LOGINRaka menarik napas. Annasya bisa melihat kegelisahan di balik wajah tenang itu. Jari-jari Raka menggenggam lututnya sendiri.
“Annasya …”
Dia ragu. Matanya menatap Annasya—lama, dalam, seolah dia sedang menghafal wajah perempuan itu untuk terakhir kalinya sebelum melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
“Aku datang ke sini bukan tanpa alasan,” katanya.
Annasya menunggunya menyelesaikan kalimat.
“Aku tahu ini mungkin tidak pantas. Aku tahu kamu belum lama bercerai dengan Aldo. Tapi …” Raka menunduk. “Tapi aku tidak bisa berbohong lagi, Annasya. Aku tidak bisa lebih lama lagi menahannya.”
Jantung Annasya berdetak lebih cepat. ‘Apa maksudnya?’
“Aku ingin menikahimu, Annasya.”
Annasya terdiam. Matanya membelalak. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar.
“Kamu ... apa?”
“Aku tahu ini tiba-tiba,” Raka melanjutkan dengan cepat, seolah takut keberaniannya akan lenyap jika dia berhenti. “Aku tahu kamu mungkin mengira ini karena Aldo. Tapi ini bukan tentang Aldo. Ini tentang aku. Tentang perasaan yang sudah lama aku pendam.”
“Raka, kamu ... kamu sahabat Aldo.”
Pria itu mengangguk. “Aku tahu.”
“Dia baru saja menceraikanku tiga bulan lalu,” kata Annasya.
“Aku tahu.”
“Ini tidak pantas.”
Raka mengangkat wajahnya. Matanya menatap Annasya dengan intensitas yang membuat Annasya hampir tidak bisa bernapas.
“Apa yang pantas, Annasya? Apa yang pantas untuk perempuan baik seperti kamu? Dikhianati suami yang bosan? Hidup di kontrakan kecil dengan nafkah pas-pasan? Menjadi single mom di usia muda?”
Suara Raka tidak meninggi. Namun setiap katanya terasa seperti pukulan telak bagi Annasya.
“Aku tidak datang untuk menyakitimu. Aku datang karena aku melihat kamu. Sungguhan melihat kamu sebagai diri kamu sendiri. Bukan sebagai istri Aldo. Tapi sebagai Annasya. Perempuan yang kuat. Perempuan yang tetap tersenyum meski hatinya hancur. Perempuan yang ... membuatku jatuh cinta sejak pertama kali aku melihatmu.”
Annasya menunduk. Tangannya gemetar.
“Sejak kapan?” Annasya memberanikan diri bertanya dengan berbisik.
“Empat tahun lalu. Di pernikahanmu dengan Aldo. Waktu kamu berjalan menyusuri pelaminan. Kamu tersenyum padaku. Memang hanya senyum biasa, tidak istimewa. Tapi bagiku, itu adalah senyum yang membuatku sadar bahwa aku datang ke pernikahan sahabatku bukan untuk merayakannya, tapi untuk kehilanganmu.”
Annasya merasa waktu seolah berhenti.
Chika yang tidak mengerti apa-apa masih asyik dengan buburnya. Kadang-kadang dia melihat ke arah Raka dan tersenyum, lalu kembali ke makanannya.
“Raka …” Annasya menghela napas. “Ini gila. Ini nggak mungkin. Kamu sahabat Aldo. Apa kata orang nanti? Apalagi kamu … pekerjaanmu sebagai—”
“Aku tidak peduli dengan kata orang. Aku peduli dengan kebahagiaanmu. Dan untuk pekerjaan, aku akan cari pekerjaan lain, Annasya. Aku bisa mengusahakan semuanya untuk kamu dan Chika.”
Annasya menggeleng. “Kamu tidak bisa memutuskan hubungan persahabatan hanya karena …”
“Aku tidak memutuskan apa pun. Aldo yang memutuskan segalanya ketika dia menceraikan kamu. Sekarang dia tidak punya hak atas dirimu, Annasya.”
“Aku tidak minta jawaban sekarang,” kata Raka lalu berdiri. “Aku hanya ingin kamu tahu bahwa ada laki-laki yang sungguh-sungguh ingin merawatmu dan Chika. Bukan karena kasihan. Bukan karena terpaksa. Tapi karena ... karena aku mencintaimu.”
Annasya tidak bisa berkata apa-apa.
Raka berjalan ke pintu. Sebelum keluar, dia menoleh. “Aku akan datang lagi minggu depan. Kamu boleh berpikir. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, Annasya …”
Matanya menatap Chika yang tersenyum padanya.
“Aku tidak hanya ingin menjadi suamimu. Aku juga ingin menjadi ayah untuk Chika. Ayah yang tidak akan pernah meninggalkannya.”
Pintu ditutup pelan. Raka pamit pergi. Annasya masih duduk di sofa. Tangannya memeluk tubuhnya sendiri.
Apa yang baru saja terjadi?
Sepanjang hari Annasya tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya kacau. Raka—sahabat Aldo—melamarnya. Di saat dia baru saja mulai belajar hidup sendiri. Di saat dia mulai percaya bahwa dia tidak butuh laki-laki untuk bahagia.
“Ibu, Chika haus.”
Suara Chika menariknya dari lamunan. Annasya mengelus kepala putrinya. “Iya, Sayang. Ibu ambilkan air ya.”
Saat Annasya berjalan ke dapur, ponselnya berbunyi. Pesan dari Aldo.
Annasya membacanya. Jantungnya berdegup kencang.
[Assalamu'alaikum, Annasya. Aku dengar Raka datang ke rumahmu. Tolong jangan terima lamarannya. Dia tidak baik untukmu. Percayalah].
Annasya menatap layar ponselnya dengan bingung. Aldo melarangnya?
Tapi bukankah Aldo yang sudah mentalak tiga dirinya? Lalu apa urusannya Aldo dengan siapa dia menikah nanti?
‘Kenapa Aldo tahu Raka datang ke rumahku hari ini? Apakah mereka berdua masih berkomunikasi tentang diriku? Atau ... apakah ini semua sudah direncanakan Aldo?’ pikir Annasya.
Annasya tidak mengetik balasan. Dia hanya mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas meja.
Chika menghampirinya. “Ibu, Chika sayang Ibu.”
Annasya memeluk putrinya erat-erat. “Ibu juga sayang Chika, Sayang.”
Tapi, Annasya tidak bisa menahan perasaan aneh yang menjalari seluruh tubuhnya.
Ada sesuatu yang tidak beres.
***
“Kamu mengancam saya?”“Saya tidak mengancam, Bu. Saya hanya mengingatkan.”“Kamu tidak tahu siapa saya! Suami saya bisa menghancurkan hidupmu—”“Bu.” Raka memotong, suaranya tetap tenang. “Saya tidak takut dihancurkan. Saya sudah tidak punya apa-apa. Istri saya, anak saya, itu harta saya. Saya akan lindungi mereka dengan cara apa pun.”Ibu Aldo kehilangan kata-kata.Di belakang Raka, Annasya akhirnya melangkah keluar. Tangannya meraih lengan Raka.“Bu,” panggil Annasya, suaranya pelan. “Apa yang Ibu cari di sini? Aldo? Aldo tidak ada di sini.”“Aku tidak mencari anakku. Aku mencarimu!”“Ada apa, Bu? Apa yang saya perbuat?”Ibu Aldo menatap Annasya dengan mata yang penuh kebencian.“Aldo depresi! Dia tidak mau makan, tidak mau keluar rumah, tidak mau bicara pada siapa pun! Dia hancur karena kamu, Annasya! Kamu yang menghancurkannya!”Annasya terdiam. Dadanya terasa sesak tetapi bukan karena dia masih cinta pada Aldo. karena dia tidak pernah ingin menghancurkan siapa pun.“Bu, saya tid
Malam itu, setelah Via pergi, suasana di rumah kecil itu kembali tenang. Chika sudah tertidur di kamarnya dengan boneka kelinci di samping bantal. Mulut mungilnya terbuka sedikit, napasnya teratur dan damai, tidak tahu bahwa dunia orang dewasa di luar kamarnya sedang berusaha keras untuk tetap tenang. Annasya baru saja selesai membereskan gelas-gelas bekas teh dan piring pisang goreng. Raka duduk di kursi ruang tamu, matanya menatap Annasya yang bolak-balik dari dapur ke ruang tamu dengan langkah ringan.“Mas belum tidur?" tanya Annasya sambil mengelap meja kayu tua di depan Raka."Belum. Masih mikirin besok.""Besok?""Besok aku mulai cari kerja lagi. Kaki udah enakan. Nggak enak terus-terusan di rumah. Kamu yang cari nafkah sendiri."Annasya berhenti mengelap. Dia menatap Raka. "Mas, nggak usah buru-buru. Kaki Mas masih belum sembuh total. Istirahat dulu.""Udah hampir dua bulan, Annasya. Cukup lama.""Tapi—""Say
Raka tidak peduli dengan setelan jas mahal yang mungkin terkena air teh. Dia tidak peduli dengan tamunya yang masih berdiri di pintu. Dia hanya peduli pada Annasya.Wajah istrinya yang pucat, matanya yang kosong, tangannya yang menggenggam erat ujung jilbab.Raka meraih tangan Annasya, memeriksa apakah ada luka akibat pecahan kaca. “Sakit? Ada yang kena?” Suaranya bergetar.Annasya menggeleng. Masih diam. Matanya masih menunduk menatap lantai.“Sayang ... lihat aku.”Annasya mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Raka. Ada ketakutan di sana.“Aku ... nggak sengaja, Mas,” bisik Annasya, suaranya pecah.“Nggak apa-apa. Cuma gelas. Nanti bisa beli lagi.” Raka mengusap pipi Annasya yang ternyata basah. Annasya menangis diam-diam. Tanpa suara.Raka memeluknya. Memeluk istrinya di tengah ruang tamu yang lantainya penuh pecahan kaca dan genangan teh hangat. Dia tidak peduli bahwa
Perjalanan pulang dari daycare terasa lebih sunyi dari biasanya. Chika duduk di kursi belakang mobil Bastian dengan boneka kelinci di pangkuannya, sesekali melirik ke luar jendela, sesekali menatap ibunya yang duduk di kursi depan dengan tatapan penuh tanda tanya.Gadis kecil itu tidak mengerti mengapa hari ini ayahnya tidak menjemput mereka berdua. Biasanya Raka selalu datang sendiri, meskipun dengan langkah pincang, meskipun dengan kruk yang kadang membuatnya terlihat lelah.“Bu,” panggil Chika pelan.“Iya, Sayang.”“Kok bukan Papa yang jemput Ibu?”Annasya menoleh ke belakang. Dia tersenyum meski sedikit dipaksakan, tapi cukup untuk menenangkan Chika. “Papa sedang ada urusan. Kita tunggu di rumah.”Chika mengangguk meskipun matanya masih bertanya-tanya. “Urusan apa, Bu?”“Urusan Papa. Nanti Papa jelasin sendiri.”Chika tidak bertanya lagi. Dia kembali as
Foto yang dikirim Aldo masih tersimpan di riwayat percakapan mereka, meskipun Annasya sudah berusaha tidak membukanya lagi.Ia tidak ingin memikirkan itu. Tidak di saat dia baru saja mencoba percaya pada Raka sebagai suaminya.Tapi bayangan Raka dengan setelan jas, duduk di restoran mewah bersama seorang perempuan cantik, perempuan yang tidak pernah dia kenal memang masih melekat di kepalanya."Aku percaya sama Mas Raka," bisik Annasya pada diri sendiri. "Mas Raka sudah bilang dia akan cerita semuanya. Dia akan ceritakan semua hal ke aku. Aku harus percaya."Tapi percaya tidak selalu mudah. Terutama bagi perempuan yang pernah dihancurkan oleh orang yang paling dia percaya.Annasya menghela napas, mengambil kain lap, dan mulai membersihkan meja kaca di depan toko. Tangannya bergerak tanpa sadar tapi pikirannya melayang entah ke mana. Bu Dewi di belakang toko sedang sibuk dengan buku kas, tidak menyadari bahwa pegawainya sedang berjuang melawan kecem
[Aku melihat Raka bersama seorang wanita].Foto itu terkirim. Satu centang, dua centang, lalu berubah menjadi berwarna biru.Sudah dibaca.Aldo menunggu balasan. Tapi tidak ada balasan.Dia memasukkan ponselnya ke saku, tapi matanya tidak pernah lepas dari meja Raka dan perempuan itu.Sementara itu, di meja dekat jendela, Raka sama sekali tidak menyadari keberadaan Aldo. Pikiran dan matanya hanya tertuju pada perempuan di hadapannya.“Kamu baik-baik saja, Raka?” suara perempuan itu lembut, dengan sedikit logat asing, seperti orang yang sudah lama tinggal di luar negeri.Raka menghela napas. “Aku baik, Via. Kamu?”“Baik. Sudah lama kita tidak bertemu. Terakhir ... waktu pamanku meninggal, ya?”Raka mengangguk. “Iya. Sudah hampir tiga tahun.”Perempuan bernama Vianita—atau Via, panggilan akrabnya adalah sepupu Raka. Anak dari adik ibunya.Mereka tumbuh ber







