Share

10. Dia Suamiku

Author: NARA
last update Last Updated: 2026-01-15 11:10:28

Dengan bodohnya, Sela pergi ke rumah Jane untuk menemui sang sahabat yang telah berselingkuh dengan suaminya.

Ia berdiri di depan pintu rumah Jane. Rumah yang dulu terasa hangat, penuh tawa persahabatan, kini tampak asing dan menyesakkan.

Tangannya gemetar saat menekan bel pintu. Jantungnya berdentum keras, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.

Begitu pintu terbuka, Jane berdiri di ambang pintu mengenakan pakaian santai dengan rambut tergerai rapi.

Wajah yang selama ini Sela kenal, wajah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    37. Dua Pilihan

    Brian benar-benar tidak tenang berada di ruang rapat yang biasanya selalu ia kuasai. Ruangan itu, dengan meja panjang yang selama ini menjadi saksi bagaimana ia memimpin, memberi instruksi, dan menekan bawahan dengan penuh percaya diri.Namun, pagi ini semua terasa berbeda. Udara seakan menekan dadanya, membuat napasnya berat.Bukan hanya karena Kai duduk di ujung meja dengan sikap santai namun penuh wibawa, terus menatapnya dengan sorot tajam. Lebih dari itu, fakta yang baru saja ia ketahui terasa seperti tamparan keras. Pemilik perusahaan tempatnya bekerja dengan jabatan mentereng, perusahaan yang selama ini ia kira milik Pak Barata, ternyata adalah milik Kai.Pria yang selama ini ia anggap hanya sebagai kakak angkat Sela.Pikiran Brian berputar kacau. Selama ini ia merasa aman. Jabatan manajer yang ia sandang memberinya kuasa, koneksi, dan rasa superior. Ia merasa tidak tersentuh. Namun kini, ia sadar betapa rapuh posisinya. Jika Kai adalah pemilik perusahaan ini, maka satu kata s

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    36. Bukan Orang Sembarangan

    Sela seperti terhipnotis, sentuhan awal Kai memang terasa kasar baginya. Tapi dengan berjalannya detak jarum jam yang terus berputar. Sentuhan itu terasa seperti candu bagi Sela.Kamar yang awalnya mencengkam karena perdebatan dua orang Kakak beradik tanpa ikatan darah itu, kini di penuhi dengan gairah. Cinta yang ada pada diri keduanya menjadi saksi kisah terlarang yang sedang Kai lakukan diatas ranjang bersama Sela.Hentakan penuh gairah yang Kai lakukan diatas tubuh Sela yang di sambut baik, menciptakan suara merdu yang keluar dari bibir keduanya saling bersahutan.Sela yang awalnya memberontak dengan apa yang Kai lakukan, kini membuatnya hanyut dalam gairah. Sentuhan demi sentuhan yang Kai lakukan, begitu nikmat, kenikmatan yang tidak pernah Sela rasakan sebelumnya bersama sang suami."Kak, emmm." suara Sela yang indah benar-benar membuat Kai tidak bisa menghentikan aktivitasnya. Kai kini menghentikan aktivitasnya sejenak, dengan tubuh masih menyatu dan nafas keduanya memburu,

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    35. Maafkan Aku Harus Seperti Ini

    "Untuk apa aku cemburu?" Sela menimpali ucapan Kai sambil tersenyum. Senyum itu tipis, rapuh, dan jelas dipaksakan. Ada luka lama yang bergetar di baliknya. "Dan ya, lepas tanganku, Kak." pintanya pelan, tapi tegas.Kai terdiam sesaat sebelum akhirnya melepas genggamannya. Namun, bukannya memberi jarak, pria itu justru menarik pinggang Sela dan memeluknya erat. Tubuh mereka saling berhadapan, jarak wajah hanya sejengkal. Napas Kai terasa hangat di kulit Sela."Aku tidak akan melepas kamu, Sel," ucap Kai dengan suara bergetar. "Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi."Jantung Sela berdetak tidak beraturan. Ia mencoba mendorong tubuh Kai, tapi pelukan itu terlalu erat. "Kak, lepas. Aku tidak ingin Calista melihat kita seperti ini," katanya lirih, nyaris seperti bisikan."Tapi kamu jangan pergi," balas Kai cepat, seolah takut kata itu benar-benar terjadi."Ya," sahut Sela singkat, hanya agar Kai mau melepasnya.Dengan berat hati, Kai menurunkan tangannya dari pinggang Sela. "Aku sudah me

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    34. Apa Kamu Cemburu?

    Sela segera melepas tangan Kai yang masih menggenggam tangannya. Sentuhan itu terasa terlalu hangat, terlalu berbahaya untuk perasaan yang selama ini ia paksa mati."Tidak bisa, Kak." ucap Sela lirih namun tegas, menimpali pengakuan Kai yang baru saja meluncur dari bibir pria itu.Ia beranjak dari duduknya di pinggiran tempat tidur. Dadanya terasa sesak. Sela tidak ingin berlama-lama berada sedekat ini dengan Kai. Ia tahu, semakin lama ia tinggal, semakin sulit baginya untuk berpura-pura bahwa hatinya sudah benar-benar kosong. Perasaan yang selama ini ia kubur dalam-dalam, pelan-pelan menggeliat, seolah menuntut untuk diakui kembali.Kai ikut berdiri, langkahnya mendekat. "Kenapa tidak bisa, Sel? Aku mencintaimu. Begitu juga kamu. Kamu juga mencintaiku."Ucapan itu seperti tamparan pelan bagi Sela. Ia menelan ludah, memalingkan wajah agar Kai tidak melihat kilatan rapuh di matanya."Siapa bilang aku mencintai Kak Kai?" ucap Sela berusaha setenang mungkin. "Kakak sudah aku anggap sebag

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    33. Kita Akan Bersatu

    Sela mendorong tubuh Kai dengan sisa tenaga yang ia miliki hingga tautan bibir mereka terlepas. Napas Kai tersengal, dadanya naik turun tidak beraturan. Bukan karena lelah, melainkan karena perasaan yang tiba-tiba menyerbu tanpa izin.Namun, Kai tidak benar-benar menjauh. Ia justru menempelkan keningnya ke kening Sela, jarak mereka begitu dekat hingga Sela bisa merasakan hangat napas pria itu. Kedua mata Kai menatapnya dalam, seolah ingin menyalurkan semua isi hatinya lewat tatapan itu."Sel, aku sungguh mencintaimu. Sangat mencintaimu," ucap Kai lirih namun penuh keyakinan. Tangannya terangkat, mengelus pipi Sela dengan lembut, seakan takut sedikit tekanan saja bisa melukai perempuan di hadapannya.Jantung Sela berdegup kencang. Kata-kata itu terlalu berat, terlalu dalam. Ia menelan ludah, berusaha mengalihkan pikirannya dari sentuhan dan pengakuan yang membuat hatinya bergetar."Kak," ucapnya lirih, suaranya hampir tidak terdengar. "Punggungku sakit."Seketika itu juga Kai menegang

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    32. Beri Aku Pelajaran

    Kai benar-benar murka. Dadanya naik turun menahan amarah yang seperti ingin meledak dari dalam tubuhnya. Di depannya, Sela terlihat sangat lemah, sambil meringis kesakitan memegangi punggungnya. Bekas pukulan tongkat yang Jane lalukan itu masih jelas, membuat darah Kai serasa mendidih.Ia ingin sekali langsung memeluk Sela, menenangkannya, memastikan perempuan itu baik-baik saja. Tapi ada sesuatu yang lebih mendesak dari sekadar pelukan. Ada harga diri yang diinjak. Ada penderitaan yang harus dibayar.Dan ada orang-orang yang harus bertanggung jawab atas apa yang Sela alami.Dengan langkah berat penuh amarah, Kai mendekati Jane. Tatapannya gelap, rahangnya mengeras.Jane yang tadi berdiri dengan wajah pongah, kini tampak sedikit goyah melihat aura Kai yang begitu menakutkan.Tanpa sepatah kata pun, Kai mendorong tubuh Jane dengan sekuat tenaga, tidak peduli jika seorang perempuan yang ia dorong.Brak!Tubuh Jane terhantam keras ke tembok. Kepalanya hampir membentur sudut dinding, mem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status