分享

Bab 6

作者: Gita Putri
last update publish date: 2026-03-04 12:41:25

**

Jumat malam di apartemen barunya menjadi sebuah neraka sekaligus surga bagi Siska. Esok pagi ia harus kembali ke rumah Rendy untuk memenuhi janjinya menghabiskan akhir pekan bersama sang kakak. 

Namun, Arga seolah memiliki rencana lain. Ia tidak ingin Siska pergi dengan perasaan tenang, ia ingin menanamkan "tanda" bahwa meskipun Siska berada di rumah kakaknya, tubuhnya tetap milik Arga.

​Di atas tempat tidur luas itu, Arga mengunci kedua tangan Siska di atas kepala. Napasnya yang panas menerpa kulit Siska yang sudah bersimbah peluh dan sisa-sisa cairan putih yang melimpah.

​"Kau akan pulang besok, bukan? Kembali ke pelukan kakakmu yang suci itu." bisik Arga dengan nada mengejek yang tajam.

​"Arga... lepaskan aku, ini sudah hampir pagi. Aku harus berkemas." rintih Siska, mencoba mengabaikan rasa berdenyut di dadanya yang kembali terasa berat.

​"Aku akan melepaskanmu, tapi aku ingin memastikan Rendy tahu, tanpa perlu aku bicara bahwa ada pria lain yang sudah menjamah adiknya." Arga tersenyum gelap. 

Ia merunduk, namun kali ini tujuannya bukan hanya untuk meredakan rasa sakit Siska. Ia memberikan hisapan yang sangat kuat dan gigitan kecil di area sekitar leher dan tulang selangka Siska, tepat di atas garis blus yang biasa ia kenakan.

​"Ahhh! Arga, jangan di sana! Kak Rendy akan melihatnya!" Siska menjerit, mencoba meronta, namun tenaga Arga terlalu besar.

​Arga tidak berhenti. Ia sengaja meninggalkan jejak kemerahan yang kontras di kulit putih Siska, sebuah tanda kepemilikan yang mencolok. Tidak hanya itu, ia kembali ke dada Siska, memberikan hisapan yang begitu agresif hingga meninggalkan bekas di area yang paling sensitif.

​"Biarkan dia melihatnya. Biarkan dia bertanya-tanya pria mana yang sudah menghisapmu hingga kering seperti ini." gumam Arga dengan suara serak.

​"Kau gila, Arga... kau benar-benar ingin menghancurkanku." tangis Siska pecah. 

Di satu sisi ia merasa tersiksa, namun di sisi lain, rangsangan Arga yang kasar justru memicu tubuhnya untuk memproduksi ASI lebih deras, memberikan sensasi kenikmatan yang tak tertahankan di tengah rasa takutnya.

​"Aku tidak menghancurkanmu, Siska. Aku hanya memastikan kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dariku, bahkan saat kau sedang memeluk kakakmu." Arga melanjutkan aksinya hingga fajar hampir menyingsing, meninggalkan Siska dalam keadaan lemas dan penuh dengan tanda-tanda pengkhianatan di sekujur tubuhnya.

**

​Siska berdiri di depan cermin kamar mandi apartemennya, menatap nanar tanda kemerahan di lehernya. Ia mencoba menutupinya dengan concealer tebal dan syal tipis, meski cuaca sedang cukup cerah. Hatinya berdegup kencang saat mobil jemputan Rendy tiba.

​Begitu sampai di rumah, Rendy sudah menunggu di teras dengan senyum lebar. 

"Selamat datang di rumah! Kakak merindukanmu. Apartemenmu tidak membuatmu lupa jalan pulang, kan?"

​Rendy langsung memeluk Siska erat. Siska membeku, takut jika kakaknya bisa mencium aroma Arga yang mungkin masih tertinggal atau merasakan betapa tegang tubuhnya.

​"Tentu tidak, Kak. Aku juga merindukan Kakak." bohong Siska, suaranya bergetar.

​Saat mereka duduk di ruang makan untuk minum teh, Rendy terus memperhatikan Siska. 

"Kenapa kau pakai syal, Siska? Di dalam rumah ini udaranya cukup hangat. Kau sakit lagi?"

​Siska tersedak tehnya. "Ah, ini... hanya gaya saja, Kak. Lagi pula leherku terasa sedikit kaku karena bantal di apartemen baru tidak senyaman di sini."

​Rendy tidak lantas percaya. Ia bangkit dan mendekati Siska. "Coba Kakak lihat. Mungkin salah urat, Kakak bisa panggilkan tukang pijat langganan kita."

​Sebelum Siska sempat mengelak, Rendy dengan lembut menarik pinggiran syalnya. Siska memejamkan mata, jantungnya seolah berhenti berdetak. Syal itu bergeser, memperlihatkan sedikit bagian dari tanda kemerahan yang gagal ditutupi concealer.

​"Siska... ini apa?" Suara Rendy berubah menjadi sangat dingin dan tajam. "Ini bukan salah urat. Ini seperti... bekas gigitan."

​Siska memucat pasi. Ia harus berpikir cepat.

"Ini... ini alergi, Kak! Aku makan udang di dekat apartemen kemarin malam, dan aku terus menggaruknya karena sangat gatal. Aku... aku malu memberitahumu karena aku ceroboh."

​Rendy menatap mata Siska dalam-dalam, mencari kebenaran di sana. Kasih sayangnya yang besar membuatnya ingin percaya, namun logikanya sebagai pria dewasa berkata lain. 

"Alergi tidak meninggalkan bekas seperti ini, Siska. Kau yakin tidak ada pria yang mengganggumu?"

​"Demi Tuhan, Kak! Siapa yang mau menggangguku? Aku selalu di dalam apartemen." Siska mulai terisak, menggunakan air mata sebagai senjatanya untuk menutupi rasa bersalah. "Kenapa Kakak tidak percaya padaku? Aku pindah mandiri agar Kakak tidak terus mencurigaiku seperti anak kecil!"

​Melihat adiknya menangis, pertahanan Rendy runtuh. Ia merasa bersalah karena telah menuduh. 

"Maaf. Maafkan Kakak. Aku hanya sangat takut kehilanganmu. Kejadian Arga waktu itu benar-benar membuatku paranoid."

​Rendy memeluk Siska kembali, mengusap punggungnya dengan penuh kasih. Siska menangis di bahu kakaknya,bukan karena sedih, tapi karena rasa hina yang luar biasa. 

Di bawah pelukan kakaknya, ia bisa merasakan dadanya kembali berdenyut kencang. Ia menyadari bahwa stres karena berbohong pada Rendy justru memicu kelainannya kembali bergejolak.

‘​Aku harus segera masuk kamar, pikir Siska dalam hati. Dadamu sudah mulai penuh lagi, dan jika Kakak merasakannya basah di bajunya, aku tidak akan bisa berbohong lagi.’ batin Siska.

​"Aku ingin istirahat sebentar di kamar, Kak. Kepalaku pusing." bisik Siska.

​"Tentu. Istirahatlah. Kakak akan minta pelayan siapkan sup hangat untukmu." ujar Rendy dengan nada yang begitu tulus, sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam kamar nanti, adiknya akan kembali meringis kesakitan, merindukan tangan musuhnya untuk meredakan cairan yang menjadi kutukan sekaligus kenikmatannya.

**

Malam Minggu di kediaman Adijaya biasanya diwarnai dengan ketenangan yang elegan, namun bagi Siska, setiap detak jam dinding di kamarnya terasa seperti lonceng kematian. 

Ia berbaring di tempat tidur besarnya, menatap langit-langit dengan napas yang berat. Di lantai bawah, ia tahu Rendy masih terjaga, mungkin sedang membaca dokumen atau sekadar menikmati kopi, merasa tenang karena adiknya ada di dalam rumah.

​Namun, di dalam kamar ini, Siska sedang berperang. Dadanya terasa sangat panas, membengkak hingga ke titik yang menyakitkan. Produksi ASI-nya meningkat drastis akibat tekanan emosional setelah hampir ketahuan tadi pagi.

​Tiba-tiba, suara gesekan halus terdengar dari arah balkon. Siska terlonjak, namun sebelum ia sempat berteriak, sebuah bayangan besar melompat masuk dan menutup pintu kaca dengan kecepatan kilat. 

Arga berdiri di sana, mengenakan pakaian serba hitam, tampak seperti iblis yang baru saja menyusup ke surga.

​"Kau... kau gila! Bagaimana kau bisa ke sini?" bisik Siska dengan nada marah sekaligus lega yang tak tertahankan.

​"Aku bilang kau tidak akan pernah bisa melarikan diri, Siska." Arga mendekat, langkahnya tak bersuara di atas karpet tebal. "Aku tahu kau kesakitan. Aku bisa merasakannya dari jarak satu kilometer." Kekehnya.

​Arga langsung mendorong Siska kembali ke tempat tidur, menindih tubuhnya dengan beban yang dominan. Suara tawa rendahnya terdengar sangat berbahaya di keheningan malam itu.

​"Kak Rendy ada di bawah, Arga! Jika dia masuk, kita berdua tamat!" Siska mencengkeram kemeja Arga, mencoba mendorongnya, namun tubuhnya justru melengkung mendekat saat Arga mulai menyentuh bagian yang paling sakit.

​"Maka pastikan kau tidak mendesah terlalu keras, Sayang." bisik Arga, jemarinya dengan cekatan membuka kancing baju tidur satin Siska. "Bukankah ini sangat mendebarkan? Melakukan ini tepat di atas kepala kakakmu yang tercinta?"

​Begitu kain itu terbuka, Arga tidak membuang waktu. Ia langsung membungkam puncak kemerahan Siska dengan mulutnya. 

Siska tersentak, tangannya mencengkeram seprai hingga kuku-kukunya memutih. Rasa lega yang luar biasa membanjiri sarafnya saat Arga mulai menghisap dengan kuat, menarik keluar cairan putih yang sudah merembes deras.

​"Ahhh... hhh..." Siska membekap mulutnya sendiri dengan tangan, air mata kenikmatan mengalir di sudut matanya. "Arga... pelan-pelan... Ahhh..."

​"Lihat betapa melimpahnya malam ini." Arga bergumam di sela-sela isapannya, suaranya terdengar sangat haus. "Kau menyimpannya untukku, bukan? Kau tidak membiarkan setetes pun terbuang meski kau sedang bersama Rendy."

​"Aku tidak bisa... Ahhh... tubuhku terus memproduksinya hanya dengan memikirkanmu." aku Siska dengan jujur, menyerah pada kehinaannya sendiri.

​Arga berpindah ke sisi lainnya, memberikan pijatan ritmis yang dalam untuk memastikan aliran ASI itu tidak terhambat. Setiap isapan Arga terasa seperti tarikan listrik yang menyambar hingga ke pusat kewanitaan Siska, membuatnya merintih tertahan.

​Gairah Arga mencapai titik didih. Ia tidak hanya menginginkan cairan dari dada Siska, ia menginginkan segalanya. 

Tangannya merayap turun, menyelinap ke balik celana dalam tipis Siska yang sudah sangat basah. Siska terengah-engah saat merasakan jari Arga yang kasar mulai menjelajahi area yang paling pribadi.

​"Arga, jangan... aku masih... aku belum pernah..." Siska memohon, tubuhnya bergetar hebat.

​Arga berhenti sejenak, menatap mata Siska yang berkabut. Ia menyentuh lubang sempit yang masih tertutup rapat itu dengan ujung jarinya, merasakan denyutan gairah yang liar dari sana. 

"Aku tahu kau masih perawan, Siska. Aku bisa merasakannya. Begitu sempit, begitu suci."

​Arga mulai memainkan jemarinya di sana, keluar masuk dengan perlahan namun penuh tekanan, sementara mulutnya tetap bekerja di dada Siska. Siska merasa dunianya seakan meledak. Ia berada di ambang antara kehancuran dan kelegaan yang paling dalam.

​"Aku ingin sekali membobolmu malam ini." desis Arga, napasnya memburu di telinga Siska. "Aku ingin merobek kesucianmu di rumah kakakmu sendiri, agar dia tahu bahwa aku telah mengambil segalanya darinya melalui dirimu."

​"Tolong... lakukan..." bisik Siska dalam keadaan setengah sadar, ia sudah tidak peduli lagi pada dosa atau risiko.

​Namun, Arga justru menarik tangannya keluar dan berhenti menghisap. Ia menatap Siska dengan seringai kejam. 

"Tidak. Belum saatnya. Aku ingin kau terus merindukannya. Aku ingin kau tersiksa dengan keinginan untuk disatukan denganku, sementara kau harus terus berakting manis di depan Rendy."

​Arga berdiri, merapikan pakaiannya sejenak sementara Siska masih terkapar lemas dengan tubuh yang bergetar dan dada yang kini terasa sangat ringan.

​"Terima kasih untuk hidangan malam ini, Siska." Arga mengecup kening Siska yang penuh keringat. "Aku akan menunggumu di apartemen besok malam. Pastikan kau datang dengan kondisi 'penuh' lagi."

​Dengan gerakan cepat, Arga kembali melompat keluar balkon, menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan Siska yang masih terengah-engah di atas tempat tidur, menyadari bahwa ia baru saja membiarkan musuh kakaknya mencicipi rahasia terdalamnya di bawah atap yang sama dengan orang yang paling menyayanginya.

**

Beberapa hari setelah penyusupan berisiko di rumah Rendy, Arga merasa dominasinya atas Siska belum mencapai puncaknya. 

Ia tidak hanya kecanduan pada rasa manis dari kelainan tubuh Siska, tetapi ia juga gila akan fakta bahwa ia bisa menodai kesucian adik musuhnya di mana saja ia mau. 

Arga merencanakan sesuatu yang lebih gila, sebuah pesta amal yang diselenggarakan oleh yayasan keluarga Adijaya, tempat di mana Rendy akan hadir sebagai tuan rumah.

​Di tengah acara yang megah itu, Arga mengirim pesan singkat. 

"Toilet VIP di sayap kiri, dalam dua menit. Atau aku akan menghampiri kakakkmu sekarang juga."

​Siska, yang mengenakan gaun malam maroon dengan potongan dada rendah yang menawan, merasa jantungnya seolah berhenti. Ia menoleh ke arah Rendy yang sedang berbincang dengan para kolega, lalu dengan langkah gemetar, ia menyelinap keluar menuju koridor yang sepi.

​Begitu Siska masuk ke dalam toilet VIP yang mewah dan mengunci pintu, sebuah tangan besar langsung membekap mulutnya dan menyeretnya ke dalam salah satu bilik luas. Arga sudah di sana, matanya berkilat penuh kegilaan predator.

​"Kau berani sekali membuatku menunggu, Siska." bisik Arga, suaranya parau. Ia langsung membalikkan tubuh Siska hingga menghadap cermin besar di dalam bilik tersebut.

​"Arga, kumohon... jangan disini. Kak Rendy hanya berjarak beberapa meter dari ruangan ini!" Siska memohon, matanya menatap pantulan dirinya yang tampak sangat rapuh di bawah bayang-bayang Arga.

​"Justru itu yang membuatnya menarik," Arga menarik resleting gaun Siska di bagian belakang. Gaun itu meluncur turun, menyingkap punggung mulusnya yang putih. "Dadamu sudah mulai berdenyut lagi, bukan? Aku bisa mencium aroma manis itu dari balik gaun mahalmu."

​Arga menarik turun bagian depan gaun Siska hingga aset Siska yang membengkak hebat mencuat keluar, menegang karena suhu dingin ruangan dan adrenalin yang memuncak. Siska memejamkan mata saat ia merasakan tangan Arga yang hangat mulai memijat dengan paksa.

​"Lihat dirimu di cermin, Siska." perintah Arga. "Lihat bagaimana tubuhmu bereaksi saat kau tahu kakakmu bisa masuk kapan saja. Kau bukan lagi adik yang suci, kau adalah sumber kepuasan musuhnya."

​Arga merunduk, langsung menyesap cairan putih yang mulai merembes deras itu. Siska menjerit tertahan, tangannya mencengkeram pinggiran wastafel marmer di dalam bilik hingga buku jarinya memutih.

​"Ahhh... Ahhh... Arga... cukup..."

​"Tidak akan pernah cukup." gumam Arga di sela-sela isapannya yang rakus. "Aku ingin setiap tetes ini menjadi milikku. Aku ingin tubuhmu mengingat bahwa di tengah keramaian sekalipun, kau hanya milikku."

​Di luar bilik, terdengar suara pintu toilet utama terbuka. Suara langkah kaki beberapa pria masuk sambil berbincang keras, itu adalah suara rekan bisnis Rendy. Siska membeku, napasnya tertahan di kerongkongan.

​Arga justru tersenyum licik. Alih-alih berhenti, ia justru semakin gencar. Ia mengangkat kaki Siska dan mendudukkannya di atas wastafel marmer yang dingin, membuka kaki Siska lebar-lebar.

​"Arga... ada orang di luar..." bisik Siska dengan tangisan tanpa suara.

​"Maka jangan bersuara." Arga membalas. Ia memasukkan jemarinya kembali ke lubang sempit Siska yang sudah sangat basah, sementara mulutnya terus menghisap dada Siska dengan ritme yang semakin liar.

​Siska merasa otaknya seolah mencair. 

Sensasi dingin marmer di paha bawahnya, panasnya mulut Arga di dadanya, dan gerakan jari Arga di pusat kewanitaannya menciptakan simfoni kenikmatan yang mengerikan. 

Ia berada di ambang orgasme yang paling hebat, namun ia harus mati-matian menahan suaranya agar tidak terdengar oleh orang-orang di luar.

​"Katakan padaku, Siska." Arga berbisik tepat di telinganya sembari terus bergerak di bawah sana. "Siapa yang lebih baik? Kakakmu yang menjagamu dengan kasih sayang palsu, atau aku yang menghancurkanmu dengan kenikmatan ini?"

​"Kau... ahhh... hanya kau, Arga..." Siska meremas rambut Arga, menyerahkan seluruh harga dirinya pada pria yang kini menjadi pusat dunianya.

​Arga merasakan lubang sempit Siska menjepit jemarinya dengan sangat kuat seiring dengan pelepasan hebat yang dialami wanita itu. ASI-nya memancar lebih banyak, membasahi kemeja Arga dan marmer wastafel. Arga menghabiskan setiap tetesnya dengan penuh kemenangan, menatap Siska yang kini terkulai lemas dengan mata berkabut.

​"Rapikan dirimu." Arga berdiri, membersihkan bibirnya dengan santai sementara suara orang-orang di luar mulai menjauh. 

"Kakakmu mungkin sudah mencarimu. Dan Siska... jangan lupa untuk tersenyum padanya, seolah-olah kau baru saja selesai memperbaiki riasanmu, bukan selesai melayaniku." Kekeh Arga.

​Arga keluar lebih dulu dari bilik, meninggalkan Siska yang gemetar sendirian, menyadari bahwa ia baru saja melakukan pengkhianatan paling terang-terangan di bawah hidung kakaknya sendiri.

Bersambung...

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 32

    Kabut tebal yang menyelimuti perairan luar gua mendadak pecah oleh deru mesin helikopter tempur yang terbang rendah di atas permukaan laut. Suara baling-baling raksasa itu memantul di dinding batu gua bawah tanah, menciptakan getaran hebat yang merambat hingga ke dek kapal tempat Arga dan Siska berada.​Siska, yang baru saja pulih dari gelombang orgasmenya di atas dasbor kokpit, seketika tersentak bangun. Matanya yang sayu melebar karena panik, menatap layar radar sekunder yang mendeteksi sinyal tak dikenal menyusup masuk ke zona larangan udara pulau.​"Arga... suara apa itu? Helikopter?!" pekik Siska, suaranya gemetar ketakutan saat ia menarik jas taktis Arga lebih erat menutupi tubuh polosnya. "Apakah... apakah masih ada pasukan Rendy yang lain?"​Arga mendengus dingin. Ia bangkit dari kursi kendali, memperlihatkan tubuh atletisnya yang basah oleh keringat. Tanpa sedikitpun rasa gentar, ia menyeringai, menatap layar monitor dengan tatapan penuh nafsu darah yang bercampur dengan ga

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 31

    Lampu neon di ruang interogasi bawah tanah itu berkedip perlahan sebelum akhirnya padam sepenuhnya, menyisakan kegelapan yang pekat. Arga melangkah keluar dari ruangan kedap suara itu sambil mendekap tubuh Siska yang sudah tak berdaya. Di belakang mereka, dua pria pengikut Rendy yang telah pingsan akibat gas penenang dibiarkan tergeletak di dalam sel baja.​Arga membawa Siska melewati koridor bawah tanah yang panjang, menuju sebuah area tersembunyi yang belum pernah Siska lihat sebelumnya, docks bawah tanah rahasia, sebuah gua alam yang diubah menjadi dermaga modern berkonektivitas tinggi, tempat beberapa kapal cepat militer dan satu kapal selam taktis bersandar di air laut yang hitam dan tenang.​Suara gema air yang beriak menghantam dinding batu gua menciptakan suasana yang dingin dan mencekam. Arga menurunkan Siska di atas kursi kemudi kulit dari kapal pesiar mini yang berlabuh di sudut gua.​Siska membuka matanya yang sayu, menarik jas taktis Arga yang masih longgar membungkus tu

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 30

    Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah tirai sutra vila Arga seolah menjadi ironi bagi kondisi Siska yang masih tergeletak lemas di atas ranjang. Tubuhnya terasa mati rasa, namun jiwanya tetap terikat kuat dalam gravitasi pria yang kini duduk di sisi ranjang, menyesap kopi hitam dengan ketenangan yang menakutkan.​Arga meletakkan cangkir porselen itu dengan bunyi denting pelan yang justru terdengar seperti guntur bagi telinga Siska yang peka. Ia tidak lagi mengenakan pakaiannya, kini, Arga tampil dengan jubah sutra hitam yang longgar, memberikan kesan penguasa yang baru saja menyelesaikan ritual pembantaiannya.​"Bangun, Siska," suara Arga memecah kesunyian kamar. "Hari ini kita punya tamu. Atau lebih tepatnya, sisa-sisa pengikut kakakmu yang masih berniat menantang otoritas kita di pulau ini."​Siska mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri yang menyengat di pangkal paha membuatnya meringis. "Tamu? Arga, kau baru saja meledakkan kapal Rendy. Apa lagi yang kau inginkan?

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 29

    Badai di luar vila berangsur-angsur mereda, meninggalkan suara sisa rintik hujan yang mengetuk dinding kaca kamar utama dengan ritme yang monoton. Di depan perapian yang kini hanya menyisakan abu hangat dan bara jingga yang redup, Siska berbaring telentang di atas karpet bulu domba. Seluruh tubuhnya terasa seperti dilelehkan, otot-ototnya lemas, dan setiap tarikan napasnya terasa berat, meninggalkan jejak kepuasan yang terlampau pekat di dada dan intinya.​Arga berdiri di atasnya, menatap mahakarya penaklukannya dengan sepasang mata yang masih berkilat lapar. Pria itu tidak tampak lelah sedikitpun. Struktur tubuhnya yang kokoh terbalas cahaya temaram fajar yang mulai menyembul dari balik awan badai. Ia meraih sebuah botol kaca gelap dari atas meja kayu, bukan lagi minyak aromaterapi, melainkan sebuah ramuan khusus berminyak dengan aroma mint dan mawar yang pekat, penawar baru yang sengaja dirancang oleh tim medis pribadinya.​"Bangun, Siska. Permainan kita belum selesai hanya karen

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 28

    Setelah badai kepuasan yang mengunci takdir mereka di ruang kendali bawah tanah, Arga tidak membiarkan Siska berlama-lama di atas meja besi yang dingin. Dengan kelembutan seorang pemilik yang baru saja mengamankan harta paling berharganya, ia menyelimuti tubuh lemas Siska dengan jas taktisnya yang tebal, lalu menggendongnya kembali ke lantai atas.​Namun, kegilaan di pulau pribadi ini tidak pernah benar-benar tidur. Saat mereka melangkah kembali ke dalam kamar utama yang megah, badai tropis di luar pulau tiba-tiba pecah. Angin kencang menghantam dinding-dinding kaca tebal, dan suara petir menggelegar, membelah langit malam yang pekat dan menciptakan kilatan cahaya yang dramatis di dalam ruangan.​Arga meletakkan Siska di atas karpet bulu domba yang tebal di depan perapian yang menyala hangat. Cahaya jingga dari api menari-nari di atas kulit Siska yang masih berkeringat, memantul pada kalung platina dan permata safir di lehernya yang berkilau dingin.​"Arga... dengar suara badai itu,

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 27

    Setelah badai gairah yang melanda di tepian balkon saat matahari terbit, Arga membawa tubuh Siska yang sudah benar-benar mati rasa kembali ke dalam kamar. Namun, istirahat bagi Siska di bawah atap pria posesif ini hanyalah sebuah ilusi yang berumur pendek. Baru beberapa jam Siska tenggelam dalam tidur yang melelahkan, Arga sudah kembali berdiri di sisi ranjang. Kali ini, ia tidak mengenakan pakaian santai vila. Arga mengenakan kemeja taktis hitam ketat yang mencetak jelas lekuk tubuhnya yang kokoh dan berbahaya. ​Di tangannya, terdapat sebuah gaun sutra tipis berwarna merah menyala—warna yang sengaja Arga pilih untuk mengontraskan kulit putih Siska yang kini dipenuhi tanda kepemilikannya. ​"Bangun, permaisuriku," bisik Arga, suaranya yang bariton bergetar rendah di dekat telinga Siska. Tangannya yang besar dan kasar merayap masuk ke balik selimut, mencengkram pinggul Siska yang ramping dan menariknya dalam satu gerakan mudah. ​Siska melenguh, matanya yang sayu terbuka perla

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 5

    **Mobil SUV itu masih terparkir di sudut remang-remang basement, mesinnya menderu halus, menciptakan getaran yang seolah menyatu dengan denyut di seluruh tubuh Siska. Di dalam kabin yang kedap suara itu, aroma susu yang manis bercampur dengan aroma maskulin Arga yang tajam, menciptakan atmosfer y

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 4

    **Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela kaca besar di ruang makan kediaman Adijaya, namun bagi Siska, cahaya itu terasa begitu menyilaukan dan menghakimi. Ia duduk di kursi kayu jati yang dingin, jari-jarinya gemetar saat memegang cangkir teh hangat. Ia mengenakan blus sutra berwarna kr

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 3

    Arga tidak membiarkan Siska memulihkan napasnya di ruang kerja itu. Dengan gerakan posesif, ia menyampirkan jas mahalnya ke bahu Siska yang polos, lalu membopong tubuh wanita itu keluar menuju sayap pribadi di rumah mewah tersebut. Koridor panjang yang sunyi itu hanya diisi oleh suara langkah sep

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 2

    Tubuh Siska bergetar hebat di atas meja kerja Arga, bukan hanya karena kelegaan fisiologis, tetapi juga karena gelombang sensasi yang membanjiri dirinya. Cairan putih itu terus mengalir, membasahi kemeja Arga dan permukaan meja yang dingin. Siska terengah-engah, matanya terpejam, mencoba memproses

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status