Share

Bab 4

last update publish date: 2026-04-10 11:10:32

Tiga hari sejak Raka datang melamar. Tiga hari Annasya tidak bisa tidur nyenyak. Tiga hari pikirannya tak fokus.

Malam itu, Chika sudah tidur. Rumah kontrakan kecil itu sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik dari luar.

Annasya duduk di kursi plastik di teras rumah. Secangkir teh jahe sudah dingin di tangannya. Tidak disentuh. Pikirannya terlalu sibuk untuk menikmati hangatnya minuman.

‘Raka melamarku,’ pikirnya.

Semuanya masih terasa tidak nyata. Laki-laki itu—sahabat mantan suaminya—datang dengan kemeja putih rapi dan keranjang buah, lalu berkata, “Aku ingin menikahimu.”

Annasya menghela napas. “Aku harus menjawab apa? Aku bingung.”

Annasya tidak pernah menyangka akan berada di posisi ini. Sebagai perempuan yang baru saja diceraikan talak tiga oleh suaminya. Sebagai ibu tunggal, sekaligus seseorang yang luka hatinya belum benar-benar sembuh.

Namun takdir berkata lain.

Dan sekarang, ia memiliki dua pilihan. Menerima Raka, laki-laki yang mengaku mencintainya sejak empat tahun lalu. Atau menolaknya dan melanjutkan hidup sendiri seperti yang sudah direncanakannya.

Annasya masih sibuk mencerna jawaban untuk lamaran Raka. Tapi kenapa ... kenapa pesan Aldo masih terus menghantuinya?

Annasya membuka ponselnya. Layar itu menampilkan pesan Aldo yang dia baca berkali-kali dalam tiga hari terakhir.

[Assalamu'alaikum, Annasya. Aku dengar Raka datang ke rumahmu. Tolong jangan terima lamarannya. Dia tidak baik untukmu. Percayalah].

“Aku tahu aku sudah tidak punya hak atas dirimu. Tapi tolong, untuk sekali ini, dengarkan aku. Raka bukan laki-laki yang baik. Demi Chika. Tolong.”

“Kenapa Aldo jadi ikut campur? Dia bahkan menjelek-jelekkan Raka,” bisiknya.

Annasya berdecak sebal. “Dia yang meninggalkanku. Dia yang bosan. Dia yang mentalak tiga tanpa jeda. Sekarang dia melarangku menikah dengan sahabatnya sendiri?”

Dan satu pertanyaan yang paling mengganjal.

“Kenapa Aldo tahu Raka datang ke rumahku?” tanya Annasya pada diri sendiri.

Annasya tidak pernah memberi tahu Aldo tentang kunjungan Raka. Dia juga tidak memposting apa pun di media sosial. Rumah kontrakannya tidak banyak orang tahu.

“Apakah mereka masih sering bertemu? Apakah Raka memberitahu Aldo?”

Keesokan harinya, Annasya memutuskan untuk pergi ke pasar. Dia butuh udara segar. Butuh menjauh dari rumah kontrakan yang mulai terasa seperti sangkar.

Chika dia titipkan pada Bu RT, seorang janda paruh baya yang baik hati dan sering membantu Annasya menjaga Chika saat dia ada keperluan.

“Tenang saja, Bu Annasya. Chika sama saya aman,” kata Bu RT sambil menggendong Chika yang tertawa senang.

“Terima kasih, Bu RT. Saya tidak lama.”

Annasya berjalan kaki ke pasar tradisional yang berjarak sekitar lima belas menit dari kontrakannya. Sepanjang jalan, pikirannya tidak pernah lepas dari dua laki-laki itu. Aldo dan Raka.

Aldo. Suami pertama yang sekarang berstatus mantan suaminya. Laki-laki yang dulu membuatnya percaya pada cinta. Laki-laki yang menghancurkan kepercayaannya hanya dengan tiga kata. ‘Aku bosan, Annasya.’

Raka. Sahabat Aldo. Laki-laki yang selalu datang membawa buah tangan. Laki-laki yang matanya selalu terlihat sedih saat menatapnya. Laki-laki yang tiba-tiba melamar tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.

“Apakah Raka serius? Dan, apakah ucapannya bisa dipercaya??” tanya Annasya pada dirinya sendiri.

Tak lama berselang, Annasya tiba di pasar. Suasana ramai dengan pedagang yang menawarkan dagangan. Namun dia sedikit tidak fokus. Pikirannya tidak di sana.

“Annasya?”

Sebuah suara menyapanya dari belakang. Annasya menoleh, matanya sedikit membelalak melihat sosok itu.

Raka.

Laki-laki itu berdiri tidak jauh darinya. Hari ini dia tidak memakai kemeja rapi seperti tiga hari lalu. Dia hanya memakai kaos polo hitam dan celana jeans. Tapi tetap terlihat rapi.

“Raka? Kamu di sini?”

“Aku sedang belanja,” jawab Raka sambil mengangkat keranjang belanjaannya yang berisi sayuran dan telur.

Annasya tidak yakin itu kebetulan. Tapi dia tidak mau berprasangka buruk.

“Kamu sudah sarapan?” tanya Raka.

“Belum,” sahut Annasya.

“Ayo. Aku traktir.”

Annasya ingin menolak. Tapi perutnya keroncongan. Dan Raka sudah lebih dulu berjalan menuju warung makan sederhana di pinggir pasar. Mereka duduk berdua di meja kecil. Raka memesan dua porsi nasi uduk, teh manis untuk Annasya, kopi hitam untuk dirinya sendiri.

“Jadi ... bagaimana?” tanya Raka setelah pesanan mereka tiba.

Annasya pura-pura tidak mengerti. “Maksud kamu bagaimana, Raka?”

Bersambung …

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 42

    Malam itu, Annasya dan Raka selesai makan malam bersama. Suasana di rumah minimalis mereka terasa hangat.Lampu ruang tamu yang redup, aroma masakan yang masih tersisa di dapur, dan suara sendok yang sesekali tercebur ke dalam gelas teh hangat.Chika sudah kembali tertidur di kamarnya sejak satu jam yang lalu. Gadis kecil itu kelelahan setelah seharian membantu merapikan rumah baru—meskipun yang dia lakukan hanyalah memindahkan boneka kelincinya dari satu sudut ke sudut lain, lalu memindahkannya lagi ke tempat semula.Annasya dan Raka duduk berdua di ruang tamu. Raka merebahkan kakinya yang masih terbungkus perban di atas kursi kecil di depannya. Wajahnya sedikit lelah, tapi matanya masih segar—terjaga oleh kopi hitam yang dia minum perlahan. Annasya duduk di sampingnya, sesekali mengusap punggung tangan suaminya tanpa sadar—kebiasaan baru yang mulai terbentuk sejak mereka menikah."Minggu depan, Mas kontrol lagi, ya?" kata Annasya sambi

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 41

    Pagi itu matahari bersinar cerah di atas rumah minimalis yang berdiri mungil di gang kecil tidak jauh dari pasar. Cat dindingnya berwarna krem lembut dengan sentuhan putih di bagian kusen jendela. Halaman depannya cukup untuk satu pot tanaman rambat dan jemuran, cukup untuk Chika berlari-lari kecil tanpa takut jatuh ke selokan.Pintu besi berwarna hijau tua masih baru, belum berkarat seperti pintu kontrakan lama. Di dalam, ruang tamu berukuran dua kali tiga meter menyatu dengan dapur kecil di belakang. Dua kamar tidur berjajar di sisi kiri, satu kamar mandi di ujung lorong. Sederhana. Tapi terasa seperti istana bagi Annasya.Raka yang kakinya masih dalam masa penyembuhan tidak bisa membantu banyak—hanya bisa duduk di kursi sambil memberi arahan. Annasya bersama Bang Joko dan Pak Hadi, menggotong kardus-kardus berisi pakaian, peralatan dapur, dan mainan Chika dari kontrakan lama ke rumah baru ini."Alhamdulillah ya, Mas," kata Annasya, suaranya lembut, hampir berbisik. Matanya berkaca-k

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 40

    Pagi hari setelah pernikahan, Annasya bangun dengan perasaan yang aneh. Aneh seperti baru pertama kali merasakan sesuatu yang sudah lama hilang. Rasa aman, rasa tenang, rasa tidak sendiri.Dia membuka mata dan melihat langit-langit kontrakan yang retak di beberapa bagian, sama seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berbeda di udara pagi ini. Ada kehangatan yang tidak biasa, ada aroma kopi yang belum pernah ada sebelumnya.Raka sudah bangun lebih awal. Annasya mendengar suara kruk yang terdengar di lantai semen, diselingi langkah tertatih-tatih dari ruang tamu ke dapur, lalu ke ruang tamu lagi. Sesekali terdengar suara panci yang bergesekan, suara air yang dituang ke dalam gelas, dan suara batuk kecil yang diredam.Annasya tersenyum di atas bantal.“Dia masak,” bisiknya dalam hati. “Laki-laki yang kakinya masih patah itu masak untukku.”Dia bergegas bangun. Jilbab krem yang semalam dia lepas di samping bantal, kini dia kenakan kembali. Dia merapikan rambutnya sebentar di depan cermin keci

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 39

    Keputusan Annasya untuk menerima lamaran Raka membawa angin baru bagi kehidupan mereka. Hari-hari di rumah sakit yang awalnya dipenuhi rasa khawatir dan ketidakpastian, perlahan berubah menjadi persiapan untuk babak baru yang lebih cerah. Operasi Raka berjalan lancar.Dokter mengatakan kakinya akan pulih dalam beberapa bulan dengan terapi yang rutin, dan kondisinya akan kembali normal setelah beberapa hari istirahat total.Raka berbaring di tempat tidurnya dengan kaki yang masih terbungkus perban tebal, matanya tidak lagi buram. Senyumnya tidak pernah hilang sejak Annasya mengatakan menerima lamarannya di ruangan itu. Bahkan para suster dan perawat yang merawatnya mulai gemas melihat betapa bersemangatnya lelaki itu setiap kali Annasya datang menjenguk sepulang kerja.Sore itu, saat Annasya pulang lebih awal untuk menjemput Chika dari rumah Bu RT, Raka meminta ponselnya pada suster yang bertugas. Dia membuka daftar kontak, mencari nama yang sudah lama tidak dia hubungi.Panggilan itu b

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 38

    Annasya tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menghela napas, lalu mengusap punggung tangan Raka dengan jemarinya. Pelan, lembut, penuh ketenangan yang kontras dengan kegelisahan Raka.“Mas Raka.”“Iya.”“Kamu tahu nggak, kalau seluruh hidup aku, aku selalu memilih sesuatu yang keliatan sempurna di awal. Aku milih kuliah bukan karena suka, tapi karena gengsi. Aku milih jadi ibu rumah tangga bukan karena aku nggak bisa kerja, tapi karena aku dulu mikir itu yang terbaik. Aku milih Aldo bukan karena aku cinta mati, tapi karena dia pernah buat aku nyaman.”Raka mendengarkan.“Dan semua pilihan yang keliatan sempurna di awal itu ... semuanya berantakan. Nggak ada yang bertahan. Nggak ada yang bikin aku bahagia.”Annasya menunduk, menatap tangan Raka yang masih dia genggam. Jari-jarinya yang halus, bekas jari yang dulu terbiasa memegang pulpen dan buku kini menggenggam jari-jari kasar yang penuh

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 37

    Raka membuka matanya. Pandangannya masih kabur. Tidak jelas.Tapi dia bisa melihat siluet—bayangan buram seorang perempuan dengan jilbab dusty pink, dengan wajah yang basah oleh air mata.“Annasya ... kamu menangis?” suara Raka serak.Tangannya yang tidak terluka bergerak perlahan, berusaha meraih wajah Annasya. Jari-jarinya menyentuh pipi Annasya yang basah, menyeka air mata yang masih terus mengalir. “Maaf aku terlambat datang. Aku ... aku kecelakaan di jalan. Aku tidak sengaja—”“Nggak, Mas,” potong Annasya, suaranya tegas meskipun tangis masih menggelayut di setiap kata. “Ini sudah takdir. Kamu tidak bisa mengendalikan takdir.”Raka terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Dia tidak tahu apakah Annasya marah, kecewa, atau justru...“Mas Raka,” Annasya menggenggam tangan Raka yang masih di pipinya. Tangannya terasa hangat dibanfding dari udara malam di ruangan ber-AC ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status