تسجيل الدخولNadia berjalan ke meja rias, membuka laci paling bawah, dan mengeluarkan flashdisk kecil berwarna perak. Sudah setahun lebih ia menyimpannya, terbungkus kain beludru. Isinya: laporan keuangan kuartal ketiga, daftar vendor yang belum dibayar, salinan kontrak dengan tiga mitra utama, dan yang paling berharga, rencana ekspansi cabang baru di Surabaya yang masih dalam tahap rahasia. Jika data ini jatuh ke tangan pesaing, proyek itu bisa gagal total. Arka akan kehilangan muka di depan dewan direksi. Mungkin bahkan posisinya sebagai CEO terancam. Nadia memandangi flashdisk itu, lalu menutup laci dengan pelan. Tidak ada jalan kembali.Hari berikutnya, sesuai kesepakatan yang dilakukan oleh Ndaia dan Wijaya. Tanpa mobil, ia memesan taksi online dari ponselnya, tapi meminta supir berhenti dua blok dari rumah. Langkahnya cepat, menghindari genangan, berusaha tidak menimbulkan suara.Taksi yang ia pesan datang tepat waktu. Nadia masuk ke kursi belakang, memberi alamat kafe di Kemang. Sepanjang p
Hujan mengguyur Jakarta sejak sore, dan sampai pukul sepuluh malam, derasnya tak juga reda. Nadia duduk di tepi ranjang kamarnya lantai dua, jari-jarinya menggenggam ponsel erat-erat, sementara matanya menatap layar yang sudah berubah gelap. Di ruang kerja, ia bisa mendengar suara Arka dan Ghea, tawa kecil Ghea yang sengaja dibuat manis, diikuti gumaman Arka yang pelan namun hangat. Suara yang dulu hanya untuknya.Sekarang? Arka bahkan lupa menanyakan apakah Nadia sudah makan malam. Semua perhatiannya tertuju pada Ghea, wanita yang dengan licik menyusup ke dalam celah kerapuhan rencana pernikahan mereka yang tak kunjung ada kabar baik tentunya. Nadia menekan tombol power ponselnya. Layar menyala, memperlihatkan deretan kontak yang tersimpan. Jarinya meluncur ke bawah, melewati nama-nama yang tak berarti, berhenti pada satu nama yang sudah lama ia simpan tanpa pernah dihubungi.‘Wijaya.’Ia menarik nafas panjang. Dulu, ketika Arka masih percaya padanya, Nadia sering datang ke kantor.
Sore itu, di ruang kerjanya yang nyaman dan tenang di lantai delapan gedung Adhitama Corp, Gunawan duduk dengan konsentrasi penuh di balik meja kayu yang rapi, sedang memeriksa tumpukan dokumen yang baru saja dia terima dari berbagai departemen. Di antara berkas-berkas tebal yang berserakan itu, ada satu dokumen yang tiba-tiba menarik perhatiannya—surat perintah penjualan tanah warisan keluarga Adhitama di Bogor dengan harga yang sangat murah dan tidak masuk akal di bawah pasaran. Matanya yang tajam bergerak cepat membaca setiap detail yang tertulis di atas kertas, dan senyum tipis yang penuh kepuasan terbentuk di bibirnya. Dia segera mengambil ponselnya dari saku jas dan menghubungi Ghea dengan suara pelan namun penuh makna."Nyonya, saya baru saja menerima informasi yang sangat penting dan tidak boleh dilewatkan," kata Gunawan, suaranya tetap tenang tapi penuh arti. "Arka menjual tanah warisan keluarga di Bogor dengan harga yang sangat murah dan mendesak. Saya pikir ini adalah kese
Malam itu, rumah Adhitama terasa lebih gelap dan sunyi dari biasanya, seolah-olah dinding-dinding rumah itu sendiri ikut merasakan keputusasaan yang menyelimuti penghuninya. Tidak ada suara televisi yang mengalun pelan dari ruang keluarga seperti biasanya, tidak ada langkah kaki pelayan yang sibuk membersihkan rumah, hanya suara tangis Bu Ratna yang terdengar sayup dari ruang keluarga yang gelap dan mencekam. Arka duduk di hadapan ibunya dengan wajah pucat dan mata merah karena tekanan yang semakin berat dan tidak pernah berhenti menghantuinya. Di tangannya yang gemetar, dia memegang surat audit yang menghantui pikirannya siang dan malam, seperti bayangan yang tidak bisa dia usir."Ma, aku tidak punya pilihan lain yang tersisa," kata Arka, suaranya serak dan penuh dengan keputusasaan yang mendalam. "Aku harus mendapatkan uang tunai secepatnya untuk menyelamatkan semua ini. Jika tidak, perusahaan akan bangkrut dan aku bisa masuk penjara karena tuduhan penggelapan."Arka terus mmeohon
Panggilan video dengan Ghea baru saja berakhir dengan kata-kata penutup yang dingin dan penuh perhitungan. Devan masih duduk di kursi kerjanya yang mewah dan empuk, punggungnya bersandar pada sandaran kulit yang nyaman, tapi pikirannya tidak bisa tenang dan terus berputar dengan cepat. Dia menatap layar monitor yang kini gelap dan kosong, lalu beralih ke foto Ghea yang tergeletak di atas meja kerjanya—foto yang dia simpan dengan penuh perhatian sejak pertama kali mereka bertemu kembali setelah bertahun-tahun terpisah. Senyum Ghea dalam foto itu masih hangat dan tulus, masih penuh dengan kehidupan dan semangat yang dulu dia cintai dengan segenap hatinya.Tapi sekarang, di malam yang sunyi ini, Devan merasakan sesuatu yang berbeda dan mengkhawatirkan di dalam dadanya. Kecemasan baru mulai merayap perlahan di hatinya, sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya selama merencanakan balas dendam ini. Dia melihat dengan jelas bagaimana Arka semakin gila dan tidak rasional, bagaimana p
Di kamar utama rumah Adhitama yang sunyi dan tertutup, pintu terkunci rapat dari dalam sebagai benteng terakhir dari kekacauan yang terjadi di luar. Hanya cahaya lampu tidur yang menyala redup dan samar, menciptakan suasana yang tenang dan intim di tengah malam yang semakin larut dan dingin. Ghea duduk dengan anggun di depan meja rias yang rapi, handuk kecil berwarna putih di tangannya yang masih mengeringkan rambut pendeknya yang basah karena siraman air es yang dilakukan Nadia di restoran. Air es yang disiramkan dengan penuh amarah oleh Nadia sudah lama dibersihkan dari wajah dan rambutnya, tapi dia sengaja membiarkan rambutnya masih basah. Dia menceritakan setiap detail yang terjadi malam itu pada Devan melalui panggilan video yang aman dan terenkripsi.Di layar ponsel yang terang, Devan duduk dengan tenang di ruang kerjanya yang gelap dan tertutup, hanya diterangi oleh cahaya biru dari monitor yang menampilkan berbagai data dan grafik yang rumit. Jas hitamnya masih rapi dan sempu







