Share

Bab 5

Penulis: Gita Putri
last update Tanggal publikasi: 2026-02-26 23:00:10

**

Mobil SUV itu masih terparkir di sudut remang-remang basement, mesinnya menderu halus, menciptakan getaran yang seolah menyatu dengan denyut di seluruh tubuh Siska. 

Di dalam kabin yang kedap suara itu, aroma susu yang manis bercampur dengan aroma maskulin Arga yang tajam, menciptakan atmosfer yang menyesakkan sekaligus memabukkan.

​Siska terkulai lemas di dada Arga, blusnya terbuka lebar, dan napasnya masih terputus-putus. Arga perlahan melepaskan hisapannya, namun tangannya tetap posesif mencengkram pinggang Siska. 

Ia mengambil selembar sapu tangan sutra dan dengan tenang membersihkan sudut bibirnya, lalu mengusap sisa-sisa kelembapan di kulit Siska dengan gerakan yang hampir terlihat seperti perhatian, namun terasa seperti penandaan wilayah.

​Siska menatap pantulan dirinya di kaca mobil yang gelap. Matanya sayu, bibirnya bengkak, dan ia terlihat seperti wanita yang baru saja kehilangan segalanya, namun anehnya, dadanya yang tadi terasa meledak kini terasa ringan dan nyaman.

​"Kenapa kau menatapku seperti itu, Siska?" tanya Arga, suaranya rendah dan tenang, sangat kontras dengan badai yang ada di dalam hati Siska.

​"Aku... aku benci bagaimana tubuhku merasa lebih baik setelah kau menyentuhku." bisik Siska, suaranya serak. "Aku benci kenyataan bahwa aku harus berbohong pada Kak Rendy agar aku bisa merasa 'normal'."

​Arga terkekeh, suara yang membuat Siska merinding. Arga menarik dagu Siska agar menatapnya. 

"Normal? Tidak, Sayang. Kau tidak akan pernah normal lagi. Kau sudah melintasi garis itu. Saat ini, satu-satunya hal yang membuatmu merasa utuh adalah rasa lapar dari musuh kakakmu." Ucap Arga.

​"Kau menghancurkanku, Arga. Secara perlahan, kau membunuh jiwaku." Siska mulai terisak pelan. "Setiap kali aku menatap mata Kak Rendy, aku merasa seperti pengkhianat. Dia menyayangiku lebih dari nyawanya sendiri, dan aku... aku ada di sini, di bawahmu, menyerahkan rahasiaku yang paling hina." Lanjut Siska.

​Arga tidak menunjukkan belas kasihan. Ia justru menekan punggung Siska, memaksa payudaranya yang sensitif kembali bersentuhan dengan kemeja putihnya yang dingin.

​"Maka berhentilah menatap matanya," perintah Arga dingin. 

"Mulai sekarang, fokuslah padaku. Rendy hanyalah masa lalumu yang membosankan. Akulah yang memegang masa depanmu, rasa sakitmu, dan kelegaanmu. Kau pikir kau melakukan ini demi dia? Tidak, Siska. Jauh di dalam sana, kau melakukannya karena kau menyukai bagaimana aku mengendalikanmu." Ujar Arga.

​"Itu tidak benar!" Siska memprotes, meski hatinya terasa perih karena tahu ada benarnya kata-kata itu.

​"Benarkah? Lalu kenapa kau tidak pergi saja? Aku sudah mengembalikan dokumennya. Kau bisa saja berhenti sekarang, membiarkan dadamu membengkak hingga kau pingsan kesakitan, atau pergi ke dokter dan menjelaskan kelainanmu yang 'memalukan' itu pada orang asing. Tapi kau tidak melakukannya. Kau memilih datang padaku." Balas Arga.

​Arga mendekatkan bibirnya ke telinga Siska, memberikan gigitan kecil yang membuat Siska tersentak. 

"Kau tidak takut padaku, Siska. Kau takut pada dirimu sendiri yang mulai merindukan caraku memperlakukanmu seperti wadah." Kekeh Arga dengan nada mengejek.

​Siska meremas kemeja Arga, air matanya jatuh membasahi kerah pria itu. 

"Aku terjebak... Aku tidak punya pilihan lain."

​"Pilihanmu adalah kepatuhan." Arga kembali meraih salah satu puncak kemerahan Siska, memilinnya dengan ibu jari hingga Siska mengerang tertahan. "Katakan, Siska. Apakah kau akan datang lagi besok?"

​Siska memejamkan mata. Ia membayangkan wajah Rendy yang tersenyum penuh kasih tadi siang, lalu membayangkan rasa sakit luar biasa yang akan menghimpit dadanya jika ia tidak mendapatkan hisapan Arga. Kebutuhan biologisnya kini telah menjadi rantai psikologis yang mengikatnya pada pria ini.

​"Iya... aku akan datang." bisik Siska penuh kekalahan.

​"Katakan dengan benar. Siapa yang paling kau butuhkan?" Lanjut Arga.

​Siska menarik napas panjang, membiarkan sisa-sisa harga dirinya runtuh sepenuhnya. "Aku membutuhkanmu, Arga. Hanya kau yang bisa... menyembuhkanku." Ujarnya.

​Arga tersenyum puas, sebuah senyum predator yang telah mendapatkan mangsanya secara utuh. 

Ia kembali membenamkan wajahnya, menghisap sisa-sisa terakhir dari "obat" Siska, sementara di atas sana, di restoran yang tenang, Rendy mungkin akan menunggu adiknya pulang, dan tidak menyadari bahwa Siska telah hancur dan terlahir kembali sebagai budak nafsu dari musuh terbesarnya.

Psikologis Siska telah terbenam, yang tersisa hanyalah malam panjang di bawah bayang-bayang Arga.

**

Malam itu, ruang tengah kediaman Adijaya terasa lebih dingin dari biasanya. 

Siska duduk di sofa, meremas ujung blusnya, sementara Rendy menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara terkejut, sedih, dan protektif yang luar biasa.

​"Apartemen, Siska? Di pusat kota?" Rendy mengulangi permintaan adiknya dengan suara rendah. "Untuk apa? Rumah ini cukup besar untuk kita berdua. Kau punya segalanya disini. Pelayan, keamanan, dan... aku."

​Siska menarik napas dalam, mencoba menekan rasa berdenyut di dadanya yang mulai terasa berat lagi. 

"Kak, aku sudah dewasa. Aku tidak bisa selamanya berlindung di bawah ketiakmu. Aku ingin belajar mandiri, mengurus diriku sendiri tanpa harus selalu melapor setiap jam padamu. Aku merasa terkekang."

​Rendy berdiri, berjalan mondar-mandir dengan gelisah. 

"Terkekang? Aku menjagamu karena aku menyayangimu, Siska! Dunia di luar sana sangat keras. Terutama setelah kejadian dengan Arga kemarin, aku tidak mau kau menjadi sasaran empuk."

​Mendengar nama Arga, jantung Siska mencelos. 

‘Justru karena bajingan itulah aku harus pergi, Kak.’ batinnya perih.

​"Justru itu, Kak. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku kuat. Kalau aku terus di sini, aku akan selalu menjadi Siska yang lemah." ujar Siska dengan nada yang dibuat setegas mungkin. "Tolong, Kak. Sekali ini saja, biarkan aku memilih jalanku sendiri."

​Rendy berhenti melangkah, ia menatap adiknya dengan mata yang berkaca-kaca. "Apakah aku seburuk itu dalam menjagamu sampai kau ingin melarikan diri dariku?"

​"Bukan begitu, Kak..." Siska berdiri dan memeluk kakaknya, menyembunyikan wajahnya di dada Rendy. Ia merasa seperti monster. 

Ia memeluk kakaknya dengan kasih sayang, sementara pikirannya dipenuhi oleh jadwal pertemuan rahasia dengan Arga yang menuntut pasokan ASI-nya setiap malam. "Aku hanya butuh ruang. Izinkan aku, ya?"

​Setelah keheningan yang panjang, Rendy menghela napas panjang, tanda menyerah. 

"Baiklah. Aku akan membelikanmu unit terbaik di gedung dengan keamanan paling ketat. Tapi janji padaku, kau akan mengangkat teleponku setiap kali aku menghubungi, dan kau harus pulang setiap akhir pekan."

​"Aku janji, Kak. Terima kasih." bisik Siska, merasa lega sekaligus hancur karena kebohongannya berhasil.

**

​Dua hari kemudian, Siska sudah berada di apartemen barunya. Belum sempat ia merapikan koper, bel pintu berbunyi dengan nada yang tidak sabar. 

Siska tahu siapa itu. Begitu pintu terbuka, Arga masuk dengan langkah dominan, langsung mengunci pintu di belakangnya.

​"Tempat yang bagus, Siska. Jauh lebih tenang untuk kegiatan kita." Arga melepas jasnya, menatap Siska dengan pandangan lapar yang membuat bulu kuduknya meremang.

​"Kau puas sekarang? Aku sudah berbohong pada satu-satunya orang yang menyayangiku demi memenuhi kegilaanmu." desis Siska, suaranya bergetar antara amarah dan gairah yang mulai bangkit.

​"Jangan munafik. Kau melakukannya demi dirimu sendiri. Lihat dadamu... ia sudah merembes hingga ke kain bajumu hanya karena melihatku masuk." Arga menarik Siska ke arah sofa besar di tengah ruangan.

​Tanpa banyak bicara, Arga mendudukkan Siska di pangkuannya. Ia membuka kancing kemeja Siska dengan kasar hingga kancing-kancing itu terlepas dan jatuh ke lantai. Begitu aset Siska yang sudah membengkak hebat itu terbebas, Arga mengerang rendah.

​"Ahhh... Arga, jangan kasar-kasar..." Siska melenguh saat Arga langsung menyambar salah satu puncak kemerahannya dengan hisapan yang sangat kuat.

​"Kau merindukan ini, bukan? Di rumah kakakmu, kau harus menahan suara desahanmu, tapi di sini... kau bisa berteriak sekeras yang kau mau." Arga bergumam di sela-sela aktivitasnya. 

Ia menggunakan kedua tangannya untuk memerah dengan ritme yang sinkron, memastikan cairan putih itu memancar deras ke mulutnya.

​Siska mendongak, matanya berputar ke atas saat sensasi pelepasan itu menghantam saraf pusatnya. 

"Hhh... iya... lebih kuat, Arga! Dadamu... rasanya sangat panas... Ahhh!"

​Arga berhenti sejenak, membiarkan Siska terengah-engah dengan dada yang naik turun dengan cepat. Ia mengusap sisa susu di dagu Siska dan menjilat jarinya sendiri. 

"Manis sekali. Kau tahu, Siska? Rendy mungkin membelikanmu tempat ini untuk 'kedewasaanmu', tapi bagiku, tempat ini adalah peternakan pribadiku."

​"Kau... kau monster." bisik Siska, namun ia justru menarik kepala Arga kembali ke dadanya, seolah ia tidak bisa hidup tanpa hisapan itu.

​"Aku monster yang membuatmu bisa bernapas tanpa rasa sakit." Arga membalas, tangannya merayap masuk ke dalam rok Siska, menjelajahi bagian bawahnya yang sudah sangat basah. 

"Katakan padaku, Siska. Saat kau tadi meminta izin pada Rendy, apakah kau membayangkan saat-saat seperti ini?"

​Siska menggigit bibir bawahnya, air mata mengalir. 

"Iya... aku membayangkan betapa hinanya aku jika Kak Rendy tahu adiknya sedang memohon pada musuhnya untuk dihisap seperti ini."

​"Bagus. Rasa malu itu akan membuat rasanya jauh lebih nikmat." 

Arga kembali menyerang dengan intensitas yang lebih gila. Ia membaringkan Siska di sofa, memastikan setiap tetes cairan yang keluar dari tubuh perawan Siska tidak ada yang terbuang sia-sia.

​Hingga tengah malam, apartemen mewah itu menjadi saksi bisu pengkhianatan Siska. 

Di satu sisi, ia merasa merdeka dari pengawasan Rendy, namun di sisi lain, ia menyadari bahwa ia baru saja pindah dari penjara kasih sayang kakaknya ke dalam penjara nafsu Arga yang tanpa batas.

Bersambung…

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 32

    Kabut tebal yang menyelimuti perairan luar gua mendadak pecah oleh deru mesin helikopter tempur yang terbang rendah di atas permukaan laut. Suara baling-baling raksasa itu memantul di dinding batu gua bawah tanah, menciptakan getaran hebat yang merambat hingga ke dek kapal tempat Arga dan Siska berada.​Siska, yang baru saja pulih dari gelombang orgasmenya di atas dasbor kokpit, seketika tersentak bangun. Matanya yang sayu melebar karena panik, menatap layar radar sekunder yang mendeteksi sinyal tak dikenal menyusup masuk ke zona larangan udara pulau.​"Arga... suara apa itu? Helikopter?!" pekik Siska, suaranya gemetar ketakutan saat ia menarik jas taktis Arga lebih erat menutupi tubuh polosnya. "Apakah... apakah masih ada pasukan Rendy yang lain?"​Arga mendengus dingin. Ia bangkit dari kursi kendali, memperlihatkan tubuh atletisnya yang basah oleh keringat. Tanpa sedikitpun rasa gentar, ia menyeringai, menatap layar monitor dengan tatapan penuh nafsu darah yang bercampur dengan ga

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 31

    Lampu neon di ruang interogasi bawah tanah itu berkedip perlahan sebelum akhirnya padam sepenuhnya, menyisakan kegelapan yang pekat. Arga melangkah keluar dari ruangan kedap suara itu sambil mendekap tubuh Siska yang sudah tak berdaya. Di belakang mereka, dua pria pengikut Rendy yang telah pingsan akibat gas penenang dibiarkan tergeletak di dalam sel baja.​Arga membawa Siska melewati koridor bawah tanah yang panjang, menuju sebuah area tersembunyi yang belum pernah Siska lihat sebelumnya, docks bawah tanah rahasia, sebuah gua alam yang diubah menjadi dermaga modern berkonektivitas tinggi, tempat beberapa kapal cepat militer dan satu kapal selam taktis bersandar di air laut yang hitam dan tenang.​Suara gema air yang beriak menghantam dinding batu gua menciptakan suasana yang dingin dan mencekam. Arga menurunkan Siska di atas kursi kemudi kulit dari kapal pesiar mini yang berlabuh di sudut gua.​Siska membuka matanya yang sayu, menarik jas taktis Arga yang masih longgar membungkus tu

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 30

    Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah tirai sutra vila Arga seolah menjadi ironi bagi kondisi Siska yang masih tergeletak lemas di atas ranjang. Tubuhnya terasa mati rasa, namun jiwanya tetap terikat kuat dalam gravitasi pria yang kini duduk di sisi ranjang, menyesap kopi hitam dengan ketenangan yang menakutkan.​Arga meletakkan cangkir porselen itu dengan bunyi denting pelan yang justru terdengar seperti guntur bagi telinga Siska yang peka. Ia tidak lagi mengenakan pakaiannya, kini, Arga tampil dengan jubah sutra hitam yang longgar, memberikan kesan penguasa yang baru saja menyelesaikan ritual pembantaiannya.​"Bangun, Siska," suara Arga memecah kesunyian kamar. "Hari ini kita punya tamu. Atau lebih tepatnya, sisa-sisa pengikut kakakmu yang masih berniat menantang otoritas kita di pulau ini."​Siska mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri yang menyengat di pangkal paha membuatnya meringis. "Tamu? Arga, kau baru saja meledakkan kapal Rendy. Apa lagi yang kau inginkan?

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 29

    Badai di luar vila berangsur-angsur mereda, meninggalkan suara sisa rintik hujan yang mengetuk dinding kaca kamar utama dengan ritme yang monoton. Di depan perapian yang kini hanya menyisakan abu hangat dan bara jingga yang redup, Siska berbaring telentang di atas karpet bulu domba. Seluruh tubuhnya terasa seperti dilelehkan, otot-ototnya lemas, dan setiap tarikan napasnya terasa berat, meninggalkan jejak kepuasan yang terlampau pekat di dada dan intinya.​Arga berdiri di atasnya, menatap mahakarya penaklukannya dengan sepasang mata yang masih berkilat lapar. Pria itu tidak tampak lelah sedikitpun. Struktur tubuhnya yang kokoh terbalas cahaya temaram fajar yang mulai menyembul dari balik awan badai. Ia meraih sebuah botol kaca gelap dari atas meja kayu, bukan lagi minyak aromaterapi, melainkan sebuah ramuan khusus berminyak dengan aroma mint dan mawar yang pekat, penawar baru yang sengaja dirancang oleh tim medis pribadinya.​"Bangun, Siska. Permainan kita belum selesai hanya karen

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 28

    Setelah badai kepuasan yang mengunci takdir mereka di ruang kendali bawah tanah, Arga tidak membiarkan Siska berlama-lama di atas meja besi yang dingin. Dengan kelembutan seorang pemilik yang baru saja mengamankan harta paling berharganya, ia menyelimuti tubuh lemas Siska dengan jas taktisnya yang tebal, lalu menggendongnya kembali ke lantai atas.​Namun, kegilaan di pulau pribadi ini tidak pernah benar-benar tidur. Saat mereka melangkah kembali ke dalam kamar utama yang megah, badai tropis di luar pulau tiba-tiba pecah. Angin kencang menghantam dinding-dinding kaca tebal, dan suara petir menggelegar, membelah langit malam yang pekat dan menciptakan kilatan cahaya yang dramatis di dalam ruangan.​Arga meletakkan Siska di atas karpet bulu domba yang tebal di depan perapian yang menyala hangat. Cahaya jingga dari api menari-nari di atas kulit Siska yang masih berkeringat, memantul pada kalung platina dan permata safir di lehernya yang berkilau dingin.​"Arga... dengar suara badai itu,

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 27

    Setelah badai gairah yang melanda di tepian balkon saat matahari terbit, Arga membawa tubuh Siska yang sudah benar-benar mati rasa kembali ke dalam kamar. Namun, istirahat bagi Siska di bawah atap pria posesif ini hanyalah sebuah ilusi yang berumur pendek. Baru beberapa jam Siska tenggelam dalam tidur yang melelahkan, Arga sudah kembali berdiri di sisi ranjang. Kali ini, ia tidak mengenakan pakaian santai vila. Arga mengenakan kemeja taktis hitam ketat yang mencetak jelas lekuk tubuhnya yang kokoh dan berbahaya. ​Di tangannya, terdapat sebuah gaun sutra tipis berwarna merah menyala—warna yang sengaja Arga pilih untuk mengontraskan kulit putih Siska yang kini dipenuhi tanda kepemilikannya. ​"Bangun, permaisuriku," bisik Arga, suaranya yang bariton bergetar rendah di dekat telinga Siska. Tangannya yang besar dan kasar merayap masuk ke balik selimut, mencengkram pinggul Siska yang ramping dan menariknya dalam satu gerakan mudah. ​Siska melenguh, matanya yang sayu terbuka perla

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 3

    Arga tidak membiarkan Siska memulihkan napasnya di ruang kerja itu. Dengan gerakan posesif, ia menyampirkan jas mahalnya ke bahu Siska yang polos, lalu membopong tubuh wanita itu keluar menuju sayap pribadi di rumah mewah tersebut. Koridor panjang yang sunyi itu hanya diisi oleh suara langkah sep

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 2

    Tubuh Siska bergetar hebat di atas meja kerja Arga, bukan hanya karena kelegaan fisiologis, tetapi juga karena gelombang sensasi yang membanjiri dirinya. Cairan putih itu terus mengalir, membasahi kemeja Arga dan permukaan meja yang dingin. Siska terengah-engah, matanya terpejam, mencoba memproses

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 4

    **Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela kaca besar di ruang makan kediaman Adijaya, namun bagi Siska, cahaya itu terasa begitu menyilaukan dan menghakimi. Ia duduk di kursi kayu jati yang dingin, jari-jarinya gemetar saat memegang cangkir teh hangat. Ia mengenakan blus sutra berwarna kr

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 1

    ***Lampu di ruang kerja Arga meremang, hanya menyisakan sorot lampu meja yang tajam. Siska berdiri di tengah ruangan, tangannya gemetar hebat. Ia merasa seperti domba yang masuk ke sarang serigala. Arga, pria yang selama bertahun-tahun mencoba menghancurkan bisnis kakaknya, kini duduk di hadapan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status