LOGIN“Aku tidak mau menghadiri sidang perceraian itu!” Suara Soraya pecah memenuhi ruang tengah.Mahendra yang berdiri beberapa langkah di hadapannya hanya menghembuskan napas panjang. Wajahnya tetap tenang, meski jelas tidak lagi memiliki kesabaran untuk mengulang pembicaraan yang sama.“Datang atau tidak, perceraian itu tetap akan berjalan, Soy. Bukti yang saya serahkan ke pengadilan sudah lengkap. Ketidakhadiran kamu tidak akan mengubah keputusan yang sudah saya ambil.”Mata Soraya memerah. “Jadi kamu udah menyiapkan semuanya dari awal?” Suaranya bergetar antara marah dan tidak percaya.“Selama ini kamu berpura-pura tidak mau menceraikan aku, tapi ternyata kamu diam-diam menyiapkan semuanya?”Mahendra menatapnya lurus. “Saya memang tidak ingin menceraikanmu.”Soraya terdiam.“Dulu.” Mahendra menekankan satu kata itu. “Saya bertahan karena saya masih berharap kamu berubah. Tapi ternyata saya salah.”Soraya mengerutkan kening. “Maksud kamu?”“Kamu tidak berubah.” Mahendra menggeleng pelan
Pagi itu, setelah sarapan selesai, Sasqia masih duduk di kursinya sambil memainkan ujung jarinya sendiri. Sejak tadi ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Kaelix, tetapi entah kenapa kalimat sederhana itu terasa sulit untuk diucapkan. Akhirnya, ia memberanikan diri. “Mas ....” Kaelix yang sedang meletakkan cangkir kopinya menoleh. Kedua alisnya terangkat tipis. “Hm?” “Aku boleh minta izin sama Mas?” Nada suara Sasqia terdengar hati-hati. Tatapan Kaelix langsung berubah waspada. “Izin apa? Kamu mau ke mana, hm?” Sasqia menggeleng cepat. “Bukan aku yang mau pergi.” Ia menarik napas dalam, lalu meremas kedua tangannya di atas pangkuan. “Aku mau ajak Papa tinggal di rumah ini.” Kaelix terdiam. Tidak ada penolakan langsung dari wajahnya, tetapi sorot matanya jelas sedang mempertimbangkan sesuatu. “Kenapa?” Sasqia sedikit mengernyit. “Kenapa gimana?” “Rumah kamu sebelumnya masih ada, kan?” “Iya.” “Dan rumah itu atas nama kamu.” Sasqia mengangguk. “Papa bisa tinggal di sana.” S
Malam semakin larut ketika rumah mulai benar-benar sunyi. Sasqia sudah berbaring nyaman di atas ranjang, tubuhnya menghadap Kaelix. Lampu kamar sengaja diredupkan, menyisakan cahaya temaram yang membuat suasana terasa lebih hangat. Kaelix baru saja selesai memastikan istrinya meminum vitamin malamnya. “Sudah ngantuk?” tanyanya pelan. Sasqia mengangguk. “Sedikit.” Kaelix kemudian ikut berbaring di sampingnya. Namun bukannya langsung memejamkan mata, pandangannya justru turun pada perut Sasqia. Masih belum terlihat perubahan berarti di sana, hanya perut yang tampak seperti biasanya. Tetapi bagi Kaelix, bagian tubuh itu sekarang menjadi tempat paling berharga yang pernah ia lihat. Tangannya perlahan terulur. Telapak tangannya berhenti di atas perut sang istri, lalu mengusapnya lembut. Sasqia tersenyum melihat tingkah suaminya. “Mas ngapain?” “Saya mau bicara dengan anak saya.” Sasqia terkekeh kecil. “Dia masih kecil banget. Emang bisa denger?” “Tidak masalah.” Kaelix mendekat
| Makan malam lebih dulu, saya pulang terlambat. Sasqia mengembuskan napas kecil begitu membaca pesan dari sang suami. Bibirnya mengerucut, sementara matanya beralih pada jam digital di layar ponsel. Sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. “Padahal aku udah lapar dari tadi,” gumamnya. Sasqia menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa. Sejak tadi ia memang sengaja menahan diri untuk tidak makan karena ingin menunggu Kaelix pulang. “Aku maunya makan sama Mas Kael.” Tangannya perlahan turun menyentuh perutnya yang masih rata. Ada senyum kecil yang muncul di wajahnya ketika membayangkan kehidupan mungil yang kini tumbuh di dalam sana. “Hai, Nak.” Jemarinya mengusap perut dengan gerakan lembut. “Kamu mau, kan, sabar sedikit lagi nunggu Papa pulang?” Sasqia terkekeh pelan. “Karena Mama kurang suka makan sendirian. Maunya ditemenin Papa kamu.” Namun sesaat kemudian ia menggeleng sendiri. “Ah, jangan. Kita makan aja. Nanti Papa kamu marah kalau tahu kamu ikut kelaparan cuma gara-ga
“Halo, Pa.” Suara Sasqia terdengar lembut dari seberang sambungan telepon. Mahendra yang saat itu duduk seorang diri di ruang tengah mengangkat wajahnya. Sejak tadi pikirannya dipenuhi banyak hal, terutama keputusan yang sudah ia ambil beberapa hari terakhir. Namun mendengar suara putrinya, raut wajahnya sedikit melunak. “Iya, Sas. Ada apa kamu menghubungi Papa, Nak?” Mahendra bersandar pada sofa, berusaha menyembunyikan berat yang menggantung di dadanya. “Oh iya, bagaimana keadaan kamu sekarang? Sudah jauh lebih baik?” Sasqia menelan ludah. Ia sedang duduk di tepi ranjang, satu tangan mengusap perutnya yang masih belum terlihat membesar. Sejak kejadian di rumah sakit, pikirannya memang lebih mudah dipenuhi rasa khawatir. Terlebih setelah mengetahui keputusan sang ayah untuk mengakhiri pernikahannya dengan Soraya. “Aku baik-baik aja, Pa.” Sasqia menarik napas pelan. “Justru aku yang sekarang khawatir sama Papa.” Mahendra tersenyum tipis, meski putrinya tentu tidak bisa meliha
Mahendra baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu ketika suara tangisan Sherly terdengar dari lantai dua. Langkahnya seketika terhenti. “Sherly?” Tanpa membuang waktu, Mahendra segera menaiki tangga dengan langkah tergesa. Semakin mendekati lantai atas, suara tangisan cucunya semakin jelas terdengar. Namun bukan hanya tangisan Sherly yang memenuhi rumah. Dari kamar Soraya terdengar suara benda bergeser, isak tangis, disusul suara wanita yang berteriak penuh emosi. “Nggak! Aku nggak mau!” Mahendra mempercepat langkahnya. Begitu sampai di depan kamar, ia menemukan Sherly berdiri di lorong dengan wajah basah oleh air mata. Bocah itu memeluk boneka kecilnya erat-erat sambil terisak. “Kakek ....” Mahendra langsung berjongkok di hadapan cucunya. “Kenapa kamu menangis, sayang?” Sherly menunjuk ke arah kamar. “Nenek marah-marah ....” Mahendra mengusap pipi cucunya. “Sudah, jangan takut.” Ia kemudian berdiri dan melangkah ke ambang pintu kamar. Di dalam, Soraya berdiri dengan rambu
“Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s
“Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk
“Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka
Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu







