تسجيل الدخولAlina merasa dunianya runtuh seketika. Menikah? Di gudang kotor ini? Dengan pria yang selama ini ia anggap sebagai sipir penjara?
"Tidak! Kau gila! Aku tidak mau menikah dengannya!" teriak Alina histeris, meronta hingga kursi kayunya berderit keras. "Aku hanya ingin menikah dengan Julian!" Pria berwajah luka itu tertawa terbahak-bahak, lalu memberi kode pada anak buahnya. "Diam, atau peluru ini menembus kepalamu!" Pria berwajah luka itu menekan moncong pistol ke pelipis Alina. Marvin menegang. Rahangnya mengeras, menatap pemandangan itu dengan kilat mata yang mematikan. "Lakukan," ucap Marvin tiba-tiba, suaranya berat dan dingin. Alina tersentak, menoleh ke arah Marvin dengan tatapan tidak percaya. "Marvin? Apa kau bilang?!" "Nikahkan kami," ulang Marvin tanpa melepaskan pandangan dari si penculik. "Biarkan dia tetap hidup. Itu yang kau mau, kan? Menghancurkan nama Sterling?" "Bagus! Pengawal yang penurut," ejek pria itu. "Apa?! Kau gila, Marvin!" teriak Alina histeris. "Jangan berani-berani mengambil kesempatan ini! Aku tidak mau!" Marvin bahkan tidak meliriknya. Ia hanya menatap si penculik dengan mata elangnya. "Tugasku adalah memastikan dia hidup. Jika syaratnya adalah pernikahan ini, Aku terima." Kalimat itu bagai tamparan bagi Alina. Bagi Marvin, pernikahan ini hanyalah bagian dari job desk-nya. Prosedur standar. Tidak ada cinta, hanya logika keselamatan kliennya dari musuhnya. Silas tersenyum, lalu memberi isyarat pada pendeta tua yang gemetar untuk memulai. Di bawah todongan senjata dan aroma mesiu, kalimat-kalimat suci itu terucap dengan dipaksakan. Alina menangis dalam diam, merasakan jemari Marvin yang kasar dan bersimbah darah menggenggam tangannya begitu erat, seolah ada kekuatan besar yang ia coba salurkan padanya. "Aku menerima Alina Sterling sebagai istriku..." Suara bariton Marvin bergema di kepala Alina nyata dan berat, membuat dadanya sesak seperti hendak pecah. Tepat setelah janji itu selesai, sebuah kain beraroma kimia menyengat kembali membekap mulut Alina. Kesadarannya menipis, namun hal terakhir yang ia rasakan adalah bisikan Marvin di telinganya. "Bertahanlah, Nona Sterling. Kita akan keluar dari sini." Setelah itu, mereka dibawa ke sebuah ruangan gelap dan pengap dan menguncinya dari luar. **** Beberapa jam kemudian, Alina terbangun di sebuah ruangan sempit yang terkunci. Tubuhnya tidak lagi terikat, namun pintu besi itu tertutup rapat. Di sudut ruangan, ia melihat Marvin sedang merobek bagian bawah kemejanya untuk membalut luka di lengannya. "Kau sudah sadar?" tanya Marvin tanpa menoleh. "Jangan mendekat!" bentak Alina, suaranya serak karena terlalu banyak menangis. "Kau... kau mengambil kesempatan dalam kesempitan! Kau menikmati pernikahan sandiwara itu, kan?!" Marvin berhenti bergerak. Ia berbalik, menatap Alina dengan tatapan tajam yang membuat nyali gadis itu menciut. "Sandiwara atau bukan, itu satu-satunya cara agar mereka tidak menarik pelatuk di kepalamu, Nona Alina. Seharusnya kau berterima kasih kepadaku, karena apa yang kulakukan bisa menyelamatkan hidupmu." "Aku lebih baik mati daripada terikat denganmu!" "Sayangnya, maut tidak semudah itu menjemputmu selama aku masih bernapas," balas Marvin dingin. Ia berdiri dan melangkah mendekat, mengintimidasi Alina hingga gadis itu terpojok ke dinding. "Simpan amarahmu. Kita harus keluar sebelum bos mereka kembali untuk 'merayakan' malam pertama kita dengan cara yang lebih berdarah." "Omong kosong!" "Atau kau memang ingin kita melakukan malam pertama di sini?" bisik Marvin dengan tatapan penuh intimidasi. Alina panik, tatapan Marvin mampu membuatnya terdiam. "Jangan berani kau menyentuhku sedikit pun, Marvin!" "Kalau begitu, ikuti instruksiku. Jangan membantah, jika kau tak ingin mereka memintaku untuk menyentuhmu malam ini" bisik Marvin tepat di wajah Alina. Alina terdiam, Ia tahu jika saat ini Alina akan mengikuti instruksi darinya. Marvin kemudian bersembunyi di balik pintu yang mulai terbuka, ia tahu seseorang akan masuk ke dalam. Tak lama kemudian, seorang penjaga masuk membawa nampan makanan. Dengan gerakan secepat kilat, Marvin menerjang. KRETEK! Bunyi patahan tulang leher terdengar jelas di keheningan malam. Alina menutup mulutnya, menahan jeritan saat melihat penjaga itu tumbang tak bernyawa. Marvin dengan tenang melucuti seragam dan senjata pria itu. "Pakai ini," perintah Marvin sambil melemparkan jaket penjaga itu pada Alina. "Kita lari sekarang." Belum sempat mereka keluar, tiba-tiba, pintu besi didobrak dari luar. Dua orang penjaga masuk dengan senjata terhunus. Tanpa peringatan, mereka melepaskan tembakan. *DOR! DOR!* "Tiarap!" Alina menjerit, namun tubuh kekar Marvin sudah lebih dulu menerjangnya, memeluknya erat hingga mereka berdua jatuh ke lantai. Marvin mengerang pendek. Ia segera membalas tembakan dengan pistol yang tadi diambil dari seorang penjaga. Dua penjaga itu tumbang seketika. "Marvin..." Alina terpaku saat merasakan cairan hangat membasahi pakaiannya. Tangannya meraba punggung Marvin dan mendapati darah segar mengalir deras dari sana. Marvin baru saja menjadikannya tameng hidup untuk Alina. "Jangan... diam saja. Ikut aku," bisik Marvin parau. Ia memaksakan diri berdiri, menyeret Alina keluar melalui lorong gelap di belakang gudang. Setelah berhasil bersembunyi di balik tumpukan kontainer yang jauh dari jangkauan musuh, Marvin jatuh terduduk. Napasnya tersengal, peluh dingin membanjiri keningnya. Alina melihat kondisi Marvin yang mengerikan. Kebenciannya masih ada, namun melihat pria itu nyaris mati demi dirinya membuat dadanya sesak. "Buka jasmu," perintah Alina dingin, berusaha menutupi rasa khawatirnya. Marvin menatapnya dengan sayu. "Aku tidak butuh belas kasihanmu, Nona." "Ini bukan belas kasihan! Aku tidak mau kau mati dan membiarkanku terjebak di tempat ini sendirian!" Alina menyentak jas Marvin dengan paksa. Ia merobek kain kemejanya sendiri untuk menekan luka di punggung Marvin. Marvin meringis, tubuhnya menegang saat jemari Alina menyentuh kulitnya. Untuk pertama kalinya, Marvin merasakan sentuhan Alina yang bukan berupa dorongan kemarahan. Ia menatap wajah samping Alina yang sedang fokus mengobati lukanya. Wajah itu tak seperti dia lihat sebelumnya. "Terima kasih," bisik Marvin sangat pelan. "Jangan banyak bicara. Kau masih punya tugas untuk membawaku pergi dari sini," sahut Alina tanpa melihatnya. Tangannya masih gemetar, namun gerakannya kini lebih lembut. Marvin memejamkan mata, merasakan denyut jantungnya yang berpacu. Ada sesuatu yang berbeda di dadanya, sesuatu yang tidak tertulis dalam buku panduan pengawal mana pun. Namun, ia segera menepisnya. Ia harus tetap dingin. Ia harus tetap profesional. "Setelah situasi aman, kita harus terus bergerak menuju dermaga selatan." Alina hanya mendengus, kembali pada sikap dinginnya, namun ia tidak melepaskan pegangannya pada lengan Marvin saat pria itu mencoba berdiri. "Sebaiknya kita bekerja sama untuk kali ini, Nona. Ikuti arahanku agar kita bisa melarikan diri dari sini," kata Marvin dengan serius. "Katakan saja apa rencamu?" balas Alina dengan acuh. Marvin lalu membisikkan rencananya di telinga Alina. "Tunggu aba-aba dariku. Sebaiknya kumpulkan tenagamu terlebih dahulu agar kau bisa fokus," saran Marvin lalu mulai dengan rencananya."Kau pikir rasa cinta ini bisa membusuk hanya karena kau tidak bisa melihat, Alina? Aku mencintaimu meski saat ini kau masih belum bisa melihat," bisik Marvin tepat di telinga istrinya, napas hangatnya menyapu kulit leher Alina yang meremang."Entah mengapa, kebutaan ini membuatku putus asa, Marvin," ungkap Alina penuh putus asa.Keheningan melingkupi kamar perawatan itu selama beberapa saat. Alina mengepalkan tangannya di kemeja Marvin, menghirup aroma maskulin suaminya yang selalu memberikan rasa aman."Aku hanya takut, Marvin... Aku takut kalau kau akan bosan dengan orang buta seperti aku," bisik Alina lirih, air matanya menetes pelan menembus kain kemeja Marvin. "Aku takut suatu hari nanti saat kau lelah menuntun langkahku, kau akan menatapku dengan rasa benci, bukan cinta lagi, Marvi. Aku takut jika itu sampai terjadi."Marvin mengurai pelukannya pelan. Tangan besarnya menangkup kedua pipi Alina, mengusap lelehan air mata di wajah pucat istrinya dengan ibu jari secara lembut."D
"Bercerai? Kau bicara apa, Alina? Jangan bicara sembarangan," protes Marvin, wajahnya terlihat panik."Aku tidak berguna untukmu, Marvin. Aku tidak mau menyusahkan hidupmu karena aku buta, Marvin," balas Alina, wajahnya terlihat putus asa."Jangan katakan itu lagi, Alina. Kau pikir pernikahan kita ini mainan, Alina?!" desis Marvin, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang meremukkan dadanya.Ruang perawatan yang sunyi itu terasa makin mencekam. Udara dingin seolah membeku di antara mereka. Alina memalingkan wajahnya yang pucat, menolak menatap ke arah sumber suara Marvin meski matanya sendiri tak mampu melihat apa-apa selain kegelapan pekat."Aku serius, Marvin," sahut Alina dingin, suaranya datar tanpa nada. "Untuk apa kita mempertahankan pernikahan ini? Aku hanya menjadi beban untukmu. Wanita buta dan cacat seperti diriku hanya akan merusak masa depanmu.""Cukup, Alina! Berhenti merendahkan dirimu sendiri! Aku tak pernah berpikir seperti itu tentang dirimu, Alina. Aku mencintaimu
"Aku tidak sabar untuk kembali melihat senyumanmu, Marvin. Pastikan aku segera melihat," bisik Alina pelan."Tentu saja, Sayang. Aku akan Carikan dokter dan pengobatan yang terbaik untukmu," ucap Marvin meyakinkan, ia mencium punggung tangan Alina.***Dua minggu berlalu sejak hari damai di balkon perbukitan itu. Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Di dalam kamar utama vila perbukitan yang megah dan hangat, tim dokter spesialis mata paling terkemuka dari Jerman berdiri tegang bersama Leo di sudut ruangan.Marvin duduk sangat dekat di samping Alina, memegang erat kedua tangan istrinya yang dingin dan gemetar."Kau siap, Sayang? Dikter akan segera mengobati matamu," bisik Marvin lembut, mengelus punggung tangan Alina.Alina mengangguk pelan, napasnya memburu halus. "Aku sangat gugup, Marvin... Bagaimana kalau aku masih melihat kegelapan?""Percayalah padaku, Alina. Dokter akan melakukan yang terbaik untukmu," bujuk Marvin mantap, lalu menoleh pada dokter utama. "Dokter, buka perb
"Selamat datang di neraka, Marvin Vance! Tentukan pilihanmu, penawar mata putriku, atau nyawa seluruh pasukanmu yang akan meledak di tempat ini!" jerit Helena dengan tawa membahana di tengah kepulan asap.Guncangan dahsyat akibat ledakan di luar vila membuat puing-puing atap runtuh berjatuhan. Namun, alih-alih panik, mata tajam Marvin justru berkilat bagai iblis yang menemukan celah mangsanya."Kau salah menilai lawanmu, Helena! Kau pikir aku akan memilih salah satunya? Kau salah!" gertak Marvin dingin.Dalam hitungan milidetik, sebelum Helena sempat menekan tombol detonator di tangannya, Marvin meluncur deras menewaskan jarak di antara mereka. Tangan kirinya mencengkeram cengkeraman leher Helena hingga wanita itu tersedak hebat, sementara tangan kanannya dengan kilat menyambar tabung reaksi berisi sampel darah khusus dari balik saku gaun hitam wanita itu!"L-lepaskan... bangsat kau, Marvin!" umpat Helena, matanya terbelalak tak percaya saat melihat tabung penawar itu sudah berpindah
"Racun dari darah ibunya sendiri? Apa maksud semua ini, Dokter?!" desis Marvin, suaranya berubah menjadi geraman berbahaya yang sanggup membuat dokter di hadapannya bergidik ketakutan.Aura membunuh yang pekat seketika memenuhi lorong laboratorium medis itu. Cengkeraman tangan Marvin pada hasil laboratorium hingga membuat kertas tebal itu remuk tak berbentuk."B-benar, Tuan Vance," jawab dokter itu dengan suara bergetar hebat. "Jika dalam waktu tujuh hari Nyonya Alina tidak mendapatkan penawar dari sampel darah ibu kandungnya, saraf matanya akan mati secara permanen... Dan penglihatannya tidak akan bisa diselamatkan lagi. Anda harus segera mencari ibu kandung Nyonya Alina.""Brengsek!" bentak Marvin murka. Ia menghempaskan kertas remuk itu ke lantai dan berbalik menatap Leo yang berdiri kaku di belakangnya. "Leo! Cari wanita iblis itu sekarang juga! Kepung seluruh sudut kota, jangan biarkan dia lolos!""Baik, Tuan Vance! Seluruh tim intelijen sudah dikerahkan! Kami akan bawa ibu Non
"Satu sentuhan saja jari kotor mu melukai Alina, aku pastikan seluruh garis keturunanmu musnah malam ini juga! Aku peringatkan kau!"Geraman Marvin menggelegar di lorong sunyi itu, cengkeramannya pada ponsel hingga jemarinya memutih, seolah ingin meremukkan perangkat besi di tangannya.Namun dari seberang telepon, suara wanita paruh baya itu justru terkekeh dingin dan penuh keangkuhan."Gertakan yang manis, Marvin Vance. Tapi ingat, aku adalah ibunya. Aku yang melahirkannya, dan aku juga yang berhak menentukan hidup atau matinya, kau hanya pengawal yang tak berguna," ucap wanita itu dengan nada tenang yang sangat mengerikan. "Kau punya waktu empat puluh delapan jam untuk menyerahkan kepemimpinan Black Dragon padaku. Jika tidak, nikmatilah masa-masa terakhirmu menjadi suami bagi putri butaku!"TUT... TUT... TUT...*lSambungan telepon terputus sepihak."Bangsat! Wanita itu benar-benar gila!" amuk Marvin murka, membanting ponsel berharga fantastis itu ke lantai hingga hancur berantakan.
"Marvin! Kau baik-baik saja, kan? Tolong jawaba aku, Marvin! Bangun, Marvin! Aku mohon jangan tinggalkan aku!" tangis Alina pecah, ia meraih kepala Marvin dan mendekapnya ke dadanya. Marvin melenguh pelan, kelopak matanya terbuka sedikit, menatap Alina dengan senyuman lemah yang dipaksakan. "Aku...
"Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan dari sipir penjara sepertimu!" teriak Alina, tangannya meraba udara dan menjatuhkan nampan bubur hingga isinya berserakan di lantai. Hari-hari di rumah persembunyian menjadi neraka baru bagi Alina. Kegelapan yang menyelimutinya bukan hanya di mata, tapi juga di
Tubuh Marvin terasa semakin lemas, beratnya seperti menarik seluruh kekuatannya pergi perlahan. Dia hampir saja terjatuh, namun masih bisa menahan Alina yang terdiam di pelukannya.Suaranya, suara Leo yang penuh kekhawatiran, menyentuh telinganya. "Marvin... Apa kau baik-baik saja?"Marvin bisa me
"Putuskan hubunganmu dengan pria brengsek itu, Alina! Keluarga Sterling tidak menerima menantu dari putra musuhnya sendiri!"Suara Arthur Sterling menggelegar di ruang kerja mansion yang mewah. Alina hanya bisa menggigit bibir, menatap ayahnya dengan sorot mata penuh pemberontakan."Aku tidak akan







