluh juta?"Annasya







