Share

Bab. 12 Sentuhan

Author: Layli Dinata
last update publish date: 2026-08-13 09:41:32

“Senja, nenek gak tahu harus minta tolong ke siapa lagi? Rentenir mengejar nenek sampai sini.”

Senja memejamkan mata. Baru saja ia akan pergi ke kampus, sang nenek justru menelepon. Meminta bantuan uang. Kehidupan keluarganya begitu buruk usai ayahnya bangkrut. Bahkan, rumah neneknya juga disita dan harus pulang ke kampung.

“Iya, Nek. Senja kirim setelah ini. Udah dulu ya, Senja haris berangkat kuliah.”

“Iya, Senja. Akhirnya kamu bisa mengusahakan, nenek jadi lega.”

Senja mematikan sambungan te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 84 Bagaimana Kalau Jauhi Arsen?

    Begitu melihat papanya terbaring di ruang rawat, Senja mengurut dadanya, lega. Ia tak bisa membayangkan, kalau sang papa harus menjalani operasi bedah jantung.Ia sama sekali tidak berani masuk ke dalam. Takut sang papa marah, meraung dan kondisinya kembali memburuk.“Mbak Senja.” Seorang suster yang baru saja memeriksa Trian tersenyum, begitu mendapati Senja berdiri di depan pintu. “Kok enggak masuk?”Senja menggelengkan kepala. Sungguh, ia takut Ttrian akan seperti tadi.”“Bagaimana keadaan papa saya, Sus?’ tanya Senja, harap-harap cemas.“Membaik, Mbak,” jawab Suster dengan nama Ana itu. “Pak Trian terus mencari Dokter Arsen. Tapi, Dokter sedang ada operasi darurat.”Senja hanya bisa mengangguk. “tapi, tadi juga nanyain Mbak Senja. Katanya kalau Mbak Senja datang, suruh masuk.”Masuk? bagaimana ini? Senja bingung, bagaimana menjelaskan situasinya kepada Suster. “Tapi ….”“Dokter Arsen tadi juga bilang mengenai keadaan Pak Trian, yang kalau bisa, Mbak Senja jangan masuk dulu. teta

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 83 Isi Hati Arsen

    “Om, bagaimana kalau Papa enggak bangun?”“Senja, bisa gak kalau kamu enggak bicara begitu?! Dokter Rusli yang menangani, dia akan baik-baik saja.”Senja bisa lihat kekhawatiran Arsen. Air matanya menetes, pria itu mendekat, lalu memeluknya. Tangis Senja pecah dalam pelukan pria itu.“Maafkan aku, Senja. Harusnya sejak awal aku jujur sama kamu, jadi semua tidak akan seperti ini. Sungguh, aku hanya tidak mau kalau kamu dan papa kamu akan kewalahan. Aku berniat melamar kamu setelah kamu selesai kuliah, tapi semuanya gagal karena aku tidak bisa menahan hasratku sendiri.”Senja mengangkat wajah, nyaris tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.“Kamu masih meragukan aku? Aku sama Winny tidak ada apa-apa. Papanya adalah bawahanku. Hubungan kami … bahkan berakhir sudah sangat lama, dia yang mencampakkan aku, aku tidak akan memintanya kembali. Burhan profesional. Dia tidak mungkin berani padaku.”Senja tidak tahu harus berucap apa. Ia masih syok bukan main. Tetapi yang jauh membuatnya ta

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 82 Jangan Ikut campur

    Arsen menoleh kepada Kenzo. Wajahnya masih tegang, tetapi kali ini sorot matanya tidak lagi sekadar menunjukkan kecemburuan. Ada kelelahan, kekhawatiran, dan tekanan yang sejak tadi ia tahan seorang diri.“Kenzo, kuperingatkan jangan mendekati Senja.”Kenzo mengerutkan kening. “Aku cuma menenangkan Senja, kenapa Om sewot? Ada apa Om sama Senja? Om kaya suaminya saja.”“Kenzo kuperingatkan sekali lagi”“Tapi kenapa?!”“Kamu gak perlu tahu!”“Om gak ada hak—”“Cukup.” Senja memotong perkataan Kenzo. “Aku tidak mau mendengar perdebatan kalian. Papaku di dalam sana, kalian malah debat. Untuk sekarang, jangan membuat keadaan semakin rumit.”Kenzo menatap Arsen dengan rahang mengeras. Ia tampak ingin membalas banyak, tetapi Senja yang berdiri di antara mereka membuatnya mengurungkan niat. Gadis itu masih menunduk, bahunya bergetar, sementara matanya terus tertuju pada pintu IGD.Arsen mengembuskan napas, kemudian meraih tangan Senja.“Ayo, ikut aku.”Senja tidak langsung bergerak. Ia masih

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 81 Jangan Sentuh Dia

    Senja tidak tahu sudah berapa lama ia berdiri di depan pintu IGD. Kakinya terasa lemas, tetapi tubuhnya menolak untuk duduk. Setiap kali pintu otomatis terbuka, kepalanya langsung menoleh, berharap melihat Arsen keluar membawa kabar bahwa Trian sudah sadar dan semuanya baik-baik saja.Namun, yang datang hanya petugas medis, keluarga pasien lain, atau perawat yang berjalan tergesa-gesa membawa berkas.Tidak ada Arsen.Tidak ada kabar tentang papanya.Senja memeluk tubuhnya sendiri. Tangannya masih gemetar sejak melihat Trian didorong masuk ke ambulans. Bayangan wajah pucat ayahnya terus berputar di kepalanya. Suara napas Trian yang berat, tangan yang mencengkeram dada, serta tubuhnya yang mendadak tidak merespons membuat Senja merasa seolah-olah sedang berdiri di tepi jurang.“Papa….”Suara itu keluar begitu lirih, hampir tidak terdengar.Air matanya kembali jatuh. Senja mengusapnya dengan punggung tangan, tetapi semakin ia berusaha menahan tangis, semakin dadanya terasa sesak. Ia ingi

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 80 Serangan Jantung

    “Papal!”Suara Senja pecah ketika tubuh Trian tiba-tiba kehilangan tenaga. Laki-laki itu sempat berusaha berpegangan pada sisi meja, tetapi jemarinya hanya menggesek permukaan kayu sebelum tubuhnya ambruk ke lantai. Arsen bergerak lebih cepat daripada siapa pun. Ia menangkap bahu Trian, menahan kepalanya agar tidak membentur lantai, lalu segera berlutut di sampingnya.“Trian!”Wajah Trian berubah pucat. Napasnya terdengar pendek dan berat, sementara satu tangannya mencengkeram bagian tengah dada. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Senja hanya mampu berdiri terpaku selama beberapa detik sebelum akhirnya berlutut di sisi lain tubuh ayahnya.“Papa… Papa kenapa?”“Senja, mundur sedikit.” Suara Arsen terdengar tegas, jauh lebih keras daripada biasanya. “Beri aku ruang.”“Tapi, Om—”“Senja!”Gadis itu tersentak. Arsen jarang sekali memanggilnya dengan nada seperti itu. Namun, melihat keadaan Trian, Senja segera bergeser meskipun tangannya masih menggenggam jemari ayahnya yang mulai

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 79 Aku Hamil

    Pintu rumah itu terbuka lebar. Semakin menambah rasa sesak di hati Senja. Ia tak bisa melepaskan tangannya dari lengan Arsen. “Om, ini gimana?” ujar Senja dengan suara bergetar. Yang ada di pikirannya hanyalah wajah sang papa yang marah. Ia tidak bisa membayangkan, apa yang akan papanya itu lakukan, kalau sampai semuanya terbongkar. Bahkan, sejak tadi Arsen tidak mengatakan apapun.Papanya itu tahu apa? Apakah tahu mengenai kehamilannya, atau jangan-jangan mengenai hubungan mereka. Tidak, ia sama sekali tidak siap. Tetapi, bayi di dalam perutnya juga tidak bisa menunggu lebih lama.“Senja!”Senja tersentak, ia menarik tangannya dari lengan Arsen, tubuhnya sampai bergetar. Ia tidak pernah melihat Trian semarah itu.“Pa-papa …” Senja mencoba tersenyum, ia menghampiri papanya, meraih tangan sang papa yang kini sedang memegang beberapa berkas. Tetapi mata papanya itu menatap Arsen dengan tajam.“Arsen. Apa tujuan kamu?” tanya Trian dengan nada yang melemah, tidak sekeras tadi saat memang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status