LOGINTiga hari sejak Raka datang melamar. Tiga hari Annasya tidak bisa tidur nyenyak. Tiga hari pikirannya tak fokus.
Malam itu, Chika sudah tidur. Rumah kontrakan kecil itu sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik dari luar.
Annasya duduk di kursi plastik di teras rumah. Secangkir teh jahe sudah dingin di tangannya. Tidak disentuh. Pikirannya terlalu sibuk untuk menikmati hangatnya minuman.
‘Raka melamarku,’ pikirnya.
Semuanya masih terasa tidak nyata. Laki-laki itu—sahabat mantan suaminya—datang dengan kemeja putih rapi dan keranjang buah, lalu berkata, “Aku ingin menikahimu.”
Annasya menghela napas. “Aku harus menjawab apa? Aku bingung.”
Annasya tidak pernah menyangka akan berada di posisi ini. Sebagai perempuan yang baru saja diceraikan talak tiga oleh suaminya. Sebagai ibu tunggal, sekaligus seseorang yang luka hatinya belum benar-benar sembuh.
Namun takdir berkata lain.
Dan sekarang, ia memiliki dua pilihan. Menerima Raka, laki-laki yang mengaku mencintainya sejak empat tahun lalu. Atau menolaknya dan melanjutkan hidup sendiri seperti yang sudah direncanakannya.
Annasya masih sibuk mencerna jawaban untuk lamaran Raka. Tapi kenapa ... kenapa pesan Aldo masih terus menghantuinya?
Annasya membuka ponselnya. Layar itu menampilkan pesan Aldo yang dia baca berkali-kali dalam tiga hari terakhir.
[Assalamu'alaikum, Annasya. Aku dengar Raka datang ke rumahmu. Tolong jangan terima lamarannya. Dia tidak baik untukmu. Percayalah].
“Aku tahu aku sudah tidak punya hak atas dirimu. Tapi tolong, untuk sekali ini, dengarkan aku. Raka bukan laki-laki yang baik. Demi Chika. Tolong.”
“Kenapa Aldo jadi ikut campur? Dia bahkan menjelek-jelekkan Raka,” bisiknya.
Annasya berdecak sebal. “Dia yang meninggalkanku. Dia yang bosan. Dia yang mentalak tiga tanpa jeda. Sekarang dia melarangku menikah dengan sahabatnya sendiri?”
Dan satu pertanyaan yang paling mengganjal.
“Kenapa Aldo tahu Raka datang ke rumahku?” tanya Annasya pada diri sendiri.
Annasya tidak pernah memberi tahu Aldo tentang kunjungan Raka. Dia juga tidak memposting apa pun di media sosial. Rumah kontrakannya tidak banyak orang tahu.
“Apakah mereka masih sering bertemu? Apakah Raka memberitahu Aldo?”
Keesokan harinya, Annasya memutuskan untuk pergi ke pasar. Dia butuh udara segar. Butuh menjauh dari rumah kontrakan yang mulai terasa seperti sangkar.
Chika dia titipkan pada Bu RT, seorang janda paruh baya yang baik hati dan sering membantu Annasya menjaga Chika saat dia ada keperluan.
“Tenang saja, Bu Annasya. Chika sama saya aman,” kata Bu RT sambil menggendong Chika yang tertawa senang.
“Terima kasih, Bu RT. Saya tidak lama.”
Annasya berjalan kaki ke pasar tradisional yang berjarak sekitar lima belas menit dari kontrakannya. Sepanjang jalan, pikirannya tidak pernah lepas dari dua laki-laki itu. Aldo dan Raka.
Aldo. Suami pertama yang sekarang berstatus mantan suaminya. Laki-laki yang dulu membuatnya percaya pada cinta. Laki-laki yang menghancurkan kepercayaannya hanya dengan tiga kata. ‘Aku bosan, Annasya.’
Raka. Sahabat Aldo. Laki-laki yang selalu datang membawa buah tangan. Laki-laki yang matanya selalu terlihat sedih saat menatapnya. Laki-laki yang tiba-tiba melamar tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.
“Apakah Raka serius? Dan, apakah ucapannya bisa dipercaya??” tanya Annasya pada dirinya sendiri.
Tak lama berselang, Annasya tiba di pasar. Suasana ramai dengan pedagang yang menawarkan dagangan. Namun dia sedikit tidak fokus. Pikirannya tidak di sana.
“Annasya?”
Sebuah suara menyapanya dari belakang. Annasya menoleh, matanya sedikit membelalak melihat sosok itu.
Raka.
Laki-laki itu berdiri tidak jauh darinya. Hari ini dia tidak memakai kemeja rapi seperti tiga hari lalu. Dia hanya memakai kaos polo hitam dan celana jeans. Tapi tetap terlihat rapi.
“Raka? Kamu di sini?”
“Aku sedang belanja,” jawab Raka sambil mengangkat keranjang belanjaannya yang berisi sayuran dan telur.
Annasya tidak yakin itu kebetulan. Tapi dia tidak mau berprasangka buruk.
“Kamu sudah sarapan?” tanya Raka.
“Belum,” sahut Annasya.
“Ayo. Aku traktir.”
Annasya ingin menolak. Tapi perutnya keroncongan. Dan Raka sudah lebih dulu berjalan menuju warung makan sederhana di pinggir pasar. Mereka duduk berdua di meja kecil. Raka memesan dua porsi nasi uduk, teh manis untuk Annasya, kopi hitam untuk dirinya sendiri.
“Jadi ... bagaimana?” tanya Raka setelah pesanan mereka tiba.
Annasya pura-pura tidak mengerti. “Maksud kamu bagaimana, Raka?”
Bersambung …
“Mas … kok lama banget sih?” suara wanita itu terdengar manis.Dia berdiri di samping Aldo, menyentuh lengan Aldo dengan lembut, seperti pasangan yang sudah sangat akrab. “Aku udah nungguin di mobil dari tadi.”Aldo menunduk. Ada rasa bersalah di matanya, tapi bukan pada Tari. Pada Chika.“Maaf, Tari. Aku kangen anakku.”Tari tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata. Dia menoleh ke arah Chika, lalu berlutut menyamakan tinggi badan dengan gadis kecil itu.“Chika, ya?” Tari mengulurkan tangan, mencoba mengelus rambut keriting Chika. “Chika cantik banget. Mirip ibunya.”Chika mundur selangkah. Bukan karena takut, tapi karena dia tidak nyaman.“Halo, Tante,” sapa Chika sopan meskipun matanya tidak lepas dari wajah Tari.“Chika mau main sama Tante Tari, ‘kan? Tante punya boneka barbie di mobil. Yang rambutnya panjang, bisa disisir-sisir. Ch
Sore itu matahari masih terik, menciptakan pola-pola cahaya yang bergerak perlahan mengikuti tiupan angin. Beberapa ibu sudah mulai berdatangan menjemput anak-anak mereka. Mobil-mobil terparkir tidak rapi di pinggir jalan, dan suara anak-anak yang berlarian keluar dengan riang memenuhi udara.Chika sedang asyik mewarnai gambar kelinci di halaman belakang daycare. Jari-jari mungilnya yang masih kaku memegang krayon merah, mencoba mewarnai telinga kelinci itu dengan rapi.Wajahnya yang tembam berkonsentrasi penuh, lidahnya sedikit terjulur ke samping, kebiasaan lucu yang membuat para guru di daycare selalu tersenyum setiap melihatnya.“Chika, ada tamu untuk kamu!” panggil Bu Rina dari pintu depan.Chika mengangkat wajah. Matanya yang bulat berkedip-kedip.Chika meletakkan krayon merahnya, merapikan buku gambar yang mulai kusut di sudut-sudutnya, lalu berlari kecil menuju pintu depan. Sandal jepitnya yang bergambar kelinci dibelikan Ayah minggu lalu di pasar, berbunyi nyaring setiap kali
“Kamu mengancam saya?”“Saya tidak mengancam, Bu. Saya hanya mengingatkan.”“Kamu tidak tahu siapa saya! Suami saya bisa menghancurkan hidupmu—”“Bu.” Raka memotong, suaranya tetap tenang. “Saya tidak takut dihancurkan. Saya sudah tidak punya apa-apa. Istri saya, anak saya, itu harta saya. Saya akan lindungi mereka dengan cara apa pun.”Ibu Aldo kehilangan kata-kata.Di belakang Raka, Annasya akhirnya melangkah keluar. Tangannya meraih lengan Raka.“Bu,” panggil Annasya, suaranya pelan. “Apa yang Ibu cari di sini? Aldo? Aldo tidak ada di sini.”“Aku tidak mencari anakku. Aku mencarimu!”“Ada apa, Bu? Apa yang saya perbuat?”Ibu Aldo menatap Annasya dengan mata yang penuh kebencian.“Aldo depresi! Dia tidak mau makan, tidak mau keluar rumah, tidak mau bicara pada siapa pun! Dia hancur karena kamu, Annasya! Kamu yang menghancurkannya!”Annasya terdiam. Dadanya terasa sesak tetapi bukan karena dia masih cinta pada Aldo. karena dia tidak pernah ingin menghancurkan siapa pun.“Bu, saya tid
Malam itu, setelah Via pergi, suasana di rumah kecil itu kembali tenang. Chika sudah tertidur di kamarnya dengan boneka kelinci di samping bantal. Mulut mungilnya terbuka sedikit, napasnya teratur dan damai, tidak tahu bahwa dunia orang dewasa di luar kamarnya sedang berusaha keras untuk tetap tenang. Annasya baru saja selesai membereskan gelas-gelas bekas teh dan piring pisang goreng. Raka duduk di kursi ruang tamu, matanya menatap Annasya yang bolak-balik dari dapur ke ruang tamu dengan langkah ringan.“Mas belum tidur?" tanya Annasya sambil mengelap meja kayu tua di depan Raka."Belum. Masih mikirin besok.""Besok?""Besok aku mulai cari kerja lagi. Kaki udah enakan. Nggak enak terus-terusan di rumah. Kamu yang cari nafkah sendiri."Annasya berhenti mengelap. Dia menatap Raka. "Mas, nggak usah buru-buru. Kaki Mas masih belum sembuh total. Istirahat dulu.""Udah hampir dua bulan, Annasya. Cukup lama.""Tapi—""Say
Raka tidak peduli dengan setelan jas mahal yang mungkin terkena air teh. Dia tidak peduli dengan tamunya yang masih berdiri di pintu. Dia hanya peduli pada Annasya.Wajah istrinya yang pucat, matanya yang kosong, tangannya yang menggenggam erat ujung jilbab.Raka meraih tangan Annasya, memeriksa apakah ada luka akibat pecahan kaca. “Sakit? Ada yang kena?” Suaranya bergetar.Annasya menggeleng. Masih diam. Matanya masih menunduk menatap lantai.“Sayang ... lihat aku.”Annasya mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Raka. Ada ketakutan di sana.“Aku ... nggak sengaja, Mas,” bisik Annasya, suaranya pecah.“Nggak apa-apa. Cuma gelas. Nanti bisa beli lagi.” Raka mengusap pipi Annasya yang ternyata basah. Annasya menangis diam-diam. Tanpa suara.Raka memeluknya. Memeluk istrinya di tengah ruang tamu yang lantainya penuh pecahan kaca dan genangan teh hangat. Dia tidak peduli bahwa
Perjalanan pulang dari daycare terasa lebih sunyi dari biasanya. Chika duduk di kursi belakang mobil Bastian dengan boneka kelinci di pangkuannya, sesekali melirik ke luar jendela, sesekali menatap ibunya yang duduk di kursi depan dengan tatapan penuh tanda tanya.Gadis kecil itu tidak mengerti mengapa hari ini ayahnya tidak menjemput mereka berdua. Biasanya Raka selalu datang sendiri, meskipun dengan langkah pincang, meskipun dengan kruk yang kadang membuatnya terlihat lelah.“Bu,” panggil Chika pelan.“Iya, Sayang.”“Kok bukan Papa yang jemput Ibu?”Annasya menoleh ke belakang. Dia tersenyum meski sedikit dipaksakan, tapi cukup untuk menenangkan Chika. “Papa sedang ada urusan. Kita tunggu di rumah.”Chika mengangguk meskipun matanya masih bertanya-tanya. “Urusan apa, Bu?”“Urusan Papa. Nanti Papa jelasin sendiri.”Chika tidak bertanya lagi. Dia kembali as
Aldo dan Raka.Ada di depan rumah kontrakannya. Bersebelahan.Seperti dua sisi mata uang yang berbeda—tapi berdiri di tempat yang sama, di waktu yang sama.Pagi itu Aldo mengenakan kemeja putih lengan panjang yang disetrika rapi, tidak ada satu pun lipatan. Celana kain hitam yang tegas, sepatu pant
“Annasya.”Dia berhenti.“Aku serius,” kata Aldo. Suaranya tegang. “Aku serius ingin memperbaiki semuanya. Aku tidak akan menyerah.”Annasya menoleh. Matanya menatap Aldo tanpa ekspresi.“Selamat malam, Aldo.”Dia
Annasia masih tidak menoleh. Punggungnya tegap, tapi dadanya berdebar tidak karuan.“Tidak usah, Aldo. Aku bisa pulang sendiri.”“Tapi langit mulai gelap. Sebentar lagi hujan turun. Kamu tidak punya payung, kan?”Suara Aldo lirih. Bukan suara laki-laki
Annasya kembali ke rumahnya pukul delapan malam. Perjalanan pulang dari mall terasa lebih lama dari biasanya, bukan karena macet, tapi karena pikirannya yang terus berputar. Chika sudah terlelap di kursi belakang sejak setengah perjalanan, mulut mungilnya yang menggemaskan terbuka sedikit, napasn







