Home / Romansa / Dekapan Hangat Sang Mantan / BAB 14. Terpaksa Mendobrak

Share

BAB 14. Terpaksa Mendobrak

Author: Wijaya Kusuma
last update publish date: 2026-07-08 11:44:31

Devan menutup telepon tanpa menunggu jawaban Susan. Dia berdiri dari kursinya dengan gerakan cepat, wajah tenang yang selalu ditunjukkan oleh priia itu membuat semua orang di ruangan itu menoleh dengan bingung. Beberapa eksekutif saling berpandangan, mereka tidak pernah melihat bos mereka yang selalu tenang dan terkendali kehilangan ketenangan seperti ini.

"Pak Devan, rapatnya—" Faisal mulai bicara, mencoba menenangkan situasi.

"Kamu lanjutkan, Faisal." Devan sudah meraih jasnya dan berjalan ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
untuk sementara waktu sebaiknya Ghea dibawa ke psikiater aja.. untuk menenangkan pikirannya yg kalut..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    110. Tamparan Kekecewaan

    Restoran mewah itu masih bergema dengan keheningan yang canggung dan mencekam setelah Nadia diseret keluar dengan paksa oleh sekuriti. Para tamu yang hadir mulai kembali ke obrolan mereka dengan suara pelan, tapi bisik-bisik yang penuh rasa ingin tahu masih terdengar di setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang tidak nyaman.Arka berdiri di samping meja dengan wajah merah padam dan panas karena rasa malu yang luar biasa dan penghinaan yang tidak pernah dia bayangkan akan dia alami. Tangannya yang gemetar hebat, dadanya naik turun dengan cepat, dan matanya yang kosong menatap ke arah pintu tempat Nadia baru saja dibawa pergi dengan paksa.Ghea masih duduk dengan tenang di kursinya, air es masih menetes dari rambut pendeknya yang basah, tapi senyum tipis yang penuh kemenangan dan tidak terlihat oleh siapa pun masih men

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    109. Senyum Misteri

    Suasana terasa seperti berada di dalam gelembung yang terisolasi dari kekacauan dunia luar, hanya ada mereka berdua di tengah gemerlap kemewahan. Di antara dentingan gelas kristal yang samar dan aroma masakan Prancis yang masih menyengat di udara, ketegangan di meja mereka terasa semakin memuncak. Arka masih menggenggam jemari Ghea dengan erat dan penuh keyakinan, tangannya yang berkeringat menunjukkan kegugupan yang tidak biasa dari seorang CEO yang biasanya penuh percaya diri dan tegas. Detak jantungnya berdebar kencang di dadanya yang sesak, menunggu dengan cemas jawaban yang akan mengubah segalanya dan menentukan masa depannya.Ghea tidak menarik tangannya dengan kasar atau tiba-tiba seperti yang mungkin diharapkan Arka. Sebaliknya, dengan penuh perhitungan, dia membiarkan kulitnya bersentuhan dengan tangan pria yang dulu sangat dia cintai dengan tulus selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya bagi Arka. Dia membiarkan Arka merasakan kehangatan yang tersisa di balik di

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    108. Saran Arsitek Dendam

    Arka menatap Ghea dengan pandangan yang sarat akan keputusasaan dan hasrat kepemilikan yang menggebu. Matanya yang merah karena kurang tidur dan penuh penyesalan, tidak pernah lepas dari wajah Ghea yang tenang dan anggun di bawah cahaya lilin. Di dalam hatinya yang kacau, dia merasakan gelombang emosi yang tidak bisa dia kendalikan—penyesalan, kerinduan, dan keinginan untuk memiliki kembali wanita yang telah dia sia-siakan."Ghea," bisik Arka, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan. "Aku tidak bisa terus hidup dengan penyesalan ini. Setiap malam, aku terbangun dan mengingat semua yang telah aku lakukan padamu. Aku telah menghancurkanmu, dan aku tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya."Dengan gerakan perlahan dan penuh keraguan, Arka menjangkau meja dan mencoba menggenggam jemari Ghea. Tangannya bergetar saat menyentuh kulit Ghea yang lembut, dan dia menggenggamnya erat-erat, seolah-olah dia takut wanita itu akan menghilang jika dia melepaskannya."Aku minta maaf," kata Arka, sua

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    107. Pembatalan Perjamuan Sepihak

    Di bawah naungan pohon rindang yang besar dan teduh, Ghea duduk dengan anggun dan tenang di atas kursi taman kayu yang sederhana, sebuah buku terbuka di pangkuannya yang dipeluknya dengan lembut, dan gaun sutra putih yang melingkupi tubuhnya seperti aliran air yang bergerak lembut setiap kali angin bertiup dan menyentuh kain sutranya. Rambut pendeknya yang rapi tertiup pelan oleh angin sore, dan wajahnya yang tenang serta penuh kedamaian tampak seperti lukisan yang sempurna, seolah-olah dia adalah bagian dari taman itu sendiri.Dari balik jendela lantai dua yang dingin, Arka berdiri diam dan membeku seperti patung, matanya terpaku pada pemandangan di bawah sana yang memukau hatinya. Jari-jarinya menekan kaca jendela dengan lembut, seolah-olah dia mencoba meraih sesuatu yang ada di luar jangkauannya yang semakin jauh.Aura keten

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    106. Tekanan dari Luar

    Pagi itu, cuaca di lokasi proyek superblok Mega Arkan Center terasa lebih panas dan menyengat dari biasanya, seolah-olah matahari sedang menunjukkan kemarahannya kepada para pekerja yang sedang berjuang di bawah teriknya. Para pekerja bangunan yang biasanya bergerak dengan cepat dan efisien sejak subuh, kini terlihat bergerak lebih lambat dan lesu dari biasanya.Beberapa dari mereka berhenti lebih sering untuk minum air dan berteduh di bawah bayangan, sementara yang lain sibuk memeriksa peralatan yang sebenarnya tidak perlu diperiksa dengan detail berlebihan. Di balik semua gerakan yang tampak normal ini, ada instruksi rahasia yang telah disebarkan dengan hati-hati melalui jaringan serikat buruh yang terhubung dengan Devan, perlambat pengerjaan proyek, cari berbagai alasan teknis yang masuk akal untuk menunda, dan buat seolah-olah semuanya masih berjalan normal tanpa ada yang mencurigak

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    105. Perbandingan yang Menyakitkan

    Kantor pusat Adhitama Corp masih bergema dengan keheningan yang mencekam setelah Nadia berlari keluar dengan air mata dan rasa malu yang tak terkira. Para kepala divisi yang hadir dalam rapat mulai meninggalkan ruangan satu per satu dengan langkah canggung dan tidak nyaman, tidak berani menatap Arka yang masih duduk dengan tubuh kaku dan wajah pucat di kursinya. Pintu ruang rapat yang berat tertutup perlahan dengan bunyi yang pelan, meninggalkan Arka sendirian dengan kekacauan yang baru saja terjadi di hadapan mata bawahannya sendiri.Arka menundukkan kepalanya dengan berat, menutup wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangannya yang gemetar. Rasa malu yang luar biasa dan tidak terkira menghantamnya seperti gelombang besar yang menghanyutkan semua harga dirinya.Di hadapan para bawahannya sendiri, dia telah dipermalukan s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status