Compartir

Dekapan Hangat Sang Bodyguard
Dekapan Hangat Sang Bodyguard
Autor: Rose_roshella

Bab 1

last update Fecha de publicación: 2026-02-10 11:42:44

"Putuskan hubunganmu dengan pria brengsek itu, Alina! Keluarga Sterling tidak menerima menantu dari putra musuhnya sendiri!"

Suara Arthur Sterling menggelegar di ruang kerja mansion yang mewah. Alina hanya bisa menggigit bibir, menatap ayahnya dengan sorot mata penuh pemberontakan.

"Aku tidak akan pernah mau putus dengannya. Selama ini aku tidak pernah menolak keinginan Ayah, tapi tidak dengan pilihan hidupku," balas Alina tegas.

Selama ini, hidupnya sudah seperti burung dalam sangkar emas. Keluarga Sterling adalah dinasti bisnis yang kaku, di mana reputasi lebih berharga daripada nyawa.

Hubungan Alina dengan kekasihnya, seorang pria yang ternyata adalah musuh ayahnya, adalah satu-satunya pelarian manis yang ia miliki.

Namun, Alina tidak tahu, kalau Julian adalah pria brengsek yang mencoba menghancurkan ayahnya lewat dirinya. Ia hanya memanfaatkan Alina dan berpura-pura tidak memiliki hubungan baik dengan ayahnya, Silas.

"Kau mencoba menentang perintahku?"

"Ayah tidak bisa mengatur hatiku!" balas Alina bergetar.

"Aku bisa mengatur hidupmu! Mulai detik ini, Marvin Vance akan mengawasimu 24 jam. Jangan harap kau bisa melangkah keluar dari mansion ini tanpa izinnya!"

Alina melirik pria yang berdiri tegak di sudut ruangan layaknya patung bernyawa.

Dia adalah Marvin Vance. Pengawal pribadi yang dikirim agensi keamanan elit untuk menjadi pengawal Arthur sebelumnya.

Marvin adalah pria paling dingin dan menyebalkan yang pernah Alina temui saat dia menjadi pengawal ayahnya.

Hubungan mereka selama enam bulan terakhir hanyalah sebatas atasan dan bawahan yang kaku, bahkan sering kali penuh adu mulut karena sifat Marvin yang terlalu disiplin dan tidak punya perasaan.

Bagi Alina, Marvin bukan penjaga, dia adalah sipir penjara.

"Marvin, kemarilah!" panggil Arthur tegas. "Pastikan putriku tidak melakukan tindakan bodoh. Jaga dia dengan ketat. Jika dia kabur, kepalamu taruhannya."

"Dimengerti, Tuan," jawab Marvin dengan suara bariton yang datar, tanpa emosi sedikit pun.

"Bawa dia ke kamarnya! Awasi dia dan jangan sampai kau lengah!" perintah Arthur lalu segera pergi.

Marvin lalu menarik tangan Alina masuk ke dalam kamarnya.

"Lepaskan tanganmu, brengsek! Kau tidak berhak menyentuhku!"

Alina menyentak lengannya, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Marvin. Pria itu berdiri tegak seperti tembok beton di depan pintu utama mansion Sterling.

"Tugasku adalah menjagamu tetap di dalam, Nona Sterling. Aku tidak akan pernah keluar dari sini, kecuali ayahmu yang memintaku," katanya dingin.

Matanya yang sedingin es tidak menunjukkan emosi sedikit pun, meski Alina sudah memaki-makinya selama sepuluh menit.

"Kau hanya seorang pengawal! Ayahku membayarmu untuk melindungiku, bukan untuk memenjarakanku!" teriak Alina penuh keangkuhan.

"Dalam kamusku, perlindungan berarti pengawasan total," balas Marvin. Ia melangkah mendekat, mengintimidasi Alina dengan tinggi badannya.

"Dan perintah Tuan Arthur sangat jelas. Anda dilarang menemui Julian. Pria itu adalah putra Silas, musuh bebuyutan keluarga Anda. Dia hanya memanfaatkanmu untuk menghancurkan hidupmu dan ayahmu, bukan untuk memberikan cintanya."

"Kau tidak tahu apa-apa tentang Julian! Dan kau atau ayahku tidak berhak mengatur kehidupanku. Dia mencintaiku dan aku mencintainya!" Alina benar-benar frustasi saat semua orang melarang hubungannya dengan Julian.

Alina menggeram, matanya berkilat penuh kebencian. "Aku akan membuat Ayah memecatmu malam ini juga!"

"Silakan coba," tantang Marvin sebelum melepaskan tangan Alina dan kembali ke posisi siaga. "Sebelum surat pemecatan itu ada di tanganku, kau tidak akan pernah melangkah keluar dari rumah ini. Sebaiknya kau ingat-ingat kataku ini!"

***

Hampir satu minggu Alina tak bisa melakukan apapun di rumah itu. Beberapa kali mencoba kabur dengan bantuan Julian pun selalu berakhir gagal.

Perlahan, Alina mulai menyadari bahwa ia tak bisa melawan Marvin dengan kekuatan fisik darinya ataupun dari Julian. Akhirnya, ia menyusun rencana yang lebih cerdik.

“Argh! Marvin, tolong aku!” pekik Alina kesakitan.

Marvin yang berada di luar kamar, langsung berlari masuk begitu mendengar teriakan Alina.

"Nona, kau baik-baik saja?" tanya Marvin cemas saat melihat Alina terbaring lemas di ranjang.

"Tolong... bawa aku ke dokter. Lambungku sangat sakit," rintih Alina dengan akting yang sempurna.

Marvin, yang untuk pertama kalinya terlihat panik, segera mengangkat tubuh Alina dan membawanya ke rumah sakit.

Namun, di sanalah bencana dimulai. Saat Marvin lengah karena mengurus administrasi, Alina menyelinap keluar dengan menyamar sebagai perawat.

Beruntung saat itu Marvin yang sempat berpapasan dengannya, menyadari bahwa itu Alina yang menyamar jadi perawat. Ia pun segera mengejarnya.

Alina akhirnya mencapai parkiran dan langsung memacu mobil sewaannya ke arah dermaga. Napasnya belum juga stabil. Jantungnya berdegup terlalu cepat, seolah tahu ada sesuatu yang tidak beres.

Lampu-lampu dermaga berkelip redup, angin malam terasa dingin menusuk kulit. Ia menghentikan mobil dengan sedikit tergesa, lalu keluar sambil menoleh ke segala arah.

“Julian?” panggilnya, suaranya nyaris hilang ditelan sepi.

Tidak ada jawaban. Yang ada justru suara langkah kaki yang memburu ke arah Alina.

"Itu dia! Tangkap gadis itu!"

Darah Alina langsung terasa dingin. Refleks, ia berbalik dan berusaha masuk kembali ke dalam mobil. Tangannya gemetar saat mencoba membuka pintu.

Namun terlambat. Seseorang menarik lengannya dengan kasar.

“Lepaskan aku!” teriaknya, panik. Ia meronta, tapi cengkeraman mereka seperti besi.

Beberapa pria bersenjata sudah mengelilinginya. Tatapan mereka dingin, tanpa ragu.

“Siapa kalian?!” suara Alina pecah, napasnya terengah.

Tidak ada yang menjawab, mereka langsung menyeret Alina ke arah mobil lain. Sepatunya terseret kasar di aspal, rasa takut menjalar hingga ke ujung jarinya. Ia mencoba melawan, tapi tubuhnya kalah kuat.

“Lepasakan aku!”pekik Alina.

Tiba-tiba—

BRAKK!

Sebuah SUV hitam menghantam mobil penculik dengan keras, membuat semua orang terkejut.

Pintu SUV terbuka, dan Marvin keluar dengan pistol terangkat, matanya tajam seperti pisau.

“Lepaskan dia!” suaranya rendah, tapi penuh ancaman. “Atau kalian tidak akan pulang utuh malam ini.”

Harapan sempat menyala di mata Alina. “Marvin! Tolong aku!”

Namun sekejap kemudian, harapan itu dipaksa padam.

Salah satu pria mencengkeram Alina dari belakang dan menodongkan pistol tepat ke pelipisnya. “Jatuhkan senjatamu, atau kepala gadis ini akan pecah!”

“M–Marvin …” lirih Alina semakin ketakutan.

Marvin membeku. Rahangnya mengeras, matanya penuh amarah… tapi juga ragu. Ia tak punya banyak pilihan. Keselamatan Alina adalah yang terpenting.

“Baik…” suara Marvin berat, hampir tak terdengar. Perlahan, ia menjatuhkan pistolnya ke tanah. Kedua tangannya terangkat. “Tapi, jangan sakiti dia.”

Namun, detik itu juga sebuah jarum suntik menusuk leher Alina.

Dunia mulai berputar. Pandangannya kabur. Tubuhnya melemas tanpa bisa dilawan.

Hal terakhir yang ia lihat adalah Marvin yang berteriak dan menerjang, sebelum tubuhnya dihujani pukulan tanpa ampun.

***

Aroma besi berkarat dan debu pengap langsung menusuk indera Alina saat kesadarannya kembali. Kepalanya berdenyut hebat, seperti dipukul dari dalam.

Ia mencoba bergerak, tapi sia-sia. Pergelangan tangannya terikat kuat pada kursi kayu.

“Tolong…” bisiknya serak, nyaris tak terdengar.

Dari balik kegelapan, seorang pria berwajah penuh bekas luka melangkah maju. Senyum miringnya dingin, matanya menatap Alina seolah ia bukan manusia… hanya sesuatu yang bisa dipatahkan kapan saja.

“Siapa kau?! Lepaskan aku!” suara Alina pecah, panik.

Pria itu tidak menjawab. Tatapannya justru beralih saat pintu besi di belakangnya terbuka dengan kasar.

Dua pria bertopeng menyeret seseorang masuk.

Alina membeku.

“Marvin…!”

Kemeja hitamnya robek, wajahnya berlumur darah. Tapi matanya… masih tajam, dingin, hidup.

“Lepaskan dia,” ucap Marvin berat, suaranya parau namun tetap penuh tekanan.

Pria berwajah luka itu terkekeh pelan. “Masih berani memerintahku?”

Ia memberi isyarat. Lalu, seorang pria tua berbaju hitam maju dengan tangan gemetar, menggenggam sebuah kitab suci.

Dada Alina langsung terasa sesak.

“Apa… apa yang kalian lakukan?” suaranya bergetar.

Pria itu menatapnya, lalu tersenyum lebih lebar.

“Kalian akan menikah. Di sini. Sekarang.” Ia mendekat sedikit, suaranya berubah rendah dan penuh ejekan. “Aku penasaran… bagaimana reaksi Arthur saat tahu putrinya menikah seperti ini dengan pengawalnya sendiri.”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
Rafli123
Keren, lanjut ka
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 80

    "Apa yang kau katakan? Kau tidak mengenaliku?""Tidak. Aku tidak mengenalimu. Kau siapa?" Marvin menatap dingin wajah Alina.Alina mencengkeram pegangan kursi rodanya erat-erat, air matanya perlahan merembes dari balik perban hitam yang menutupi matanya. Suara dingin Marvin dan tawa kemenangan Lenika seolah menjadi belati yang menusuk jantungnya berulang kali."Marvin... tolong jangan bercanda, ini aku, Alina," bisik Alina, suaranya bergetar hebat. "Aku tahu kau sedang marah padaku, tapi tolong jangan berpura-pura tidak mengenalku..."Marvin mengernyitkan dahi dalam-dalam, menatap Alina dengan sorot mata yang sepenuhnya asing dan dingin. "Aku tidak bercanda! Aku benar-benar tidak tahu siapa kau. Dan apa katamu tadi? Istri? Jangan mengarang cerita, Nona. Aku hanya memiliki satu istri, dan dia adalah Lenika! Kau salah orang, Nona.""Marvin... Tolong jangan katakan itu." Alina menutup telinganya, berharap dia tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Marvin saat ini.Lenika melangkah ma

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 79

    “Hahaha… apa katamu? Istri kesayangan Marvin Vance? Kau terlalu percaya diri, gadis buta,” Lenika melepas tawa sumbang yang menusuk telinga Alina.“Aku lebih dulu mengenalnya dibanding dirimu. Aku adalah wanita pertama yang dinikahinya, bukan kau. Jadi jangan terlalu berharap kau bisa mendapatkan Marvin.” Alina menghela napas dalam, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski aliran darahnya bergejolak.“Berhentilah bermimpi menjadi yang pertama di hatinya, Lenika. Nyatanya, aku lah wanita yang terlebih dahulu dicintainya.” Kalimat itu keluar pelan, tapi penuh keyakinan. Tangan Lenika mengepal erat, matanya menyala seperti kobaran api cemburu. Alina tahu, kata-katanya kali ini telah menusuknya lebih dalam dari yang dia kira. “Kau…!” Lenika mulai berkata, tapi Alina langsung menyelanya sebelum ucapannya berlanjut. “Hugo… tolong antarkan aku ke ruangan ayahku, dan pastikan lagi, wanita ini tidak ada di ruangan suamiku setelah aku kembali,” pinta Alina cepat, mencoba menghindari kon

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 78

    "Tuhan, tolong jangan biarkan dia mati." Alina masih berlutut, memohon kepada Sang Pencipta untuk keajaiban suaminya.Di tengah kegelapan dunianya dan ratapan doa yang begitu pilu, suara dengung panjang monitor jantung Marvin masih terus bergema, menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.BIIIIIIIP...Dokter di dalam ruangan menggelengkan kepalanya pasrah. Ia meletakkan alat kejut jantung itu ke atas meja medis. "Maaf, kami sudah melakukan semaksimal mungkin. Pasien tidak merespons. Waktu kematian sudah__""Tidak! Marvin tidak boleh mati! Dokter, kau berbohong!" jerit Lenika histeris, mencoba menerobos masuk namun tertahan oleh tubuh Hugo yang kokoh. "Lepaskan aku, Hugo! Suamiku tidak boleh mati!""Tenang, Lenika! Jangan membuat keributan di dalam ruang operasi! Jangan buat suasana menjadi gaduh!" bentak Hugo dengan napas memburu, menahan pergerakan Lenika yang kian liar.Sementara itu, Alina masih bersujud di lantai dingin di ambang pintu. Air matanya merembes membasahi perban barun

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 77

    "Marvin! Bangun, Marvin! Aku mohon... jangan tinggalkan aku dalam kegelapan ini! Bertahanlah demi aku," jerit Alina histeris, ia mengguncang-guncang tubuh Marvin yang sudah tak bergerak.Hugo langsung menerobos maju bersama dua perawat. "Nona Alina, lepaskan Marvin! Dokter harus segera menanganinya! Tenangkan dirimu, Nona.""Tidak! Aku tidak mau lepas! Dia harus bangun, Hugo! Jangan biarkan dia pergi." tangis Alina semakin pecah."Nona, jika Anda tidak melepaskannya sekarang, Marvin benar-benar bisa meninggal! Tenangkan dirimu, Nona Sterling!" bentak Hugo terpaksa, sembari dengan lembut menarik tubuh Alina menjauh dari Marvin.Tim medis dengan cekatan mengangkat tubuh Marvin dan Tuan Arthur ke atas brankar secara bersamaan. Suasana di dalam ruangan berubah menjadi sangat kacau dengan instruksi-instruksi medis yang saling bersahutan."Pasien pertama, Tuan Arthur, denyut nadi sangat lemah! Siapkan ruang operasi satu!" teriak dokter penanggung jawab. "Pasien kedua, Marvin, mengalami syok

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 76

    "Lepaskan senjatamu sekarang, Marvin! Letakkan di lantai dan tendang ke arah anak buahku!" teriak Richard lagi melalui interkom, tawanya terdengar begitu puas.Marvin melirik anak buah Richard yang mengelilinginya, lalu perlahan mencabut pistol dari pinggangnya."Marvin, jangan gila! Ini jebakan!" bisik Hugo menahan lengan Marvin."Aku tidak punya pilihan, Hugo. Nyawa Alina taruhannya," sahut Marvin dingin. Ia menjatuhkan pistolnya ke lantai dan menendangnya menjauh. "Buka pintunya, Richard! Aku sudah tidak bersenjata!"KLIK.Pintu baja itu perlahan terbuka. Marvin melangkah masuk dengan kedua tangan terangkat di samping kepala. Di dalam ruangan, bau anyir darah langsung menyengat hidungnya. Tuan Arthur terkapar di lantai dekat ranjang dengan dada bersimbah darah, tak bergerak.Sementara itu, Alina duduk di sudut ranjang, menangis histeris dengan moncong pistol Richard yang menempel ketat di pelipisnya. Perban di matanya kembali merembeskan darah segar."Marvin? Kau di sini?! Jangan m

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 75

    Sementara itu, di koridor markas yang sepi, Marvin duduk bersandar di dinding tepat di samping pintu ICU. Hugo berdiri tak jauh darinya, mengawasinya dengan tatapan iba. "Kau benar-benar nekat, Marvin. Mengapa kau merahasiakan hal sebesar itu dari Tuan Arthur dan Nona Alina? Apa kau sadar telah menyakiti perasaannya?" tanya Hugo pelan, melangkah mendekat. "Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan mereka, Hugo," jawab Marvin parau, memijat pelipisnya yang berdarah. "Aku pikir aku bisa menyelesaikan urusanku dengan Lenika setelah bayinya lahir, tanpa harus menyakiti Alina. Tapi aku salah. Ke bodohanku justru menghancurkan mata dan hatinya. Aku menyesal, Hugo." "Percuma kau menyesali semua itu, sudah terlambat. Lalu sekarang apa rencanamu? Lenika belum benar-benar pergi dari kehidupanmu. Leo saat ini menahannya di paviliun depan, tapi wanita itu terus histeris menuntut untuk bertemu denganmu, dia benar-benar terobsesi denganmu," ujar Hugo memberi tahu situasi di luar.

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status