Masuk**
Mobil SUV itu masih terparkir di sudut remang-remang basement, mesinnya menderu halus, menciptakan getaran yang seolah menyatu dengan denyut di seluruh tubuh Siska. Di dalam kabin yang kedap suara itu, aroma susu yang manis bercampur dengan aroma maskulin Arga yang tajam, menciptakan atmosfer yang menyesakkan sekaligus memabukkan. Siska terkulai lemas di dada Arga, blusnya terbuka lebar, dan napasnya masih terputus-putus. Arga perlahan melepaskan hisapannya, namun tangannya tetap posesif mencengkram pinggang Siska. Ia mengambil selembar sapu tangan sutra dan dengan tenang membersihkan sudut bibirnya, lalu mengusap sisa-sisa kelembapan di kulit Siska dengan gerakan yang hampir terlihat seperti perhatian, namun terasa seperti penandaan wilayah. Siska menatap pantulan dirinya di kaca mobil yang gelap. Matanya sayu, bibirnya bengkak, dan ia terlihat seperti wanita yang baru saja kehilangan segalanya, namun anehnya, dadanya yang tadi terasa meledak kini terasa ringan dan nyaman. "Kenapa kau menatapku seperti itu, Siska?" tanya Arga, suaranya rendah dan tenang, sangat kontras dengan badai yang ada di dalam hati Siska. "Aku... aku benci bagaimana tubuhku merasa lebih baik setelah kau menyentuhku." bisik Siska, suaranya serak. "Aku benci kenyataan bahwa aku harus berbohong pada Kak Rendy agar aku bisa merasa 'normal'." Arga terkekeh, suara yang membuat Siska merinding. Arga menarik dagu Siska agar menatapnya. "Normal? Tidak, Sayang. Kau tidak akan pernah normal lagi. Kau sudah melintasi garis itu. Saat ini, satu-satunya hal yang membuatmu merasa utuh adalah rasa lapar dari musuh kakakmu." Ucap Arga. "Kau menghancurkanku, Arga. Secara perlahan, kau membunuh jiwaku." Siska mulai terisak pelan. "Setiap kali aku menatap mata Kak Rendy, aku merasa seperti pengkhianat. Dia menyayangiku lebih dari nyawanya sendiri, dan aku... aku ada di sini, di bawahmu, menyerahkan rahasiaku yang paling hina." Lanjut Siska. Arga tidak menunjukkan belas kasihan. Ia justru menekan punggung Siska, memaksa payudaranya yang sensitif kembali bersentuhan dengan kemeja putihnya yang dingin. "Maka berhentilah menatap matanya," perintah Arga dingin. "Mulai sekarang, fokuslah padaku. Rendy hanyalah masa lalumu yang membosankan. Akulah yang memegang masa depanmu, rasa sakitmu, dan kelegaanmu. Kau pikir kau melakukan ini demi dia? Tidak, Siska. Jauh di dalam sana, kau melakukannya karena kau menyukai bagaimana aku mengendalikanmu." Ujar Arga. "Itu tidak benar!" Siska memprotes, meski hatinya terasa perih karena tahu ada benarnya kata-kata itu. "Benarkah? Lalu kenapa kau tidak pergi saja? Aku sudah mengembalikan dokumennya. Kau bisa saja berhenti sekarang, membiarkan dadamu membengkak hingga kau pingsan kesakitan, atau pergi ke dokter dan menjelaskan kelainanmu yang 'memalukan' itu pada orang asing. Tapi kau tidak melakukannya. Kau memilih datang padaku." Balas Arga. Arga mendekatkan bibirnya ke telinga Siska, memberikan gigitan kecil yang membuat Siska tersentak. "Kau tidak takut padaku, Siska. Kau takut pada dirimu sendiri yang mulai merindukan caraku memperlakukanmu seperti wadah." Kekeh Arga dengan nada mengejek. Siska meremas kemeja Arga, air matanya jatuh membasahi kerah pria itu. "Aku terjebak... Aku tidak punya pilihan lain." "Pilihanmu adalah kepatuhan." Arga kembali meraih salah satu puncak kemerahan Siska, memilinnya dengan ibu jari hingga Siska mengerang tertahan. "Katakan, Siska. Apakah kau akan datang lagi besok?" Siska memejamkan mata. Ia membayangkan wajah Rendy yang tersenyum penuh kasih tadi siang, lalu membayangkan rasa sakit luar biasa yang akan menghimpit dadanya jika ia tidak mendapatkan hisapan Arga. Kebutuhan biologisnya kini telah menjadi rantai psikologis yang mengikatnya pada pria ini. "Iya... aku akan datang." bisik Siska penuh kekalahan. "Katakan dengan benar. Siapa yang paling kau butuhkan?" Lanjut Arga. Siska menarik napas panjang, membiarkan sisa-sisa harga dirinya runtuh sepenuhnya. "Aku membutuhkanmu, Arga. Hanya kau yang bisa... menyembuhkanku." Ujarnya. Arga tersenyum puas, sebuah senyum predator yang telah mendapatkan mangsanya secara utuh. Ia kembali membenamkan wajahnya, menghisap sisa-sisa terakhir dari "obat" Siska, sementara di atas sana, di restoran yang tenang, Rendy mungkin akan menunggu adiknya pulang, dan tidak menyadari bahwa Siska telah hancur dan terlahir kembali sebagai budak nafsu dari musuh terbesarnya. Psikologis Siska telah terbenam, yang tersisa hanyalah malam panjang di bawah bayang-bayang Arga. ** Malam itu, ruang tengah kediaman Adijaya terasa lebih dingin dari biasanya. Siska duduk di sofa, meremas ujung blusnya, sementara Rendy menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara terkejut, sedih, dan protektif yang luar biasa. "Apartemen, Siska? Di pusat kota?" Rendy mengulangi permintaan adiknya dengan suara rendah. "Untuk apa? Rumah ini cukup besar untuk kita berdua. Kau punya segalanya disini. Pelayan, keamanan, dan... aku." Siska menarik napas dalam, mencoba menekan rasa berdenyut di dadanya yang mulai terasa berat lagi. "Kak, aku sudah dewasa. Aku tidak bisa selamanya berlindung di bawah ketiakmu. Aku ingin belajar mandiri, mengurus diriku sendiri tanpa harus selalu melapor setiap jam padamu. Aku merasa terkekang." Rendy berdiri, berjalan mondar-mandir dengan gelisah. "Terkekang? Aku menjagamu karena aku menyayangimu, Siska! Dunia di luar sana sangat keras. Terutama setelah kejadian dengan Arga kemarin, aku tidak mau kau menjadi sasaran empuk." Mendengar nama Arga, jantung Siska mencelos. ‘Justru karena bajingan itulah aku harus pergi, Kak.’ batinnya perih. "Justru itu, Kak. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku kuat. Kalau aku terus di sini, aku akan selalu menjadi Siska yang lemah." ujar Siska dengan nada yang dibuat setegas mungkin. "Tolong, Kak. Sekali ini saja, biarkan aku memilih jalanku sendiri." Rendy berhenti melangkah, ia menatap adiknya dengan mata yang berkaca-kaca. "Apakah aku seburuk itu dalam menjagamu sampai kau ingin melarikan diri dariku?" "Bukan begitu, Kak..." Siska berdiri dan memeluk kakaknya, menyembunyikan wajahnya di dada Rendy. Ia merasa seperti monster. Ia memeluk kakaknya dengan kasih sayang, sementara pikirannya dipenuhi oleh jadwal pertemuan rahasia dengan Arga yang menuntut pasokan ASI-nya setiap malam. "Aku hanya butuh ruang. Izinkan aku, ya?" Setelah keheningan yang panjang, Rendy menghela napas panjang, tanda menyerah. "Baiklah. Aku akan membelikanmu unit terbaik di gedung dengan keamanan paling ketat. Tapi janji padaku, kau akan mengangkat teleponku setiap kali aku menghubungi, dan kau harus pulang setiap akhir pekan." "Aku janji, Kak. Terima kasih." bisik Siska, merasa lega sekaligus hancur karena kebohongannya berhasil. ** Dua hari kemudian, Siska sudah berada di apartemen barunya. Belum sempat ia merapikan koper, bel pintu berbunyi dengan nada yang tidak sabar. Siska tahu siapa itu. Begitu pintu terbuka, Arga masuk dengan langkah dominan, langsung mengunci pintu di belakangnya. "Tempat yang bagus, Siska. Jauh lebih tenang untuk kegiatan kita." Arga melepas jasnya, menatap Siska dengan pandangan lapar yang membuat bulu kuduknya meremang. "Kau puas sekarang? Aku sudah berbohong pada satu-satunya orang yang menyayangiku demi memenuhi kegilaanmu." desis Siska, suaranya bergetar antara amarah dan gairah yang mulai bangkit. "Jangan munafik. Kau melakukannya demi dirimu sendiri. Lihat dadamu... ia sudah merembes hingga ke kain bajumu hanya karena melihatku masuk." Arga menarik Siska ke arah sofa besar di tengah ruangan. Tanpa banyak bicara, Arga mendudukkan Siska di pangkuannya. Ia membuka kancing kemeja Siska dengan kasar hingga kancing-kancing itu terlepas dan jatuh ke lantai. Begitu aset Siska yang sudah membengkak hebat itu terbebas, Arga mengerang rendah. "Ahhh... Arga, jangan kasar-kasar..." Siska melenguh saat Arga langsung menyambar salah satu puncak kemerahannya dengan hisapan yang sangat kuat. "Kau merindukan ini, bukan? Di rumah kakakmu, kau harus menahan suara desahanmu, tapi di sini... kau bisa berteriak sekeras yang kau mau." Arga bergumam di sela-sela aktivitasnya. Ia menggunakan kedua tangannya untuk memerah dengan ritme yang sinkron, memastikan cairan putih itu memancar deras ke mulutnya. Siska mendongak, matanya berputar ke atas saat sensasi pelepasan itu menghantam saraf pusatnya. "Hhh... iya... lebih kuat, Arga! Dadamu... rasanya sangat panas... Ahhh!" Arga berhenti sejenak, membiarkan Siska terengah-engah dengan dada yang naik turun dengan cepat. Ia mengusap sisa susu di dagu Siska dan menjilat jarinya sendiri. "Manis sekali. Kau tahu, Siska? Rendy mungkin membelikanmu tempat ini untuk 'kedewasaanmu', tapi bagiku, tempat ini adalah peternakan pribadiku." "Kau... kau monster." bisik Siska, namun ia justru menarik kepala Arga kembali ke dadanya, seolah ia tidak bisa hidup tanpa hisapan itu. "Aku monster yang membuatmu bisa bernapas tanpa rasa sakit." Arga membalas, tangannya merayap masuk ke dalam rok Siska, menjelajahi bagian bawahnya yang sudah sangat basah. "Katakan padaku, Siska. Saat kau tadi meminta izin pada Rendy, apakah kau membayangkan saat-saat seperti ini?" Siska menggigit bibir bawahnya, air mata mengalir. "Iya... aku membayangkan betapa hinanya aku jika Kak Rendy tahu adiknya sedang memohon pada musuhnya untuk dihisap seperti ini." "Bagus. Rasa malu itu akan membuat rasanya jauh lebih nikmat." Arga kembali menyerang dengan intensitas yang lebih gila. Ia membaringkan Siska di sofa, memastikan setiap tetes cairan yang keluar dari tubuh perawan Siska tidak ada yang terbuang sia-sia. Hingga tengah malam, apartemen mewah itu menjadi saksi bisu pengkhianatan Siska. Di satu sisi, ia merasa merdeka dari pengawasan Rendy, namun di sisi lain, ia menyadari bahwa ia baru saja pindah dari penjara kasih sayang kakaknya ke dalam penjara nafsu Arga yang tanpa batas. Bersambung…***Siska melangkah keluar dari toilet dengan kaki yang masih terasa lemas, tangannya gemetar hebat saat mencoba merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan. Jantungnya berdegup begitu kencang, seolah-olah detaknya bisa terdengar oleh semua orang di aula pesta malam itu. Ia merasa seolah ada label "milik Arga" yang tertempel di keningnya.Baru beberapa langkah ia keluar dari lorong toilet, sosok Rendy sudah berdiri di sana dengan wajah yang memancarkan kecemasan mendalam."Siska! Ke mana saja kau? Kakak mencarimu ke mana-mana." ujar Rendy sambil menghampiri adiknya. Ia segera memegang kedua bahu Siska, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kau lama sekali di dalam. Kau sakit? Wajahmu sangat merah."Siska mencoba tersenyum, namun senyum itu terasa sangat kaku. "Aku... aku hanya merasa sedikit pusing, Kak. Udara di dalam ruangan tadi terlalu sesak."Rendy hendak menjawab, namun matanya tiba-tiba terpaku pada bagian dada gaun maroon Siska. Di sana, tepat di dekat
**Jumat malam di apartemen barunya menjadi sebuah neraka sekaligus surga bagi Siska. Esok pagi ia harus kembali ke rumah Rendy untuk memenuhi janjinya menghabiskan akhir pekan bersama sang kakak. Namun, Arga seolah memiliki rencana lain. Ia tidak ingin Siska pergi dengan perasaan tenang, ia ingin menanamkan "tanda" bahwa meskipun Siska berada di rumah kakaknya, tubuhnya tetap milik Arga.Di atas tempat tidur luas itu, Arga mengunci kedua tangan Siska di atas kepala. Napasnya yang panas menerpa kulit Siska yang sudah bersimbah peluh dan sisa-sisa cairan putih yang melimpah."Kau akan pulang besok, bukan? Kembali ke pelukan kakakmu yang suci itu." bisik Arga dengan nada mengejek yang tajam."Arga... lepaskan aku, ini sudah hampir pagi. Aku harus berkemas." rintih Siska, mencoba mengabaikan rasa berdenyut di dadanya yang kembali terasa berat."Aku akan melepaskanmu, tapi aku ingin memastikan Rendy tahu, tanpa perlu aku bicara bahwa ada pria lain yang sudah menjamah adiknya." Arga t
**Mobil SUV itu masih terparkir di sudut remang-remang basement, mesinnya menderu halus, menciptakan getaran yang seolah menyatu dengan denyut di seluruh tubuh Siska. Di dalam kabin yang kedap suara itu, aroma susu yang manis bercampur dengan aroma maskulin Arga yang tajam, menciptakan atmosfer yang menyesakkan sekaligus memabukkan.Siska terkulai lemas di dada Arga, blusnya terbuka lebar, dan napasnya masih terputus-putus. Arga perlahan melepaskan hisapannya, namun tangannya tetap posesif mencengkram pinggang Siska. Ia mengambil selembar sapu tangan sutra dan dengan tenang membersihkan sudut bibirnya, lalu mengusap sisa-sisa kelembapan di kulit Siska dengan gerakan yang hampir terlihat seperti perhatian, namun terasa seperti penandaan wilayah.Siska menatap pantulan dirinya di kaca mobil yang gelap. Matanya sayu, bibirnya bengkak, dan ia terlihat seperti wanita yang baru saja kehilangan segalanya, namun anehnya, dadanya yang tadi terasa meledak kini terasa ringan dan nyaman."K
**Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela kaca besar di ruang makan kediaman Adijaya, namun bagi Siska, cahaya itu terasa begitu menyilaukan dan menghakimi. Ia duduk di kursi kayu jati yang dingin, jari-jarinya gemetar saat memegang cangkir teh hangat. Ia mengenakan blus sutra berwarna krem dengan kerah tinggi, pilihan yang sengaja ia buat untuk menutupi jejak kemerahan yang ditinggalkan Arga di lehernya semalam.Di dadanya, ia masih merasakan sisa-sisa denyutan panas. Meski Arga telah "mengosongkannya" hingga fajar, memori tentang sentuhan kasar namun membebaskan itu masih segar, membuat kulitnya terasa terbakar setiap kali ia teringat suara isapan pria itu.Langkah kaki terdengar menuruni tangga. Siska tersentak, hampir menumpahkan tehnya. Itu Rendy."Pagi, Siska." suara Rendy terdengar berat namun penuh kasih. Ia berjalan mendekat dan tanpa ragu mencium puncak kepala adiknya, sebuah rutinitas yang biasanya membuat Siska merasa aman, namun pagi ini justru membuatnya ing
Arga tidak membiarkan Siska memulihkan napasnya di ruang kerja itu. Dengan gerakan posesif, ia menyampirkan jas mahalnya ke bahu Siska yang polos, lalu membopong tubuh wanita itu keluar menuju sayap pribadi di rumah mewah tersebut. Koridor panjang yang sunyi itu hanya diisi oleh suara langkah sepatu Arga dan deru napas Siska yang masih belum stabil.Pintu ganda kamar utama terbuka dengan satu dorongan. Kamar Arga jauh lebih luas, dengan pencahayaan temaram yang memberikan kesan maskulin dan dominan. Arga merebahkan Siska di atas tempat tidur berseprai sutra hitam yang dingin, menciptakan kontras tajam dengan kulit Siska yang masih merona panas."Tempat ini lebih pantas untukmu, Siska. Bukan meja kayu yang keras." gumam Arga sembari melepas jasnya dan melemparnya ke lantai.Siska mencoba menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, namun tangan Arga menahannya. "Jangan sembunyi. Aku ingin melihat setiap inci dari apa yang sekarang menjadi milikku." Ucap Arga."Arga... Kau sudah me
Tubuh Siska bergetar hebat di atas meja kerja Arga, bukan hanya karena kelegaan fisiologis, tetapi juga karena gelombang sensasi yang membanjiri dirinya. Cairan putih itu terus mengalir, membasahi kemeja Arga dan permukaan meja yang dingin. Siska terengah-engah, matanya terpejam, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi.Arga mengangkat wajahnya, menarik napas dalam-dalam. Sudut bibirnya yang basah menyunggingkan senyum puas. Ia menyentuh area sekitar mulut Siska, membersihkan sisa-sisa ASI yang mungkin menempel di sana dengan ibu jarinya yang kasar."Kau... kau membuatku gila, Arga." desis Siska, suaranya parau, dipenuhi campuran kebencian, kebingungan, dan gairah."Aku membuatmu hidup, Siska. Ini adalah caramu untuk bertahan hidup." koreksi Arga, suaranya pelan namun penuh otoritas. Ia menatap dalam-dalam ke mata Siska, mencari jejak perlawanan yang tersisa. "Dan ini adalah caramu menyelamatkan kakakmu.” Lanjutnya.Arga bangkit, berdiri tegak di antara kedua kaki Siska yang ma







