LOGIN“Lamaran aku, Annasya.”
Annasya menunduk. Dia memainkan sendok nasi di piring tanpa benar-benar menyuap ke mulut.
“Aku ,... masih berpikir, Raka.”
Raka mengangguk. “Tidak apa-apa. Aku tidak terburu-buru.”
“Tapi …” Annasya menggigit bibirnya. “Ada satu hal yang mengganjal.”
“Apa?”
“Aldo mengirimiku pesan. Dia melarangku menerima lamaranmu.,
Raka berhenti mengunyah. Ekspresi wajahnya berubah. Sehelai alis Raka naik sedikit. Rahangnya mengeras.
“Aldo? Dia menghubungimu?”
“Iya. Dia bilang kamu tidak baik untukku. Dia bilang kamu punya motif lain.”
Raka diam.
Annasya menatapnya. “Raka, apa ada sesuatu yang tidak kamu katakan padaku?”
Raka menutup matanya sejenak. Dadanya naik turun. Seolah dia sedang berperang dengan dirinya sendiri.
“Annasya …” suaranya lirih. “Aku tidak akan berbohong padamu. Tapi aku juga tidak bisa menceritakan semuanya sekarang. Yang bisa aku katakan adalah, Aldo bukan orang yang tepat untuk memberi nasihat tentang pernikahan. Dia sendiri yang menghancurkan pernikahannya denganmu.”
“Itu tidak menjawab pertanyaanku, Raka.”
“Aku tahu.”
Mereka berdua terdiam. Suara pasar yang ramai seolah meredup. Hanya ada mereka berdua di meja kecil itu.
“Aku …” Raka membuka suara lebih dulu. “Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku mohon, jangan putuskan sesuatu hanya karena kata-kata Aldo. Putuskan berdasarkan apa yang kamu rasa. Berdasarkan apa yang kamu lihat dari aku, bukan dari cerita orang lain.”
Annasya tidak menjawab.
Raka menghabiskan kopinya. Lalu berdiri.
“Aku harus pergi. Ada rapat. Aku pamit, Annasya.”
Raka membayar makanannya. Sebelum berjalan pergi, dia menoleh.
“Annasya …”
“Iya?”
“Apapun keputusanmu, aku akan menerimanya. Tapi aku harap ... aku harap kamu memberi aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku serius.”
Annasya hanya terdiam dan melihat Raka menjauh. Tiba-tiba hujan turun.
Hujan gerimis masih menemani perjalanan Annasya pulang dari pasar. Tas belanjaan di tangannya tidak berat—hanya beberapa sayuran, tahu, tempe, dan satu bungkus susu kotak untuk Chika. Namun langkahnya terasa berat.
Pikirannya masih kusut. Pesan Aldo. Lamaran Raka. Semua bercampur jadi satu dalam kepalanya seperti benang kusut.
Annasya menggeleng. Dia terlalu lelah untuk berpikir. Rumah kontrakannya sudah terlihat dari kejauhan. Pintu besi warna hijau kusam itu sedikit terbuka—tidak seperti saat dia tinggalkan pagi tadi.
Annasya yakin dia mengunci pintu sebelum pergi. Bu RT juga tidak mungkin membiarkan pintu terbuka begitu saja.
‘Ada apa? Jangan-jangan Chika …’
Annasya mempercepat langkah. Jantungnya berdebar tidak karuan. Pikiran buruk terus berputar di kepalanya.
Dia mendorong pintu besi itu. Dan berdiri membeku.
Di ruang tamu kecilnya, seorang laki-laki sedang duduk di sofa kempes. Bukan Raka. Bukan juga laki-laki asing.
Aldo.
Mantan suaminya. Laki-laki yang empat bulan lalu mengucapkan talak tiga. Laki-laki yang membuatnya menangis tersedu-sedu di kamar mandi kontrakan ini setiap malam selama dua bulan pertama perceraian. Laki-laki yang sekarang ... sedang bermain dengan Chika.
“Ayah, ayah, lihat! Chika gambar kelinci!” teriak Chika sambil menunjukkan buku gambarnya.
Aldo tersenyum. Senyum yang dulu sering membuat Annasya jatuh cinta. Senyum yang sekarang membuat perutnya mual.
“Wah, bagus sekali gambar kelincinya. Chika pintar.”
Annasya masih berdiri di ambang pintu. Tas belanjaannya hampir terlepas dari genggaman.
Aldo tidak pernah datang ke kontrakan ini selama empat bulan. Tidak sekali pun. Nafkah anak ditransfer pas-pasan. Kabar tentang Chika hanya dia tanyakan melalui Bu RT sekali dua minggu.
Dan sekarang, tanpa permisi, tanpa kabar, dia sudah duduk di ruang tamu Annasya seperti tidak terjadi apa-apa. Seolah dia tidak pernah menghancurkan hati Annasya.
Seolah dia tidak pernah mengucapkan talak tiga. Seolah dia masih punya hak atas Annasya.
Annasya ingin berteriak. Ingin mengusirnya. Ingin melempar tas belanjaan ke wajahnya dan berkata, “Kamu tidak berhak berada di sini!”
Tapi Chika bersama Aldo.
Chika yang berlari kecil menghampirinya. Chika yang meraih tangannya. Chika yang berkata dengan mata berbinar-binar.
“Ibu, Ibu! Ayah pulang! Ayah bawain Chika mainan!”
Dan Annasya tidak bisa marah di depan Chika. Dia harus tersenyum. Dia harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Annasya ingin protes. Bibirnya sudah terbuka. Kata-kata sudah siap di ujung lidah.
“Aldo, kamu tidak—”
Namun belum sempat kalimat itu selesai, Chika sudah berlari kembali ke Aldo. Gadis kecil itu memanjat pangkuan ayahnya. Tangannya yang mungil menggenggam jari-jari Aldo dengan erat.
“Ayah, kenapa nggak puyang-puyang sih?” suara cadel Chika memecah kesunyian. Matanya yang bulat menatap Aldo dengan penuh tanya. “Chika kanen ayah.”
Chika kangen ayah. Kalimat itu seperti pisau yang menikam dada Annasya. Dan Annasya tidak bisa memberikan ayah itu untuk Chika. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena ayahnya sendiri yang memilih pergi. Ayahnya sendiri yang memilih bosan. Ayahnya sendiri yang mengucapkan talak tiga tanpa memikirkan putri kecilnya yang masih membutuhkan sosok ayah.
Aldo terdiam. Matanya berkaca-kaca. Tangannya mengusap rambut keriting Chika dengan lembut seolah takut putri kecilnya akan terluka jika disentuh terlalu keras.
“Maafin Ayah, ya,” suara Aldo serak. “Kerjaan Ayah belum selesai soalnya. Chika tinggal sama Ibu dulu di rumah baru, mau?”
Chika bertepuk tangan kecil. Matanya berbinar-binar. “Mau Yah!!”
Annasya mengerutkan kening. ‘Rumah baru?’
Sebelum dia sempat bertanya, Aldo berdiri dari sofa. Chika masih digendong di pinggangnya. Dengan tangan kanannya, Aldo merogoh saku celananya. Dan mengeluarkan sebuah kunci.
Bukan kunci biasa. Kunci rumah—yang masih baru, masih mengilap, dengan gantungan kunci berbentuk boneka beruang kecil.
Aldo berjalan mendekati Annasya. Jarak mereka hanya satu langkah. Annasya bisa mencium parfum Aldo—parfum yang sama dulu dia belikan untuk Aldo saat ulang tahun pernikahan mereka yang kedua. Parfum yang sudah lama tidak dia cium. Parfum yang sekarang membuat dadanya sesak.
“Ini rumah yang aku beli untuk kalian,” kata Aldo sambil menyerahkan kunci itu ke tangan Annasya.
Annasya tidak menerimanya. Tangannya menggenggam tas belanjaan lebih erat.
Aldo tidak menyerah. Dia meletakkan kunci itu di atas meja. “Kalian bisa tinggal di sana,” lanjut Aldo. Matanya menatap Annasya penuh arti. “Jangan di kontrakan ini lagi.”
“Rumahnya bagus, Ibu!” Chika ikut berseru dari pangkuan Aldo. “Chika liat di fotonya! Ada taman! Ada ayunan!”
Annasya tidak menjawab. Mulutnya terasa kaku. Tapi di dalam hatinya, dia ingin menjerit. “Jadi kamu menyesal sekarang, Mas?”
Bersambung ….
***
“Sekarang kamu ingin memperbaiki semuanya dengan sebuah rumah?”Namun, Annasya tidak mengucapkan kata-kata itu. Tapi matanya menatap Aldo dengan tajam.Aldo melihatnya. Wajahnya sedikit berubah. Dia tahu. Dia tahu apa yang Annasya pikirkan. Tapi dia tidak punya keberanian untuk bertanya.“Aku ... aku akan pergi dulu,” kata Aldo sambil menurunkan Chika ke lantai. “Chika, jaga Ibu ya.”“Iya Ayah! Chika jaga Ibu!” teriak Chika dengan semangat.Aldo berjalan ke pintu. Annasya tidak mengantarnya. Dia hanya berdiri di tempatnya, seperti patung yang tidak bisa bergerak.Di ambang pintu, Aldo berhenti.“Annasya …”Annasya tidak menyahut.“Aku tahu kamu marah. Aku tahu aku salah. Tapi …” Aldo menarik napas. “Tapi aku tidak ingin kalian hidup susah. Rumah itu untuk Chika. Untuk kamu. Setidaknya, pikirkan dulu, ya?”Pintu ditutup. Aldo pergi.Annasya masih berdiri di ruang tamu. Tas belanjaan akhirnya dia letakkan di lantai. Tangannya gemetar.Sepanjang sore, Annasya tidak bisa berkonsentrasi.
“Lamaran aku, Annasya.”Annasya menunduk. Dia memainkan sendok nasi di piring tanpa benar-benar menyuap ke mulut.“Aku ,... masih berpikir, Raka.”Raka mengangguk. “Tidak apa-apa. Aku tidak terburu-buru.”“Tapi …” Annasya menggigit bibirnya. “Ada satu hal yang mengganjal.”“Apa?”“Aldo mengirimiku pesan. Dia melarangku menerima lamaranmu.,Raka berhenti mengunyah. Ekspresi wajahnya berubah. Sehelai alis Raka naik sedikit. Rahangnya mengeras.“Aldo? Dia menghubungimu?”“Iya. Dia bilang kamu tidak baik untukku. Dia bilang kamu punya motif lain.”Raka diam.Annasya menatapnya. “Raka, apa ada sesuatu yang tidak kamu katakan padaku?”Raka menutup matanya sejenak. Dadanya naik turun. Seolah dia sedang berperang dengan dirinya sendiri.“Annasya …” suaranya lirih. “Aku tidak akan berbohong padamu. Tapi aku juga tidak bisa menceritakan semuanya sekarang. Yang bisa aku katakan adalah, Aldo bukan orang yang tepat untuk memberi nasihat tentang pernikahan. Dia sendiri yang menghancurkan pernikahan
Tiga hari sejak Raka datang melamar. Tiga hari Annasya tidak bisa tidur nyenyak. Tiga hari pikirannya tak fokus.Malam itu, Chika sudah tidur. Rumah kontrakan kecil itu sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik dari luar.Annasya duduk di kursi plastik di teras rumah. Secangkir teh jahe sudah dingin di tangannya. Tidak disentuh. Pikirannya terlalu sibuk untuk menikmati hangatnya minuman.‘Raka melamarku,’ pikirnya.Semuanya masih terasa tidak nyata. Laki-laki itu—sahabat mantan suaminya—datang dengan kemeja putih rapi dan keranjang buah, lalu berkata, “Aku ingin menikahimu.”Annasya menghela napas. “Aku harus menjawab apa? Aku bingung.”Annasya tidak pernah menyangka akan berada di posisi ini. Sebagai perempuan yang baru saja diceraikan talak tiga oleh suaminya. Sebagai ibu tunggal, sekaligus seseorang yang luka hatinya belum benar-benar sembuh.Namun takdir berkata lain.Dan sekarang, ia memiliki dua pilihan. Menerima Raka, laki-laki yang mengaku mencintainya sejak empat tahun lalu. Atau
Raka menarik napas. Annasya bisa melihat kegelisahan di balik wajah tenang itu. Jari-jari Raka menggenggam lututnya sendiri.“Annasya …”Dia ragu. Matanya menatap Annasya—lama, dalam, seolah dia sedang menghafal wajah perempuan itu untuk terakhir kalinya sebelum melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.“Aku datang ke sini bukan tanpa alasan,” katanya.Annasya menunggunya menyelesaikan kalimat.“Aku tahu ini mungkin tidak pantas. Aku tahu kamu belum lama bercerai dengan Aldo. Tapi …” Raka menunduk. “Tapi aku tidak bisa berbohong lagi, Annasya. Aku tidak bisa lebih lama lagi menahannya.”Jantung Annasya berdetak lebih cepat. ‘Apa maksudnya?’“Aku ingin menikahimu, Annasya.”Annasya terdiam. Matanya membelalak. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar.“Kamu ... apa?”“Aku tahu ini tiba-tiba,” Raka melanjutkan dengan cepat, seolah takut keberaniannya akan lenyap jika dia berhenti. “Aku tahu kamu mungkin mengira ini karena Aldo. Tapi ini bukan tentang Aldo. Ini tentan
Tiga bulan setelah perceraian, Annasya tinggal di rumah kontrakan kecil di ujung kota. Satu kamar tidur. Dapur mungil yang menyatu dengan ruang tamu. Kamar mandi dengan pintu yang kadang macet. Tapi cukup. Cukup untuk dia dan Chika.Nafkah anak diberikan Aldo pas-pasan. Tepat nominal, tidak pernah lebih. Tiga ratus ribu rupiah per bulan. Cukup untuk beras, telur, dan sesekali membelikan Chika susu kotak. Annasya juga mulai menjahit pesanan tetangga untuk tambahan uang.Malam itu, Chika sudah tidur pulas dengan boneka kelinci kesayangannya di samping bantal. Lampu kamar hanya menyisakan cahaya remang-remang. Annasya duduk di teras rumah kontrakan, menikmati angin malam yang dingin, ditemani segelas teh manis hangat dan pikirannya yang kusut. Lalu ponselnya bergetar.Pesan masuk dari Raka.Raka. Sahabat Aldo. Laki-laki yang dulu selalu datang membawa buah tangan setiap kali berkunjung ke rumahnya dulu. Laki-laki yang tidak pernah bicara banyak, tapi matanya selalu terlihat sedih saat me
“Aku bosan, Annasya.”Suara Aldo menggema di ruang tamu rumah mereka. Rumah sederhana dengan cat krem yang mulai mengelupas di sudut-sudutnya. Rumah yang dulu Annasya rawat dengan penuh cinta—mengelap lantai setiap pagi, menata bunga plastik di vas, memastikan tirai selalu bersih meski hanya dicuci dengan tangan karena mesin cuci rusak dan Aldo belum juga memperbaikinya.Annasya berhenti menggendong Chika, anak perempuan mereka yang baru genap dua tahun. Tangannya membeku di tengah usapan lembut di rambut keriting putri kecilnya. Chika sedang tidur di pangkuannya, pipi tembamnya merapat ke dada ibunya, napas kecilnya teratur dan damai.‘Tidak,’ pikir Annasya. ‘Aku salah dengar.’“Apa maksud kamu, Mas?” Suaranya bergetar. Dia tidak bisa menyembunyikannya.Aldo tidak menjawab. Dia justru berjalan ke meja kecil di samping sofa. Meja kayu jati yang dulu mereka beli berdua saat bulan madu ke Surabaya. Aldo membuka laci kecil di bawah meja—tempat dia menyimpan dokumen penting.Annasya melih







