LOGINUdah pada tahu visual mereka?
“Kenapa kamu tidak ikut makan, Nak?” tanya Mahendra, memperhatikan Kaelix yang sejak tadi hanya berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada, punggungnya bersandar santai pada kursi. Kaelix belum sempat menjawab. Ding. Dong. Suara bel apartemen menggema. Ia melirik sekilas ke arah pintu, sudut bibirnya terangkat tipis. Orang yang ia tunggu akhirnya datang. “Saya sedang menunggu tamu,” ucapnya singkat, lalu bangkit dari duduknya. Mahendra mengerutkan kening. “Siapa? Orang penting?” Kaelix hanya tersenyum tipis tanpa menjawab, lalu melangkah meninggalkan dapur. Langkahnya tenang, pasti. Begitu pintu dibuka, Sasqia berdiri di sana, napasnya sedikit memburu, wajahnya menyimpan cemas yang jelas terlihat. “Di mana Papa saya?” tanyanya datar, tanpa basa-basi. Kaelix tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeser tubuhnya, memberi jalan. “Silakan masuk.” Sasqia menarik napas dalam, menahan dirinya. “Saya datang untuk menjemput Papa saya. Tidak berniat masuk.” Senyum tipi
Mahendra berdiri di ambang pintu dapur, masih sedikit canggung. Sementara Kaelix sudah melepas jasnya, menyisakan kemeja navy yang pas di tubuhnya. Lengan kemeja itu digulung rapi hingga siku, memperlihatkan urat-urat halus di lengannya. Tak lama, ia mengambil dua celemek dari laci. “Pakai ini, Pak,” ucapnya sambil menyerahkan satu pada Mahendra. Mahendra tersenyum kecil, menerima celemek itu. “Wah … sudah seperti chef profesional saja.” Kaelix hanya tersenyum tipis. Di atas meja dapur, ikan hasil pancingan tadi sudah dibersihkan. Kaelix memilih satu yang paling besar. “Kita masak grilled salmon saja,” ucapnya tenang. Mahendra mengangkat alisnya. “Salmon? Ini kalau beli di restoran mahal, kan?” “Lumayan,” sahut Kaelix singkat. “Tapi yang penting rasanya.” Mahendra terkekeh pelan, lalu mulai membantu menyiapkan bahan. Ia mengambil pisau, memotong beberapa bumbu dengan gerakan yang masih cukup terlatih meski sudah lama tak memasak. Kaelix di sisi lain tampak sangat terampil.
Sasqia tiba di rumah tepat saat langit benar-benar kehilangan cahayanya. Jam menunjukkan pukul enam sore, namun suasana sudah gelap dan terasa sunyi. Ia menyeret koper masuk dengan langkah tergesa, napasnya masih tersisa lelah dari perjalanan panjang. “Papa mana, Ma?” tanyanya begitu melihat Soraya duduk santai di ruang tengah bersama Shiren, Sherly, dan Raka. Soraya mengalihkan pandangannya sekilas. “Diajak jalan sama Tuan Kaelix, dari tadi siang.” Langkah Sasqia terhenti sepersekian detik. “Belum pulang?” Soraya menggeleng pelan. “Kenapa?” Sasqia menahan sesuatu di dadanya, lalu menggeleng singkat. “Nggak apa-apa.” Tanpa menambah kata, ia kembali berjalan menuju kamar, menyeret koper yang terasa semakin berat. Begitu pintu tertutup, ia menjatuhkan koper di tengah ruangan, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya bergerak cepat meraih ponsel, berniat mengirim pesan pada Kaelix—menanyakan di mana ayahnya dan kapan akan diantar pulang. Namun sebelum sempat mengetik, layar ponseln
Mahendra melempar kailnya pelan, lalu menyandarkan tubuh di kursi lipat. Tatapannya lurus ke permukaan air yang tenang. “Terakhir kali saya mancing ...,” gumamnya pelan, “Rasanya sudah lama sekali.” Kaelix duduk di sampingnya, satu kaki sedikit maju, tangannya menggenggam joran dengan santai. “Kenapa berhenti?” tanyanya singkat. Mahendra tersenyum tipis, sorot matanya sedikit menerawang. “Sibuk kerja. Lalu sakit. Lama-lama … lupa kalau saya punya hobi.” Kaelix hanya mengangguk. Tak menyela. Beberapa detik berlalu dalam hening yang justru terasa nyaman. “Saya suka tempat seperti ini,” lanjut Mahendra. “Tenang. Tidak banyak suara, membuat pikiran lebih ringan.” “Hm,” sahut Kaelix pendek. “Memang harus sesekali berhenti.” Mahendra meliriknya sekilas. “Kamu juga sering mancing?” “Tidak,” jawab Kaelix datar. “Hari ini saja.” Mahendra terkekeh pelan. “Berarti saya beruntung.” Kaelix tak membalas, hanya menarik sedikit sudut bibirnya tetap dengan ekspresi datar. Obrolan kembali
“Kita sudah sampai, Tuan,” ucap sopir pribadi Kaelix saat mobil berhenti mulus di depan rumah Sasqia. Kaelix melirik sekilas ke arah bangunan itu, lalu kembali menyandarkan punggung dengan tenang. “Kamu saja yang turun,” ujarnya datar. “Dan jangan lupa minta Pak Mahendra membawa kamera milik putrinya.” “Baik, Tuan.” Zidan segera keluar dari mobil, langkahnya mantap menuju pintu rumah. Ia menekan bel satu kali. Tak lama, pintu terbuka. Soraya muncul di ambang pintu, menatap pria di hadapannya dengan kening berkerut. “Selamat siang, Bu. Saya ingin bertemu dengan Pak Mahendra,” ucap Zidan sopan. Soraya mengamati dari ujung kepala hingga kaki, tatapannya penuh selidik. “Kamu siapa?” Namun sebelum Zidan menjawab, pandangannya teralih ke mobil yang terparkir di depan gerbang. Matanya menyipit. “Itu … Tuan Kaelix, kan?” “Benar, Bu. Hari ini T
Kaelix berdiri bersandar di kusen pintu. Kedua tangannya terlipat di dada, sorot matanya dingin—mengamati apa yang dilakukan adik bungsunya. Bukan sekadar mengamati, tatapannya juga terlihat menghakimi. “Masuk ke kamar orang tanpa izin,” ucapnya datar. “Sekarang merekamnya juga?” Jevier menelan ludah, berusaha tetap tenang. “Aku cuma ....” “Untuk apa itu?” potong Kaelix dengan nada rendah. Sunyi sejenak. Kaelix melangkah masuk perlahan, sepatu kulitnya beradu pelan dengan lantai. Tatapannya beralih ke dinding penuh foto itu. Lalu kembali ke Jevier. “Jadi,” gumamnya rendah, sudut bibirnya terangkat tipis, “Kamu juga mulai berpikir hal yang sama?” Jevier terdiam. Kaelix mendekat, berhenti tepat di depannya. “Bahwa Sasqia …,” jedanya disengaja, suaranya merendah, menusuk, “Hanya dijadikan pelarian oleh Tristan.” “Aku tidak berpikir sepert
Sasqia masih menatap layar ponselnya beberapa detik setelah panggilan itu berakhir. Nama Tristan perlahan menghilang dari layar, namun suaranya seolah masih tertinggal di telinganya. Ia menghela napas pelan, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. “Telepon da
“Dok ….” Sasqia perlahan menarik kembali tangannya dari genggaman Jevier. Gerakannya halus, tapi tegas. “Terima kasih atas niat baiknya. Tapi benar, saya tidak ingin merepotkan Anda.” “Saya tidak merasa direpotkan, Sasqia,” balas Jevier tenang. Nada su
“Tuan, kita sudah sampai.” Suara sopir membangunkan Tristan yang duduk di kursi belakang. Ia baru saja tiba di vila tempat kakeknya beristirahat. Sejak mendarat di bandara, ia langsung menuju ke sini—bahkan sempat terlelap sebentar di perjalanan. Ia membuka mata perlahan, lalu keluar dari mobi
“Apa yang mereka lakukan di dalam?” Kaelix bergumam lirih sambil menatap langit malam yang bertabur bintang. Ia duduk seorang diri di bangku taman vila, diterangi cahaya lampu kekuningan yang temaram. Di antara jemarinya, sebatang rokok menyala redup. Bara merah di ujungnya berkedip setiap kali i







