LOGINMobil hitam milik Kaelix perlahan memasuki halaman rumah Mahendra sebelum akhirnya berhenti tepat di depan teras. Mesin dimatikan. Beberapa detik kemudian, Zidan turun lebih dulu dan bergegas membukakan pintu belakang. “Silakan, Tuan. Nyonya.” Kaelix keluar lebih dahulu. Tanpa menunggu, ia langsung mengulurkan tangan kepada Sasqia. “Hati-hati.” Sasqia tersenyum manis. “Terima kasih, Mas.” Dengan hati-hati ia turun dari mobil, sementara Kaelix memastikan kedua kaki istrinya menapak sempurna di lantai. Sejak mengetahui Sasqia tengah mengandung, setiap gerakan wanita itu seolah menjadi perhatian utamanya. “Nanti sore saya jemput,” ucap Kaelix sembari merapikan helai rambut yang tertiup angin dari wajah istrinya. “Jangan ke mana-mana dulu.” “Iya.” Sasqia mengangguk patuh. “Aku di sini aja nemenin Papa.” Kaelix mengusap lembut pipinya. “Maaf, ya. Saya masih harus ke kantor.” Sasqia tersenyum kecil. “Nggak usah minta maaf terus. Aku tahu Mas lagi banyak pekerjaan. Lagian nanti so
Pagi itu, Sherly sudah tampil rapi dengan seragam taman kanak-kanaknya. Rambutnya dikuncir dua, sementara tas kecil berwarna merah muda telah tergantung di bahunya. Soraya menghampiri sang cucu sambil tersenyum tipis. “Hari ini Nenek yang antar Sherly ke sekolah, ya.” Sherly mendongak. “Iya, Nek.” Soraya membetulkan letak kerah seragam cucunya, lalu meraih tas kecil itu. “Biar Nenek yang bawa. Terus nanti Sherly tinggal jalan cantik.” Bocah itu terkekeh kecil. “Iya.” Soraya menggenggam tangan mungil Sherly, kemudian mengajaknya menuruni tangga menuju lantai satu. Namun, baru saja tiba di ruang tengah, langkah mereka terhenti. Mahendra ternyata sudah berdiri di dekat pintu utama, seolah telah siap mengantar cucunya seperti biasa. Pria itu mengangkat alis saat melihat Soraya yang sudah berpakaian rapi. “Kamu mau ke mana, Soy?” Soraya menoleh sekilas. “Antar Sherly ke sekolah. Mas gak lihat aku lagi gandeng cucu?” Mahendra tampak sedikit heran. “Tumben.” Satu kata itu membuat s
“Akhirnya malam ini bisa pulang lebih cepat,” gumam Jevier sembari melangkah santai menyusuri lorong rumah sakit. Masih mengenakan jas dokter putih, satu tangannya menggenggam map rekam medis, sementara tangan lainnya dimasukkan ke saku celana. Baru beberapa langkah menuju pintu keluar, gerakannya mendadak terhenti. Dari kejauhan, ia melihat dua sosok yang sangat dikenalnya baru saja keluar dari lift. Kaelix, dan Sasqia. Keduanya berjalan berdampingan menuju lobi. Kaelix menggenggam erat tangan istrinya, sesekali menoleh sambil tersenyum tipis kepada wanita di sampingnya. Senyum yang sangat jarang diperlihatkan kepada orang lain. Kening Jevier langsung berkerut. “Apa yang mereka lakukan di sini?” Tatapannya mengikuti langkah kakak dan kakak iparnya hingga keduanya menghilang melewati pintu utama rumah sakit. “Sasqia sakit? Tapi …,” ia menggeleng pelan. “Kelihatannya mereka justru bahagia.” Rasa penasarannya semakin besar. Tanpa berpikir panjang, Jevier membalikkan langkah menu
Dokter Maya menatap monitor beberapa detik lagi untuk memastikan temuannya. Jemarinya menekan beberapa tombol pada mesin USG, lalu mengukur sebuah titik kecil yang tampak di layar. Senyumnya perlahan mengembang. Ia menoleh ke arah pasangan suami istri itu. “Selamat,” suaranya terdengar hangat. “Kehamilannya sudah terlihat.” Sasqia membeku. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak satu kata pun keluar. Tatapannya bergantian antara dokter, monitor, lalu Kaelix. “Dok,” suaranya bergetar. “Jadi … saya benar-benar hamil?” Dokter Maya mengangguk mantap. “Iya.Selamat. Anda benar-benar sedang mengandung.” Air mata langsung memenuhi kedua mata Sasqia. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, tangis haru pecah tanpa bisa ditahan. “Aku … aku hamil,” gumamnya berulang-ulang, seolah masih tidak percaya. Di sampingnya, Kaelix juga terdiam. Pria yang selama ini selalu terlihat tenang itu hanya menatap layar USG tanpa berkedip. Tatapannya perlahan bergeser kepada wajah istrinya yang sedang menang
Pintu ruang pemeriksaan tertutup perlahan di belakang mereka. Ruangan itu terasa hangat. Berbeda dengan hiruk-pikuk di luar, suasana di dalam justru begitu tenang, sementara aroma antiseptik yang samar memenuhi udara. Di sisi kanan terdapat ranjang pemeriksaan. Di depannya, sebuah monitor USG masih dalam keadaan mati. Dokter Maya bangkit dari kursinya begitu melihat keduanya masuk. Senyum hangat langsung terukir di wajah wanita paruh baya itu. “Selamat malam. Silakan duduk dulu.” “Terima kasih, Dok,” balas Kaelix sopan. Sasqia duduk di samping sang suami. Meski berusaha tampak tenang, kedua telapak tangannya saling bertaut erat di atas pangkuan. Dokter Maya memperhatikan raut gugup wanita itu lalu tersenyum kecil. “Kelihatannya tegang sekali.” Sasqia terkekeh pelan. “Iya, Dok. Jujur ... saya takut.” “Takut kenapa?” Sasqia menundukkan kepala sesaat. “Takut berharap terlalu tinggi, takut ternyata saya belum hamil.” Suasana mendadak hening. Dokter Maya mengangguk pelan seolah
Malam itu, suasana meja makan terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Sherly duduk di kursinya sambil memainkan sendok kecil di tangan. Sejak tadi, matanya berkali-kali melirik ke kursi kosong yang biasa ditempati sang ibu. “Nenek,” panggilnya pelan. Soraya yang sedang menyuapkan nasi ke mulutnya segera mengangkat kepala. “Iya, Sayang?” “Mana Mama? Kok belum pulang-pulang?” Pertanyaan polos itu membuat Soraya menarik napas panjang. Ia sempat melirik Mahendra sekilas sebelum kembali menatap cucunya. “Mama kamu lagi ada urusan penting, Sher. Kalau urusannya sudah selesai, Mama pasti pulang.” Sherly mencebik, tatapan polosnya kini beralih kepada sang kakek. “Padahal Kakek kemarin janji mau telepon Mama. Tapi sampai sekarang belum.” Mahendra membuka mulut, hendak menjelaskan. Namun Soraya lebih dulu menyela. “Itu karena Mama kamu belum bisa dihubungi. Lagi sibuk bekerja.” Ia mengusap lembut kepala Sherly. “Mama kerja juga buat Sherly, kan? Jadi anak pintar harus sabar. Nanti kalau
Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?
“Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka
Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi







