ログインMalam semakin larut ketika rumah mulai benar-benar sunyi. Sasqia sudah berbaring nyaman di atas ranjang, tubuhnya menghadap Kaelix. Lampu kamar sengaja diredupkan, menyisakan cahaya temaram yang membuat suasana terasa lebih hangat. Kaelix baru saja selesai memastikan istrinya meminum vitamin malamnya. “Sudah ngantuk?” tanyanya pelan. Sasqia mengangguk. “Sedikit.” Kaelix kemudian ikut berbaring di sampingnya. Namun bukannya langsung memejamkan mata, pandangannya justru turun pada perut Sasqia. Masih belum terlihat perubahan berarti di sana, hanya perut yang tampak seperti biasanya. Tetapi bagi Kaelix, bagian tubuh itu sekarang menjadi tempat paling berharga yang pernah ia lihat. Tangannya perlahan terulur. Telapak tangannya berhenti di atas perut sang istri, lalu mengusapnya lembut. Sasqia tersenyum melihat tingkah suaminya. “Mas ngapain?” “Saya mau bicara dengan anak saya.” Sasqia terkekeh kecil. “Dia masih kecil banget. Emang bisa denger?” “Tidak masalah.” Kaelix mendekat
| Makan malam lebih dulu, saya pulang terlambat. Sasqia mengembuskan napas kecil begitu membaca pesan dari sang suami. Bibirnya mengerucut, sementara matanya beralih pada jam digital di layar ponsel. Sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. “Padahal aku udah lapar dari tadi,” gumamnya. Sasqia menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa. Sejak tadi ia memang sengaja menahan diri untuk tidak makan karena ingin menunggu Kaelix pulang. “Aku maunya makan sama Mas Kael.” Tangannya perlahan turun menyentuh perutnya yang masih rata. Ada senyum kecil yang muncul di wajahnya ketika membayangkan kehidupan mungil yang kini tumbuh di dalam sana. “Hai, Nak.” Jemarinya mengusap perut dengan gerakan lembut. “Kamu mau, kan, sabar sedikit lagi nunggu Papa pulang?” Sasqia terkekeh pelan. “Karena Mama kurang suka makan sendirian. Maunya ditemenin Papa kamu.” Namun sesaat kemudian ia menggeleng sendiri. “Ah, jangan. Kita makan aja. Nanti Papa kamu marah kalau tahu kamu ikut kelaparan cuma gara-ga
“Halo, Pa.” Suara Sasqia terdengar lembut dari seberang sambungan telepon. Mahendra yang saat itu duduk seorang diri di ruang tengah mengangkat wajahnya. Sejak tadi pikirannya dipenuhi banyak hal, terutama keputusan yang sudah ia ambil beberapa hari terakhir. Namun mendengar suara putrinya, raut wajahnya sedikit melunak. “Iya, Sas. Ada apa kamu menghubungi Papa, Nak?” Mahendra bersandar pada sofa, berusaha menyembunyikan berat yang menggantung di dadanya. “Oh iya, bagaimana keadaan kamu sekarang? Sudah jauh lebih baik?” Sasqia menelan ludah. Ia sedang duduk di tepi ranjang, satu tangan mengusap perutnya yang masih belum terlihat membesar. Sejak kejadian di rumah sakit, pikirannya memang lebih mudah dipenuhi rasa khawatir. Terlebih setelah mengetahui keputusan sang ayah untuk mengakhiri pernikahannya dengan Soraya. “Aku baik-baik aja, Pa.” Sasqia menarik napas pelan. “Justru aku yang sekarang khawatir sama Papa.” Mahendra tersenyum tipis, meski putrinya tentu tidak bisa meliha
Mahendra baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu ketika suara tangisan Sherly terdengar dari lantai dua. Langkahnya seketika terhenti. “Sherly?” Tanpa membuang waktu, Mahendra segera menaiki tangga dengan langkah tergesa. Semakin mendekati lantai atas, suara tangisan cucunya semakin jelas terdengar. Namun bukan hanya tangisan Sherly yang memenuhi rumah. Dari kamar Soraya terdengar suara benda bergeser, isak tangis, disusul suara wanita yang berteriak penuh emosi. “Nggak! Aku nggak mau!” Mahendra mempercepat langkahnya. Begitu sampai di depan kamar, ia menemukan Sherly berdiri di lorong dengan wajah basah oleh air mata. Bocah itu memeluk boneka kecilnya erat-erat sambil terisak. “Kakek ....” Mahendra langsung berjongkok di hadapan cucunya. “Kenapa kamu menangis, sayang?” Sherly menunjuk ke arah kamar. “Nenek marah-marah ....” Mahendra mengusap pipi cucunya. “Sudah, jangan takut.” Ia kemudian berdiri dan melangkah ke ambang pintu kamar. Di dalam, Soraya berdiri dengan rambu
Mahendra datang ke kantor pengadilan sejak pagi. Pria itu berjalan memasuki gedung dengan langkah tenang, meski keputusan yang dibawanya bukanlah perkara kecil. Selama puluhan tahun, tempat ini hanya ada dalam bayangannya sebagai sesuatu yang tidak pernah benar-benar akan ia datangi. Namun hari ini berbeda. Ia datang untuk mengakhiri pernikahannya dengan Soraya. Setelah menyelesaikan proses administrasi dan menyerahkan dokumen yang diperlukan, Mahendra duduk di ruang tunggu dengan wajah serius. Tangannya terlipat di atas paha. Tak ada keraguan lagi dalam sorot matanya. Ia sudah terlalu lama bertahan, terlalu banyak memaafkan. Dan terlalu sering berharap semuanya akan berubah. Seorang petugas kemudian menghampirinya. “Pak Mahendra?” Mahendra segera berdiri. “Iya, saya.” “Dokumennya sudah kami terima. Untuk proses selanjutnya, Bapak tinggal mengikuti tahapan persidangan sesuai jadwal yang ditentukan.” Mahendra mengangguk. “Baik.” Ia menerima kembali beberapa dokumen yang diberik
“Untung Papa ada di sekolah kamu tadi. Kalau tidak, mungkin sampai sekarang kamu masih menunggu di sana.” Raka mengusap pelan kepala putrinya. “Mama, Kakek, sama Nenek mungkin terlalu sibuk sampai lupa kalau ada Sherly yang harus dijemput.” Sherly langsung mencebik. Raka tersenyum tipis, berusaha menghibur. “Papa sebenarnya selalu ada di dekat kamu, Sher. Papa sering datang ke sekolah dan melihat kamu dari jauh.” “Tapi kenapa Papa gak pernah nyamperin?” Raka terdiam sesaat. “Karena Papa takut.” “Takut Mama marah?” Raka mengangguk. “Papa takut Mama kamu gak mengizinkan Papa dekat sama kamu.” Sherly menunduk, jemarinya memainkan ujung bajunya. “Tapi Papa lebih jahat.” Raka tertegun. “Papa ninggalin Sherly sama Mama.” Suara bocah itu bergetar. Raka menghela napas panjang, lalu menarik putrinya mendekat. “Papa gak pernah bermaksud meninggalkan kamu, Nak. Tapi Mama yang meminta Papa pergi.” “Nggak!” Sherly menggeleng kuat. “Mama bilang Papa melakukan kesalahan. Makanya Papa per
Sasqia spontan berbalik. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat kembali ke arah mobil. “Sas? Mau ke mana?” Jevier menoleh kaget, lalu segera menyusulnya. “Sas, tunggu!” Namun Sasqia tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan, hampir setengah berlari, seola
“Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s
“Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk
“Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka







