مشاركة

BAB 150

مؤلف: Langit Parama
last update تاريخ النشر: 2026-06-12 00:02:20

Sasqia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia bahkan tak berani menatap wajah Tristan terlalu lama.

Perubahan ekspresi pria itu cukup membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

“Maaf, Mas ....”

Suaranya terdengar lirih. Nyaris tenggelam oleh suara pendingin ruangan dan dentingan sendok dari meja lain.

“Maaf karena saya baru bilang sekarang.”

Tak ada jawaban. Tristan hanya menatapnya diam. Dan itu justru membuat Sasqia semakin gugup.

Rahang pria itu terlihat mengeras. Tatapannya sulit dibaca
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 329

    “Aku tidak mau menghadiri sidang perceraian itu!” Suara Soraya pecah memenuhi ruang tengah.Mahendra yang berdiri beberapa langkah di hadapannya hanya menghembuskan napas panjang. Wajahnya tetap tenang, meski jelas tidak lagi memiliki kesabaran untuk mengulang pembicaraan yang sama.“Datang atau tidak, perceraian itu tetap akan berjalan, Soy. Bukti yang saya serahkan ke pengadilan sudah lengkap. Ketidakhadiran kamu tidak akan mengubah keputusan yang sudah saya ambil.”Mata Soraya memerah. “Jadi kamu udah menyiapkan semuanya dari awal?” Suaranya bergetar antara marah dan tidak percaya.“Selama ini kamu berpura-pura tidak mau menceraikan aku, tapi ternyata kamu diam-diam menyiapkan semuanya?”Mahendra menatapnya lurus. “Saya memang tidak ingin menceraikanmu.”Soraya terdiam.“Dulu.” Mahendra menekankan satu kata itu. “Saya bertahan karena saya masih berharap kamu berubah. Tapi ternyata saya salah.”Soraya mengerutkan kening. “Maksud kamu?”“Kamu tidak berubah.” Mahendra menggeleng pelan

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 328

    Pagi itu, setelah sarapan selesai, Sasqia masih duduk di kursinya sambil memainkan ujung jarinya sendiri. Sejak tadi ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Kaelix, tetapi entah kenapa kalimat sederhana itu terasa sulit untuk diucapkan. Akhirnya, ia memberanikan diri. “Mas ....” Kaelix yang sedang meletakkan cangkir kopinya menoleh. Kedua alisnya terangkat tipis. “Hm?” “Aku boleh minta izin sama Mas?” Nada suara Sasqia terdengar hati-hati. Tatapan Kaelix langsung berubah waspada. “Izin apa? Kamu mau ke mana, hm?” Sasqia menggeleng cepat. “Bukan aku yang mau pergi.” Ia menarik napas dalam, lalu meremas kedua tangannya di atas pangkuan. “Aku mau ajak Papa tinggal di rumah ini.” Kaelix terdiam. Tidak ada penolakan langsung dari wajahnya, tetapi sorot matanya jelas sedang mempertimbangkan sesuatu. “Kenapa?” Sasqia sedikit mengernyit. “Kenapa gimana?” “Rumah kamu sebelumnya masih ada, kan?” “Iya.” “Dan rumah itu atas nama kamu.” Sasqia mengangguk. “Papa bisa tinggal di sana.” S

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 327

    Malam semakin larut ketika rumah mulai benar-benar sunyi. Sasqia sudah berbaring nyaman di atas ranjang, tubuhnya menghadap Kaelix. Lampu kamar sengaja diredupkan, menyisakan cahaya temaram yang membuat suasana terasa lebih hangat. Kaelix baru saja selesai memastikan istrinya meminum vitamin malamnya. “Sudah ngantuk?” tanyanya pelan. Sasqia mengangguk. “Sedikit.” Kaelix kemudian ikut berbaring di sampingnya. Namun bukannya langsung memejamkan mata, pandangannya justru turun pada perut Sasqia. Masih belum terlihat perubahan berarti di sana, hanya perut yang tampak seperti biasanya. Tetapi bagi Kaelix, bagian tubuh itu sekarang menjadi tempat paling berharga yang pernah ia lihat. Tangannya perlahan terulur. Telapak tangannya berhenti di atas perut sang istri, lalu mengusapnya lembut. Sasqia tersenyum melihat tingkah suaminya. “Mas ngapain?” “Saya mau bicara dengan anak saya.” Sasqia terkekeh kecil. “Dia masih kecil banget. Emang bisa denger?” “Tidak masalah.” Kaelix mendekat

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 326

    | Makan malam lebih dulu, saya pulang terlambat. Sasqia mengembuskan napas kecil begitu membaca pesan dari sang suami. Bibirnya mengerucut, sementara matanya beralih pada jam digital di layar ponsel. Sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. “Padahal aku udah lapar dari tadi,” gumamnya. Sasqia menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa. Sejak tadi ia memang sengaja menahan diri untuk tidak makan karena ingin menunggu Kaelix pulang. “Aku maunya makan sama Mas Kael.” Tangannya perlahan turun menyentuh perutnya yang masih rata. Ada senyum kecil yang muncul di wajahnya ketika membayangkan kehidupan mungil yang kini tumbuh di dalam sana. “Hai, Nak.” Jemarinya mengusap perut dengan gerakan lembut. “Kamu mau, kan, sabar sedikit lagi nunggu Papa pulang?” Sasqia terkekeh pelan. “Karena Mama kurang suka makan sendirian. Maunya ditemenin Papa kamu.” Namun sesaat kemudian ia menggeleng sendiri. “Ah, jangan. Kita makan aja. Nanti Papa kamu marah kalau tahu kamu ikut kelaparan cuma gara-ga

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 325

    “Halo, Pa.” Suara Sasqia terdengar lembut dari seberang sambungan telepon. Mahendra yang saat itu duduk seorang diri di ruang tengah mengangkat wajahnya. Sejak tadi pikirannya dipenuhi banyak hal, terutama keputusan yang sudah ia ambil beberapa hari terakhir. Namun mendengar suara putrinya, raut wajahnya sedikit melunak. “Iya, Sas. Ada apa kamu menghubungi Papa, Nak?” Mahendra bersandar pada sofa, berusaha menyembunyikan berat yang menggantung di dadanya. “Oh iya, bagaimana keadaan kamu sekarang? Sudah jauh lebih baik?” Sasqia menelan ludah. Ia sedang duduk di tepi ranjang, satu tangan mengusap perutnya yang masih belum terlihat membesar. Sejak kejadian di rumah sakit, pikirannya memang lebih mudah dipenuhi rasa khawatir. Terlebih setelah mengetahui keputusan sang ayah untuk mengakhiri pernikahannya dengan Soraya. “Aku baik-baik aja, Pa.” Sasqia menarik napas pelan. “Justru aku yang sekarang khawatir sama Papa.” Mahendra tersenyum tipis, meski putrinya tentu tidak bisa meliha

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 324

    Mahendra baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu ketika suara tangisan Sherly terdengar dari lantai dua. Langkahnya seketika terhenti. “Sherly?” Tanpa membuang waktu, Mahendra segera menaiki tangga dengan langkah tergesa. Semakin mendekati lantai atas, suara tangisan cucunya semakin jelas terdengar. Namun bukan hanya tangisan Sherly yang memenuhi rumah. Dari kamar Soraya terdengar suara benda bergeser, isak tangis, disusul suara wanita yang berteriak penuh emosi. “Nggak! Aku nggak mau!” Mahendra mempercepat langkahnya. Begitu sampai di depan kamar, ia menemukan Sherly berdiri di lorong dengan wajah basah oleh air mata. Bocah itu memeluk boneka kecilnya erat-erat sambil terisak. “Kakek ....” Mahendra langsung berjongkok di hadapan cucunya. “Kenapa kamu menangis, sayang?” Sherly menunjuk ke arah kamar. “Nenek marah-marah ....” Mahendra mengusap pipi cucunya. “Sudah, jangan takut.” Ia kemudian berdiri dan melangkah ke ambang pintu kamar. Di dalam, Soraya berdiri dengan rambu

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 17

    Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi

    last updateآخر تحديث : 2026-03-19
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 15

    Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?

    last updateآخر تحديث : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 14

    Sasqia spontan berbalik. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat kembali ke arah mobil. “Sas? Mau ke mana?” Jevier menoleh kaget, lalu segera menyusulnya. “Sas, tunggu!” Namun Sasqia tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan, hampir setengah berlari, seola

    last updateآخر تحديث : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 48

    “Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s

    last updateآخر تحديث : 2026-03-25
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status