登入
"Putuskan hubunganmu dengan pria brengsek itu, Alina! Keluarga Sterling tidak menerima menantu dari putra musuhnya sendiri!"
Suara Arthur Sterling menggelegar di ruang kerja mansion yang mewah. Alina hanya bisa menggigit bibir, menatap ayahnya dengan sorot mata penuh pemberontakan. "Aku tidak akan pernah mau putus dengannya. Selama ini aku tidak pernah menolak keinginan Ayah, tapi tidak dengan pilihan hidupku," balas Alina tegas. Selama ini, hidupnya sudah seperti burung dalam sangkar emas. Keluarga Sterling adalah dinasti bisnis yang kaku, di mana reputasi lebih berharga daripada nyawa. Hubungan Alina dengan kekasihnya, seorang pria yang ternyata adalah musuh ayahnya, adalah satu-satunya pelarian manis yang ia miliki. Namun, Alina tidak tahu, kalau Julian adalah pria brengsek yang mencoba menghancurkan ayahnya lewat dirinya. Ia hanya memanfaatkan Alina dan berpura-pura tidak memiliki hubungan baik dengan ayahnya, Silas. "Kau mencoba menentang perintahku?" "Ayah tidak bisa mengatur hatiku!" balas Alina bergetar. "Aku bisa mengatur hidupmu! Mulai detik ini, Marvin Vance akan mengawasimu 24 jam. Jangan harap kau bisa melangkah keluar dari mansion ini tanpa izinnya!" Alina melirik pria yang berdiri tegak di sudut ruangan layaknya patung bernyawa. Dia adalah Marvin Vance. Pengawal pribadi yang dikirim agensi keamanan elit untuk menjadi pengawal Arthur sebelumnya. Marvin adalah pria paling dingin dan menyebalkan yang pernah Alina temui saat dia menjadi pengawal ayahnya. Hubungan mereka selama enam bulan terakhir hanyalah sebatas atasan dan bawahan yang kaku, bahkan sering kali penuh adu mulut karena sifat Marvin yang terlalu disiplin dan tidak punya perasaan. Bagi Alina, Marvin bukan penjaga, dia adalah sipir penjara. "Marvin, kemarilah!" panggil Arthur tegas. "Pastikan putriku tidak melakukan tindakan bodoh. Jaga dia dengan ketat. Jika dia kabur, kepalamu taruhannya." "Dimengerti, Tuan," jawab Marvin dengan suara bariton yang datar, tanpa emosi sedikit pun. "Bawa dia ke kamarnya! Awasi dia dan jangan sampai kau lengah!" perintah Arthur lalu segera pergi. Marvin lalu menarik tangan Alina masuk ke dalam kamarnya. "Lepaskan tanganmu, brengsek! Kau tidak berhak menyentuhku!" Alina menyentak lengannya, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Marvin. Pria itu berdiri tegak seperti tembok beton di depan pintu utama mansion Sterling. "Tugasku adalah menjagamu tetap di dalam, Nona Sterling. Aku tidak akan pernah keluar dari sini, kecuali ayahmu yang memintaku," katanya dingin. Matanya yang sedingin es tidak menunjukkan emosi sedikit pun, meski Alina sudah memaki-makinya selama sepuluh menit. "Kau hanya seorang pengawal! Ayahku membayarmu untuk melindungiku, bukan untuk memenjarakanku!" teriak Alina penuh keangkuhan. "Dalam kamusku, perlindungan berarti pengawasan total," balas Marvin. Ia melangkah mendekat, mengintimidasi Alina dengan tinggi badannya. "Dan perintah Tuan Arthur sangat jelas. Anda dilarang menemui Julian. Pria itu adalah putra Silas, musuh bebuyutan keluarga Anda. Dia hanya memanfaatkanmu untuk menghancurkan hidupmu dan ayahmu, bukan untuk memberikan cintanya." "Kau tidak tahu apa-apa tentang Julian! Dan kau atau ayahku tidak berhak mengatur kehidupanku. Dia mencintaiku dan aku mencintainya!" Alina benar-benar frustasi saat semua orang melarang hubungannya dengan Julian. Alina menggeram, matanya berkilat penuh kebencian. "Aku akan membuat Ayah memecatmu malam ini juga!" "Silakan coba," tantang Marvin sebelum melepaskan tangan Alina dan kembali ke posisi siaga. "Sebelum surat pemecatan itu ada di tanganku, kau tidak akan pernah melangkah keluar dari rumah ini. Sebaiknya kau ingat-ingat kataku ini!" *** Hampir satu minggu Alina tak bisa melakukan apapun di rumah itu. Beberapa kali mencoba kabur dengan bantuan Julian pun selalu berakhir gagal. Perlahan, Alina mulai menyadari bahwa ia tak bisa melawan Marvin dengan kekuatan fisik darinya ataupun dari Julian. Akhirnya, ia menyusun rencana yang lebih cerdik. “Argh! Marvin, tolong aku!” pekik Alina kesakitan. Marvin yang berada di luar kamar, langsung berlari masuk begitu mendengar teriakan Alina. "Nona, kau baik-baik saja?" tanya Marvin cemas saat melihat Alina terbaring lemas di ranjang. "Tolong... bawa aku ke dokter. Lambungku sangat sakit," rintih Alina dengan akting yang sempurna. Marvin, yang untuk pertama kalinya terlihat panik, segera mengangkat tubuh Alina dan membawanya ke rumah sakit. Namun, di sanalah bencana dimulai. Saat Marvin lengah karena mengurus administrasi, Alina menyelinap keluar dengan menyamar sebagai perawat. Beruntung saat itu Marvin yang sempat berpapasan dengannya, menyadari bahwa itu Alina yang menyamar jadi perawat. Ia pun segera mengejarnya. Alina akhirnya mencapai parkiran dan langsung memacu mobil sewaannya ke arah dermaga. Napasnya belum juga stabil. Jantungnya berdegup terlalu cepat, seolah tahu ada sesuatu yang tidak beres. Lampu-lampu dermaga berkelip redup, angin malam terasa dingin menusuk kulit. Ia menghentikan mobil dengan sedikit tergesa, lalu keluar sambil menoleh ke segala arah. “Julian?” panggilnya, suaranya nyaris hilang ditelan sepi. Tidak ada jawaban. Yang ada justru suara langkah kaki yang memburu ke arah Alina. "Itu dia! Tangkap gadis itu!" Darah Alina langsung terasa dingin. Refleks, ia berbalik dan berusaha masuk kembali ke dalam mobil. Tangannya gemetar saat mencoba membuka pintu. Namun terlambat. Seseorang menarik lengannya dengan kasar. “Lepaskan aku!” teriaknya, panik. Ia meronta, tapi cengkeraman mereka seperti besi. Beberapa pria bersenjata sudah mengelilinginya. Tatapan mereka dingin, tanpa ragu. “Siapa kalian?!” suara Alina pecah, napasnya terengah. Tidak ada yang menjawab, mereka langsung menyeret Alina ke arah mobil lain. Sepatunya terseret kasar di aspal, rasa takut menjalar hingga ke ujung jarinya. Ia mencoba melawan, tapi tubuhnya kalah kuat. “Lepasakan aku!”pekik Alina. Tiba-tiba— BRAKK! Sebuah SUV hitam menghantam mobil penculik dengan keras, membuat semua orang terkejut. Pintu SUV terbuka, dan Marvin keluar dengan pistol terangkat, matanya tajam seperti pisau. “Lepaskan dia!” suaranya rendah, tapi penuh ancaman. “Atau kalian tidak akan pulang utuh malam ini.” Harapan sempat menyala di mata Alina. “Marvin! Tolong aku!” Namun sekejap kemudian, harapan itu dipaksa padam. Salah satu pria mencengkeram Alina dari belakang dan menodongkan pistol tepat ke pelipisnya. “Jatuhkan senjatamu, atau kepala gadis ini akan pecah!” “M–Marvin …” lirih Alina semakin ketakutan. Marvin membeku. Rahangnya mengeras, matanya penuh amarah… tapi juga ragu. Ia tak punya banyak pilihan. Keselamatan Alina adalah yang terpenting. “Baik…” suara Marvin berat, hampir tak terdengar. Perlahan, ia menjatuhkan pistolnya ke tanah. Kedua tangannya terangkat. “Tapi, jangan sakiti dia.” Namun, detik itu juga sebuah jarum suntik menusuk leher Alina. Dunia mulai berputar. Pandangannya kabur. Tubuhnya melemas tanpa bisa dilawan. Hal terakhir yang ia lihat adalah Marvin yang berteriak dan menerjang, sebelum tubuhnya dihujani pukulan tanpa ampun. *** Aroma besi berkarat dan debu pengap langsung menusuk indera Alina saat kesadarannya kembali. Kepalanya berdenyut hebat, seperti dipukul dari dalam. Ia mencoba bergerak, tapi sia-sia. Pergelangan tangannya terikat kuat pada kursi kayu. “Tolong…” bisiknya serak, nyaris tak terdengar. Dari balik kegelapan, seorang pria berwajah penuh bekas luka melangkah maju. Senyum miringnya dingin, matanya menatap Alina seolah ia bukan manusia… hanya sesuatu yang bisa dipatahkan kapan saja. “Siapa kau?! Lepaskan aku!” suara Alina pecah, panik. Pria itu tidak menjawab. Tatapannya justru beralih saat pintu besi di belakangnya terbuka dengan kasar. Dua pria bertopeng menyeret seseorang masuk. Alina membeku. “Marvin…!” Kemeja hitamnya robek, wajahnya berlumur darah. Tapi matanya… masih tajam, dingin, hidup. “Lepaskan dia,” ucap Marvin berat, suaranya parau namun tetap penuh tekanan. Pria berwajah luka itu terkekeh pelan. “Masih berani memerintahku?” Ia memberi isyarat. Lalu, seorang pria tua berbaju hitam maju dengan tangan gemetar, menggenggam sebuah kitab suci. Dada Alina langsung terasa sesak. “Apa… apa yang kalian lakukan?” suaranya bergetar. Pria itu menatapnya, lalu tersenyum lebih lebar. “Kalian akan menikah. Di sini. Sekarang.” Ia mendekat sedikit, suaranya berubah rendah dan penuh ejekan. “Aku penasaran… bagaimana reaksi Arthur saat tahu putrinya menikah seperti ini dengan pengawalnya sendiri.”"Aku tidak sabar untuk kembali melihat senyumanmu, Marvin. Pastikan aku segera melihat," bisik Alina pelan."Tentu saja, Sayang. Aku akan Carikan dokter dan pengobatan yang terbaik untukmu," ucap Marvin meyakinkan, ia mencium punggung tangan Alina.***Dua minggu berlalu sejak hari damai di balkon perbukitan itu. Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Di dalam kamar utama vila perbukitan yang megah dan hangat, tim dokter spesialis mata paling terkemuka dari Jerman berdiri tegang bersama Leo di sudut ruangan.Marvin duduk sangat dekat di samping Alina, memegang erat kedua tangan istrinya yang dingin dan gemetar."Kau siap, Sayang? Dikter akan segera mengobati matamu," bisik Marvin lembut, mengelus punggung tangan Alina.Alina mengangguk pelan, napasnya memburu halus. "Aku sangat gugup, Marvin... Bagaimana kalau aku masih melihat kegelapan?""Percayalah padaku, Alina. Dokter akan melakukan yang terbaik untukmu," bujuk Marvin mantap, lalu menoleh pada dokter utama. "Dokter, buka perb
"Selamat datang di neraka, Marvin Vance! Tentukan pilihanmu, penawar mata putriku, atau nyawa seluruh pasukanmu yang akan meledak di tempat ini!" jerit Helena dengan tawa membahana di tengah kepulan asap.Guncangan dahsyat akibat ledakan di luar vila membuat puing-puing atap runtuh berjatuhan. Namun, alih-alih panik, mata tajam Marvin justru berkilat bagai iblis yang menemukan celah mangsanya."Kau salah menilai lawanmu, Helena! Kau pikir aku akan memilih salah satunya? Kau salah!" gertak Marvin dingin.Dalam hitungan milidetik, sebelum Helena sempat menekan tombol detonator di tangannya, Marvin meluncur deras menewaskan jarak di antara mereka. Tangan kirinya mencengkeram cengkeraman leher Helena hingga wanita itu tersedak hebat, sementara tangan kanannya dengan kilat menyambar tabung reaksi berisi sampel darah khusus dari balik saku gaun hitam wanita itu!"L-lepaskan... bangsat kau, Marvin!" umpat Helena, matanya terbelalak tak percaya saat melihat tabung penawar itu sudah berpindah
"Racun dari darah ibunya sendiri? Apa maksud semua ini, Dokter?!" desis Marvin, suaranya berubah menjadi geraman berbahaya yang sanggup membuat dokter di hadapannya bergidik ketakutan.Aura membunuh yang pekat seketika memenuhi lorong laboratorium medis itu. Cengkeraman tangan Marvin pada hasil laboratorium hingga membuat kertas tebal itu remuk tak berbentuk."B-benar, Tuan Vance," jawab dokter itu dengan suara bergetar hebat. "Jika dalam waktu tujuh hari Nyonya Alina tidak mendapatkan penawar dari sampel darah ibu kandungnya, saraf matanya akan mati secara permanen... Dan penglihatannya tidak akan bisa diselamatkan lagi. Anda harus segera mencari ibu kandung Nyonya Alina.""Brengsek!" bentak Marvin murka. Ia menghempaskan kertas remuk itu ke lantai dan berbalik menatap Leo yang berdiri kaku di belakangnya. "Leo! Cari wanita iblis itu sekarang juga! Kepung seluruh sudut kota, jangan biarkan dia lolos!""Baik, Tuan Vance! Seluruh tim intelijen sudah dikerahkan! Kami akan bawa ibu Non
"Satu sentuhan saja jari kotor mu melukai Alina, aku pastikan seluruh garis keturunanmu musnah malam ini juga! Aku peringatkan kau!"Geraman Marvin menggelegar di lorong sunyi itu, cengkeramannya pada ponsel hingga jemarinya memutih, seolah ingin meremukkan perangkat besi di tangannya.Namun dari seberang telepon, suara wanita paruh baya itu justru terkekeh dingin dan penuh keangkuhan."Gertakan yang manis, Marvin Vance. Tapi ingat, aku adalah ibunya. Aku yang melahirkannya, dan aku juga yang berhak menentukan hidup atau matinya, kau hanya pengawal yang tak berguna," ucap wanita itu dengan nada tenang yang sangat mengerikan. "Kau punya waktu empat puluh delapan jam untuk menyerahkan kepemimpinan Black Dragon padaku. Jika tidak, nikmatilah masa-masa terakhirmu menjadi suami bagi putri butaku!"TUT... TUT... TUT...*lSambungan telepon terputus sepihak."Bangsat! Wanita itu benar-benar gila!" amuk Marvin murka, membanting ponsel berharga fantastis itu ke lantai hingga hancur berantakan.
"Tenang, Sayang! Tetap bersama dalam pelukanku! Aku akan melindungi dan menjaga mu," bisik Marvin lembut, penuh protektif, langsung menyambar tubuh rapuh Alina dari atas ranjang sebelum kegelapan total membungkus kamar rawat tersebut. "Marvin! Ada suara langkah kaki di luar! Aku takut!" jerit Alina histeris. Jemari lentiknya mencengkeram erat kerah kemeja Marvin, sementara napasnya memburu tak beraturan di tengah kegelapan pekat yang membisu. "Jangan takut, aku ada di samping mu, Alina." "Leo! Amankan koridor depan! Jangan biarkan satu pun bajingan itu menembus pintu ini! Beri perlindungan penuh untuk Nyonya Alina," perintah Marvin dengan nada rendah yang sarat akan dominasi berbahaya. "Baik, Tuan Vance!" sahut Leo tegas. Suara letusan senjata berperedam suara langsung bergema memecah keheningan di luar koridor. DOR! DOR! DOR! "Marvin... Suara apa itu?! Siapa mereka? Kenapa banyak suara tembakan?!" bisik Alina gemetar hebat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Marvin. "Han
"Jangan pernah katakan hal itu lagi, Alina! Aku tidak akan membiarkan kegelapan menguasai hidupmu! Akan aku lakukan apapun agar kau bisa melihat dunia lagi," pangkas Marvin tegas, suaranya bergetar hebat saat ia makin mempererat pelukannya pada tubuh rapuh sang istri. "Tapi bagaimana kalau itu kenyataannya, Marvin? Aku kembali juta dan tidak bisa melihat lagi!" tangis Alina pecah, tangannya meremas kemeja Marvin yang mulai basah oleh air mata dan darah luka luar. "Bagaimana kalau aku harus hidup selamanya dalam kegelapan ini?! Aku tidak mau menjadi beban untukmu lagi! Lebih baik aku mati saja, Marvin!" Alina semakin putus asa. "Kau bukan beban! Jangan pernah berpikir seperti itu, Sayang! Kau harus yakin kalau kau akan bisa melihat lagi, Alina. Berhenti berkata itu lagi!" bentak Marvin lembut, menangkup kedua pipi Alina dengan jemarinya yang gemetar. "Tapi aku takut sekali, Marvin." Ia menciumi kening Alina di balik perban itu berulang kali. "Dengarkan aku baik-baik. Jika seluruh do
Marvin mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Darah yang merembes di punggungnya membuat kesadarannya perlahan menipis, namun ia berusaha untuk tidak tumbang di depan Alina. "Dengarkan aku, Nona Sterling," bisik Marvin, suaranya kembali sedingin es meski wajahnya pucat pasi. Alina memusatka
Alina merasa dunianya runtuh seketika. Menikah? Di gudang kotor ini? Dengan pria yang selama ini ia anggap sebagai sipir penjara? "Tidak! Kau gila! Aku tidak mau menikah dengannya!" teriak Alina histeris, meronta hingga kursi kayunya berderit keras. "Aku hanya ingin menikah dengan Julian!" Pr
"Marvin! Kau baik-baik saja, kan? Tolong jawaba aku, Marvin! Bangun, Marvin! Aku mohon jangan tinggalkan aku!" tangis Alina pecah, ia meraih kepala Marvin dan mendekapnya ke dadanya. Marvin melenguh pelan, kelopak matanya terbuka sedikit, menatap Alina dengan senyuman lemah yang dipaksakan. "Aku...
"Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan dari sipir penjara sepertimu!" teriak Alina, tangannya meraba udara dan menjatuhkan nampan bubur hingga isinya berserakan di lantai. Hari-hari di rumah persembunyian menjadi neraka baru bagi Alina. Kegelapan yang menyelimutinya bukan hanya di mata, tapi juga di







