Home / Romansa / Dekapan Hangat Sang Mantan / BAB 31. Sadarlah Ghea

Share

BAB 31. Sadarlah Ghea

Author: Wijaya Kusuma
last update publish date: 2026-07-13 22:16:05

Devan mengangkat tangannya, menghentikan Faisal di tengah kalimat. Gerakannya tegas, tanpa ragu. "Faisal, aku ingin kamu meng-handle semua pekerjaan untuk sementara waktu. Semua rapat, semua proyek, semua keputusan, kamu yang ambil alih. Aku tidak bisa memikirkan hal lain sekarang."

Faisal terdiam sejenak, menimbang kata-katanya. "Pak, proyek Jerman itu sangat penting. Klien meminta Bapak langsung yang menangani. Kesepakatan itu bernilai miliaran, Pak. Mereka sudah menunggu keputusan Bapak seja
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
bangun Gheaaaaa.. jangan bikin perjuangan Devan sia².. dia selalu ada untukmu loh, bahkan gk pernah berhenti mencintaimu meski kamu memilih Arka..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    138. Memberikan Kehangatan

    Devan tidak sedikit pun meninggalkan Ghea. Dia duduk di lantai yang dingin, punggungnya bersandar pada dinding, dengan menarik tubuh Ghea yang masih gemetar dalam pelukannya. Wanita itu telah menangis selama berjam-jam, suaranya serak, tangannya berdarah karena memukul dinding, dan jiwanya hancur berkeping-keping."Devan," bisik Ghea di antara isakannya, suaranya nyaris tak terdengar. "Kenapa... kenapa semua ini harus terjadi padaku?"Devan mengusap rambut Ghea dengan lembut. "Ssst, tidak perlu bicara sekarang. Aku di sini. Aku tidak akan pergi.""Tapi aku... aku tidak tahu harus bagaimana lagi," Ghea menangis tersedu-sedu. "Bu Ratna... dia... dia tega melakukan itu padaku. Selama lima tahun, Devan. Lima tahun!"Devan mendekap Ghea semakin erat. "Aku tahu. Aku tahu, Ghea. Dan aku berjanji, aku akan membuat semuanya membayar."Tapi Devan tidak bergerak. Dia tidak akan pergi. Tidak sekarang. Tidak pernah.Ghea akhirnya kelelahan. Tubuhnya yang lemah menyerah pada kelelahan fisik dan men

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    137. Bujukan Makan yang Hangat

    Malam itu, apartemen yang biasanya menjadi tempat pelarian yang tenang berubah menjadi saksi bisu dari kehancuran yang mengerikan. Devan masih duduk di lantai yang dingin, punggungnya bersandar pada dinding, dan Ghea masih dalam pelukannya. Tubuh wanita itu gemetar hebat, meskipun tangisannya sudah mulai mereda. Air mata masih mengalir di pipinya, tapi tidak lagi histeris seperti sebelumnya. Dia hanya duduk diam, matanya kosong menatap ke arah dinding yang berhadapan, tapi tidak benar-benar melihat apa pun.Devan menatap wajah Ghea dengan hati yang hancur. Dia melihat wanita yang dia kenal sebagai sosok yang kuat dan tegar, kini menjadi cangkang kosong yang kehilangan jiwanya. Jiwanya kembali terguncang setelah usaha sembuh yang pernah dilakukannya. Dia tidak tega meninggalkan Ghea dalam keadaan seperti ini. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia membiarkan wanita itu sendirian di tengah kehancuran batinnya."Ghea," panggil Devan pelan, suaranya lembut dan penuh p

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    136. Kesakitan Ghea

    Apartemen pribadi yang diberikan Devan kepada Ghea berada di lantai dua puluh sebuah gedung mewah di kawasan Sudirman. Tempat itu dipilih dengan pertimbangan matang, privasinya sangat terjaga, tidak ada kamera pengawas yang bisa diretas, dan akses lift hanya dapat digunakan dengan kartu khusus. Selama ini, apartemen tersebut menjadi tempat pelarian yang tenang bagi Ghea, jauh dari hiruk-pikuk dunia luar dan dari segala luka yang membekas di hidupnya. Namun malam itu, apartemen yang biasanya menjadi surga kecilnya berubah menjadi ruang penyiksaan batin yang mengerikan.Ghea mengunci diri di dalam kamar utama. Pintu kayu tebal itu terkunci dari dalam, dan tidak ada suara yang keluar selain isak tangis yang terputus-putus. Ia duduk di lantai, punggungnya bersandar pada dinding yang dingin, lututnya ditarik ke dada, dan tangannya memeluk tubuhnya sendiri seperti anak kecil yang kehilangan induknya. Air mata mengalir deras di pipinya, membasahi gaun yang masih ia kenakan sejak dari labora

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    135.

    Dr. Prasetyo masih duudk di kursi kerjanya, berseberangan dengan Ghea yang terdiam tanpa kata atas penjelasan yang baru didengarnya. Lembar analisis masih di tangannya. "Nona Ghea?" panggilnya pelan. "Apa anda baik-baik saja?" Terlihat kecemasan di wajah pria tua itu. Tidak ada jawaban. Ghea masih duduk di kursi, punggungnya bersandar, tangannya mencengkeram kain blusnya sendiri seperti orang yang sedang menahan sesuatu agar tidak keluar dari dalam dadanya. Matanya kosong. Menatap lantai. Menatap sesuatu yang tidak ada di sana."Nona Ghea?" Dr. Prasetyo melangkah mendekat, suaranya lebih lembut sekarang. "Apakah Anda mendengar saya?"Ghea tidak bergerak. Tidak berkedip. Nafasnya pelan, hampir tak terlihat, seperti seseorang yang sedang berada di antara dua dunia—dunia nyata dan dunia yang baru saja ia temukan, dunia yang penuh dengan racun dan pengkhianatan.Dr. Prasetyo berdiri di sampingnya. Ia meraih bahu Ghea dengan hati-hati, menyentuhnya pelan seperti menyentuh kaca yang reta

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    134. Puzle Masa Lalu

    "Dengan kata lain," suara Dr. Prasetyo menjadi lebih pelan, "ini adalah metode sterilisasi kimiawi. Dirancang secara sadar dan terencana. Setiap tetes yang diminum selama bertahun-tahun... secara perlahan menghancurkan kemampuan tubuh untuk hamil. Secara permanen."Pernyataan itu melayang di udara, menusuk Ghea seperti ribuan jarum."Ini bukan ketidaksuburan alami," lanjut Dr. Prasetyo. "Ini adalah kerusakan yang disebabkan oleh racun. Dirancang oleh seseorang yang tahu persis apa yang mereka lakukan. Dosis dalam sampel Anda—" ia menunjuk angka di halaman terakhir, "—jika dikonsumsi setiap hari dapat menyebabkan kerusakan permanen."Ghea menatap kertas itu. Matanya tidak bisa fokus. Kata-kata itu berbaur menjadi coretan yang tidak masuk akal. Tapi di kepalanya, gambar-gambar melintas deras.Gelas teh jamu hangat yang ibu mertuanya sajikan setiap sore saat di rumah."Minumlah, Ghea. Untuk kesehatanmu.” Senyum Bu Ratna. Hangat. Lembut. Penuh perhatian. Kalimat itu terus menggaung di ben

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    133. Ke Laboratorium

    “Selamatkan ibunya, Dok,” ujar Arka pada sang dokter, ia memilih untuk menyelamatkan Nadia, dari pada anak yang sedang dikandung oleh Nadia itu.”Dokter Surya mengangguk cepat. "Baik, Pak Arka. Kami akan segera bertindak." Ia memberi isyarat pada perawat untuk bersiap. "Kami akan melakukan operasi darurat untuk menyelamatkan Nyonya Nadia."Arka mengangguk, setelah sang dokter mengatakan tindakan yang akan dilakukan oleh tim medis itu padanya. Bu Ratna diam, tidak mengatakan sesuatu atas keputusan yang Arka lakukan itu. Biar bagaimanapun, mereka merasa bertanggung jawab atas kondisi Nadia saat ini yang sedang dalam keadaan kritis. Sementara itu, di lantai dasar rumah sakit, Ghea keluar dari lift dengan langkah cepat. Tasnya tergenggam erat di dadanya, melindungi isi dari botol kaca berisi cairan misterius yang baru saja ia bawa dari kamar Bu Ratna. Setiap langkahnya terasa berat, tapi pikirannya melayang lebih cepat dari detak jantungnya.Bukan ruangan Nadia yang ingin ia tuju, melai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status